Tikam Samurai (Episode I – 340)

“Delapan orang . . .”
Delapan orang. Berarti sembilan dengan Cina ini. Tiga sudah mati. Yang satu kini dia kuasai. Jadi empat telah dilumpuhkan. Tinggal kini lima orang. Pikiran si Bungsu bekerja cepat.
“Suruh mereka berkumpul ke mari, semua . . .”
Si Bungsu berbisik lagi. Cina itu nampaknya memang pimpinan penyergapan itu. Dia segera memberikan perintah untuk berkumpul. Teman-temannya yang lain, karena merasa bosan menanti tanpa hasil sejak tadi, segera berdatangan. Si Bungsu memberi isyarat dengan bunyi siulan yang mirip suara burung. Donald serta Tongky yang masih tiarap dalam semak belukar mendengar siulan itu. Mereka segera mengerti maksudnya. Kedua orang ini segera menanti. Begitu anggota – anggota sindikat itu tegak dan berjalan dalam kegelapan menuju tempat cina itu, mereka jua ikut berdiri. Ikut berkumpul ke dekat kayu tersebut. Cahaya gelap membantu mereka. Tak ada yang tahu bahwa di antara yang berjalan menuju tempat berkumpul itu ada dua orang lain yang tak sama dengan mereka. Penyelusup itu baru diketahui ketika mereka semua telah berkumpul.
“Jangan ada yang bergerak. Jika ada yang melakukan sedikit saja gerakan, akan kami siram dengan peluru”
Terdengar suara Tongky perlahan. Semua jadi kaget. Mereka menoleh. Dalam kegelapan itu ada dua orang yang tegak hanya setengah depa dari mereka. Mengacungkan bedil dan siap memuntahkan peluru.
Dalam jarak begitu dekat, mana ada harapan bagi mereka untuk melakukan sesuatu? Mereka hanya heran, kemana teman mereka yang tiga orang lagi? Mana cina yang memimpin mereka, yang tadi menyuruh mereka berkumpul? Si Bungsu membisikkan sesuatu ke pangkal telinga cina itu. Cina itu berkata:
“Menyerahlah. Kita sudah terkepung . . .”
Terdengar sumpah serapah. Tongky dan Donald bertindak cepat. Mereka melucuti keempat orang itu, dan memaksanya tengkurap.
“Beri isarat pada Kapten Fabian . . .” ujar si Bungsu perlahan.
Tongky kemudian mengirimkan isyarat itu. Suara burung malam terdengar berbunyi tiga kali dari mulutnya. Dari seberang sana terdengar pula sahutan sekali.
“Mereka berhasil. Mari kita menyeberang. Cepat !!”
Ujar Kapten Fabian memerintahkan regunya. Keenam orang anggota Baret Hijau itu segera memasuki rawa dan menyeberanginya. Memerlukan waktu lima menit bagi mereka untuk berjalan mengarungi rawa pekat itu. Mereka segera sampai ke tempat ketiga orang kawan mereka yang telah meringkus lawannya. Keenam anggota sindikat yang semula bermaksud menyiksa mereka itu kini telah tertelungkup di tanah. Keenamnya dalam keadaan terikat tangannya ke belakang. Dan terikat kakinya satu dengan yang lainnya. Si Bungsu menjelaskan pada Kapten Fabian bahwa yang memimpin penyergapan ini adalah cina yang tertelungkup paling kanan. Kapten tersebut menyalakan senter kecil. Menerangi wajah cina itu.
“Kita tak punya waktu. Kita harus menyergap mereka yang ada di pelabuhan. Ayo cepat! Donald dan Miquel tinggal menjaga ke enam orang itu di sini. Begitu mereka bergerak, sikat saja semua . . .” Kapten itu mengeluarkan perintah.
Dipimpin oleh Tongky di depan sekali mereka mulai mendekati markas sindikat tersebut. Sementara Donald dan Miquel tegak dua depa dari enam anggota sindikat yang tertelungkup itu. Keenam anggota sindikat itu benar-benar dibuat tak berkutik.
“Berteriaklah kalian, atau bangkitlah, agar kami bisa menyikat kalian semua . . .!”
Suara Miquel terdengar mendesis. Keenam anggota sindikat itu tak bisa bicara. Kalaupun bisa, mereka takkan mau bicara. Mereka kenal benar dengan lawan mereka. Dalam dunia yang mereka cempungi ini, jika sudah tertangkap begitu lebih baik menyerah dan diam saja. Ikuti perintah lawan. Sebab sedikit saja membuat kekeliruan, nyawa imbalannya. Dan mereka lebih senang hidup daripada dianggap pahlawan oleh teman-teman sindikat lainnya. Pahlawan tapi sudah mati. Karenanya tak ada yang bergerak. Namun Cina yang tadi diancam oleh si Bungsu masih berusaha. Yang mengikat tangannya adalah Donald. Ikatannya sedikit longgar. Tubuhnya tetap tak bergerak di tanah. Tapi secara perlahan sekali, pergelangan tangannya dia putar. Terasa pedih, namun dia berusaha terus. Di dalam sepatunya ada pistol kecil dan pisau belati.
Tadi mereka memang digeledah satu persatu. Semua senjata mereka dilucuti. Namun dua buah senjata yang ada dalam lars sepatunya luput dari pemeriksaan. Kini itulah yang tengah diusahakan untuk diambil oleh cina itu. Namun sebelum bisa mengambil kedua senjata itu, dia harus membebaskan kedua tangannya terlebih dahulu. Dia ingin minta bantuan temannya yang tertelungkup di samping kanannya. Tapi dia khawatir gerakannya akan mencurigakan kedua mantan anggota Baret Hijau yang tetap mengawasi mereka. Satu-satunya jalan ialah berusaha sendiri. Dia putar terus pergelangan tangannya. Susahnya adalah karena dia tertelungkup. Kedua tangannya yang terikat ke belakang itu kini justru di bahagian atas. Kalau banyak benar membuat gerakan, bisa-bisa menarik perhatian salah seorang dari pasukan yang menjaganya.
Karena itu dia terpaksa berusaha sendiri dengan memutar kedua pergelangannya dengan perlahan. Sementara itu kelompok Kapten Fabian telah sampai ke markas sindikat itu. Mereka menyebar di sekeliling rumah tersebut. Tongky merayap mendekat. Melihat ke dalam. Lalu merayap lagi ke dekat Kapten Fabian.
“Hanya ada seorang di dalam sana . . .”
“Kemana yang lain?”
“Saya rasa sudah di pelabuhan. . .”
Dari kejauhan terdengar suara ombak.
“Oke. Suruh Fred menyudahi orang itu. Kita menyergap mereka di pelabuhan . . .”
Perintah Kapten itu disampaikan secara berbisik pada Fred. Orang Inggeris yang satu ini adalah ahli Karate. Dia segera menyelusup mendekati markas itu begitu teman-temannya yang lain bergerak menuju pelabuhan. Dia menyandarkan senjatannya di pintu luar. Kemudian perlahan mendorong pintu sampai terbuka. Orang yang di dalam itu adalah seorang kulit putih. Mungkin orang Itali. Bertubuh besar bertelanjang dada. Senjatanya sepucuk Mauser. Terletak di atas meja. Di sudut rungan ada satu set peralatan radio. Nampaknya orang ini adalah seorang telegrafis.
“Hallo friend . . .” Fred menegur perlahan.
Orang itu menoleh pula perlahan. Tapi gerakan perlahannya segera berobah begitu menyadari bahaya. Dia tegak dan berusaha melangkah ke meja di mana bedilnya dia letakkan. Jarak antara dia duduk dengan meja dia meletakkan bedilnya sekitar dua meter. Namun langkahnya terpotong oleh gerakan Fred yang selincah musang. Sebuah pukulan menghantam rusuk orang itu.
Ada pepatah berbunyi : Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga! Barangkali itulah yang dialami Fred malam ini. Dia memang jago karate, dia andalan dalam pasukannya. Tapi sebenarnya dia harus memperhitungkan waktu dan kecepatan. Dia tak boleh mengulur waktu. Rusuk orang itu memang kena dia hantam. Tapi orang itu punya antisipasi yang tangguh pula. Begitu jalannya di hadang, tangannya bergerak menghantam hidung Fred.
Kendati rusuk……..

About these ads

1 Comment

  1. Ass… Tan ambo taragak mambaco tikam samurai dari awal sampai tamek, daulu bana lai ado ambo bali bukunyo sampai si bunsu tu ka japan, namun si buku dek ba kutu pandai pulo bajalan, nan kini indak jaleh dima rimbonyo, kok lai namuh Tan baragiah laman-laman pdf ataupun notepad ambo mokasih bana, sakian dulu Tan, Wassalam


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,492 other followers