Parang Pariaman (bagian 1)

Untuk mengobati rindu pembaca pada karya-karya besar Makmur Hendrik, penulis mencoba menghadirkan cerita Giring-giring Perak bagian Parang Pariaman yang disadur dari harian Singgalang. Sebelumnya penulis minta maaf karena belum bisa menghadirkan kelanjutan cerita Tikam Samurai. Mudah-mudahan cerita ini dapat mengobati kekecewaan pembaca blog ini. Selamat menikmati!

Bagian 1

Giring-giring Perak akhirnya mendapatkan kenyataan-kenyataan yang amat tragis dan sekaligus membahagiakan dirinya di goa Bukit Tambun Tulang. Kenyataan tragis pertama adalah terbunuhnya Puti Nuri. Gadis bangsawan dari Lima Kaum yang telah menatap sejak lama bersama orang tuanya Raja Tuo di Kampung Pisang.
Tragedi kedua adalah ketika dia berhasil membunuh Harimau Tambun Tulang. Ternyata kepala penyamun Bukit Tambun Tulang yang namanya sudah amat tersohor itu tak lain tak bukan daripada gurunya sendiri! Guru yang amat menyayanginya. Yang membesarkan dan mengajarkan padanya segenap ilmu silat dan ilmu sirat. Guru yang mengajarkan padanya agar selalu berbuat kebaikan, membela yang benar dan menumpas kejahatan. Guru yang telah dianggapnya sebagai ayah dan ibunya.
Tetapi ada dua hal pula yang membahagiakan dirinya. Pertama, dia bertemu di goa itu dengan ibu kandungnya. Perempuan tabah melahirkannya ke permukaan bumi. Yang ditawan dalam goa itu selama lebih dari dua puluh tahun. Dan kedua, Siti Nilam, gadis pengungsi dari Pariaman itu, yang diam-diam mereka saling mencintai, masih hidup meski telah terperangkap dalan goa itu sebelum dia tiba.
Namun di saat terakhir mereka akan meninggalkan goa itu, goa tersebut runtuh. Kunci rahasia yang mampu meruntuhkan goa itu ternyata telah dicabut oleh Harimau Kumbang sesaat sebelum dia meninggal. Mereka terkurung dalam kamar serba biru yang selama belasan tahun dihuni oleh Puti Bergelang Emas, bangsawan dari Pagaruyung, ibu si Giring-giring Perak.
Suara berderam gemuruh mengeletarkan seluruh goa. Si Giring-giring Perak yang tengah memangku tubuh ibunya yang kurus dan lemah, tertegak kaku. Demikian juga Tuanku Nan Renceh, Raja Tuo dan Datuk Sipasan. Siti Bilam tegak di dekat Giring-giring Perak.
Mereka menatap langit-langit goa dimana mereka berada. Lantai goa itu bergoyang. Pintu keluar ke arah ruangan latihan besar itu runtuh dengan suara menegakkan bulu roma. Dan pintu ke sana tertutup rapat oleh jutaan ton bebatuan dan tanah. Debu memenuhi ruangan tersebut.
“Ya Allah, ya Akbar! Mereka membuat goa ini sebagai kuburan kita….” Tuanku Nan Renceh terdengar berkata perlahan.
Goncangan dan suara gemuruh berjatuhannya batu dan langit-langit goa masih terdengar. Dan tiba-tiba sebahagian langit-langit goa dimana mereka berada juga ikut runtuh.
“Kita terperangkap….” terdengar Raja Tuo berseru.
Ketiga lelaki itu, Tuanku Nan Renceh, Datuk Sipasan dan Raja Tuo segera berusaha mencari celah atau jalan keluar. Raja Tuo dengan masih tetap memangku mayat anaknya Puti Nuri, berusaha meneliti tiap senti dinding. Namun mereka sia-sia mencari jalan keluar.
Giring-giring Perak sudah dua kali melompat menghindari runtuhnya langit-langit goa tersebut.
“Ini ada sedikit cahaya…!!” tiba-tiba terdengar suara Tuanku Nan Renceh.
Mereka mendekat ke tempat itu. Dan di antara reruntuhan bebatuan dan tanah, seberkas cahaya menembus masuk. Namun masih tetap tak bisa keluar. Cahaya itu jauh sekali di antara reruntuhan.
“Menghindarlah…..” tiba-tiba si Giring-giring Perak terdengar bersuara. Dia ternyata telah meletakkan ibunya di lantai yang beralas permadani. Perempuan itu dipeluk oleh Siti Nilam. Ketiga lelaki itu mundur, si Giring-giring Perak berdiri sedepa dari berkas cahaya yang kelihatan itu. Mulutnya menggurimin membaca doa. Dan perlahan, semua yang ada dalam ruangan itu melihat betapa asap tipis mengepul dari kepala anak muda itu.
Kemudian kedua belah tangannya menjadi merah. Mula-mula dari pangkal lengan. Cahaya merah seperti besi terbakar itu menjalar perlahan, ke lengan, lalu memenuhi seluruh jari jemari. Tuanku Nan Renceh dan kedua temannya benar-benar merasa takjub. Mereka sudah banyak mendengar dan bahkan belajar ilmu batin. Namun yang seperti ini, yaitu ilmu Al Kurdsi ini, baru kali ini mereka melihatnya.
Sementara itu Giring-giring Perak membuat kuda-kuda dengan memajukan kaki kanannya ke depan. Tangannya yang kiri mengepal. Yang kanan terbuka dengan jari-jari rapat. Lalu yang kanan ditarik sejajar dengan tubuh. Dan…. dengan menyebut Allahuakbar, tangan kanannya mendorong ke depan.
Sepuputan tenaga yang amat dahsyat, menghantam bebatuan di depannya. Terdengar suara gemuruh, dan bebatuan itu melesak menghantam dinding. Kemudian hal yang tak termakan oleh akal itupun terjadilah. Dinding goa itu jebol, bebatuan yang tadi menghalang, terhempas dan terpukul jauh ke luar. Sebuah lobang sebesar drum kelihatan pada bekas kena hantam tenaga raksasa itu. Akibatnya goncangan bahagian yang lemah dari langit-langit runtuh.

Reruntuhannya menghantam tempat ibunya berada bersama Siti Nilam. Tanpa memutar tegak, tangan kanannya mengibas ke arah batu langit-langit yang tengah meluncur turun dan hanya tinggal sehasta dari ubun-ubun Siti Nilam. Tuanku Nan Renceh, Raja Tuo dan Datuk Sipasan sampai berpeluh melihat runtuhnya batu itu. Mereka yakin kedua perempuan itu takkan tertolong.
Namun di saat kritis itulah tenaga pukulan tangan Giring-giring Perak datang menghantam. Batu besar yang tengah meluncur turun itu terhantam. Tak ada suara, tak ada apa-apa. Hanya saja batu besar itu terhantam berobah arahnya, membentur dinding, dan….jatuh ke lantai dalam bentuk debu!
“Cepat keluarlah….duluan, saya menjaga di sini….” Giring-giring Perak berkata. Dan ucapannya menyadarkan semua mereka, bahwa mereka harus keluar dari sana dengan segera.
Tuanku Nan Renceh yakin anak muda ini akan mampu menolong ibunya. Karena itu dia segera bergerak cepat. Dalam beberapa gerakan saja, tubuhnya sudah berada di luar goa. Dan dalam waktu singkat, Raja Tuo dan Datuk Sipasan juga sampai di sana. Raja Tuo memangku mayat anaknya, Puti Nuri yang tubuhnya dipenuhi anak panah.
Dan tak lama setelah mereka berada di luar, Giring-giring Perakpun tiba sambil kedua tangannya memangku tubuh ibunya dan tubuh Siti Nilam. Suara berderam dan goncangan yang hebat terasa di tanah tak lama setelah mereka berada di luar. Pepohonan bergoyang, malah banyak yang rubuh. Tanah berbukit di depan mereka tiba-tiba seperti tersedot ke bawah. Kayu malang melintang. Debu tipis mengepul. Satwa yang ada di sana bertemperasan. Kemudian sepi!

About these ads

2 Comments

  1. Apakah ilmu seperti ini sekarang masih ada?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,510 other followers