Parang Pariaman (bagian 2)

Hal itu mereka buktikan ketika terjadi perang antara pengikut Tuanku Nan Renceh dengan Belanda di Kamang. Tanpa diduga, mereka datang membantu. Pasukan Tuanku Nan Renceh yang semula sudah terjepit, tiba-tiba mendapat bantuan.
Belanda yang mengepung tiba-tiba ditikam dari belakang oleh pasukan bekas para penyamun ini. Belanda lari terbirit-birit meninggalkan banyak sekali korban. Mereka juga membantu orang Pariaman yang berperang melawan Inggeris di Pariaman. Mereka memang memilih jadi petani, nelayan atau pedagang. Namun setiap saat mereka siap terjun ke medan pertempuran melawan penjajah.
Mereka memang orang yang terlatih dalam perang tradisional dalam rimba. Raja Tuo kembali ke kampung Pisang. Sementara si Giring-giring Perak menikah dengan Siti Nilam dan memutuskan untuk berdiam di kampung isterinya itu, di suatu desa tak jauh dari Pariaman.
Begitulah kisah hancurnya penyamun di Bukit Tambun Tulang. Tapi itu bukan berarti berakhirnya kejahatan di berbagai tempat di Minangkabau saat itu. Itu bukan berarti berakhirnya penderitaan rakyat.
Indonesia ternyata harus memperpanjang masa deritanya di bawah cengkeraman penjajah yang satu ke penjajah yang lain. Belanda, Inggeris, Portugis, datang silih berganti menjajah negeri ini. Dan di zaman Giring-giring Perak ini, Inggeris sempat membuat jejak berdarahnya di Minangkabau, terutama di bahagian pesisir pantai, PARIAMAN!.

Penduduk Pariaman yang terkenal berdarah panas itu kali ini dihadapkan pada teror dari pasukan Inggeris yang baru saja didatangkan dari Eropah. Yaitu pasukan yang memenangkan perang melawan Napoleon dari Perancis.
Pariaman di suatu hari sekitar tahun 1800. Saat itu, Minangkabau sudah berada di bawah kekuasaan Inggeris. Sebab tahun 1793 benua Eropah dijilat api peperangan. Napoleon yang tengah berkuasa di Perancis dan Belanda terlibat perang dengan kerajaan Inggeris.
Perang di Eropah menyebabkan seluruh daerah jajahan ketiga bangsa itu juga berperang. Pimpinan Inggeris di Calcutta, India yang membawahi Benua Asia memerintahkan angkatan lautnya merebut wilayah Sumatera Barat yang kaya dengan emas dan rempah-rempah dari tangan Belanda.
Tahun 1795 itu, angkatan perang Inggeris mendarat dan segera dapat merebut pos-pos Kompeni (V.O.C) di Padang tanpa perlawanan yang berarti. Dengan jatuhnya pos-pos Belanda di Padang, maka pos-pos mereka di daerah pesisir seperti di Salido, Painan, Pariaman dan Tiku juga menyerah pada Inggeris.
Sejak tahun 1795 itu, bermulalah penjajahan Inggeris atas pesisir Minangkabau. Kekuasaan Inggeris ini kelak akan berakhir pada tahun 1819. Daerah ini dikembalikan kepada Belanda berdasarkan perjanjian London tahun 1814 antara Inggeris dan Belanda tentang daerah jajahannya di Hindia Belanda.
—o0o—-

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,492 other followers