Parang Pariaman (bagian 17)

Tidak seorangpun di antara tentara Inggeris yang tahu, bahwa orang yang berada di punggung kuda itu beberapa tahun yang lalu pernah menghancurkan batu cadas yang menjadi dinding Bukit Tambun Tulang.
Saat jarak antara orang berkuda itu sampai ke loji hanya lima belas meter.
“Tembak…!” ujar Galaghan tegas.
“Tembaaak….!!” pekik Cory.
Pemantik sumbu meriam mendekatkan api ke lobang sumbu meriam. Belasan tentara di atas loji memasukkan jari tunjuk mereka ke pelatuk, untuk menembak.
Saat itu pula Giring-Giring Perak yang telah menghimpun tenaga, mengangkat kedua tangan setinggi dada. Kemudian dengan dua telapak tangan menghadap ke depan, dia seperti mendorong sesuatu yang amat berat.
Lalu, terjadilah apa yang harus terjadi.
Sedetik sebelum api memicu sumbu meriam, sedetik sebelum pelatuk belasan bedil ditarik serdadu di atas loji, sepuputan tenaga yang hebatnya sukar untuk digambarakan dengan kata-kata, menghantam lobang tiga meriam di dinding loji yang terbuat dari kayu sebesar paha dan batang kelapa itu.
Hantaman tenaga dalam yang amat dahsyat itu menjungkalkan ketiga meriam yang sudah terpicu di balik pagar kayu besar itu. Sesaat sebelum tiga meriam berikut selusin tentara di dekatnya tercampak membentur dinding jauh di belakangnya, salah satu meriam itu meledak saat moncongnya menghadap ke atas.
Ledakannya menghancurkan tubuh Kapten Galaghan, Letnan Corry dan selusin tentara di dekatnya. Meriam yang dua lagi meledak saat moncongnya terputar ke arah gudang mesiu. Sekitar satu ton mesiu di gudang itu meledak. Gelegar akibat ledakan beruntun membahan menghancur leburkan hampir seluruh loji yang amat ditakuti itu.
Membunuh lebih dari lima puluh tentara Inggeris yang tersisa dari perang bersosoh kemaren! Api dan asap tebal membubung dari loji yang ditakuti sekaligus amat dibenci orang Pariaman itu. Beberapa ekor kuda yang masih hidup lari bertemperasan.
Orang-orang Pariaman terkejut mendengar ledakan yang mengguncang bumi itu.
—o0o—
Di akhir abad ke 18, Napoleon, Kaisar Prancis yang juga berkuasa atas Belanda, menyerang Kerajaan Inggeris. Dengan demikian Inggeris menghadapi dua musuh dari dua negara, Prancis dan Belanda. Perang di jantung Eropah itu sekaligus menyulut perang satu lawan dua negara tersebut di diseluruh jajahannya di dunia.
Di Eropah, tentara Inggeris berhasil memenangkan pertempuran melawan tentara Napoleon dan Belanda. Pasukan Inggeris yang menang melawan tentara Napoleon inilah yang dikirim ke pulau-pulau di berbagai samudera, termasuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.
Menang melawan Napoleon di Eropah, pimpinan Inggeris di Calcutta, India, yang membawahi Benua Asia memerintahkan angkatan lautnya merebut wilayah Sumatera Barat yang kaya dengan emas dan rempah-rempah dari tangan Belanda.
Angkatan perang Inggeris mendarat di pantai Barat Sumatera pada Tahun 1795, adan segera berhasil merebut pos-pos (loji) Kompeni (V.O.C) di Padang tanpa perlawanan yang berarti. Dengan jatuhnya pos-pos Belanda di Padang, maka pos-pos mereka di daerah pesisir seperti di Salido, Painan, Pariaman dan Tiku juga menyerah pada Inggeris.
Sejak tahun 1795 itu, bermulalah penjajahan Inggeris atas pesisir Minangkabau. Saat itulah remuknya loji dan pasukan Inggeris di Pariaman dalam episode “perang pariaman” ini terjadi.
Sejarah dunia mencatat, daerah-daerah yang semula dikuasai Belanda kemudian direbut oleh Inggris seperti Padang, Salido, Painan, Pariaman dan Tiku, termasuk Bengkulu, akhirnya berdasar perjanjian atau dikenal dengan “Traktat London” Tahun 1814 dikembalikan lagi kepada Belanda.
Akibat luasnya lautan, sementara mesin kapal belum ditemukan dan karenanya kapal-kapal perang baru memakai layar, penyerahan daerah jajahan dari Inggris ke Belanda itu baru efektif terjadi lima tahun kemudian, yaitu Tahun 1819.
Saat penyerahan kekuasaan dari Inggeris kepada Belanda, Loji Inggeris di Pariaman sudah remuk redam dalam “Perang Pariaman” yang dimotori perguruan Sunua dan Ulakan, dan ’disudahi’ oleh Giring-Giring Perak. Begitu kata sahibul hikayat.@
– TAMAT -

Parang Pariaman (bagian 16)

Dari punggung kudanya Giring-Giring Perak melihat banyak sekali mayat penduduk Pariaman bergelimpangan. Perang menjadi sangat tidak berimbang ketika penduduk bersenjata parang, tombak, panah, kelewang atau keris berhadapan dengan peluruh senapan dan peluru meriam.
“Kesaktian” para pesilat seperti diredam oleh terkaman peluru. Tiba-tiba dia menghentikan kudanya. Melihat ke arah pantai. Di sana sebuah kapal Inggeris yang cukup besar tenggelam. Yang kelihatan muncul dari laut hanya bahagian kamar komando dan triang bendera. Pada tiang benmdera itu masih terikat bendera Inggeris yang melambai lemah ditiup angin pagi.
Giring-Giring Perak kembali menatap beberapa mayat yang tak jauh dari tempatnya. Dia seperti mengenal wajah beberapa dari mayat tersebut. Dia coba mengumpulkan ingatan, lalu tiba-tiba dia ingat wajah-wajah itu.
Apa yang terjadi sehingga mayat-mayat bertebaran di Pariaman? Kabar akan digantung nya Sidi Buang, Anduang Ijuak dan Gindo Fuad itu sebenarnya sudah lama menyebar. Kabar itu sampai ke telinga seratusan anggota Datuk Sipasan dan ratusan anggota Harimau Tambuntulang yang selamat dari runtuhnya Bukit Tambuntulang.
Baik anggota Datuk Sipasan maupun bekas anak buah Harimau Tambuntulang itu bermukim di sekitar Padangpanjang, Tanah Datar, Bukittinggi dan Kayutanam. Mereka hidup sebagai petani. Saat mendengar Inggeris kembali menyulut per musuhan dengan Sunua dan Ulakan, diam-diam mereka berdatangan.
Dan…sesaat sebelum Sidi Buang, Anduang Ijuak dan Gindo Fuad digantung, mereka berjibaku menyerang loji itu. Serangan yang mendadak dan amat di luar dugaan yang dialkukan lebih dari tiga ratusan orang yang mahir berperang itu membuat Inggeris kalang kabut.
Ketiga orang yang akan digantung itu bisa dibebaskan oleh ratusan orang yang menyerang. Saat Uwak Sanga yang lari terbirit-birit akan masuk barak perwira di areal loji itu, dia mendengar suara dari sampingnya.

Parang Pariaman (bagian 15)

Dengan tenang Nabi menatap orang itu. Karena dia belum juga menjawab, orang itu membentak dan menanyakan pertanyaan yang sama sekali lagi. Dengan tenang Muhammad pun menjawab.
“Tak ada seorangpun yang akan menyelamatkanku, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa…..”
Dan turunlah keajaiban mengiringi ucapan Muhammad itu. Quraisy itu menggeletar tubuhnya. Pedangnya dia lemparkan. Dia berlutut di depan Nabi.
“Engkau orang mulia Muhammad. Sejak hari ini saya memeluk agama yang engkau peluk. Asyhadualla-ila ha illallah, wa Asyhaduanna Muhammadarrasulullah…..” orang itu megucap syahadat dengan air mata berlinang. Dan Islamlah dia.
Tuhan juga menurunkan keajaiban tatkala menguji iman Nabi Ibrahim. Ibrahhim disuruhnya untuk mengorbankan nyawa anaknya, Ismail. Dan Ibrahim mematuhi suruhan Tuhannya. Ismail anak kesayangannya itu dibawanya ke sebuah batu untuk disembelih. Tapi sesaat sebelum mata pedang melukai leher Ismail, Tuhan menggantinya dengan seekor kibas.
Syekh Malik Ibrahim tahu semua cerita tentang keajaiban yang diturunkan Allah pada para Nabi-Nya itu. Tapi itu khusus untuk para nabi. Apakah Tuhan juga bersedia menurunkan keajaiban untuk menolong manusia biasa yang bukan para Nabi dan Rasul?
Kalaupun Tuhan mau menurunkan keajaiban apakah murid-murid Ulakan cukup berbahagia untuk menerima keajaiban Allah itu? Itulah yang terfikirkan oleh Syekh Malik Ibrahim dalam kamar tahanannya, tatkala suara genderang penggantungan itu berbunyi.
Hatinya memanjatkan doa. Sementara matanya yang terpejam basah. Dia mengutuk dirinya yang lemah, yang tak bisa menolong muridnya yang dihukum. Kini ketiga orang tawanan itu sudah ditegakkan di atas pentas darurat itu.
Letnan Coral Lancashire, yaitu Komandan Loji di Tiku, yang ditarik ke Pariaman untuk menggantikan kedudukan Letnan Sammy yang mati oleh Sidi Marhaban, maju ke depan.
Suara genderang yang menderam itu masih berbunyi. Letnan itu membuka sebuah plakat yang diserahkan oleh seorang prajurit padanya. Semuanya mata dari sekitar enam puluh pasukan berkuda Inggeris yang tegak mengelilingi lapangan tempat eksekusi itu menatap padanya dengan diam.

Plakat itu berisi vonis hukuman mati atas ketiga orang murid Ulakan itu. Letnan Lancashire membacakan vonis itu dengan suara lantang.
—o0o—
Nun jauh dari kota Pariaman, di salah satu sisi Danau Maninjau yang indah, di sebuah rumah kecil dikelilingi sawah dan ladang seorang anak muda kelihatan tengah mencangkul. Dari arah rumah dia lihat isterinya datang bergegas.
“Uda…..” suara perempuan cantik itu bernada amat cemas.
Anak muda itu kaget. Tak biasanya isterinya bersikap demikian. Dia letakkan cangkulnya. Dia berjalan menyonsong isterinya.
“Ada apa, Nilam?”
“Di Pariaman, uda..”
“Ada apa di Pariaman?”
“Tengah terjadi perang antara Inggeris dan orang Pariaman yang dimotori murid Ulakan…”
Anak muda itu tertegak, diam dan kaku.
“Perang..?”
“Begitu yang saya dengar dari cerita orang saat saya membeli minyak goreng di kedai…”
Anak muda itu menoleh ke arah Pariaman. Tatapannya seperti menembus dan melintasi puncak-puncak bukit terjal yang mengepung danau Maninjau.
“Saya berharap ada sesuatu yang bisa uda lakukan untuk menolong mereka….” ujar perempuan cantik itu perlahan.
Anak muda itu, si Giring-Giring Perak, mencium kening isterinya. Kemudian dia berjalan ke kandang kuda disamping rumahnya. Sesaat setelah di punggung kuda, dia menatap isterinya.
Saat itu dua orang perempuan datang dari rumah sebelah. Dia merasa aman meninggalkan isterinya di perkampungan kecil dsengan penduduk yang sudah seperti saudara mereka sendiri.
“Saya titip Nilam pada Uni…” katanya perlahan pada kedua perempuan yang tegak di sisi isterinya.
Kedua perempuan itu menangguk sambil memeluk bahu Siti Nilam. Diapun memacu kudanya. Siti Nilam berdoa, semoga suaminya dapat menolong orang Pariaman dalam peperangan melawan Inggeris. Dia berdoa karena dia juga sadar, bahwa betapapun saktinya seorang manusia, namun nasibnya berada di tangan takdir. Dan takdir ditentukan oleh Yang Satu.

—o0o—
Di Loji, Letnan Lancashire selesai membacakan surat putusan hukuman mati itu. Kemudian dia berbalik, memberi salut pada Kapten Calaghan. Kapten Calaghan membalas salut itu. Lalu memerintahkan supaya hukuman segera dilaksanakan.
Enam orang tentara Inggeris, yang tegak di atas pentas darurat di bawah tiang gantungan panjang itu, segera menyarungkan lingkaran tali ke leher ketiga tawanan itu.
Sidi Buang, murid senior Ulakan yang malam tadi gagal melarikan diri, dan luka di dalam tubuhnya akibat pukulan jarak jauh Uwak Sanga, menatap pada Uwak yang tegak sekitar sepuluh depa di depannya itu.
“Uwak….” katanya datar, “engkau hianati orang kampungmu. Demi Tuhan, akan tiba saatnya, engkau akan mati secara hina. Aku kutuk engkau, Uwak Sanga! Semoga Tuhan mendengar kutukku ini. Bahwa engkau akan mati secara hina dan amat sengsara, atau pengkhianatanmu ini…”
Uwak Sanga tertawa menggerendeng. Namun diam-diam hatinya jadi tak sedap juga mendengar kutukan itu.
“He Sidi, nama waang Sidi Buang. Angok waang sebentar lagi akan dibuang ke neraka. Mayat waang akan dijadikan makanan kendik. Waang akan mengadakan perjalanan ke akhirat, wsaang akan bertemu dengan Tuhan yang waang sebut-sebut itu. Sampaikan salamku pada Tuhan waang itu he….he….”
Anduang Ijuak yang tegak di tengah, bukan main murkanya mendengar betapa Uwak Sanga memperolok Tuhan itu. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya telah digari kebelakang. Inilah yang membuat dia tak bisa bergerak. Namun dia bisa bicara, dan diapun bicara.
“Engkau memang seorang dajal, Uwak Sanga! Dajal paling jahanam yang pernah kukenal. Saya ikut menyumpahimu, semoga kau mati dengan cara yang paling hina…”
Kembali Uwak Sanga tertawa menggerendeng.
“Kau Ijuak, juga sampaikan salamku pada Tuhanmu itu. Di neraka banyak perempuan cantik. Tapi kalau kau lewat di sana, pejamkan matamu. Sebab semua mereka telanjang. Saya hawatir engkau akan tergoda oleh paha dan dada yang montok dan ikut terjun ke neraka. Haa…haa…haa…he…hee….!”
-oOo-
Tawa Uwak Sanga terhenti. Dia dan semua yang ada dekat tiang gantungan itu menoleh ke arah laut.

Menoleh karena mendengar suara gemuruh yang sahut menyahut dari tengah laut. Tepatnya dari kapal kerajaan Inggeris yang sejak beberapa hari lalu buang jangkar di sana.
Kapal itu jelas terlihat dari tempat mereka kini berada. Mereka pada terkesiap. Dari sana ledakan dan gemuruh yang tadi mereka dengar berasal. Kini kapal itu sedang dimamah api. Pekik dan teriakan terdengar dari kapal itu.
Lalu, tiba-tiba dari berbagai penjuru terdengar teriakan. Dari berbagai penjuru orang berdatangan ke loji itu. Didahului orang-orang menunggang kuda, kemudian di belakangnya diikuti ratusan orang membawa pedang, tombak, panah, dan alat apa pun yang bisa dipakai untuk membunuh orang.
Letnan Lancashire dan Kapten Galaghan tertegun. Begitu juga Uwak Sanga. Puluhan tentara Inggeris yang ada di Loji itu pada mengangkat bedil. Perangpun pecah dalam hiruk pikuk yang benar-benar tak terkendali dan di luar dugaan semua orang. Tidak pernah ada yang menyangka, Anduang Ijuak sekalipun, bahwa perang terbuka yang amat dahsyat akan pecah hari itu secara tiba-tiba di Pariaman.
Pagi sekali esoknya si Bungsu sampai. Dia mendapati puluhan mayat berserakan di Pariaman, khususnya di sekitar loji. Mayat orang Pariaman berbaur dengan mayat tentara Inggeris. Mayat orang Pariaman tak berbaju, celana hanya selutut. Mereka memakai ikat kepala dari secarik kain yang dililitkan berbuntuk deta. Mayat tentara Inggeris jelas berpakaian amat mewah. Celana putih, bersepatu, berbaju merah ketumba, bertopi lakan.
Mayat itu masih berserakan di sekitar loji, belum ada yang mengumpulkan apalagi menguburkannya. Loji itu sebahagian hangsu dilalap api, namun sebagian lagi masih utuh. Di bagian yang masih utuh itu belasan tentara Inggeris bertahan dengan diam. Kapal Inggeris yang berlabuh tak jauh dari pantai masih belum tenggelam, tapi sudah teleng. Sebahagian sudah hangus dimamah api. Di kapal itu juga belasan tentara Inggeris masih bertahan.
Orang Pariaman tak kelihatan. Mereka berkumpul dan terlindung dalam belukar lebat tak jauh dari loji. Perang memang telah berhenti, namun belum berakhir. Masing-masing pihak menyusun kekuatan dan taktik, dan…menanti. Tak ada yang berani keluar dari “sarang” dimana kini mereka berada. Bahkan untuk mengumpulkan mayat teman-temannyapun mereka belum berani.

Parang Pariaman (bagian 14)

Kapten itu terdiam. Dia tahu, bahwa Anduang Ijuak tidak ikut menyerang Letnan Sammy. Yang menyerang hanyalah Sidi Marhaban. Tapi dialah justru yang memerintahkan pada prajurit yang menyaksikan peristiwa itu agar mengatakan bahwa Anduang Ijuak ikut menyerang.
Dan dengan alasan itu dia bisa menangkapnya.
“Ini suatu kesempatan emas bagi tuan untuk melumpuhkan perlawanan orang Pariaman terhadap kekuasaan Inggeris. Ini kesempatan yang takkan pernah lagi tuan temukan. Pergunakan kesempatan ini. Bukankah kesempatan hanya datang sekali dalam seumur hidup! Coba tuan bayangkan, kalau mereka mengadakan pemberontakan dalam Loji ini, dengan kekuatan utuh seperti sekarang, tuan akan kewalahan. Mereka orang berilmu tinggi. Barangkali tuan bisa membunuh mereka semua. Tapi sebelum itu terjadi, pihak tuan pasti akan jatuh korban puluhan orang.
Nah, kalau mereka telah dikurangi jumlahnya, maka korban dipihak tuan akan makin berkurang. Kalaupun mereka tidak memberontak, tapi lambat laun mereka akan bebas. Dan mereka bisa kembali menyusun kekuatan. Dan itu juga bahaya besar bagi tuan…”
Bukan main berbisanya ucapan dan hasutan Uwak Sanga ini. Kapten Calaghan yang memang khawatir atas pemberontakan para pimpinan Ulakan itu, dapat menerima ucapan Uwak itu sebagai suatu kebenaran.
Untuk memenuhi formalitas hukum, dia menyuruh jemput Anduang Ijuak dari tahanannya. Di tahanan itu, Anduang Ijuak sedang bicara perlahan dengan Syekh Malik Ibrahim. Mereka terhenti bicara begitu pintu dibuka.
Seorang sersan tegak di depan pintu. Sepuluh orang tentara Inggeris tegak empat depa di belakangnya dengan bedil siap ditangan. Sersan itu tak masuk. Dia tetap tegak dua depa di depan pintu. Mereka tahu, yang ada dalam tahanan ini adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Orang yang menurut pandangan orang Barat bisa berbuat banyak keajaiban. Orang yang bisa memukul lawannya dalam jarak beberapa depa sampai mati tanpa menyentuh si lawan. Dari jarak dua depa itu, sersan itu bicara.
“Kapten Calaghan ingin bertemu dengan tuan Anduang Ijuak. Ada sesuatu yang akan ditanyakannya berkenaan dengan kematian Letnan Sammy…..”
Anduang Ijuak bertukar pandangan dengan Syekh Malik Ibrahim. Sebagai orang-orang yang mempunyai kearifan tinggi, kedua pimpinan Sunua dan Ulakan ini merasa ada sesuatu yang tak beres dalam pemanggilan ini.

Namun mereka tak menunjukkan rasa getar. Anduang Ijuak tegak. Menyalami Syekh Malik Ibrahim. Kemudian Anduang itu melangkah keluar. Syekh Malik Ibrahim menatapnya dengan diam. Anduang Ijuak juga melangkah dengan diam menuju gedung utama di mana Kapten Calaghan berkantor.
Anduang Ijuak memang tak terkejut ketika kepadanya dikatakan bahwa dia dijatuhi hukuman mati siang ini. Tak ada kesempatan melawan baginya. Barangkali saja dia punya kesempatan itu. Tapi dia segera ingat puluhan murid dan pimpinan Ulakan yang berada dalam tahanan di loji itu. Kalau dia berbuat sesuatu yang tak diingini, dia khawatir kalau mereka akan ditembak semua.
Berbeda dengan hukuman mati yang dijatuhkan pada kedua murid Ulakan terdahulu, dimana hukuman itu disebarluaskan, maka hukuman mati terhadap Anduang Ijuak didiamkan saja. Kapten Calaghan tak mau mengambil resiko terlalu besar. Kalau hukuman mati terhadap Anduang Ijuak disebarkan secara terbuka, maka keadaan akan benar-benar rawan.
Karena itu, atas desakan Uwak Sanga juga, hukumannya dirahasiakan saja. Hanya pelaksanaannya saja yang bersamaan pagi itu. Setiap sudut loji dijaga dengan ketat sekali. Beberapa meriam yang berasal dari kapal, dipindahkan ke setiap sudut loji.
Moncong meriam itu menganga menghadap ke empat penjuru. Ke arah pasar. Ke arah kampung. Ke arah mesjid dan ke arah balai pertemuan. Setiap sudut di atas pagar loji itu kini, kelihatan lima orang tentara Inggeris dalam pakaian beludrunya yang berwarna merah putih tegak dengan bedil terhunus.
Di luar, ada dua regu yang terdiri sepuluh orang tiap regu, yang meronda keliling loji. Di pintu gerbang, yang merupakan satu-satunya pintu untuk keluar masuk ke loji itu, tegak dengan sikap waspada dua puluh serdadu pasukan berkuda.
Kapten Calaghan tak mau menanggung resiko. Pagi ini akan dilaksanakan hukuman mati terhadap tiga orang murid Ulakan. Bila ada yang ingin yang membebaskannya maka mereka sudah siap dengan pasukan dan meriam.
Di dalam loji ketegangan benar-benar memuncak. Syekh Malik Ibrahim sudah diberitahu bahwa Anduang Ijuak juga dijatuhi hukuman mati. Syekh itu menyebut nama Allah berkali-kali. Namun seperti halnya Anduang Ijuak yang khawatir akan nasib para murid senior Ulakan yang tertahan di loji ini, Syekh itu juga demikian.

Dia ingin dan bisa melarikan diri dengan membunuh beberapa orang pasukan Inggeris. Tapi bagaimana dengan murid-muridnya? Akhirnya pimpinan Ulakan itu hanya bisa berdoa. Tanpa dapat dia tahan, matanya jadi basah tatkala dia dengar suara genderang berderam perlahan. Suara genderang berderam perlahan itu adalah genderang yang ditabuh untuk upacara penggantungan.
Deram genderang itu menembus dinding loji yang dibangun sekaligus untuk benteng pertahanan itu. Sayup-sayup suaranya sampai ke telinga orang yang berada di pasar. Di rumah penduduk, di mesjid, di tepi pantai. Semua yang mendengar pada tertegun. Tegak dan mengarahkan pandangan mereka ke loji. Semua mereka tertegak diam.
Kanak-kanak merapatkan tubuhnya pada ayah atau ibu mereka. Mereka ikut dicekam rasa takut melihat sikap takut orang tua mereka.
“Suara apa itu, ayah?”
“Sssst. Diamlah….”
“Suara apa itu, mak?”
“Sssst. Diamlah….”
“Tapi suara apa itu? Kedengarannya seperti suara genderang….”
“Ya. Suara genderag. Ada orang kampung kita yang dihukum gantung di dalam loji sana…..”
“Dihukum gantung?”
“Ya…..”
“Apakah mereka mencuri?”
“Tidak. Mereka membunuh orang Inggeris”
“Membunuh orang Inggeris?”
“Ya…”
“Kalau begitu mereka orang baik. Bukankah begitu ayah berkata dahulu? Bahwa orang Inggeris itu adalah orang jahat, dan siapa yang melawan dan membunuhnya adalah orang baik?”
“Ya….”
“Kalau begitu kenapa tak ayah tolong?”
Lelaki itu diam.
“Kenapa ayah biarkan saja orang itu di gantung Inggeris?”
“Karena…..karena ayahmu juga orang tak baik” ujar lelaki itu dengan nada yang pahit.
“Tapi, bukankah ayah juga belajar silat malam-malam bersama mak Kudun?”
“Ayah memang belajar. Tapi tak pernah mendapatkan apa-apa….”
“Tapi, ketika ayah berkelahi bersama-sama mengeroyok pak Bidin dari Tiagan dulu, bukankah…”
“Diamlah, nak……” lelaki itu berkata dengan gelisah.

Anak itu memang diam. Telinganya mendengarkan deram genderang itu. Matanya menatap ayahnya yang menunduk dan gelisah. Dan pikirannya yang masih kecil terheran-heran, kenapa ayah tak mau mengeroyok Inggeris seperti ayahnya dulu mengeroyok seorang pedagang dari Tiagan itu.
Waktu itu tubuh pedagang itu hampir luluh lantak. Ayahnya bersama sebelas orang dari kampung mereka ini menegeroyok pedagang keliling itu habis-habisan. Kini ada orang baik yang digantung Inggeris. Ayahnya diam saja. Pikiran kanak-kanaknya yang lugu tak mengerti, mengapa ayahnya tak berani menghimpun orang kampungnya untuk mengeroyok Inggeris, sebagaimana dulu ayahnya mengeroyok pedang dari Tiagan itu.
Pikiran lugunya menyimpulkan, ayah dan orang kampungnya hanya bagak melawan sesama orang awak. Tapi gacar ketikan berhadapan dengan penjajah yang benar-benar induk bagak.

—o0o—
Orang pertama yang dibawa ke tiang gantungan adalah Anduang Ijuak. Baru kemudian Sidi Buang dan Gindo Fuad.
Tiang gantungan itu terletak persis di tengah lapangan yang berada dalam areal Loji yang luas tersebut.
Sebuah kayu sebesar betis melintang dengan dua buah tongkat sebesar paha menyangga di kedua ujungnya. Tinggi tiang itu sekitar tiga meter dari tanah. Di sanalah ketiga orang itu akan digantung.
Di bawahnya, dibuat secara darurat sebuah panggung kecil. Yaitu tempat ketiga tawanan itu dinaikkan. Menurut urutannya, ketiga tawanan itu ditegakkan di atas panggung atau pentas itu. Kemudian jerat tali yang telah disiapkan dikalungkan ke laher mereka.
Dengan sebuah sistem yang telah diatur, enam buah kaki panggung dimana ketiga tawanan itu tegak, akan di sentakkan hingga copot, dengan demikian lantainya akan jatuh ke bawah. Akibatnya, tawanan akan tergantung-gantung di tali. Jarak kaki mereka dari tanah sekitar setengah meter.
Kini ketiga orang tawanan itu sudah ditegakkan di pentas darurat itu. Sekitar dua puluh orang murid Ulakan yang berada dalam tahanan di Loji itu, tegak dalam kamar mereka masing-masing.
Mereka tak bisa melihat ke luar. Sebab seluruh pintu tahanan itu selain berjerajak besi, di sebelah luarnya dilapisi pintu dari papan tebal. Meski tak dapat melihat, mereka tegak dengan diam mendengarkan suara genderang itu.

Parang Pariaman (bagian 13)

Dendam itulah hari ini yang dibalaskan oleh pimpinan perguruan Harimau Kumbang itu pada perguruan Ulakan. Kini kedua mereka, yang sepuluh tahun lalu hanya sebagai orang kedua di masing-masing perguruan, telah jadi orang pertama. Dalam waktu sepuluh tahun, Uwak Sanga telah jadi pimpinan perguruan di Harimau Kumbang.
Dia telah menghimpun banyak pendekar-pendekar yang dikenal sebagai “golongan hitam”. Sebaliknya, Malik Ibrahim kini juga telah menjadi pimpinan perguruan Tinggi Islam Ulakan dan sekaligus memimpin perguruan silat di Sunua.
Siapa sangka, sepuluh tahun kemudian, dendam itu dibalaskan oleh Uwak Sanga lewat tangan Inggeris. Dialah yang mencium bahwa ada usaha melarikan diri di pihak perguruan Ulakan. Sudah tiga malam ini dia bermalam di Loji Inggeris itu. Setiap malam, dengan ilmunya yang juga tak dapat dikatakan rendah, bahkan belum diketahui siapa di antara mereka berdua yang lebih unggul, pimpinan Harimau Kumbang itu mengadakan semedi pula.
Malam kedua, dalam semedinya, tiba-tiba dia “menangkap” hubungan yang diadakan oleh Malik Ibrahim dengan muridnya Sidi Buang. Seperti diketahui, Uwak Sanga adalah salah seorang murid dari Aceh. Dan Aceh juga terkenal sebagai penganut faham Tarikat yang terkenal itu. Yaitu salah satu tingkatan dalam Islam Syiah dimana zaman itu para pengikutnya diajarkan ilmu bathin.
Itulah pula sebabnya, hubungan batin lewat semedi yang dilakukan oleh orang Ulakan itu tertangkap oleh Uwak Sanga. Dia melaporkan hal itu pada Kapten Calaghan. Kapten ini segera mengatur perangkap. Di malam ke tiga, ternyata Sudi Buang dan Gindo Fuad masuk ke perangkap yang dipasang itu.
Malam itu sebenarnya sejak senja mereka telah mengatur siasat tersebut. Begitu malam datang, Uwak Sanga segera menempati rumah penjagaan dan lampu sorot itu, berhada-hadapanpan dengan kamar tahanan Sidi Buang.
Ketika Sidi Buang melempar kening tentara Inggeris dengan cangkir alumanium, Sidi tersebut sangat hati-hati. Dia tahu, kalau dia sampai membunuh tentara Inggeris itu, maka itu berarti ancaman yang sangat besar bagi gurunya dan teman-temannya yang ada di penjara itu.
Karenanya dia…

“Tapi Sidi dan Gindo itu akan ditembak atau digantung pagi ini. Waktu untuk berfikir tak ada lagi. Kini sudah hampir subuh…..” “Ya. Kita harus memilih, melarikan diri dan menimbulkan puluhan korban, atau tetap bersabar dengan merelakan dua korban itu saja….”
“Saya tak sampai hati membiarkan mereka. Mereka tertangkap karena suruhan kita……”
“Betapapun dalam setiap perjuangan akan ada korban dan resiko, Angku….”
“Saya tahu itu, Sanga. Saya tahu itu…..tapi bagaimana dengan Sidi dan Gindo….”
“Kita hanya dapat berdoa. Semoga terjadi keajaiban dan mereka tertolong. Atau kalau tidak semoga Tuhan menerima mereka sebagai syuhada…..”
Kamar tahanan itu kembali sepi. Sepi yang mencekam. Haripun pagi. Persiapan untuk menghukum mati kedua murid Ulakan itupun dipersiapkan. Ternyata kedua mereka tak dapat memilih hukuman mana yang akan mereka tempuh.
Apakah hukuman tembak atau hukuman gantung. Mereka tak dapat memilih karena mereka masih pingsan! Pingsan akibat pukulan Uwak Sanga! Karenanya Kapten Calaghan menetapkan saja agar mereka dihukum gantung.
Itu lebih memudahkan bagi tentara Inggeris. Artinya, menggantung orang pingsan lebih mudah daripada harus menembaknya. Hukuman tembak, menurut tata cara militer, yang dianut oleh kalangan militer sedunia, haruslah dilakukan dalam keadaan si terhukum tegak lurus.
Ini menyulitkan. Bagaimana mereka harus tegak, sementara mereka belum sadar. Karena di halaman loji itu ada tiang yang cukup tinggi, bekas menggantung karung-karung untuk latihan menusuk dengan bayonet oleh para tentara, maka diputuskan saja mengambil jalan mudah. Menggantung kedua tahanan itu!
Namun Inggeris tetaplah Inggeris. Meskipun dia berada di negeri jajahan, mereka tetap saja mengumumkan hukuman secara terbuka tersebut. Begitu dicantumkan dalam kitab hukum mereka. Maka pagi-pagi sekali, enam puluh pasukan berkuda berlari kencang ke sepuluh tempat di Pariaman dan sekitarnya.
Masing-masing bahagian terdiri dari enam orang. Yang seorang membacakan putusan Komandan loji atas nama Kerajaan Inggeris, dan yang lima lagi menjaga kalau-kalau ada rakyat yang berbuat onar tatkala putusan dibacakan.

Parang Pariaman (bagian 12)

Namun itu berarti mengundang bahaya yang lebih besar. Syekh Malik Ibrahim dan semua pimpinan Ulakan bisa dibuang ke Irian atau ke Ambon. Betapapun bahaya yang tengah mengancam Gindo Fuad dan Sidi Buang, mereka haruslah menerimanya sebagai resiko sebuah perjuangan.
“Angku….”, Anduang Ijuak berkata perlahan.
Sapa yang lembut memang menyadarkan Syekh Malik Ibrahim. Dia yang sudah siap menghancurkan pintu penjara, akhirnya membatalkan niatnya. Namun dia masih tetap tegak membeku di depan pintu. Berusaha menangkap gerak yang dilakukan oleh muridnya di luar sana.
Apa sebenarnya yang terjadi di luar sana? Apakah memang kedua muridnya itu masuk jebakan? Kedua orang itu, Sidi Buang dan Gindo Fuad, perlahan mendekati pintu besar.
Mereka melihat dua orang penjaga di masing-masing pintu sedang terkantuk-kantuk. Mereka sudah berniat untuk menyergap, tapi saat itulah tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa mengakak. Mereka tertegak. Suara tawa itu datang dari sudut kiri.
Ketika mereka masih dalam keadaan terkejut, mereka dikejutkan lagi yang dihadapkan serentak oleh penjaga yang kiranya sejak tadi sudah memasang perangkap. Sebuah lampu sorot, yang terbuat dari kaleng yang diberi timah diarahkan kepada mereka dari atas.
Mereka jadi silau. Sidi Buang, yang memiliki kepandaian tinggi, menghayunkan tangan. Mengirimkan pukulan tenaga dalam jarak jauh untuk memadamkan lampu sorot itu. Lampu sorot itu terletak di atas setinggi tiga meter di atas tanah.
Sebenarnya, dengan kepandaian yang dia miliki, dia bisa memukul hancur lampu itu. Namun aneh, tenaganya terasa lenyap ketika pukulan itu sudah dia lancarkan. Lampu itu tetap menyala. Sekali lagi dia mengangkat tangan. Kemudian mengirimkan sebuah pukulan. Tapi lagi-lagi pukulannya dibuat tak berdaya. Lampu sorot itu tetap menyala!
Dia segera tahu, ada orang berkepandaian tinggi telah memunahkan pukulan tenaga batinnya. Suara tawa tadi lenyap tiba-tiba. Di keliling kedua orang murid Ulakan itu, kini tegak sekitar seratus prajurit Inggeris dengan bedil siap memuntahkan peluru! Mereka masuk perangkap yang dipasang dengan amat sempurna!

Kemudian terdengar derap langkah sepatu. Sebuah pintu terbuka. Dari dalam muncul Kapten Calaghan. Dia tegak dalam pakaian dinas yang gagah. Menatap pada kedua murid Ulakan yang tertegak seperti maling kedapatan tangan itu.
“Hmm. Ingin melarikan diri!” kata Kapten itu dengan suara dalam.
Sidi Buang membuka pakaian tentara Inggeris yang tadi dia ambil dari penjaga yang telah dia lumpuhkan. Membuka baju dan celananya. Kemudian melemparkannya ke lapangan di depannya. Pakaian itu jatuh dua depa di depan kapten Calaghan!
Kini, Sidi itu tegak dengan celana dan dada telanjang. Dan tubuhnya memperlihatkan kekukuhan tubuh seorang pesilat! Kapten Inggeris tersebut memandang ke arah lampu sorot yang masih saja menyala.
“Terima kasih, Uwak. Firasat anda memang benar….”, kapten itu bicara.
Sidi Buang serta Gindo Fuad jadi heran mendengar ucapan itu. Mereka lebih kaget lagi, tatkala dari balik cahaya lampu sorot itu, seorang lelaki besar, bertampang seram muncul. Dia langsung meloncat dari atas ketinggian tiga meter itu ke tanah. Di udara tubuhnya bersalto tiga kali. Kemudian kakinya menginjak tanah di samping kapten Calaghan.
“Uwak Sanga…..!” desis kedua murid perguruan Ulakan itu hampir berbarengan, menyebut nama lelaki yang baru muncul itu.
“Uwak Sanga, Jahanam!!” maki Syekh Malik Ibrahim dan Anduang Ijuak dari kamar tehanannya.
Mereka memaki setelah mendengar ucapan kedua murid mereka di luar sana. Kedua pimpinan Ulakan itu saling pandang dalam gelap.
“Ternyata dia memproklamirkan permusuhannya dengan Ulakan hari ini….”, kata Syekh Malik Ibarahim.
Di luar sana, Uwak Sanga, pimpinan perguruan Harimau Kumbang dari Pariaman itu tegak dan menatap pada kedua murid Ulakan itu.
“Tangkap dan jebloskan mereka ke kamar bawah tanah. Jangan diberi makan selama dua pekan…”, terdengar perintah kapten Calaghan.
“Tunggu…” suara Uwak Sanga memutus.

“Barangkali hukuman mereka harus lebih berat lagi. Saya tak melihat penjaga yang dia lumpuhkan tadi. Coba periksa dahulu penjaga itu…..” Kapten Calaghan memerintahkan empat orang tentaranya untuk membuka sel dimana Sidi Buang di tahan tadi. Sidi Buang tetap tenang. Dia tak usah khawatir akan menerima hukuman lebih berat. Sebab dia tak mencelakai tentara Inggeris itu.
Namun dugaannya meleset. Ketika tubuh penjaga yang dia lumpuhkan itu diangkat keluar, ternyata penjaga itu telah menjadi mayat. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata bahagian belakang kepalanya pecah. Dari sana darah kelihatan masih mengalir.
“Sersan Ronald sudah mati, Sir” lapor tentara yang membawa mayat temannya itu.
Kapten Calaghan melangkah mendekati mayat Ronald. Kemudian menatap pada kedua orang murid Ulakan itu.
“Engkau telah membunuh seorang pasukan berkuda kerajaan Inggeris. Untuk itu hukumannya hanya satu, yaitu hukuman tembak atau gantung sampai mati.”
Suara kapten Inggeris itu terdengar beku dan dingin. Dia menyambung lagi dalam nada suara yang masih tetap sama.
“Kalian boleh memilih, hukuman mana yang kalian sukai. Tapi, sebelum matahari tinggi esok pagi, kedua kalian sudah harus mati. Kurung mereka!”
Tanpa dapat melawan, karena itu hanya akan sia-sia, apalagi di sana ada Uwak Sanga, maka kedua murid senior Ulakan itu hanya berdiam diri ketika tangannya dibelenggu ke belakang.
Ketika akan diseret ke sel, Sidi Buang menoleh pada Uwak Sanga. Kemudian dia berkata pada pimpinan perguruan silat Harimau Kumbang itu.
“Uwak, kami selama ini menghormati engkau dan perguruanmu. Siapa sangka, hari ini engkau menjilat pantat penjajah. Engkau akan menerima pembalasan yang setimpal….”
Muka Uwak Sanga jadi merah padam. Tangannya memukul ke depan. Empat orang tentara Inggeris yang memeganginya terjengkang. Kedua murid Ulakan itu kini tertegak di tengah lapangan dalam areal Loji.
“Mulutmu terlalu lancang, Sidi. Sama lancangnya dengan gurumu.”
Sehabis ucapannya, tangan Uwak Sanga memukul lagi. Kedua murid Ulakan itu terpental kena pukulan tenaga batin jarak jauh itu. Sidi Buang muntah darah. Sementara Gindo Fuad pingsan.
Sehabis memukul, Uwak Sanga berkata lantang.
“Syekh Malik Ibrahim! Hari ini kubuktikan pada kalian, bahwa kami juga sanggup meng hina kalian seperti kalian pernah menghina perguruan kami sepuluh tahun yang lalu!”
Suaranya bergema dalam malam yang mulai dingin. Suaranya yang diiringi tenaga dalam itu memang ditujukan pada pimpinan perguruan Ulakan yang kini berada dalam sel bawah tanah itu.

Di dalam sel tersebut, Syekh Malik Ibrahim merasa tubuhnya menggigil. “Si Sanga! Jahanam. Dia masih berdendam atas kejadian sepuluh tahun yang lalu….”, ujar Syekh itu perlahan.
Ingatannya merangkak ke peristiwa sepuluh tahun yang silam. Saat itu, dia masih menjabat sebagai wakil pimpinan di Ulakan. Waktu itu ada pertemuan beberapa perguruan silat di Pariaman. Syekh Malik Ibrahim hadir. Di antara yang hadir juga kelihatan Uwak Sanga. Yang waktu itu juga menjabat sebagai wakil pimpinan perguruan Harimau Kumbang.
Pertemuan itu sebenarnya semacam “uji coba” bagi pesilat tangguh di kawasan mulai dari Pariaman sampai ke Tiku. Dalam pertemuan para pendekar seperti itu, tak usah disangsikan kalau terjadi semacam “perang tanding”.
Meski dalam bentuk perkelahian atau pertandingan terbuka, namun diam-diam mereka saling memperlihatkan ketangguhan masing-masing perguruan. Sebenarnya ada lebih dari sepuluh perguruan silat yang hadir dalam pertemuan itu.
Namun yang paling keras bersaing adalah perguruan Ulakan dan perguruan Harimau Kumbang. Ketika tiba saatnya pertandingan antara perguruan yang saling berebut pengaruh itu, masing-masing memajukan seorang andalan.
Mula-mula dari perguruan Ulakan. Yang muncul adalah Malik Ibrahim. Dia maju dan tegak di depan orang ramai yang membentuk sebuah lingkaran. Tenda-tenda dipasang untuk para senior dan pimpinan perguruan.
Kemudian dari Harimau Kumbang yang muncul adalah Uwak Sanga. Kedua orang ini adalah wakil pimpinan dari dua perguruan besar. Namun tanpa diduga, Malik Ibrahim membalikkan badan. Memberi hormat pada gurunya dan berkata.
“Maafkan, saya tak bisa menghadapi orang ini….” katanya.
Tanpa menunggu reaksi dari gurunya, dia lalu meninggalkan arena. Bukan main hebatnya akibat perbuatan Malik Ibrahim ini. Perguruan Harimau Kumbang seperti ditampar dan dilempari kotoran manusia.
Tidak mau berhadapan merupakan penghinaan yang hebat. Siapapun dapat menduga apa penyebab Malik Ibrahim tak mau menghadapi Uwak Sanga. Uwak Sanga yang juga seorang Islam dikenal sebagai pemakan masak mentah. Suka mencabuli anak bini orang dan suka berbuat tak senonoh di depan orang banyak.

Parang Pariaman (bagian 11)

Tidak hanya sampai di sana. Dari pihak Ulakan tidak hanya berempat yang ditangkapi, ada dua puluh orang jumlah mereka. Semuanya dilakukan Inggeris demi keamanan. Dikhawatirkan, kalau murid-murid senior Ulakan itu berada di luar Loji, bisa berbahaya. Mereka bisa menyusun kekuatan. Oleh karena itu Kapten Calaghan berpendirian, semua mereka harus ditangkap. Demi keamanan!
Malam itu juga, semua mereka dibawa ke loji Inggeris di Pariaman. Perguruan Islam itu, Ulakan dan Sunua, tiba-tiba dicekam rasa lengang.
Kapten Calaghan memang telah memper timbangkan setiap langkah yang dia ambil. Dengan menangnkap dan menahan sebahagian besar orang-orang perguruan Islam Ulakan di lojinya.
Itu sama dngnan menahan dan menyimpan dinamit yang setiap saat meledak dan menghancurkan lojinya berikut mereka, semua isinya.
Kapten Calaghan bukannya tak tahu akan hal itu. Namun sebagai perwira Inggeris yang menang dari perang dengan Napoleon, dia punya pikiran yang cerdik. Malam itu Syekh Malik Muhammad dan kawan-kawannya mereka tahan. Esok siangnya, lima puluh tentara berkuda di bawah pimpinan seorang Letnan tiba dari Padang.
Tentara berkuda ini datang sebagai peng-ganti mereka yang ada di pos. Sekali lima bulan selalu ada aplusan. Yang di Padang datang ke Pariaman dan Tiku. Menggantikan mereka yang sudah lama di pos.
Tapi karena keadaan yang darurat, Kapten Calaghan tak membiarkan ada anak buahnya yang ditukar untuk cuti pulang ke Padang. Dia malah tetap menahan kekuatan yang 50 orang itu di Pariaman.
Malah siang itu juga, dia mengirim tiga orang kurir ke Padang mengatakan bahwa keadaan darurat. Di Padang yang menjadi pimpinan tertinggi tentara pendudukan Inggeris di Sumatera Barat adalah kolonel Dundee Yr.

Seorang kolonel angkatan laut yang mata sebelah kanannya buta karena pecahan meriam kapal. Cacat di matanya itu dia alami ketika perang selat Bosporus yang terkenal itu. Yaitu ketika dia memimpin satu skwadron kapal Inggeris melawan kapal-kapal perang Perancis. Dia luka parah, sebelah matanya jadi buta. Namun perang itu dimenangkannya dengan gemilang.
Kapten itu terkenal kejam kepada musuh-musuhnya. Begitu dia menerima laporan dari kapten Calaghan bahwa di Pariaman ada sekelompok orang Islam yang tengah menyusun kekuatan untuk memberontak pada Inggeris, dia lalu menambah pasukan berkuda 50 orang lagi. Kemudian mengirimkan dua buah kapal perang ke sana untuk mengangkuti kaum pemberontak yang tertangkap itu.
Kapal yangt dikirim itu adalah kapal perang THE KING dengan 12 meriam dan sebuah kapal THE LORD dengan ukuran lebih kecil. Yaitu hanya memiliki 6 meriam.
Kapal itu segera bertolak ke Pariaman. Hanya dua hari kemudian sejak tertangkapnya Syekh Ulakan itu bersama pengikutnya, kapal perang itupun sampai di sana. Begitu berada di laut Pariaman, mereka melepaskan temsbakan salvo dua puluh dua kali ke udara.
Semacam perang urat syaraf. Penduduk Pariaman memang dibuat kecut dengan pemusatan kekuatan Inggeris di kota kecil itu. Dalam waktu hanya dua hari, selain 50 pasukan berkuda yang datang pertama, datang lagi 50 pasukan berkuda tambahan. Kemudian dua buah kapal perang dengan pasukan sekitar enam puluh orang! Total, di Pariaman saat itu ada 260 orang pasukan Inggeris. Mobilisasi kekuatan yang luar biasa.
Perguruan Islam Ulakan dan Sunua ditutup. Pintunya digerendel dengan kunci besi oleh Inggeris. Beberapa orang muridnya yang tak ditangkap karena dianggap tak berbahaya, disuruh pulang ke tempat asal 50 Kota, Agam, Tanah Datar, Jambi, Palembang dan Tapanuli.
“Jika kalian tak pulang, dan masih berada di sini dalam tempo 2 x 24 jam, maka kalian akan ditangkapi”, demikian perintah Inggeris.

Namun murid Ulakan dan Sunua itu terkenal punya rasa setia kawan yang amat tebal terhadap perguruan mereka. Beberapa orang justru minta ditangkap saat itu juga. Beberapa orang menghindar. Namun mereka tak pulang seperti yang diancamkan pada mereka.
Mereka justru membuka pakaian perguruan Islam mereka. Berganti pakaian seperti rakyat Pariaman pada umumnya. Kemudian berbaur dengan masyarakat. Mereka masih punya harapan, bahwa mereka akan dapat bertemu dengan Syekh Malik Muhammad dan teman-temannya yang dikurung di loji.
Mereka masih berharap, bahwa suatu saat akan ada kekuatan yang tersusun untuk membebaskan dan mengusir Inggeris dari tanah Pariaman. Mereka juga masih punya harapan, bahwa mereka masih akan memiliki perguruan Islam Ulakan. Dalam sejarahnya, ini adalah kali yang keempat perguruan itu ditutup dan dilarang oleh penguasa penjajahan.
Semua alasan penutupan itu hanya satu, takut pada pemberontakan. Ya, Islam oleh kaum penjajah saat itu dianggap sebagai suatu bahaya dimana pemberontakan akan dipersiapkan. Islam dianggap sebuah momok dan dimusuhi. Karena Islam ditakuti dan dimusuhi, karena mereka orang yag dicurigai akan memberontak, maka penjajahpun berusaha memecah kelompok ini. Caranya mudah saja.
Di Pariaman ada sebuah perguruan Silat yang menampung banyak orang. Yaitu perguruan Harimau Kumbang. Inggeris tahu bahwa antara perguruan ini dengan perguruan silat di Sunua terdapat permusuhan tajam, tapi secara diam-diam. Pimpinan perguruan Harimau Kumbang itu, seorang lelaki beragama Islam bernama Uwak Sanga, diketahui suka pada perempuan dan uang.
Inggeris mempergunakannya. Dia diberi upeti berupa gadis cantik dan penghargaan berupa uang. Tak begitu sulit dizaman itu untuk mencari dan menghadiahkan kedua macam barang ini pada seseorang.

Yang diminta oleh Inggeris kepada Uwak Sanga tak pula banyak. Hanya memata-matai dan melaporkan pada Inggeris kalau-kalau ada murid Ulakan dan Sunua yang masih berkeliaran di Pariaman atau di mana saja. Uwak Sanga yang mabuk kepayang karena hadiah gadis cantik dan uang segera menyebar anak buahnya ke desa dan berbagai tempat di Pariaman.
Mereka tentu saja segera mengetahui beberapa orang murid Ulakan. Murid Ulakan ini segera diketahui, karena kebanyakan mereka bukan orang Pariaman asli. Yang orang Pariaman segera saja bisa diketahui mana yang murid dan mana yang tidak.
Dengan laporan dari murid-murid Harimau Kumbang ini, beberapa orang murid Ulakan segera pula ditangkapi dengan alasan tak me matuhi perintah. Loji itu makin hari makin pe nuh oleh tahanan. Suatu hari dalam penjara di Loji, Syekh Malik Muhamad bertanya pada se orang muridnya yang dijebloskan ke penjara itu.
“Kenapa kalian ditahan?”
“Inggeris menyuruh kami pulang ke kampung masing-masing setelah menutup perguruan. Tapi kami yang tinggal dua puluh orang, tak segera pulang. Kami menyebar di tengah rakyat. Ada yang di Pariaman, di Sunua, di Ulakan, di Toboh, di Petak, di Ketaping, kami ingin menyusun kekuatan, atau menunggu saat yang tepat untuk membebaskan angku syekh….” jawabnya perlahan.
Dua orang tentara Inggeris lewat. Kesempatan makan seperti ini, dimana mereka agak diberi kebebasan di halaman dalam Loji, adalah kesempatan yang jarang tersua.
“Lalu kenapa kalian masih ditangkapi?”
“Inggeris menyebar mata-mata. Dan mereka mempergunakan murid-murid perguruan Harimau Kumbang!”
Syekh Ulakan menatapnya tak percaya.
“Memang benar angku. Mereka tentu saja dengan mudah mengenal kami. Dan kamipun ditangkapi. Namun tak semua berhasil mereka ketahui. Sebahagian dari kami kini masih berada di luar. Menanti perintah dari angku….”
Pembicaraanmereka terputus. Pengumuman terdengar dari pengawal untuk segera masuk kembali ke sel masing-masing. Sambil meletakkan piringnya Syekh itu berbisik.
“Nanti malam akan ada yang keluar. Engkau mau ikut?”
“Saya ikut, angku…”
“Baik, di kamar berapa engkau ditahan?”
“Dikamar enam dekat penjagaan angku, kemana saja kami harus pergi, angku?”
“Sudah diatur. Engkau akan mendapat penjelesan dari Sidi Buang, yang juga akan melarikan diri malam nanti….” dan pembicaraan itu putus sampai disana.
Syekh Malik Muhammad telah turun ke selnya di bawah tanah.

Bersama dengan Anduang Ijuak, dan kedua syekh wakilnya. Bagi mereka yang ditahanan di bawah tanah, hanya sekali seminggu dapat menghirup udara luar tahanan. Begitu berada dalam sel, Anduang Ijuak bertanya. “Apakah tak sebaiknya kita lari bersama malam ini, angku Syekh?”
Syekh itu tak segera menjawab. Dalam gelap dia menarik nafas. Sel ini cukup kecil jika ditempati oleh seorang saja. Kini mereka di jejal berdua di dalamnya. Namun itu ada untungnya juga. Selain panasnya tak tertahankan, namun mereka tak merasa begitu kesepian. Mereka malah bisa menyusun rencana.
“Pasukan Inggeris masih sangat kuat. Kapalnya masih berlabuh di laut. Dan pasukan berkudanya yang seratus itu belum ditarik. Kalau kita lari sekarang, maka seluruh pasukan berkuda itu akan memburu kita. Kita tak punya kesempatan.”
“Bagaimana dengan Sidi Buang yang akan melarikan diri malam ini?”
“Rencana itu akan tetap dilaksanakan. Dia akan pergi berdua dengan si Fuad. Melarikan diri sendiri atau berdua paling banyak, lebih menguntungkan daripada lari ramai-ramai.”
“Apakah tak ada akibatnya bagi kita yang di dalam ini bila dia melarikan diri?”
“Asal tidak diketahui bahwa kitalah yang mengaturnya, maka akibat itu takkan muncul.”
Kemudian sepi. Senjapun merangkak perlahan. Alangkah lamanya terasa menunggu malam datang. Ketika akhirnya malam turun juga ke permukaan bumi, mereka menanti dengan tegang.
Sidi Buang adalah salah seorang murid tua di perguruan Islam Ulakan. Dia disegani dan memiliki ilmu tinggi. Dia memang orang Pariaman asli. Dialah yang diserahi tugas malam ini untuk melarikan diri. Malam ini dia telah bersiap untuk melakukan itu.
Ketika dia memperkirakan waktu tengah malam, diapun duduk bersemedi. Di kamar lain, di kamar bawah tanah, Syekh Malik Ibrahim juga bersemedi. Malam yang larut juga merangkak ke hatinya lewat semedinya yang khusuk itu. Lewat semedi itu, kedua orang ini, Syekh Malik Muhammad di kamar tahanan bawah tanah, dan muridnya Sidi Buang di kamar tahanan atas, mengadakan kontak batin.
Getar semedi itu menghubungkan mereka, sulit dipercaya. Namun bagi orang yang pernah belajar ilmu tarikat, yaitu semacam ilmu kebatinan dalam Islam aliran Syiah seperti yang dianut oleh perguruan tinggi Islam Ulakan ini, maka kontak bathin lewat semedi begitu, bukanlah hal yang asing.
Artinya, ilmu begitu adalah suatu yang lumrah dan bisa dilakukan oleh mereka yang ilmunya telah mencapai tingkat tinggi. Di antara sebilangan jari murid-murid Ulakan yang bisa berbuat begitu, termasuklah di dalamnya Sidi Buang. Anak Pariaman itu.

“Saya mohon izin, angku Syekh….dan mohon doa” kata Sidi itu lewat getaran batin yang dia kirimkan. “Engkau tak sendiri, Sidi. Bawa serta Fuad yang kini dikurung dua kamar di sebelah kamarmu……”, Sidi Buang mendapat jawaban dari Syekh Malik Muhammad.
“Apakah tugas Gindo Fuad, Angku?”
“Jika mungkin, suruh dia ke Tilatang Kamang. Hubungi di sana seorang pemuka Islam bernama Tuanku Nan Renceh. Sampaikan salamku, dan permintaanku. Agar dia menolong kita….”
“Tapi….bukankah beliau seorang penganut aliran Wahibi, Angku?”
“Dalam situasi begini, Sidi, tak seorang Islampun yang akan berfikir apakah dia seorang Syiah Karmatiyah seperti kita, atau seorang Wahibi seperti beliau, maupun seorang Syiah Fathimiyah. Kita sedang menghadapi penjajah bangsa kita. Kenapa kita harus pecah dalam kelompok yang tak perlu? Pergilah padanya….dahulu dia pernah menolong kita, dalam perang melawan Belanda bersama anak muda yang akan kau jenguk itu.”
“Si Giring-giring Perak yang Angku maksudkan?”
“Ya. Ceritakan semua rencana padanya. Saya yakin anak muda sakti itu telah mendengar perihal kita. Kini paparkan rencana kita padanya. Nah, selamat jalan Sidi.” Sidi Buang masih duduk sejenak bersemedi. Kemudian melanjutkan dengan sembahyang sunat. Lalu diapun bersiaplah. Ini waktunya. Dalam saat-saat tengah malam begini, seorang penjaga akan lewat memeriksa seluruh kunci kamar. Dia tengah berpikir begitu ketika dia dengar langkah di luar.
Penjaga itu tengah memeriksa kunci kamar tahanannya. Tapi penjaga itu tak kelihatan, sebab di balik jeruji besi di kamarnya ini ada pintu papan tebal. Dia lalu mengetuk pintu papan tebal itu.
“Saya sakit, bisa tuan tolong?” katanya perlahan dengan suara menggigil.
Si penjaga tak sedikitpun curiga. Kalaupun ada maksud lain, maka tahanan tak juga mungkin lolos, sebab ada jerajak besi yang amat tebal. Penjaga itu membuka pintu papan tebal tersebut. Dan tanpa mau mendekatkan tubuhnya ke jerajak besi dia berkata :
“Ada apa?”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,510 other followers