Parang Pariaman (bagian 7)

“Kapiten, saya datang kemari sebagai orang undangan. Saya disuruh menghadap untuk berunding! Beginikah cara orang Inggeris berunding?” suaranya terdengar dingin penuh ancaman. Kapten itu tak segera menjawab. Dia menoleh pada anak buahnya.
“Siapa yang melihat apa yang telah terjadi……?” katanya.
Seorang sersan maju.
“Letnan Sammy melarang orang yang mati itu untuk masuk ke kamarnya. Cukup hanya orang ini……” katanya sambil menunjuk pada Anduang Ijuak, “tapi orang itu mendesak terus, malah ketika dilarang, dia justru memulai menyerang Letnan Sammy. Untuk membela diri, Letnan menembak orang itu. Ya, hanya untuk membela diri, Kapiten! Tapi ternyata itupun terlambat. Dia tela kena hantam duluan. Mereka sama-sama mati!”
Dialog ini dilakukan dalam bahasa Inggeris. Karenanya Anduang Ijuak tak mengerti sedikitpun. Kapten itu menatap pada Anduang Ijuak.
“Lalu, orang ini mengapa saja?” tanyanya sambil memberi isyarat pada Anduang Ijuak. Sersan tadi menjawab lagi dalam bahasa Inggeris.
“Dia….dia, dia hanya berdiri saja Kapiten….”
“Berdiri saja?”
“Ya. Begitu yang saya lihat, Kapiten”
“Kamu harus melihat bahwa orang ini ikut menyerang Letnan Sammy. Mengerti!!”
“Yes, sir!”
Anduang Ijuak yang tak mengerti bahasa itu, hanya tegak menanti. Namun firasatnya mengatakan bahwa orang ini tengah mengatur siasat untuk menjebaknya.

Dia telah mempelajari situasi. Kamar itu telah penuh sesak oleh tentara Inggeris. Satu-satunya yang lowong adalah jendela dekat tubuh Letnan itu. Tapi jendela itu juga tidak menghubungkannya dengan dunia luar. Jendela itu keluar ke pekarangan dalam Loji itu sendiri.
Baragkali dia bisa melarikan diri. Memukul mati seorang atau dua orang dalam ruangan ini. Tapi itu, jelas bahaya besar bagi peguruannya. Perguruannya tengah menghimpun tenaga.
Tenaga setiap orang sangat dibutuhkan. Kini Sidi Marhaban, salah seorang senior di perguruannya telah mati, berarti tenaga sudah berkurang. Kalau dia juga mati, maka tenaga makin berkurang.
Kalau dia meneruskan untuk menghantam orang-orang Inggeris ini, maka efeknya adalah ditangkapinya murid-murid Sunua. Itu jelas akan mematikan perguruan itu. Daripada murid-muridnya ditangkapi, lebih baik dialah yang memikul resiko itu. Demikian Anduang ini mengambil kesimpulan.
Kalau dia harus juga ditahan, maka pimpinan perguruan di Ulakan masih bisa berusaha terus. Dengan harapan demikian dia tetap saja berdiri mendengarkan jebakan yang diatur untuk dirinya dalam bahasa yang tak dia mengerti.
“Tuan, tuan terpaksa saya tangkap. Tuan dan teman tuan ini telah menyerang perwira saya. Menyerang dan membunuhnya,” ujar Kapten itu berkata tegas pada Anduang Ijuak.

Anduang itu menatap si Kapten dengan mata yang disipitkan. Sesaat, hatinya berkata lagi, kalau kubunuh kafir yang satu ini, apakah mereka bisa ditaklukkan semua? Tapi dia kurang yakin.
Sekali tiga hari selalu ada patroli berkuda dengan kekuatan lima puluh orang yang datang dari markas besar Inggeris di Padang.
Kemudian sekali sebulan, ada kapal perangnya berlabuh di laut Pariaman. Barangkali esok atau lusa kapal itu akan berlabuh. Dan biasanya, kapal itu membawa serta dua ratus pasukan angkatan laut. Inilah yang membuat Anduang Ijuak dan pimpinan Ulakan lainnya berpikir masak-masak betul sebelum bertindak.
Dengan pikiran itu pula Anduang ini mengurungkan niatnya untuk membunuh Kapten tersebut.
“Tangkap dan masukkan dia ke penjara. Menjelang dikirim ke Padang untuk diadili!!” perintah Kapten itu menggema.
“Sebentar Kapten…..,” Anduang Ijuak berkata.
Tentara yang mendekatinya dengan borgol di tangan menghentikan langkahnya. Kapten Calaghan menatap sambil mengacungkan pistol.
“Saya harap tuan menyerahkan jenazah teman saya ini ke perguruan kami……”
“Saya akan menyuruh orang ke sana dan menyuruh murid tuan untuk mengambil mayat ini ke mari”.
Sejanak Anduang Ijuak menatap Kapten itu. Ingin sekali dia meremukkan kepala jahanam itu. Namun perbuatan itu pasti takkan menyelesaikan masalah. Patroli Inggeris yang datang dengan pasukan berkuda dan singgahnya kapal perang mereka di perairan ini, menyebabkan dia harus berpikiran panjang.

“Saya harap tuan menepati janji tuan, kapiten. Saya tak ingin mayat ini teraniaya….”. “Tuan mengancam saya?”. “Tidak, tapi tuan telah berjanji”. “Bawa dia ke sel bawah tanah!”
Dan guru persilatan Sunua itupun diborgol di tangannya. Kemudian dengan menempuh jalan berbelit, dia dibawa ke sebuah kurungan bawah tanah. Kurungan khusus untuk orang yang berbahaya.
Bunyi pintu besi yang telah berkarat terdengar menegakkan bulu roma ketika pintu tahanan itu dibuka. Beberapa ekor tikus berlompatan keluar tatkala Anduang itu didorong dengan kasar ke dalam.
Kemudian pintu berdentang ketika ditutupkan. Lalu pintu papan di bahagian luarpun ditutupkan pula. Dan….gelap! Bau yang pengap. Udara yang sumpek. Dan …… di kakinya yang telanjang, beberapa ekor tikus berkeliaran. Cukup besar-besar.
Dia tak bisa melihat apa-apa dalam kurungan ini. Bahkan tak bisa melihat dinding. Buat sesaat dia memejamkan mata. Mengatur pernafasan. Empat kali bernafas, dari getar udara yang ditimbulkan amat perlahan oleh nafasnya, berdasar pembalikan udara, dia dapat mengetahui, bahwa dinding penjara itu hanya tiga langkah ke kanan. Dan tiga langkah ke kiri. Ke belakang hanya selangkah. Yaitu dimana pintu besi tadi ditutupkan. Ke depannya hanya tiga langkah. Segitulah luas kamar itu.
Ke atas, hanya ada jarak sehasta antara loteng dengan ubun-ubunnya. Kamar itu segera saja jadi panas karena tak ada pentilasi.
Dia masih tegak di sana dengan diam. Pikirannya segera ke perguruannya.
Banyak di antara teman dan murid-muridnya menyaran kan agar tidak memenuhi panggilan Letnan itu ke Loji.

Tapi ketika dia meminta pendapat Syekh Malik Muhammad, maka pimpinan perguruan itnggi Islam Ulakan itu menyuruhnya untuk pergi.
“Pergilah. Supaya jangan ada alasan bagi mereka untuk menangkapi kita……”
“Tapi bagaimana kalau Inggeris memasang perangkap. Sehingga kami terjebak di sana. Dihadapkan pada situasi yang sulit sekali. Kemungkinan itu bukannya hal yang mustahil. Mengingat sifat penjajah sama saja. Apakah dia bernama Inggeris, Belanda atau Portugis sekalipun….”
“Ya. Saya rasa, hal itu mungkin saja terjadi. Hanya saja harap Anduang hati-hati….” begitu ucapan Syekh Malik Muhammad yang menjadi pimpinan tertinggi di antara mereka.
Apa yang mereka duga tentang jebakan dan akal licik Inggeris itu, kini sudah jadi kenyataan. Dia hanya berharap agar Syekh malik Muhammad cepat bertindak. Dalam sejarahnya, perguruan tinggi Islam di Ulakan itu, dimana guru atau murid banyak orang-orang dari Aceh, Gujarat dan India, perguruan itu sudah beberapa kali ditutup.
Ditutup karena sifat ekstrimnya terhadap penjajah yang berkuasa. Tapi perguruan itu senantiasa bisa bangkit kembali. Yaitu disaat-saat chaos. Disaat-saat ketidakpastian penjajahan. Disaat kekacauan. Adakalanya pesisir Barat Sumatera itu ditinggalkan oleh penjajah. Meskipun berada di bawah kekuasaan mereka. Tapi karena kekurangan personil, maka negeri itu dibiarkan saja. Ini terjadi ketika tahun-tahun 1400, 1500 dan 1600 dimana secaara berurutan Portugis, Spanyol dan Belanda berkuasa.
Dalam jil di bawah tanah itu kini keadaan sepi. Untuk pertama kalinya Anduang Ijuak melihat setitik cahaya merembes masuk, cahaya yang lemah yang masuk ke bilik tahanannya itu adalah cahaya yang menerobos celah kecil di pintu di balik pintu besi yang tadi ditutupkan di belakangnya.

Anduang Ijuak meraba-raba dalam kegelapan itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah balai-balai di sebelah kanan. Balai-balai dari beton. Tangannya terpegang beberapa ekor tikus. Yang tampaknya telah mendaulat tempat itu sebagai tempat mereka.
Tikus-tikus itu bertemperasan. Lari dengan suara mencericit. Dia lalu menanggalkan jubahnya yang berwarna merah. Mengibaskannya ke atas balai-balai itu. Kemudian perlahan dia duduk. Terasa dingin.
Pikirannya melayang pada temannya. Sidi Marhaban yang tewas. Tapi dia agak puas juga. Sebab Sidi itu juga telah membunuh letnan pongah itu.
—-o0o—
Di Loji Inggeris itu suasana jadi sibuk luar biasa. Sibuk dan tegang. Terbunuhnya Letnan Sammy menimbulkan kegoncangan dan amarah di kalangan pasukan berkuda Inggeris yang sengaja di tempatkan di Loji itu.
Kapten Calaghan sendiri mengadakan rapat darurat. Tamu-tamu yang datang ke Loji itu, para pedagang dari Aceh, india dan Gujarat, segera diminta untuk meninggalkan Loji.
Bendera Inggeris yang terpancang tinggi di sudut Utara Loji, segera di kerek turun setengah tiang diiringi bunyi terompet yang menegakkan bulu roma.
Penduduk Pariaman yang berada di sekitar Loji itu menjadi terkejut. Keterkejutan mereka bermula dari suara-suara letusan dari dalam Loji tadi. Banyak di antara mereka yang melihat Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban memasuki Loji Inggeris itu.
Berita kedatangan pasukan berkuda ke perguruan Sunua telah tersebar ke seluruh pelosok. Dalam sehari semalam saja, berita itu telah menjalar ke mana-mana.

Parang Pariaman (bagian 6)

“Saya ingin bertemu dengan Komandan Loji….”  “Sayalah komandannya di sini…..”  “Saya yakin tuan tak suka bermain-main. Saya ingin bertemu dengan Kapten Calaghan….”
“Persoalan perguruan tuan, bukan….?”
“Benar…..”
“Persoalan itu telah dilimpahkan pada saya. Saya yang menanganinya. Sekarang tuan harus berurusan dengan saya…”, suara letnan itu terdengar cukup keras.
Anduang Ijuak cukup maklum. Jika dia berurusan dengan perwira muda ini, maka dia akan berhadapan dengan seorang opsir yang suka menyombong. Dia sebenarnya ingin balik kanan saja. Tapi dia tahu, kaum penjajah bisa berbuat sekehendaknya. Maka akhirnya, dengan menekan perasaan, Anduang ini masuk juga.
“Ajudan tuan silahkan menanti di luar……” kata Letnan itu.
“Dia wakil saya. Saya tak memiliki ajudan…..” kata Anduang Ijuak.
“Wakil atau tidak, saya tak suka terlalu banyak orang melayu masuk ke kamar saya. Baunya kurang sedap bagi hidung saya!!” ujar letnan itu.
Dan akibatnya luar biasa. Muka Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban berobah menjadi merah padam. Sidi Marhaban melangkah dua langkah dengan tangan siap menghantam mulut letnan yang lancang itu. Namun Anduang Ijuak mencegahnya. Tapi seiring dengan itu, Letnan Inggeris tersebut telah mencabut pistol di pinggangnya. Dan menembak langsung!

Peluru pistol yang terbuat dari serpihan besi halus itu segera menerkam dada dan muka Sidi Marhaban, jarak tembak ini demikian dekatnya. Hanya dalam jarak sedepa! Dan yang diterkam peluru itu bukan hanya dada Sidi Marhaban. Tetapi juga tangan kanan Anduang Ijuak. Tangan Anduang ini berada di dada Sidi Marhaban karena dia mencegahnya ketika akan maju menyerang Letnan itu tadi.
Begitu tembakan menggema, lima orang serdadu Inggeris segera menerobos masuk dengan bedil dan pedang di tangan. Peristiwa itu nampaknya memang telah diatur Inggeris sedemikian rupa. Ini adalah titik awal dari api yang bakal memamah Pariaman dalam perang melawan Inggeris.
Begitu mereka masuk, semuanya tertegak diam. Letnan itu sendiri juga masih tegak dengan pistol yang telah kosong tergantung di tangannya. Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban juga masih tegak di tempatnya.
Inilah yang luar biasa.
Tembakan itu, jika ditembakkan pada manusia biasa, pasti telah membunuh sejak tadi. Tapi, meski dengan dada berlobang-lobang, dengan pakaian hangus, dengan muka yang juga berlobang di beberapa tempat, Sidi itu masih tegak di sana.
Tak sedikitpun darah nampak menetes dari bekas luka di dadanya. Tak setitikpun! Tangan Anduang Ijuak yang sejak tadi menahan Sidi Marhaban, lambat-lambat dia turunkan. Anduang Ijuak menjadi amat berang dengan sikap Letnan itu.
Dan turunnya tangannya dari dada Sidi Marhaban merupakan suatu tanda, bahwa dia tak lagi menghalangi Sidi yang telah terluka itu.

Dan memang itulah yang dilakukan Sidi marhaban. Dia tahu, meskipun ilmu bathinnya tinggi, namun tembakan itu tadi benar-benar tak pernah diduganya. Dan dia tak sempat mempersiapkan diri. Dan dia tahu, nyawanya bakal tak tertolong lagi. Dia hanya bisa bertahan buat waktu yang singkat.

Bertahan agar darahnya tak menyembur keluar dari bekas lukanya. Bertahan agar dirinya tetap tegak.
Dan begitu tangan Anduang Ijuak lepas dari dirinya, dia menghimpun tenaga bathin. Dan letnan itu masih tegak takjub ketika Sidi Marhaban membentak keras!
Bentaknya diiringi sebuah pukulan dari tempatnya berdiri. Bentakan itu demikian mengguntur dan demikian menggetarkan. Semua yang ada dalam ruangan itu, kecuali Anduang Ijuak, merasakan betapa lutut mereka jadi lemah. Dan yang lebih hebat lagi adalah akibat pukulan yang ditujukan pada Letnan yang masih memegang pistol kosong itu. Tubuh Letnan Inggeris itu seperti terangkat dari lantai. Kemudian terlambung ke belakang. Menghantam meja. Merubuhkan meja itu dan menyerakkan benda-benda yang ada di atasnya. Kemudian menghantamkan tubuh si Letnan ke dinding di belakangnya!
Letnan itu tertegak di sana. Matanya mendelik. Dan dari mulutnya yang ternganga, tiba-tiba darah segar menyembur!
“Set…..setaaan….ilmu se….taannn……” rintihhnya.
Dan itu adalah kalimat yang terakhir di permukaan bumi. Kemudian tubuhnya rubuh! Dan Letnan ini mati oleh sebuah pukulan Ulu Ambek yang terkenal itu. Pukulan jarak jauh yang tak memerlukan persentuhan badan. Pukulan yang disertai tenaga bathin yang cukup tinggi.

Lalu, begitu Letnan itu rubuh, terhempas dan tertelungkup ke atas meja yang telah centang perenang itu, para prajuritnya yang masuk tadi jadi tersadar. Tubuh Sidi Marhaban tertembus peluru dari enam moncong bedil. Dia ditembak dari belakang. Tubuhnya tak bergoyang sedikitpun. Perlahan rubuh disambut oleh Anduang Ijuak.
“Sidi….!” imbaunya.
Tak ada jawaban. Anduang Ijuak maklum, bahwa pukulan Ulu Ambek yang dilakukan Sidi tadi terhadap Letnan itu, adalah gerakannya yang terakhir. Sebab dengan pukulan itu, dia telah melepaskan pertahanannya terhadap dirinya yang terluka.
Anduang Ijuak yang tegak di sisi Sidi itu mendengar bisikan menyebut “Allah” tatkala Sidi itu membentak dan memukulkan tenaga bathinnya. Dan tak beberapa detik setelah pukulan itu, darah segar merembes dari badannya yang terluka sejak tadi. Dan di saat itu, yaitu di saat para pengawal itu belum menembakkan bedilnya, Anduang Ijuak maklum bahwa Sidi sudah berpulang! Tembakan keenam bedil itu mengenai sesosok mayat!
Anduang Ijuak merebahkan diri Sidi Marhaban di lantai.
Kemudian guru persilatan Sunua ini menatap pada keenam prajurit yang menembak Sidi itu. Ke enam prajurit itu kini menodongkan bedil kosong tapi tapi berbayonet runcing di ujungnya itu ke arah Anduang Ijuak.
Tembakan itu telah mengundang seluruh tentara Inggeris di Loji itu masuk ke ruangan tersebut. Dan waktu yang amat singkat, kamar itu dipenuhi para serdadu yang berbaju dari beludru merah dengan celana satin putih.

Parang Pariaman (bagian 5)

Syekh itu terdiam. Yang lain juga terdiam. Lelaki muda yang sejak tadi terus memperhatikan si Syekh, kini melemparkan pandangannya ke danau jauh di bawah sana. Kemudian dia menunduk. Keheningannya itu dipecahkan oleh kehadiran isteri petani itu. Dia datang membawa air kelapa muda dalam gelas dari alumanium.
“Aha, ini air kelapa muda. Mari silahkan bapak-bapak minum…..” kata lelaki muda itu sambil menolong isterinya membagi-bagikan gelas alumanium tersebut.
“Sekali lagi, mafkan kami mengganngu ketenanganmu nak….” Syekh Malik Muhammad bicara lagi pada isteri lelaki tersebut.
Perempuan cantik itu tersenyum. Setelah gelas itu dia bagikan, dia mengundurkan dirinya ke rumah. Mereka lalu meneguk minuman itu. Kemudian sama-sama terdiam.
“Bagaimana….?” Syekh itu kembali bertanya.
Anak muda itu menarik nafas panjang. Kemudian berkata perlahan :
“Saya benar-benar merasa malu hati atas perhatian tuan Syekh dan tuan-tuan pimpinan Ulakan dan Sunua. Saya tak tahu apa yang harus saya sumbangkan untuk maksud sebesar itu. Saya khawatir saya akan membuat kecewa tuanku Syekh, maafkan saya.”
Dia berhenti. Syekh itu dan teman-temannya terdiam.
“Maafkan jika penilaian saya salah. Setahu saya, di manapun saat ini, apakah di Pariaman atau di Tiku, apakah di Inderapuro atau di Bukittinggi, apakah di Padang Panjang atau di Batusangkar, belum satupun yang tepat saatnya untuk memulai perlawanan kepada Inggeris.

Di Pariaman ini saja misalnya, saya tak sangsi atas ketinggian ilmu perguruan yang tuan Syekh pimpin. Tapi dengan perguruan Syekh saja, tanpa mengikut sertakan perguruan dan rakyat lainnya, perjuangan itu hanya berupa bunuh diri.

Nah, di Pariaman, maafkan saya, saya dengar antara perguruan silat yang satu dengan perguruan silat yang lain terjadi pertentangan-pertentangan yang tajam. Saya justru khawatir, di saat satu pihak menyerang Inggeris, maka pihak lain akan menikam dari belakang. Jumlah seratus pasukan berkuda yang dimiliki Inggeris adalah jumlah yang besar. Besar selain karena mereka memiliki bedil yang tak satupun kita miliki, mereka juga pasukan yang sudah terlatih dari banyak perang di Eropah. Begitu yang saya dengar….”
Syekh itu menarik nafas panjang.
“Memang begitulah yang sebenarnya anak muda. Saya juga sependapat denganmu. Bahwa tanpa mengikutsertakan seluruh lapisan rakyat untuk berjuang, maka perjuangan itu sama dengan bunuh diri. Apa-lagi Inggeris memakai senjata api sesuatu yang sulit kita hadapi. Saya memang sudah menduga, bahwa engkau akan menolak…..”
“Tapi…..” “Saya mengerti maksudmu, kami datang hanya untuk menghilangkan was-was. Inggeris memang terlalu kuat saat ini. Pendapatmu sekaligus berguna bagi kami sebagai saran. Kami akan coba menghimpun sebanyak mungkin tenaga. Dan jika saatnya tiba, saya harap engkau bersedia membantu….”
“Jika saatnya tiba, adalah kewajiban saya sebagai anak Minang untuk berjuang mengusir penjajah. Dengan tulang delapan kerat, saya akan menggabungkan diri dengan Tuan Syekh…”, anak muda itu berkata pasti.

Syekh Malik Muhammad berdiri. Diikuti oleh ketiga rekannya. Dia mengulurkan tangan. Menyalami lelaki muda itu. “Giring-giring Perak. Nama besarmu akan menambah semangat kami. Saya bahagia dapat bertemu dengan tuan….” kata Syekh itu. Petani itu, yang memang si Giring-giring Perak, tersenyum tipis.
“Saya mendapat kehormatan yang besar sekali atas kunjugan tuan Syekh dan para pemimpin perguruan Ulakan ini. Maafkan kami tak dapat menyambut dengan cara yang layak…..”
“Sampaikan pada Siti Nilam, isterimu yang bahagia itu, bahwa kami tak sempat minta diri. Kami bergegas benar…”
Keempat pimpinan perguruan Ulakan itupun menaiki kudanya. Dlam waktu yang singkat ke empatnya lenyap dibalik tikungan.
Giring-giring Perak arif bahwa keempat lelaki yang barusan berkunjung ke rumahnya ini adalah ulama-ulama yang berilmu tinggi. Baik ilmu agamanya, maupun ilmu silat dan ilmu bathinnya. Dan sebentar ini, mereka mempergunakan ilmu “Siringan-ringan” untuk mempercepat jalan mereka. Itulah kenapa dalam waktu yang singkat, mereka telah hilang dari pandangannya.
“Mereka telah pergi….?” tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara isterinya.
Dia menoleh, Siti Nilam kelihatan turun dari tangga rumahnya menuju ke bawah batang jambu di mana dia tegak membawa baki. Dia memperhatikan isterinya. Perempuan cantik itu tetap saja cantik meski dalam pakaian yang amat sederhana.
“Mereka sudah pergi…..?”, kembali perempuan cantik itu bertanya.

Dan suaminya seperti terjaga dari sebuah lamunan. “Ya, mereka telah pergi……”, katanya perlahan. “Mengajak berperang?”
Giring-giring Perak tertegun. Dia tatap isterinya. “Engkau tahu?”  Siti Nilam tersenyum.
“Bagaimana saya takkan tahu, kalau melihat orang-orang yang datang adalah para pendekar, dan kedatangan mereka nampaknya amat rahasia? Lagi pula, setiap isteri, pasti dapat merasakan apa yang tengah dipikirkan suaminya….Mereka adalah pimpinan perguruan Ulakan, bukan?”
“Ya, mereka pimpinan Ulakan. Engkau cukup arif dan berpengamatan tajam, Nilam….Dan mereka memang mengajak untuk bersatu melawan Inggeris….” “Inggeris?”

“Ya, melawan Inggeris. Mereka merasa sudah tiba waktunya untuk berbuat demikian……”
“Melawan Inggeris yang punya lebih dari delapan puluh pasukan berkuda?”
“Tepatnya sekitar seratus pasukan berkuda….”
“Dan lengkap dengan senjata api”.
“Ya. Lengkap dengan senjata api”.
“Apakah itu mungkin?”
“Penyerangan itu bisa saja mungkin….”
“Ya. Serangannya pasti mungkin. Tapi bagaimana dengan hasilnya?”
“Itulah yang saya lihat tak mungkin. Tak mungkin untuk menang…….”
Siti Nilam menarik nafas panjang. Dia duduk di depan suaminya. Dia adalah wanita yang selain amat mencintai suaminya, juga amat mengaguminya.
“Lalu bagaimana putusan uda tadi?”
“Saya rasa belum saatnya saya untuk ikut. Karenanya saya kembalikan saja persoalan itu pada mereka. Saya janjikan bahwa saya akan ikut kalau telah tersusun kekuatan dari berbagai lapisan penduduk Pariaman.”
—o0o—
Anduang Ijuak, salah seorang pimpinan Ulakan yang datang ke rumah si Giring-giring Perak itu bersama Syekh Malik Muhammad, kini tertegak di depan rumahnya dalam komplek perguruan Silat Sunua yang dia pimpin.
Melihat plakat yang ditempelkan oleh pasukan Inggeris ketika dia tengah mengadakan pertemuan di Ulakan. Dia menghela nafas. Kemudian berbalik akan melangkah ke rumah. Namun langkahnya terhenti. Dia menatap keliling. Dan di sekelilingnya, telah berdiri murid-muridnya yang lelaki. Tegak dengan diam. Mereka membentuk setengah ligkaran. Jumlah mereka sekitar 20 orang.
“Jumlah kita terlalu sedikit dibanding dengan pasukan Inggeris….” masih terngiang olehnya ucapan si Giring-giring Perak tiga hari yang lalu ketika mereka datang ke rumah anak muda itu.
Dan kini dia tatap murid-murid persilatan Sunua yang dia pimpin itu. Hanya sekitar 20 orang. Berdatangan dari berbagai daerah. Mulai dari Luhak Nan Tigo, yaitu Tanah Datar, Agam dan 50 Kota. Sampai dari Riau dan jambi. Bahkan ada yang datang dari Aceh.
Hanya dua puluh. Dan dari jumlah itu, hanya empat atau lima orang saja yang memiliki silat Ulu Ambek. Silat yang paling atas dalam perguruan mereka. Selebihnya hanyalah silat Jantan dan Betina. Ya, kita terlalu sedikit, kata guru Gadang ini dalam hatinya sambil menarik nafas panjang.

“Anduang……” salah seorang muridnya buka suara. Anduang Ijuak mengangkat kepala. Meski hatinya gundah namun dia tersenyum.
“Kalian sudah sholat?” “Sudah, Anduang” kata mereka serentak. “Syukurlah….” “Ada yang akan kami sampaikan pada Anduang” “Apakah saya kalian izinkan sembahyang dahulu? Saya belum sholat Asyar….”
“Maafkan kami. Silahkan Anduang sholat….”
Anduang Ijuak, lelaki bertubuh kekar dengan rambut kasar dan kulit berwarna hitam itu, tersenyum. Secara keseluruhan lelaki ini adalah orang perkasa. Dengan tubuhnya yang besar itu, dia patut untuk ditakuti.
Namun siapapun yang melihat wajahnya, takkan ada kesan menyeramkan dari wajahnya. Wajahnya bersih. Selalu tersenyum lembut.
Dia melangkah menuju langgar kecil dalam pekarangan sasaran Sunua itu. Dia memang berusaha untuk tak segera berdiskusi dengan murid-muridnya ini. Bukan rahasia lagi baginya, para murid ini ingin segera menyerang Loji Inggeris di Pariaman dan Tiku. Dan bukan jadi rahasia pula, bahwa sejak lama ada permusuhan antara perguruannya di Sunua ini dengan perguruan silat Harimau Kumbang di Pariaman.
Perkumpulan silat Harimau Kumbang itu mempunyai murid lebih dari 30 orang. Bermacam-macam golongan kumpul di sana. Ada penghulu, ada ninik mamak, ada pemuda, ada nelayan, ada perampok. Ada yang Islam, ada yang tidak.

Dan bukannya rahasia lagi, perguruan itu selalu menimbulkan huru-hara di daerah Tiku sampai ke Pariaman. Pimpinan perguruan itu adalah seorang lelaki gemuk, tinggi besar dan selalu memakai gelang akar bahar di lengannya, bernama Uwak Sanga.
Dia dinamakan Uwak Sanga karena memang tak ada soal yang beres baginya. Setiap soal, jika dihadapkan padanya ujungnya pasti tak beres. Dan ujung ketidakberesan itu adalah bicaranya kaki dan tangannya.
Sikapnya yang kasar dan mudah naik darah, membuat orang menggelarinya Uwak Sanga. Dan meski demikian dia cukup ditakuti. Baik oleh kawan maupun lawan. Dan terus terang saja perguruan Syekh Burhanuddin yang kini dipimpin oleh Syekh Malik Muhammad merasa “segan” pada Uwak ini.
Uwak itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Kabarnya dia pernah menuntut di Pagaruyung dan ke Aceh. Ilmu silatnya mirip ilmu silat harimau di darat sana. Tak diketahui dengan pasti, apakah karena itu makanya perguruannya di namakan dengan Harimau Kumbang.
Uwak ini beragama islam. Itu pasti. Sebab tak seorangpun di antara murid-murid yang pernah belajar ke Aceh yang tak beragama Islam. Namun, sudah puluhan tahun lamanya Uwak itu tak kelihatan sembahyang. Dan dia membiarkan pula murid-muridnya berjudi, menyabung, mabuk-mabuk dan menodai anak isteri orang.
Sejak lama, perguruan itu saling intai mengintai langkah dengan perguruan Ulakan. Pihak Ulakan tak pernah mau memulai pertikaian. Sebab mereka memang dididik dengan aturan-aturan agama yang keras.

Sementara perguruan Harimau Kumbang juga tak berani secara terang-terangan memusuhi perguruan Ulakan. Kendati demikian, perkelahian antara murid-murid Ulakan dengan murid-murid Harimau Kumbang sudah beberapa kali terjadi.

Meski tidak sempat melibatkan perguruan secara menyeluruh, namun sudah ada tanda-tanda bakal terjadinya “kebakaran” antara kedua perguruan tersebut. Pihak Harimau Kumbang juga menaruh segan pada Ulakan. Bukan rahasia lagi, bahwa perguruan itu memiliki pendekar-pendekar aliran Ulu Ambek yang tangguh.
Bagi pihak Ulakan sendiri, ada hal yang membuat mereka menaruh perasaan tak sedap pada perguruan Harimau Kumbang. Perguruan yang dipimpin Uwak Sanga itu diketahui sangat rapat dengan Inggeris. Dulu dia rapat dengan Belanda. Kini ketika Inggeris menggantikan Belanda, dia rapat dengan Inggeris. Itulah soalnya.
Dan esoknya, Anduang Ijuak memang datang ke Loji Ingeris yang terletak dekat lapangan lebar di pusat kota. Dia datang ke sana setelah bermufakat dengan Syekh Malik Muhammad di Ulakan.
Datang bersama seorang wakilnya bernama Sidi Marhaban. Kedatangannya disambut oleh Letnan yang kemaren datang memimpin pasukan berkuda ke sasarannya.
“Aha….akhirnya tuan datang Anduang Ijuak! Mari, silahkan masuk…..” ujar letnan itu meramah-ramahkan diri. Tapi Anduang Ijuak tak beranjak dari tempatnya.

Parang Pariaman (bagian 4)

Letnan itu mulai memperlihatkan watak penjajah aslinya. Dia tertawa. Mula-mula hanya tertawa bergumam. Kemudian mulai terkekeh. Dan tiba-tiba dengan sebuah teriakan panjang, dia memacu kudanya. Kuda itu melejit ke depan. Menerjang keenam lelaki murid perguruan Sunua itu.
Dan sepuluh orang diantara anak buahnya masuk pula dengan suara gemuruh. Keenam murid perguruan itu hanya memerlukan sedikit gerakan untuk menghindar dari kuda-kuda yang melejit di depan mereka. Pasukan berkuda Inggeris yang sepuluh lagi tetap berada di luar dinding perguruan itu. Duduk di atas punggung kudanya dengan bedil terhunus. Menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tak dingini.
Dan penduduk yang berada di luar areal perguruan itu menatap dan menanti perkembangan dari kejauhan dengan diam. Kesebelas pasukan berkuda Inggeris itu segera berada dalam areal perguruan. Dan mereka segera terhenti. Di dalam areal itu, ada sekitar tiga puluh orang, lelaki dan perempuan, yang tengah berlatih silat.
Ada yang latihan tangan kosong. Ada yang latihan mempergunakan keris, tombak dan panah. Semua mereka terhenti berlatih. Letnan Inggeris itu menatap mereka dengan diam. Kemudian menjalankan kudanya ke arah sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat latihan itu.
“Ada pimpinan kalian di sini?” kembali dia bertanya.
“Kalau yang tuan maksudkan Anduang Ijuak, dia tak ada di sini.”
Sebuah suara memecah dari antara orang banyak yang berhenti latihan itu.
Letnan itu…

Perguruan itu kini sepi. Tak seorangpun yang bergerak dari tempatnya. Beberapa orang di antara mereka melirik pada plakat yang tadi ditempelkan di dinding rumah Anduang Ijuak. Mereka hanya melirik dari kejauhan. Tak seorangpun yang berminat untuk mendekat mem bacanya. Sebab bagi mereka sudah jelas maksud plakat itu.
“Asyar….” salah seorang di antara mereka bergumam perlahan.
Yang lain seperti diingatkan pada waktu solat yang telah tiba. Mereka segera bersibak. Lelaki pergi ke barak lelaki, yang perempuan kembali ke baraknya pula. Barak mereka dipisahkan oleh pagar. Hanya waktu berlatih saja mereka bergabung di sasaran ini. Sebuah sasaran lebar berlantai pasir putih di bawah batang-batang kelapa dan pohon asam jawa.
Mereka mengambil udhuk. Kemudian sembahyang berjamaah. Dan saat itulah, lelaki yang bernama Anduang Ijuak itu memasuki perguruannya.
Lelaki ini berambut kasar dan lurus. Berkumis tebal kasar. Tak diketahui dengan pasti apakah karena rambut dan kumisnya yang kasar seperti ijuk itu makanya dia dinamakan Anduang Ijuak. Dan dia segera melihat plakat yang ditempelkan di dinding rumahnya.
Ketika berada di Ulakan tadi, hatinya memang sudah berdetak bahwa ada apa-apa di perguruannya ini. Mereka, para pimpinan dalam perguruan Ulakan dan Sunua yang berada di bawah pimpinan Syekh Malik Muhammad, yaitu murid kesekian di bawah Syekh Burhanuddin yang telah almarhum itu, memang sudah dua kali mendapat peringatan dari Inggeris untuk menghentikan latihan silat.

“Tuan-tuan boleh melanjutkan perguruan agama tuan-tuan di Ulakan. Tapi tidak perguruan silat di Sunua.” Begitu dua kali peringatan yang pernah disampaikan Kapten Calaghan pada Syekh Malik Muhammad tiga bulan yang lalu. Mereka mengetahui dengan pasti apa alasan larangan itu.
Mereka memang melatih silat untuk menghimpun kekuatan. Ada dua maksud utama yang ingin mereka capai dengan latihan silat itu. Pertama mereka akan menghimpun tenaga untuk mengusir penjajah dari Minangkabau. Untuk itu dibutuhkan ilmu perang dan ilmu beladiri.
Kedua, mereka memang tak mudah menyebarkan Agama Islam di tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan berbagai perbuatan maksiat. Makanya mereka lalu mempersiapkan diri dengan ilmu silat.
Ada beberapa tingkat pelajaran yang harus dilalui oleh murid-murid perguruan di Ulakan. Pada tingkat pertama mereka harus menuntut ilmu agama. Setelah mencapai tingkat tertentu, baru masuk ke Sunua untuk belajar dasar-dasar silat.
Kemudian kembali ke Ulakan untuk memperdalam agama. Dan kembali lagi ke Sunua untuk memasuki taraf lebih lanjut dari silat. Jika lolos, maka kembali lagi ke Ulakan. Di sini mereka belajar Tarikat. Dan jika lulus dari sini, untuk kali ketiga kembali lagi ke Sunua menjadi murid-murid senior yang diberi pelajaran silat Ulu Ambek yang terkenal itu.
Sejenis silat yang mempergunakan tenaga batin. Silat yang tak memerlukan saling bersentuhan fisik untuk membunuh.

Mulai dari Portugis, Belanda dan kini Inggeris, mencium bahaya yang tersimpan di balik perguruan ini. Jika dibiarkan orang-orang ini bisa menjadi pasukan yang tangguh. Dan itu sudah pasti berbahaya bagi yang menjajah.
Dalam sejarah, perguruan ini sejak seratus tahun terakhir memang menjadi pusat pergerakan menentang kaum penjajah. Itulah sebabnya Inggeris melarang mereka melanjutkan latihannya.
Anduang Ijuak masih tertegak di luar rumahnya. Membaca maklumat yang ditempelkan oleh tentara Inggeris tadi. Kemudian dia menoleh ke lapangan pasir di bawah pohon kelapa dan pohon asam di mana murid-muridnya selama ini berlatih.
Ada jejak telapak kuda mencekam pasir lembut itu. Dia segera tahu, pasukan berkuda itu telah menerobos kemari. Dan dia bersyukur, murid-muridnya dapat menahan emosi untuk tidak melibatkan diri dalam perkelahian dengan pasukan itu. Sebab dalam perundingannya dengan Syekh Malik Muhammmad, pimpinan tertinggi perguruan Ulakan dan Sunua saat itu, didapat kesimpulan bahwa mereka belum saatnya untuk mulai menyerang Inggeris.
Belum saatnya, karena mereka belum terkoordinir. Kekalahan yang dialami ketika berperang dengan Belanda beberapa tahun dahulu masih berbekas. Banyak anggota dan pendekar-pendekar Ulakan yang gugur.
Mereka, pimpinan perguruan di Ulakan dan Sunua itu, juga telah menghubungi seorang lelaki yang tinggal di kampung kecil bernama Ambun Pagi di Puncak Lawang. Sebuah kampung yasng berada di pucuk bukit terjal yang mengelilingi danau Maninjau.

Dari tempat tinggalnya, juga dari sawah dan ladangnya, pemandangan ke danau Maninjau luar biasa indahnya. Amat luar biasa indah. Pagi maupun sore, kabut dan embun seperti mengapung di desa berudara sejuk itu. Dari celah-celah embun dan kabut itu danau Maninjau kelihatan seperti beludru. Kicau burung dan elang seperti suara salung dan bansi. Di tebing-tebing kelok terjal menuju Maninjau kelihatan pucuk-pucuk cengkeh seperti permadani ke merah-merahan.
Mereka datang kerumah lelaki muda yang memiliki isteri amat cantik itu bersama Syekh Malik Muhammad, Anduang Ijuak dan dua orang pemuka Pariaman Lainnya. Saat merke datang kedua suami isteri itu tengah menanam jagung tak jauh dari rumahnya. Mereka berhenti bekerja begitu melihat ada serombongan orang menunggang kuda yang datang.
“Assalamualaikum…..” Syekh Malik Muhammad membuka perjumpaan itu, sesaat setelah mereka menambatlan kudanya di depan rumah.
“Waalaikum salam…” jawab lelaki muda tersebut sambil meletakkan tajaknya.
Lelaki muda itu agak terkejut melihat kehadiran orang-orang perguruan Ulakan dan Sunua ini. Dia sudah akan melangkah dan menyilahkan tamunya ke rumah, tapi Syekh Malik Muhammad mencegahnya.
“Tak usah merepotkan anda. Kami ingin bertemu sebentar saja….”
“Ya, tapi mari naik…..” kata lelaki muda itu.
“Apakah tuan keberatan kita bicara di bawah pohon itu?” Syekh itu menunjuk ke pohon jambu yang rindang.

Parang Pariaman (bagian 3)

HARI alangkah panasnya. Dalam terik yang membakar itu, dua puluh pasukan yang menunggang kuda bergerak di bawah pohon kelapa. Mereka adalah pasukan berkuda tentara Inggeris. Dengan pedang di pinggang, dan senjata api panjang tergantung di sisi pelana, pasukan berseragam baju merah, celana putih dan bertopi tinggi berjambul ini kelihatan seperti sesuatu yang asing di tengah kesederhanaan penduduk Pariaman.
Penduduk menatap mereka dengan diam. Menatap tentara penjajah itu dengan tatapan yang mengandung misteri. Kedua puluh pasukan berkuda itu berjalan menyusur tepi pantai arah ke selatan. Di depan sekali, seorang perwira yang masih muda berpangkat letnan berjalan sendirian. Enam depa di belakangnya, barulah pasukannya yang dua puluh itu menyusul dalam barisan dua-dua.
Tak begitu lama berkuda, mereka sampai di tempat yang dituju. Sebuah Perguruan.
Perguruan itu cukup besar. Dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari kayu setinggi dua meter. Untuk masuk ke dalam ada dua pintu. Pintu pertama arah ke Timur, arah ke matahari terbit. Tepatnya arah ke darat. Sedangkan pintu satu lagi menghadap arah ke pantai.
Di pintu arah ke pantai inilah kini kedua puluh serdadu berkuda itu tegak. Setiap orang tahu, bahwa perguruan yang dipagar dengan kayu setinggi dua meter itu adalah perguruan silat terbesar yang ada di Minangkabau saat itu. Itulah perguruan Silat Sunua. Yang melahirkan Silat Jantan dan Silat Betina.

Di sini pulalah tempat asalnya Silat Ulu Ambek. Yaitu silat “paripurna” bagi yang telah masak dalam ilmu lahir dan bathin. Perguruan silat ini berada di bawah perguruan Islam yang dipimpin oleh murid-murid almarhum Syekh Burhanuddin. Syekh ini membuka perguruan Islam di Ulakan pada abad 17. Dan karena penyebaran Islam saat itu amat sulit, maka diperlukan mempelajari ilmu bela diri, maka Syekh itu mendirikan perguruan silat di Sunua.
Saat peristiwa itu terjadi, Syekh itu sudah lama meninggal. Yang memimpin adalah muridnya yang bernama Anduang Ijuak. Dia seorang penganut Tarikat yang tersohor. Berilmu tinggi dan amat disegani lawan dan kawan.
Kedatangan pasukan berkuda itu disambut oleh enam orang murid Anduang Ijuak. Keenam mereka, semua lelaki yang bertubuh biasa-biasa saja, tegak dengan berpeluk tangan di depan gerbang perguruan. Menatap dengan tenang pada pasukan berkuda yang kelihatannya mewah itu. Tatapan mereka biasa-biasa saja. Tak tergambar sama sekali bahwa mereka adalah orang jajahan. Atau tepatnya tak tergambar sedikitpun bahwa mereka takut menghadapi pasukan berkuda Inggeris itu.
Namun demikian, pimpinan pasukan Inggeris itu, si Letnan yang barangkali usianya belum cukup 23 tahun, memajukan kudanya ke depan. Lima depa dari pintu gerbang di mana murid-murid perguruan Sunua itu tegak, dia menghentikan kudanya.
“Selamat siang….” Letnan itu membuka pembicaraan. Tak ada yang menyahuti ucapannya.
“Bolehkah kami masuk menemui pimpinan kalian?”  Masih tak satupun yang menyahuti. Ke 20 anggota pasukan letnan itu menatap dengan diam. Meski mereka agak tersinggung karena ucapan komandan mereka tak disahuti, tapi sewaktu akan berangkat dari Loji tadi mereka telah diberi peringatan.
Kapten Calaghan yang menjadi komandan mereka untuk Loji ( pos ) Pariaman dan Tiku memesankan benar agar mereka tak berlaku kasar pada murid-murid perguruan itu. Mereka dilarang untuk memancing kekeruhan. Dan peringatan itu diberikan karena jumlah mereka di Pariaman dan tiku hanya seratus orang. Ya, hanya seratus orang.
Jumlah itu memang besar. Tapi kalau rakyat sempat membentuk kekuatan dengan jumlah dua atau tiga ratus, maka itu akan memayahkan Inggeris.
Sementara itu, perasaan Letnan muda itu juga jadi tak sedap ketika tak seorangpun di antara yang berenam itu menyahuti ucapannya.
“Apakah tak seorangpun di antara tuan-tuan yang mengerti apa yang saya ucapkan?” katanya mulai meninggi.
“Tak seorangpun yang akan menyahuti tuan, selagi tuan bicara di atas punggung kuda itu”. salah seorang murid perguruan Sunua itu menjawab dengan nada datar.
Si letnan menatapnya. Lelaki yang menjawab itu bertubuh biasa-biasa saja. Rambutnya panjang dan diikat di belakang. Dijalin dua. Mode rambut yang saat itu sangat lazim bagi setiap lelaki.
“Saya harus turun?” Letnan itu balik bertanya.
“Tidak harus. Tuan bisa tetap di atas punggung kuda tuan dan silahkan berangkat dari sini….”, murid perguruan itu menjawab lagi.
Wajah Letnan itu jadi merah padam. Dia menoleh pada anak buahnya. Dan kedua puluh anak buahnya memang telah waspada.
“Hati-hati bicara. Tuan bisa saya seret ke Loji dan saya penjarakan di sana….” desis letnan itu tajam.
Betapapun dia diperingatkan oleh komandannya di Loji tadi untuk bersabar, namun menghadapi murid-murid Perguruan Silat ini Letnan yang masih muda itu tak dapat menahan emosi. Sebagai seorang perwira dia cukup ditakuti dalam pasukannya. Dan, kini, pribumi yang jelas berada di bawah jajahan Inggeris berlaku kurang sopan padanya. Bukankah itu keterlaluan?
Murid perguruan silat Sunua itu tak menyahut. Ekspresi dan sinar mata mereka tetap seperti tadi. Tak merasa gentar dan tidak pula ada kesombongan. Yang mereka ucapkan adalah kebenaran semata.
Mereka tahu dengan pasti, bahwa yang berada di hadapan mereka ini adalah pasukan berkuda kerajaan Inggeris. Pasukan dari suatu bangsa yang merajai lautan. Yang memiliki negeri jajahan paling luas di permukaan bumi. Mereka tahu hal itu dengan pasti. Namun itu bukan berarti mereka harus terbungkuk-bungkuk untuk menghormat dan harus merasa rendah diri. Betapapun jua, negeri ini adalah negeri tumpah darah mereka.
Sebenarnya, penduduk Pariaman ini telah beberapa kali berperang dengan Inggeris, Belanda dan Portugis. Namun karena kurangnya persatuan, mereka selalu dikalahkan.

Parang Pariaman (bagian 2)

Hal itu mereka buktikan ketika terjadi perang antara pengikut Tuanku Nan Renceh dengan Belanda di Kamang. Tanpa diduga, mereka datang membantu. Pasukan Tuanku Nan Renceh yang semula sudah terjepit, tiba-tiba mendapat bantuan.
Belanda yang mengepung tiba-tiba ditikam dari belakang oleh pasukan bekas para penyamun ini. Belanda lari terbirit-birit meninggalkan banyak sekali korban. Mereka juga membantu orang Pariaman yang berperang melawan Inggeris di Pariaman. Mereka memang memilih jadi petani, nelayan atau pedagang. Namun setiap saat mereka siap terjun ke medan pertempuran melawan penjajah.
Mereka memang orang yang terlatih dalam perang tradisional dalam rimba. Raja Tuo kembali ke kampung Pisang. Sementara si Giring-giring Perak menikah dengan Siti Nilam dan memutuskan untuk berdiam di kampung isterinya itu, di suatu desa tak jauh dari Pariaman.
Begitulah kisah hancurnya penyamun di Bukit Tambun Tulang. Tapi itu bukan berarti berakhirnya kejahatan di berbagai tempat di Minangkabau saat itu. Itu bukan berarti berakhirnya penderitaan rakyat.
Indonesia ternyata harus memperpanjang masa deritanya di bawah cengkeraman penjajah yang satu ke penjajah yang lain. Belanda, Inggeris, Portugis, datang silih berganti menjajah negeri ini. Dan di zaman Giring-giring Perak ini, Inggeris sempat membuat jejak berdarahnya di Minangkabau, terutama di bahagian pesisir pantai, PARIAMAN!.

Penduduk Pariaman yang terkenal berdarah panas itu kali ini dihadapkan pada teror dari pasukan Inggeris yang baru saja didatangkan dari Eropah. Yaitu pasukan yang memenangkan perang melawan Napoleon dari Perancis.
Pariaman di suatu hari sekitar tahun 1800. Saat itu, Minangkabau sudah berada di bawah kekuasaan Inggeris. Sebab tahun 1793 benua Eropah dijilat api peperangan. Napoleon yang tengah berkuasa di Perancis dan Belanda terlibat perang dengan kerajaan Inggeris.
Perang di Eropah menyebabkan seluruh daerah jajahan ketiga bangsa itu juga berperang. Pimpinan Inggeris di Calcutta, India yang membawahi Benua Asia memerintahkan angkatan lautnya merebut wilayah Sumatera Barat yang kaya dengan emas dan rempah-rempah dari tangan Belanda.
Tahun 1795 itu, angkatan perang Inggeris mendarat dan segera dapat merebut pos-pos Kompeni (V.O.C) di Padang tanpa perlawanan yang berarti. Dengan jatuhnya pos-pos Belanda di Padang, maka pos-pos mereka di daerah pesisir seperti di Salido, Painan, Pariaman dan Tiku juga menyerah pada Inggeris.
Sejak tahun 1795 itu, bermulalah penjajahan Inggeris atas pesisir Minangkabau. Kekuasaan Inggeris ini kelak akan berakhir pada tahun 1819. Daerah ini dikembalikan kepada Belanda berdasarkan perjanjian London tahun 1814 antara Inggeris dan Belanda tentang daerah jajahannya di Hindia Belanda.
—o0o—-

Parang Pariaman (bagian 1)

Untuk mengobati rindu pembaca pada karya-karya besar Makmur Hendrik, penulis mencoba menghadirkan cerita Giring-giring Perak bagian Parang Pariaman yang disadur dari harian Singgalang. Sebelumnya penulis minta maaf karena belum bisa menghadirkan kelanjutan cerita Tikam Samurai. Mudah-mudahan cerita ini dapat mengobati kekecewaan pembaca blog ini. Selamat menikmati!

Bagian 1

Giring-giring Perak akhirnya mendapatkan kenyataan-kenyataan yang amat tragis dan sekaligus membahagiakan dirinya di goa Bukit Tambun Tulang. Kenyataan tragis pertama adalah terbunuhnya Puti Nuri. Gadis bangsawan dari Lima Kaum yang telah menatap sejak lama bersama orang tuanya Raja Tuo di Kampung Pisang.
Tragedi kedua adalah ketika dia berhasil membunuh Harimau Tambun Tulang. Ternyata kepala penyamun Bukit Tambun Tulang yang namanya sudah amat tersohor itu tak lain tak bukan daripada gurunya sendiri! Guru yang amat menyayanginya. Yang membesarkan dan mengajarkan padanya segenap ilmu silat dan ilmu sirat. Guru yang mengajarkan padanya agar selalu berbuat kebaikan, membela yang benar dan menumpas kejahatan. Guru yang telah dianggapnya sebagai ayah dan ibunya.
Tetapi ada dua hal pula yang membahagiakan dirinya. Pertama, dia bertemu di goa itu dengan ibu kandungnya. Perempuan tabah melahirkannya ke permukaan bumi. Yang ditawan dalam goa itu selama lebih dari dua puluh tahun. Dan kedua, Siti Nilam, gadis pengungsi dari Pariaman itu, yang diam-diam mereka saling mencintai, masih hidup meski telah terperangkap dalan goa itu sebelum dia tiba.
Namun di saat terakhir mereka akan meninggalkan goa itu, goa tersebut runtuh. Kunci rahasia yang mampu meruntuhkan goa itu ternyata telah dicabut oleh Harimau Kumbang sesaat sebelum dia meninggal. Mereka terkurung dalam kamar serba biru yang selama belasan tahun dihuni oleh Puti Bergelang Emas, bangsawan dari Pagaruyung, ibu si Giring-giring Perak.
Suara berderam gemuruh mengeletarkan seluruh goa. Si Giring-giring Perak yang tengah memangku tubuh ibunya yang kurus dan lemah, tertegak kaku. Demikian juga Tuanku Nan Renceh, Raja Tuo dan Datuk Sipasan. Siti Bilam tegak di dekat Giring-giring Perak.
Mereka menatap langit-langit goa dimana mereka berada. Lantai goa itu bergoyang. Pintu keluar ke arah ruangan latihan besar itu runtuh dengan suara menegakkan bulu roma. Dan pintu ke sana tertutup rapat oleh jutaan ton bebatuan dan tanah. Debu memenuhi ruangan tersebut.
“Ya Allah, ya Akbar! Mereka membuat goa ini sebagai kuburan kita….” Tuanku Nan Renceh terdengar berkata perlahan.
Goncangan dan suara gemuruh berjatuhannya batu dan langit-langit goa masih terdengar. Dan tiba-tiba sebahagian langit-langit goa dimana mereka berada juga ikut runtuh.
“Kita terperangkap….” terdengar Raja Tuo berseru.
Ketiga lelaki itu, Tuanku Nan Renceh, Datuk Sipasan dan Raja Tuo segera berusaha mencari celah atau jalan keluar. Raja Tuo dengan masih tetap memangku mayat anaknya Puti Nuri, berusaha meneliti tiap senti dinding. Namun mereka sia-sia mencari jalan keluar.
Giring-giring Perak sudah dua kali melompat menghindari runtuhnya langit-langit goa tersebut.
“Ini ada sedikit cahaya…!!” tiba-tiba terdengar suara Tuanku Nan Renceh.
Mereka mendekat ke tempat itu. Dan di antara reruntuhan bebatuan dan tanah, seberkas cahaya menembus masuk. Namun masih tetap tak bisa keluar. Cahaya itu jauh sekali di antara reruntuhan.
“Menghindarlah…..” tiba-tiba si Giring-giring Perak terdengar bersuara. Dia ternyata telah meletakkan ibunya di lantai yang beralas permadani. Perempuan itu dipeluk oleh Siti Nilam. Ketiga lelaki itu mundur, si Giring-giring Perak berdiri sedepa dari berkas cahaya yang kelihatan itu. Mulutnya menggurimin membaca doa. Dan perlahan, semua yang ada dalam ruangan itu melihat betapa asap tipis mengepul dari kepala anak muda itu.
Kemudian kedua belah tangannya menjadi merah. Mula-mula dari pangkal lengan. Cahaya merah seperti besi terbakar itu menjalar perlahan, ke lengan, lalu memenuhi seluruh jari jemari. Tuanku Nan Renceh dan kedua temannya benar-benar merasa takjub. Mereka sudah banyak mendengar dan bahkan belajar ilmu batin. Namun yang seperti ini, yaitu ilmu Al Kurdsi ini, baru kali ini mereka melihatnya.
Sementara itu Giring-giring Perak membuat kuda-kuda dengan memajukan kaki kanannya ke depan. Tangannya yang kiri mengepal. Yang kanan terbuka dengan jari-jari rapat. Lalu yang kanan ditarik sejajar dengan tubuh. Dan…. dengan menyebut Allahuakbar, tangan kanannya mendorong ke depan.
Sepuputan tenaga yang amat dahsyat, menghantam bebatuan di depannya. Terdengar suara gemuruh, dan bebatuan itu melesak menghantam dinding. Kemudian hal yang tak termakan oleh akal itupun terjadilah. Dinding goa itu jebol, bebatuan yang tadi menghalang, terhempas dan terpukul jauh ke luar. Sebuah lobang sebesar drum kelihatan pada bekas kena hantam tenaga raksasa itu. Akibatnya goncangan bahagian yang lemah dari langit-langit runtuh.

Reruntuhannya menghantam tempat ibunya berada bersama Siti Nilam. Tanpa memutar tegak, tangan kanannya mengibas ke arah batu langit-langit yang tengah meluncur turun dan hanya tinggal sehasta dari ubun-ubun Siti Nilam. Tuanku Nan Renceh, Raja Tuo dan Datuk Sipasan sampai berpeluh melihat runtuhnya batu itu. Mereka yakin kedua perempuan itu takkan tertolong.
Namun di saat kritis itulah tenaga pukulan tangan Giring-giring Perak datang menghantam. Batu besar yang tengah meluncur turun itu terhantam. Tak ada suara, tak ada apa-apa. Hanya saja batu besar itu terhantam berobah arahnya, membentur dinding, dan….jatuh ke lantai dalam bentuk debu!
“Cepat keluarlah….duluan, saya menjaga di sini….” Giring-giring Perak berkata. Dan ucapannya menyadarkan semua mereka, bahwa mereka harus keluar dari sana dengan segera.
Tuanku Nan Renceh yakin anak muda ini akan mampu menolong ibunya. Karena itu dia segera bergerak cepat. Dalam beberapa gerakan saja, tubuhnya sudah berada di luar goa. Dan dalam waktu singkat, Raja Tuo dan Datuk Sipasan juga sampai di sana. Raja Tuo memangku mayat anaknya, Puti Nuri yang tubuhnya dipenuhi anak panah.
Dan tak lama setelah mereka berada di luar, Giring-giring Perakpun tiba sambil kedua tangannya memangku tubuh ibunya dan tubuh Siti Nilam. Suara berderam dan goncangan yang hebat terasa di tanah tak lama setelah mereka berada di luar. Pepohonan bergoyang, malah banyak yang rubuh. Tanah berbukit di depan mereka tiba-tiba seperti tersedot ke bawah. Kayu malang melintang. Debu tipis mengepul. Satwa yang ada di sana bertemperasan. Kemudian sepi!

Tikam Samurai (Bagian 85)

Itu teorinya. Tetapi si Bungsu tak mau memakai teori ini. Baginya lebih baik dan lebih terhormat untuk tetap diam. Meskipun bibirnya berdarah dia gigit dalam usahanya menahan sakit yang tak tertanggungkan itu. Selesai upacara penyayatan dengan samurai itu, maka letnan tersebut istirahat sejenak. Namun itu bukan berarti istirahat pula bagi penderitaan si Bungsu. Sebab begitu si Letnan duduk. si prajurit tegak. Dengan tang di tangan, dia maju melangkah mendekati si Bungsu.

“Katakan siapa-siapa yang ikut dalam gerakkan kalian-Siapa pula diantara Gyugun yang terlibat . .?” Ujar si Letnan dari tempat duduknya. Si Bungsu tetap diam. Dia tengah membayangkan kesakitan yang akan dia derita. Dia tahu, tang ditangan prajurit sadis itu akan dipakai untuk mencabut kuku-kukunya seperti yang telah dilakukan pada Kari Basa. Karena dia diam, Letnan itu memberi isyarat. Si Prajurit meraih sebuah tong.

Meletakkan disisi kiri si Bungsu. Kemudian dia naik ke atas. Sebelum si Bungsu sadar apa yang akan terjadi Jepang itu menjepit telunjuk si Bungsu dengan tangnya. Letnan itu mengangguk. Dan si Bungsu kali ini tak bisa menahan pekik kesakitannya. Tak bisa Betapa dia akan mampu menahan rasa sakit, kalau tulang telunjuknya itu dipatahkan dengan jepitan tang?

“ Mengakulah . .” si Bungsu hanya mengerang kecil. Dan kali ini jari tengahnya dapat giliran dipatahkan. Dan kembali dia memekik.

Mengakulah . .” si Bungsu hanya mengeluh dan mengerang. Air matanya membasahi pipinya. Dan jari manisnya mendapat giliran. Dia kembali memekik. Pada pekik yang ketiga ini. Kari Basa mengangkat kepala. Dan dia melihat betapa tubuh anak muda itu berlumur darah. Pakaian dan sebahagian dagingnya robek-robek. Persis kerbau yang selesai dikerjakan di rumah jagal.

“Mengakulah..” si Bungsu tetap bungkam. Dan kembali kelingkingnya dipatahkan. si Bungsu memekik. Namun dia tetap diam, tak mau membuka rahasia.

“Tahan . .” tiba-tiba ada suara. Dan yang bersuara tak lain daripada Kari Basa. Letnan itu menoleh padanya.

“Kau mau mengaku?”

“Baik saya mengaku, tapi lepaskan anak muda itu. Dia tak bersalah . . .”

“Ooo. Kau kenal padanya ya … ?”

“Justru karena saya tak kenallah makanya dia harus dibebaskan. Dia tak ada sangkut pautnya dengan perjuangan kami. Kami tak mengenalnya.”

Si Bungsu menatap Kari Basa. Apakah ini semacam penyingkirannya dari kalangan pejuang-pejuang ini? Apakah Kari Basa berkata begitu karena si Bungsu juga pernah berkata begitu ketika rapat di Birugo dahulu? Ketika pertanyaan begitu berkecamuk dalam fikiran si Bungsu, Kari Basa sekilas menatap padanya. Dan dari cahaya mata lelaki tua itu, dia dapat menangkap. Bahwa Kari Basa hanya membuat siasat. Namun kelegaan hatinya segera lenyap ketika letnan itu berkata :

“He..he tak ada sangkut paut kalian? Kalian saling tak mengenal? He. .he Bukankah kalian sama-sama hadir ketika rapat di Birugo dahulu? Bukankah kau punya hubungan dengan Datuk Penghulu? Nah, dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa kalianpunya hubungan. Jangan kami pula hendak kalian bohongi.”

Dan kali ini penyiksaan dilakukan berbarengan. Si prajurit mengerjakan tubuh si Bungsu, si sersan mengerjakan Kari Basa. Kedua serdadu sadis ini lihai dalam pekerjaannya. Meskipun korbannya sudah remuk redam, sudah cabik-cabik tapi mereka jaga agar si korban tak segera mati. Mereka amat ahli dalam hal ini. Bagaimana menyiksa tawanan sampai separoh mampus, bahkan terkadang sampai tiga perempat mampus, tapi tetap saja tak sampai mampus. Itulah penderitaan yang ditanggung oleh kedua orang itu.

Tikam Samurai (Bagian 84)

Kemudian kepadanya dibacakan pula sederet nama Gyugun seperti yang dibacakan pada Kari Basa. Berlain dengan Kari Basa yang selalu menggeleng, maka si Bungsu hanya menatap dengan pandangan dingin pada ketiga Kempetai itu. Tak pernah menggeleng sekalipun. Tak pernah mengangguk sedikitpun dan ketiga Kempetai itu mengerjakannya dengan sempurna pula. Ketiga mereka nampaknya dilatih untuk menjadi orang-orang yang tak mepunyai kemanusiaan. Dalam ketentaraan nampaknya memang dididik orang-orang seperti mereka. Gunanya untuk bahagian interogasi.

Dan ketiganya spesialis penyiksaan ini sambil tertawa gembira, sambil menyeringai buruk, mempermak tubuh si Bungsu. Tahap pertama, si Kopral mempergunakan tubuh si Bungsu yang terikat itu sebagai sebuah karung latihan. Yaitu karung yang diikatkan dan diisi dengan pasir. Bagi siswa-siswa beladiri, karung seperti ini dinamakan sansak dakam dunia tinju atau makiwara dalam dunia karate, dipergunakan untuk melatih tendangan dan pukulan.

Nah, itulah kini fungsi tubuh si Bungsu. Kopral itu beberapa kali melambung yang diakhiri dengan mendaratnya tendangannya di perut dan didada si Bungsu. Letnan itu mepergunakan buku tangannya untuk menghajar wajah anak muda tersebut. Si Bungsu berusaha untuk tak memekik. Kendati terpaksa mengeluh beberapa kali saking amat sakitnya. Kemudian muntah.

Isi perutnya keluar bersama darah kental. Tubuhnya kemudian diguyur dengan air. Ketika sadar, dia lihat Letnan itu sudah memegang samurai “He .. he kau kabarnya mahir dengan samurai. Kini kau lihat pula permainan samuraiku”.

Sehabis ucapannya, samurai itu berkelebat cepat. Si Bungsu menggigit bibir agar tak memekik kesakitan. Pakaiannya segera saja cabik-cabik disambar ujung samurai si letnan. Dan bersamaan dengan itu, dadanya. Wajahnya, perutnya robek-robek. Darah mengalir dengan deras dari bekas lukanya.

“Siram..!” perintah si Letnan.

Kopral yang sama-sama sadisnya dengan si letnan itu mengambil air bekas pengacau semen. Kemudian menyiramkannya pada tubuh si Bungsu yang penuh luka itu. Ya, Tuhan, benar-benar Tuhan saja yang mengetahui betapa menderitanya anak muda tersebut. Bayangkan, tubuh yang penuh luka di siram dengan air pengacau semen Pedih dan sakit sekali.

Sakitnya mencucuk-cucuk ke hulujantung yang paling dalam. Menyelusup ke seluruh pembuluh darah. Ke seluruh sumsum. Namun siksaan itu berlanjut terus, menyebabkan si Bungsu harus menggigit bibir sampai berdarah. Dia tak ingin menjerit. Tak ingin. Ada dua hal yang dia jaga. Pertama dia tak mau Kari Basa sampai terbangun dari pingsannya mendengar jeritannya. Dia ingin memberi istirahat pada orang tua yang dia hormati itu. Sebab kedua kenapa dia tak mau menjerit adalah karena malu pada Kari Basa. Kalau orang tua itu sendiri tak menyerah, kenapa dia harus menunjukkan kelemahannya dengan menjerit?

Meskipun dengan siksa yang dia terima sebenarnya dia ingin menjerit setinggi langit, namun dia paksa untuk menahannya. Padahal set iap orang tahu, jika kesakitan, maka tangis pekik merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi sakit dan derita yang ditanggung. Rasa sakit dan derita itu berkurang bukan dari segi fisiknya. Melainkan dari segi psikologisnya. Rasa sakit tetap sama. Menjerit atau tak menjerit. Tetapi secara ilmu kejiwaan, menjerit atau menangis bagi seorang penderita merupakan penyaluran. Dan sebuah penyaluran merupakan pengurangan bagi penderitaan.

Tikam Samurai (Bagian 83)

Itulah ucapan yang tak terucapkan, tapi sempat dia baca dari wajah orang tua itu. Tetaplah bertahan untuk hidup. Jangan menyerah . .

Kalimat ini seperti sebuah sumpah yang dipegang teguh oleh pejuang-pejuang ini. Matanya melirik pada Kari Basa. Ke tubuhnya yang terkulai. Tapi jelas dadanya beralun perlahan. Dia masih hidup. Sekurang-kurangnya dia kini tengah bertahan untuk tetap hidup.

Dan dia tak menyerah pada penjajah. Betapapun siksaan yang dia terima. Dia tak menyerah Ya, betapapun penderitaannya, namun Kari Basa tak pernah menyerah untuk membuka rahasia. Dan dia juga tengah bertahan untuk hidup, Perlahan-lahan, semangat untuk takkan menyerah, semangat untuk berusaha agar tetap hidup muncul menguat pada dirinya. Berhasil atau tidak dia melepaskan diri dari belenggu ini, batapapun jua dia harus bertahan untuk tetap hidup. Harus…

Tapi di samping itu dia juga harus berusaha untuk membebaskan diri. Harus. Dia tak boleh menyerah. Tak boleh menanti sampai Jepang-jepang itu datang menyiksa dirinya. Dia harus bergerak. Dia menatap kekakinya. Kakinya dimasukkan ke sebuah gelang yang dikunci.

Gelang itu dihubungkan dengan dua buah mata rantai yang kukuh, ditanamkan ke lantai yang juga dicor dengan beton. Dia menarik nafas. Menggoyangkan kaki. Menggoyangkan tangan. Tak ada harapan pikirnya.

“Ya. Tak ada harapan …..”

Sebuah suara yang amat perlahan mengejutkannya. Dia menoleh pada Kari Basa. Tapi lelaki itu masih terkulai. Diakah yang bicara? Tak ada harapan untuk dapat melepaskan diri …..

“Kembali ada suara, dan suara itu jelas suara Kari Basa.

“Pak Kari . .” katanya heran.

“Ya. Sayalah yang bersuara Bungsu. Saya memang tak melihat engkau, mata saya kabur. Bahkan untuk bernafas pun saya susah. Namun telinga saya dapat menangkap bunyi gemerincing rantai karena engkau goyang. Dan saya bisa menduga, engkau pastilah tengah mencari-cari jalan untuk membebaskan diri. Saya tahu itu dengan pasti, sebab saya juga telah melakukan sebelum engkau dimasukkan kemari. Dan seperti yang engkau lihat, usaha saya sia-sia .. .”

Kari Basa terdiam. Si Bungsu juga terdiam. Dia terdiam karena kekagumannya pada daya tahan lelaki di depannya itu.

“Rantai ini terlalu besar Bungsu. Dan ditanamkan dalam-dalam di lantai serta di loteng. Sebelum dicor dengan semen, diberi bertulang besi. Tak ada harapan memang .. “ Kari Basa bicara lagi.

Si Bungsu tak bicara. Sebenarnya banyak yang ingin dia katakan. Tapi dia tak mau mengatakannya. Dia tak mau melawan Kari Basa bicara. Dia ingin agar orang tua itu istirahat.

Dia sangat mengasihani lelaki tersebut. Dan Kari Basa akhirnya memang terkulai diam. Pingsan lagi. Penderitaannya benar-benar sempurna. Kakinya berlumur darah setelah sepuluh kuku jarinya dicabuti. Dia muntah beberapa kali setelah perutnya dihantam dengan potongan kayu sebesar lengan. Dan mulutnya berdarah, giginya copot dihantam pukulan karate.

Namun pejuang yang tak banyak dikenal ini, alangkah teguhnya pada pendiriannya. Dan memang tak ada jalan untuk melepaskan diri dari belenggu dikaki dan ditangan si Bungsu.

Kari Basa memang berkata benar. Meski segala usaha telah dia jalankan, namun itu hanya menambah penderitaannya saja. Perg elangan tangannya lecet dan

berdarah karena usahanya itu. Dan ketika ketiga Kempetai yang menyiksa Kari Basa itu muncul lagi dengan menyeringai si Letnan berkata.

“HHmmmmm ….. .ingin lari ya. He. .hee. .ingin lari he.. he . .”

Seringainya amat buruk. Tapi yang lebih buruk lagi adalah perlakuan setelah itu. Si Bungsu, seperti halnya Kari Basa, dipaksa untuk mengatakan siapa-siapa saja yang diketahuinya mengorganisir perlawanan terhadap Jepang. Siapa saja teman Datuk Penghulu. Siapa saja yang telah dihubungi mereka dalam Gyugun. Apakah Engku Syafei di Kayu Tanam, Encik Rahman El Yunussiyah di Padang Panjang termasuk ke dalam orang-orang yang menyusun kekuatan ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,494 other followers