Parang Pariaman (bagian 10)

Akhirnya negeri… anda dibenci karena suka berkelahi main keroyok. Sedangkan tugas utama, yaitu memerangi penjajah dan membangun negeri tak lagi sempat dikerjakan. Karena pemuka masyarakat sudah sibuk mengurus masalah perkelahian, turun-temurun!
Kenapa kalian hanya bersatu ketika menyerang orang negeri kalian saja. Kenapa kalian hanya bersatu karena menyerang orang Sunua saja. Dan kalian orang-orang Sunua, kenapa kalian bersatu ketika berkelahi dengan orang Pariaman atau orang Ulakan saja. Kenapa kalian tak bersatu, atau tak menggunakan persatuan kalian itu untuk menyerang Inggeris yang menjajah negeri kalian?
Kenapa?! Apakah orang Inggeris yang menjajah itu lebih mulia dari orang negeri kalian sendiri, atau bagak kalian hanya ditujukan pada orang kampung sendiri, sementara bila berhadapan dengan penjajah jiwa kalian jadi kerdil?
Negeri ini tengah dijajah. Tengah diperas. Banyak pemimpinnya telah ditangkap dan dibunuh oleh penjajah. Baik bangsa Belanda maupun bangsa Inggeris dan Portugis. Tapi saya tak pernah melihat kalian jadi fanatik dan bersatu untuk membunuh penjajah yang telah membunuh pemuka kalian itu. Cobalah jawab, kenapa?”
Sidi itu berhenti lagi. Kebenaran ucapannya secara perlahan, tapi pasti, menyelusup ke dalam hati semua orang Pariaman yang datang ke sana untuk membunuhnya itu. Ucapan itu juga menyelusup ke hati orang-orang Sunua yang saat itu berkumpul pula di sana untuk melawan orang Pariaman yang tadi telah memukul orang kampung mereka.
Semua mereka terdiam. Menunduk dan merasa malu. Mereka coba mengingat sudah berapa kali mereka berkelahi dan terlibat dan cakak banyak yang berlumur darah dan menimbulkan korban tak sedikit dalam perang antarkampung. Sudah berapa kalikah? Tak terhitung lagi.

Mereka bahkan pernah mengirim “pasukan” ke Padang. Yaitu ketika di sana terjadi perkelahian antara orang Pariaman dengan orang Agam. Bahkan mereka pernah mengirim pasukan ke Riau. Ketika di sana terjadi perkelahian antara orang Pariaman dengan orang Aceh.
Apa yang dikatakan oleh Sidi Marhaban ini memang benar. Banyak pimpinan mereka yang ditangkapi oleh Inggeris. Namun mereka tak punya nyali untuk melawan. Yang di tangkap itu dibiarkan saja disiksa. Suara Sidi yang orang Bugis itu terdengar lagi :
“Tak ada soal yang selesai dengan tikaman. Tak ada orang yang jadi orang besar karena buku jari. Orang jadi orang besar karena otaknya. Karena itu, cobalah berfikir agak tenang. Jangan menurutkan hati panas….”
Tiba-tiba salah seorang di antara mereka, maju.
“Sidi. Anda orang asing. Kami sudah siap untuk membunuh anda. Untuk anda ketahui, belum ada orang yang berani mengatai-ngatai kami seperti yang ada lakukan sebentar ini. Seharusnya anda kami gantung dan kami sayat-sayat. Tapi semua yang anda katakan semata-mata adalah kebenaran. Kami jadi malu pada diri kami. Pada kebodohan kami. Kami telah terlanjur datang kemari, betapapun tak ada yang terlambat. Ternyata kedatangan kami kemari ada manfaatnya. Yaitu dapat mendengarkan apa yang baik dan apa yang tidak, tentang kelakuan kami selama ini. Untuk itu, saya atas nama diri saya pribadi, atas nama teman-teman yang lain, minta maaf. Maafkanlah kebodohan saya, kebodohan kami. Kami memang tak punya pendidikan yang tinggi. Bahkan sekolahpun tidak…..maafkan kami!”

Lelaki Pariaman itu mengulurkan tangannya. Sidi Marhaban juga. Tapi mata anak Bugis itu berkaca. Kejujuran lelaki Pariaman itu, tentang kebodohan dan ketidak berpendidikannya, sangat mengharukan hati Sidi itu. Lelaki jujur yang alangkah rendah hatinya. Dia salami tangan orang Pariaman itu dengan erat.
“Tuan lelaki yang berbudi….” katanya.
Orang Pariaman itu sendiri sudah sejak tadi merasa ingin menangis. Namun dia nelayan yang keras hati. Dia membuang muka menatap ke laut. Dia tidak ingin Sidi melihat air matanya menitik turun. Dan ketika tangannya telah dilepaskan oleh Sidi yang berbudi itu, dia cepat-cepat menghindar dari depan orang saleh itu.
Orang-orang Pariaman yang lain juga berdatangan minta maaf. Menyalaminya. Kemudian bersalaman dengan penduduk Sunua yang tadi beberapa orang telah mereka sakiti.
Begitu kesan mendalam yang ditinggalkan oleh Sidi Marhaban pada orang-orang Pariaman dan sekitarnya. Dan kini, ketika orang-orang itu mendengar bahwa Sidi itu meninggal, mereka lalu datang menunjukkan rasa duka cita dan rasa kehilangan yang amat dalam.
“Izinkan kami ikut memikul keranda jenazah orang berbudi ini, tuan Syekh….” salah seorang dari pemuka Pariaman itu berkata.
Syekh Malik Muuhammad menatapnya. Dan memberi isyarat pada dua orang murid Sunua dan Ulakan yang memikul keranda mayat di bahagian depan. Kedua murid itu memberikan pikulan tersebut pada dua orang Pariaman. Dan iringan jenazah itupun bergerak ke pekuburan murid-murid Syekh Burhanuddin di Ulakan.
—o0o—

Prosesi jenazah itu adalah prosesi yang duka. Tapi dalam prosesi itu sudah tumbuh benih kebencian yang amat membakar pada penjajah Inggeris. Mereka tengah menimbun tanah yang terakhir ke pusara tatkala derap kaki kuda itu terdengar lagi.
Saat itu hari sudah berlalu senja. Syekh Malik Muhammad mulai membacakan doa tatkala pasukan berkuda Inggeris itu mulai mengepung mereka. Kemudian terdengar suara Kapten Calaghan bergema.
“Kami atas nama Kerajaan Inggeris….”
Syekh Malik Muhammad terus membaca doa. Seluruh yang hadir mengaminkan, seperti tak mengacuhkan kehadiran pasukan berkuda Inggeris itu. Lalu kembali terdengar suara Kapten Calaghan.
“Saya akan menangkap beberapa orang di antara tuan-tuan dari Sunua dan Ulakan…..”
Syekh Malik Muhammad masih membaca doanya. Banyak di antara yang hadir menitikkan air matanya, tatkala dia membaca doa tersebut. Akhirnya doa itupun selesai. Syekh Malik Muhammad memalingkan kepala. Menatap pada pasukan berkuda Inggeris yang mengepung mereka. Menatap pada Kapten Calaghan yang masih duduk di punggung kudanya.
Menatap pada pasukan yang menodongkan moncong bedil pada mereka. Wakil pimpinan perguruan Sunua dan Ulakan, Syekh Fakhruddin dan Syekh Malik juga menatap pada pasukan berkuda itu.
Kapten Calaghan memajukan kudanya. Dengan pedang terhunus, dia menunjuk pada Syekh Malik Muhammad dan kedua wakilnya.
“Atas nama kerajaan Inggeris, tuan bertiga saya tangkap.”
Suaranya terdengar bersipongang. Sementara ujung pedangnya ditujukan pada ketiga Syekh itu.

“Atas tuduhan apa tuan menangkap kami.” “Atas tuduhan menyusun kekuatan untuk melawan kerajaan Inggeris…”
Syekh Malik Muhammad tertawa renyah.

“Kapiten, saya hanya memimpin sebuah perguruan Islam. Saya hanya mengajarkan ilmu bukan mengajarkan orang berperang. Bagaimana tuan bisa mengatakan kami menyusun kekuatan untuk menyerang tuan…..”
“Syekh! Sudah beberapa kali kami peringatkan agar perguruan tuan yang di Sunua itu ditutup. Tuan boleh mengajar terus di Ulakan. Tapi tidak boleh membuka sasaran silat. Namun tuan tak mengacuhkan permintaan kami. Dan siang tadi, seorang murid tuan, yang kini tuan kubur, telah membunuh perwira saya.”
“Bukankah itu terjadi karena perwira tuan menyerang terlebih dahulu?”
“Banyak tentara saya jadi saksi, bahwa murid tuan yang menyerang terlebih dahulu”
Syekh Malik Muhammad tertawa mendengar “kesaksian” itu. Kapiten ini cerdik sekaligus licik. Dan sekaligus menganggap orang lain bodoh saja. Anak buahnya yang dia jadikan saksi atas peristiwa terbunuhnya letnan di loji itu. Tentu saja mereka berpihak pada letnan itu.
Masih dengan menahan diri, Syekh Malik bertanya.
“Kami ingin tahu, dimana temannya yang bernama Anduang Ijuak, yang tadi pagi datang bersama temannya yang mati ini ke loji tuan untuk berunding.”
“Dia terpaksa kami tahan, karena dia juga menyerang Letnan Sammy.”
Suasana jadi sepi. Namun itu hanya sebentar. Salah seorang murid Ulakan yang menempuh pendidikan tingkat kedua di Sunua, sudah tak tahan lagi mengekang amarahnya.

Tadi dia termasuk di antara para murid yang ingin menyerbu ke loji Inggeris itu tatkala mereka menemukan mayat Sidi Marhaban. Untung di luar perguruan mereka bertemu dengan ketiga Syekh pimpinan perguruan tinggi Islam di Ulakan itu.
Namun kali ini, murid yang cukup tangguh ini, tak bisa lagi menahan berangnya. Dia tegak tak begitu jauh dari Syekh malik Muhammad. Dan di dekatnya tegak, ada seorang tentara Inggeris. Dia mengukur jarak. Dan ketika orang sedang berunding itulah tiba-tiba sekali tubuhnya melompat. Tubuhnya mendarat di belakang tubuh tentara Inggeris yang duduk di atas kuda dua depa dari tempatnya tegak tadi.
Begitu berada di atas punggung kuda di belakang tentara itu, dia segera mencekiknya dengan kuat. Dia mencekik dengan tangan kanan. Tangan kirinya menyentak pedang di pinggang serdadu itu. Dan dengan sebuah pekik Allahuakbar, dia lalu menggebrak kuda itu maju. Seorang prajurit lainnya menghadang. Pedang di tangan kiri murid Ulakan itu bekerja. Kepala serdadu itu putus!
Kejadian ini luar biasa cepatnya. Dan begitu kepala prajurit itu menggelinding ke bawah, murid Sunua itu segera memacu kuda ke arah Kapiten Calaghan! Namun Kapten itu bukan orang sembarangan. Dia sudah berpengalaman dalam perang di Eropah sana.
Gebrakan kuda itu dia elakkan, dan begitu kuda itu terlewat sedikit di depannya, pedangnya balas membabat! Dan murid Sunua itu memekik. Lehernya bahagian belakang belah!
Namun dia tak segera melepaskan musuhnya yang sejak tadi telah dia cekik. Cekikannya makin kuat. Kapten itu menebas lagi dengan pedangnya. Dan murid Sunua itu tersentak. Jatuh dan mati.

Parang Pariaman (bagian 9)

Anak muda itu menangis menyesali dirinya. Dan Fachturahman meninggal di sana. Sejak saat itu, anak muda itu tak mau beranjak dari Ulakan.
Dia memohon bekerja menjadi budak untuk menebus dosanya. Tapi tak seorangpun di antara murid dan pimpinan Ulakan yang menyalahkannya. Dia diterima secara wajar. Sebagai seorang murid yang sama hak dan derajatnya dengan murid-murid yang lain.

Dan anak muda itulah yang dari tahun ke tahun selalu tegak paling depan kalau ada orang yang mengganggu Ulakan atau Sunua. Karena saleh dan taatnya, karena setia dan budinya, penduduk memberinya gelar Sidi. Orang yang patut dimuliakan. Nah, anak-anak, itulah cerita tentang diri Sidi Marhaban. Guru kalian yang hari ini dibunuh Inggeris.” Syekh itu mengakhiri ceritanya.
Murid-murid perguruan silat dari Sunua itu tak seorangpun yang bergerak. Banyak di antaranya yang meneteskan air mata. Terharu akan cerita tentang diri Sidi Marhaban anak Bugis itu.
Terbayang lagi hari-hari yang mereka lalui bersama Sidi tersebut. Memang sedikit sekali di antara mereka yang mengetahui bahwa Sidi itu bukanlah orang Pariaman. Sebab bahasa yang dia pakai, tata cara dan tatakramanya selama ini, tak ada bedanya dari penduduk asli.
Terbayang lagi oleh mereka, betapa dalam latihan-latihan yang diawasi Sidi itu, bila terjadi kesalahan, dia tak langsung memarahi. Biasanya Sidi memanggil murid yang melakukan kesalahan itu. Menanyakan di mana dan bagaimana kabar orang tua si murid. Apakah sehat-sehat. Apakah mereka hidup berkecukupan atau dalam kesulitan. Kemudian secara perlahan dan sangat bijaksana, baru dia menunjukkan kesalahan si murid.
Caranyapun tidak dengan mengatakan, ini atau itu salah. Melainkan dengan perbandingan. Dia selalu memakai kalimat “Bagaimana kalau.” Jika seorang murid terlambat bangun pagi, sehingga dia terlambat sembahyang dan latihan, maka Sidi Marhaban biasanya bertanya : Bagaimana kalau pagi ini anda tak usah ikut latihan.

Siang saja nanti, tapi latihan yang intensif. Karena saya lihat anda masih belum konsentrasi. Tawaran ini sama sekali bukan sindiran. Itu adalah tawaran yang ikhlas. Dan murid-murid Sunua sangat menghormatinya karena sikapnya itu.
Dia tak pernah berang sambil membentak : Kenapa bangun lambat!! Itulah kenapa tadi mereka segera saja berlompatan ke punggung kuda dan akan menyerang Loji itu tanpa memperdulikan keselamatan diri mereka sendiri.
Kini, Sidi yang anak Bugis yang telah jadi orang Pariaman itu, telah tiada. Mati ditembak dengan keji oleh Inggeris.
“Jangan khawatir. Kita semua berduka dan menyimpan dendam yang paling dalam di hati kita atas kematian Sidi ini. Semua kita akan menuntut bela. Tak seorangpun yang akan kita biarkan mati sia-sia. Hutang nyawa akan kita balas dengan nyawa. Tapi kita tunggu waktunya….” kata Syekh Malik perlahan.
Ketika pusara selesai digali, ketika mayat akan diusung, tanpa dimandikan karena dia syahid, tanpa diduga datang berpuluh-puluh penduduk Pariaman, datang pula penduduk dari Sunua dan Ulakan, dari Petak dan Ketaping, mereka datang sebagai tanda ikut berduka yang dalam.
Rupanya berita kematian Sidi yang berbudi itu telah menjalar ke segenap penjuru seperti api memakan sekam. Penduduk negeri-negeri itu tak lupa, bahwa Sidi Marhaban adalah lelaki rendah hati yang selalu turun tangan membantu orang lain.
Pendekar yang memiliki ilmu cukup tinggi. Namun tak pernah menyombongkan dirinya sedikitpun. Orang Pariaman terkenal penaik darah dan suka main keroyok. Mungkin karena mereka penduduk pantai yang bekerja sebagai pelaut. Mungkin pengaruh laut yang selalu bergelombang tak stabil, selalu menantang bahaya dengan tegar, maka mereka menjadi cepat naik darah dan merasa senasib sepenanggungan dalam menghadapi tiap bahaya yang menimpa salah seorang di antara mereka.

Suatu hari pernah terjadi, seorang nelayan yang tengah menjual ikan hasil tangkapannya bertengkar dengan seorang penduduk soal harga. Bermula dari tawar menawar, karena merasa terlalu mahal tak jadi membeli.
Suatu hal yang lumrah saja sebenarnya dalam sistem pasar sebelum membeli orang menanyakan harga. Kalau dirasa terlalu mahal tak jadi membeli. Bukankah membeli harus sebatas kemampuan?
Namun nelayan itu merasa tersinggung. Dia memaki. Kalau tak ada duit jangan menawar ikan orang. Kalau mau yang murah kawin saja dengan saya. Ucapan ini membuat si penawar, seorang ibu, jadi terperangah, malu dan sakit hati.
Terjadi pertengkaran mulut. Suami perempuan itu ikut campur. Sebuah bogem mentah sudah mendarat di dahi suami perempuan itu. Saat itulah Sidi Marhaban, yang belum begitu dikenal orang Pariaman, datang dan memegang nelayan itu. Menyabarkannya dengan kata-kata lembut.
Tapi si nelayan balik berang padanya. Dan menyerang Sidi dengan pisau. Sidi mengelak beberapa kali. Melihat orang ini bisa mengelak, agak pendekar, maka teman-temannya yang lain segera ikut mengeroyok.
Sidi Marhaban, meski tengah di keroyok, sempat memberi isyarat pada kedua suami isteri yang dia tolong itu agar cepat-cepat pergi dari sana. Setelah kedua orang itu pergi, dengan sedikit gerakan dia memukul pergelangan ketiga orang itu dengan dua jarinya. Kontan pisau di tangan mereka terlempar.
Sidi segera menyelinap di antara orang ramai, menghindar dari sana. Kembali cepat-cepat ke Sunua. Tapi ternyata peristiwanya tak berakhir hingga itu. Nelayan Pariaman tadi tahu, bahwa yang telah membuat malu mereka dengan memukul tangan mereka hingga pisau itu jatuh, adalah orang Sunua.
Nah, sekitar lima puluh nelayan, pedagang atau petani Pariaman, umumnya muda-muda, tapi ada juga yang tua bangka, melakukan “penyerbuan” ke Sunua.

Di Sunua mereka sempat memukul dua orang penduduk untuk menanyakan di mana orang yang punya ciri-ciri seperti Sidi yang menyerang mereka kemaren. Mereka hanya tahu ciri-cirinya, tak tahu namanya.
Karena penduduk tak bisa menjawab, mereka dipukuli. Sidi Marhaban sendiri yang merasa tak sedap, keluar dari perguruannya. Dan begitu orang melihatnya, maka merekapun berseru : “Itu dia! Lanyauuu!”. “Tojeh jo sakin!”
Dan mereka yang bersenjata pisau, parang dan tombak itu menggebu mamburu. Dengan tenang Sidi Marhaban tegak menanti. Mulutnya mengguriminkan doa. Di tak ingin ada korban di antara rakyat yang gelap mata dan bodoh ini. Karenanya, sebelum orang-orang kalap itu dekat benar, dia mendekati sebatang kelapa yang tingginya enam meter dan tengah berbuah lebat.
Dengan perlahan menyebut nama Allah, batang kelapa itu dia tepuk tiga kali. Hanya Tuhan jua yang Maha Tahu, akibat tepukan perlahan itu, belasan buah kelapa berjatuhan ke tanah!
Penduduk yang memburunya terhenti. Ternganga. Sidi Marhaban masih tak bersuara. Dia memungut sekaligus empat buah kelapa masak. Melambungkannya ke atas, lalu mengibaskan tangannya ke arah empat kelapa itu. Keempat buah kelapa itu telambung ke segala penjuru …………dalam keadaan hancur!
Penduduk yang datang menyerang ternganga. Ada yang menggigil saat membayangkan kelapa itu adalah kepalanya! Sidi itu kemudian berkata perlahan :
“Saya orang rantau. Tujuh lautan telah saya lalui untuk sampai ke negeri ini. Jika saya pakai bahasa yang sombong, maka ucapan saya akan berbunyi: Saya tak takut mati. Dan jumlah sebanyak ini, masih kurang untuk menghadapi saya. Tapi bahasa kesombongan itu tak pernah saya pakai. Karena agama saya membenci orang-orang yang sombong dan takabur.

Parang Pariaman (bagian 8)

Atau mungkin pasukan berkuda itu membawa pesan dari guru mereka untuk menjemput beberapa orang murid yang yang termasuk senior untuk diajak serta dalam perundingan di loji.
Mereka menanti dalam diam dalam sasaran. Tapi pintu gerbang tak kunjung diketuk. Tak ada panggilan untuk membuka. Yang terjadi justru suara telapak kuda yang bergerak makin menjauh untuk kemudian lenyap samasekali.
Para murid itu saling bertukar pandangan.
“Ada apa?” tanya seseorang.
“Ya, ada apa?” sela seseorang yang lain.
Lalu sepi. Mereka berusaha menajamkan telinga. Berusaha menangkap suara mencurigakan dari luar sana. Namun tak ada apa-apa kecuali suara angin yang mengipas daun-daun kelapa.
“Kita lihat ke luar…..”
“Ya, kita lihat ke luar…..”
“Ya…..!”
“Ayolah”
“Ayo!”
“Tidak. Jangan semua. Cukup bertiga, saya, engkau dan engkau. Yang lain tunggu saja di sini. Berjaga kalau-kalau ada sesuatu yang tak beres. Nah, mari kita ke luar.”
Ketiga murid senior perguruan Sunua itupun segera mendekati pintu gerbang. Yang lain tegak menanti dan menatap dari jarak sepuluh depa. Yang seorang maju, mengangkat kayu yang memalangi pintu. Kayu sebesar betis dan panjangnya tiga meter itu dicuilnya dengan telunjuk. Kayu itu mental ke atas. Ketika meluncur turun, disambut dengan tangan kiri.
Dia membuka pintu. Di depan gerbang itu kosong! Angin dari laut menerpa masuk. Terasa angin.
“Tak ada apa-apa.”
“Ya. Tak ada apa-apa.”

“Tapi tadi jelas mereka mendekati gerbang ini!”. “Tapi mereka juga segera menjauhinya”. “Bagaimana kalau kita melihat agak keluar sana.” “Ya. Itu barangkali lebih baik.”
Ketiga mereka melangah perlahan melewati gerbang itu. Tak ada apa-apa! Kosong dan sunyi!
“Tak ada apa……”, suara salah seorang di antara mereka terputus tatkala tiba-tiba dia melihat sesosok tubuh tertelungkup dekat pagar perguruan tak jauh dari gerbang di sebelah kanan.
“Ya Tuhan, ada mayat!” katanya perlahan.
Kedua temannya menoleh ke tempat yang ditatapnya. Dan mereka sama-sama melihatnya.
“Angku Sidi!!” seru mereka hampir bersamaan tatkala mengenali sosok itu dari pakaian yang mereka kenal sebagai milik Sidik Marhaban. Mereka berlarian ke mayat itu.
“Ya Allah, ya Rabbi! Kapir-kapir itu telah membunuh Angku Sidi!” seru salah seorang diantara mereka. Seruan itu membuat semua murid perguruan Sunua itu bertemperasan datang ke sana. Di hadapan mereka, di dekat tunggul pohon kelapa, di pasir putih yang sejuk, mereka menyaksikan sebuah pemandangan yang mengharukan, sekaligus membakar hulu jantung mereka.
Sidi Marhaban, pelatih mereka yang selalu mewakili Anduang Ijuak, terbaring dengan muka, dada dan punggung robek oleh peluru. Dari bekas luka darah masih mengalir terus.
“Kapir jahanam! Kita serang merekaaaa!”
“Kita tuntut kematian ini!”
“Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!”
Keadaan tak teratasi lagi. Ketika mayat Sidi Marhaban itu diangkat ke dalam sasaran, sekitar belasan orang di antara mereka sudah berlarian ke kandang kuda.

Hanya sekejap setelah itu kuda-kuda itu telah menderu keluar dari perguruan tersebut. Namun begitu tiba di luar perguruan, kuda yang paling depan dihentikan mendadak. Kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi karena kaget. Pasukan yang di belakang terpaksa berhenti pula mendadak.
“Ada apa? Ayo maju!”
Teriak seseorang dari belakang. Yang di depan tak menyahut. Justru berusaha menenangkan kudanya. Yang di belakang tadi karena jengkel, mengambil jalan menyeli-nyelit di antara temannya untuk maju ke depan. Sesampainya di depan, dia juga ikut tertegun. Tegak dengan diam.
Kemudian seperti dikomando mereka turun perlahan dari punggung kuda. Kemudian membungkuk memberi hormat.
“Angku Syech….” kata salah seorang di antara mereka dengan takzim.
Di depan mereka, yang menyebabkan mereka terpaksa menghentikan kuda dengan tiba-tiba adalah karena munculnya Syekh Malik Muhammad, pimpinan tertinggi perguruan Ulakan dan Sunua.
Syekh itu tegak di sana dengan tenang. Di sisinya tegak pula dua orang wakilnya. Yaitu Syekh Fakhruddin dan Syekh Mualim.
“Akan ke mana, anak-anak?” tanya orang tua itu lembut.
“Angku, tuanku Sidi Marhaban telah dibunuh dengan kejam oleh kapir-kapir di Pariaman. Kami akan ke sana menuntut balas.”
“Ya. Saya sudah mendengar musibah itu. Karena itulah kami datang kemari menemui kalian”

“Kita serang saja loji mereka tuan Syekh….”. “Menyerang tanpa rencana, tanpa perhitungan yang masak, akan menyebabkan kita mati konyol”. “Saya tidak sepaham dengan ucapan tuan Syekh….!”
“Coba kau jelaskan dimana kita yang tak sepaham”
“Tentang mati konyol itu”
“Bagaimana pendapatmu, nak?”
“Bukankah dalam Alquran dikatakan bahwa muslim yang berjihad di jalan Allah bila dia mati, maka matinya adalah mati syahid?”
Syekh Malik Muhammad menarik nafas panjang. Bibirnya melukiskan senyum tipis.
“Benar. Siapa yang berperang di jalan Allah, dan mati, akan mati syahid. Tapi mati syahid itu bertingkat, nak. Jika engkau datang menyeruduk Inggeris di Pariaman sana tanpa perhitungan sama sekali, meski dengan alasan membela teman yang dibunuhnya, padahal engkau tahu bahwa kekuatan tidak seimbang dengan kekuatan mereka, maka bila engkau mati, kematianmu sama dengan seorang yang bunuh diri.
Dan engkau tahu, dimana Tuhan meletakkan orang bunuh diri di Yaumil Akhir, bukan?”
Murid-murid Sunua itu pada terdiam. Menunduk. Dan Syekh itu menyambung lagi :
“Mari kita misalkan, kita datang kesana seperti kedatangan yang kalian rencanakan sebentar ini, artinya kita datang dengan memacu kuda secepat limbubu. Kemudian memekik Allahuakbar sehingga menegakkan bulu roma. Kemudian lagi, sebelum kita mencapai dinding loji itu, mereka telah menyambut kita dengan semburan timah dan serpihan besi.
Semua pelurunya menembus tubuh kita. Kita mati tercampak ke tanah, tanpa dapat menyentuh salah seorangpun diantara mereka. Tak seorangpun! Sebab loji itu berpagar tinggi. Sebelum peristiwa ini saja loji itu dijaga dengan sangat ketat setiap saat.

Apalagi setelah peristiwa ini. Penjagaan sudah pasti mereka lipatgandakan. Nah, anak-anak, kedatangan kita ke sana, sudah pasti merupakan bunuh diri. Kecuali kalau kita bisa mengatur siasat dan berfikir agak tenang, dan memukul mereka pada saat yang tepat…..”
Murid-murid Sunua itu masih terdiam semua. Tak ada yang bisa mereka pikirkan, kecuali menerima kebenaran ucapan Syekh Malik Muhammad itu.
“Kami datang kemari karena ingin membicarakan hal itu dengan kalian semua. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Apakah anak-anak tak keberatan untuk surut setapak?”
“Saya, angku….” jawab mereka serentak dan perlahan berbalik menuntun kuda mereka, masuk kembali ke dalam komplek perguruan.
Mereka menyilahkan ketiga Syekh itu untuk berjalan di depan. Dan mereka menurut di belakang. Di Balai Tengah, yaitu di sebuah rumah besar yang terletak di tengah ruangan dimana biasanya pimpinan perguruan mengadakan rapat dengan murid-muridnya bila membicarakan hal yang penting, beberapa murid Sunua kelihatan tengah menunggui mayat Sidi Marhaban.
Ketiga Syekh itu tertegak di bawah balai tengah itu. Mayat Sidi tersebut terbujur dan ditutupi dengan sehelai kain hijau bersulam tulisan arab “Innalillah wa innailaihi rojiun.” Mereka menatap diam ke atas balai. Ke mayat yang terbujur itu.
“Bukakan kain penutupnya, nak” ujar Syekh Ulakan perlahan.
Salah seorang dari murid-murid yang menunggui jenazah itu menyingkap kain tutup mayat tersebut.
“Masya Allah!!”
Ketiga Syekh itu mengucap tatkala melihat penderitaan mayat tersebut. Mereka sebenarnya telah mendapat kabar tentang kematian Sidi Marhaban. Mereka telah dilapori oleh seorang pedagang Aceh yang saat itu jadi tamu di loji, dan yang sebenarnya orang Aceh itu adalah juga orang yang menuntut ilmu perguruan Ulakan.
Mereka sudah..

Namun dalam mengelak itu, dia masih bertanya:
“Anak muda, berapa orang engkau adik beradik makanya engkau berani datang kemari menyabung nyawa?”
Sambil tetap melancarkan serangan, anak muda itu menjawab bahwa dia anak tunggal. Karenanya dia tinggalkan ibunya untuk menuntut bela. Mendengar jawaban itu, Fachturahman berhenti mengelak. Dia tegak dan menatap anak muda itu dengan senyum. Anak muda itu maju, menikamnya berkali-kali. Fachturahman tak berusaha mengelak. Barulah setelah orang itu hampir rubuh, anak muda itu sadar, bahwa lawannya tak mengelak dari serangannya. Dia lalu bertanya sambil menyentakkan badik dari dada lawannya :
“Hai orang Ulakan yang terkenal bagak, kenapa engkau tak mengelak atau balas menyerang?”
Sambil terduduk dan mendekap dadanya yang berlumur darah, Fachturahman men jawab :
“Anak muda, aku bangga padamu. Sebagai anak satu-satunya, dari jauh engkau datang menuntut balas kematian ayahmu. Alangkah bahagianya orang tuamu. Kalau saja aku punya anak seperti engkau, ah, alangkah bahagianya. Malang, lima orang anakku, lelaki semua. Meninggal karena sakit, sakit karena lapar ketika usianya masih sangat muda. Aku sangat sedih. Karenanya aku tak mau membunuhmu, karena aku telah merasakan betapa pahitnya kematian anak.
“Lagipula anak muda,…” kata Faturahman di sisa tenaganya,…” ayahmu tidak mati di tanganku, kami berbeda perguruan. Suatu hari perguruan kami berselisih. Untuk jalan tengah dari pihaknya dia tampil, dari pihak Ulakan saya yang tampil untuk saling mengadu kepandaian. Barangkali Tuhan melebihkan sedikit kepandaian pada saya. Hingga ayahmu terluka. Hanya terluka, anak muda. Dia tidak mati. Sebulan setelah itu dia sembuh dan kami jadi kawan karib. Dua bulan pula setelah perkelahian itu, dia dibunuh seseorang.

Yang kami dan dia sendiri tak mengenalnya. Tapi orang menduga bahwa yang membunuh ayahmu adalah aku…..”. Syekh itu berhenti lagi bercerita. Murid-muridnya tertegun mendengar cerita yang di luar dugaan itu.
“Lalu bagaimana kelanjutannya, angku?”
“Lalu, Fachturahman,…” murid tertua perguruan Ulakan itu melanjutkan ceritanya, bahwa dugaan yang memberatkan dia yang membunuh adalah karena perkelahian dua bulan yang lalu itu. Sampai hari itu, yaitu di hari anak itu menuntut balas, tak juga pernah diketahui siapa yang membunuh ayahnya.
Anak itu terkejut mendengar cerita itu. Dia tak dapat menahan air matanya. Di antara tangis yang tak berbunyi itu, anak Bugis itu bertanya: “Kenapa bapak tidak menceritakan hal ini kepada saya sejak dari tadi, sebelum perkelahian ini terjadi. Dan kenapa bapak menerima saja tikaman badik saya?. Padahal bapak mampu mengelak kannya?”
Fachturahman menjawab.
“Aku tidak menceritakannya karena engkau datang untuk menantang ku berkelahi, bukan untuk mencari kebenaran tentang kematian ayahmu. Apapun yang akan kujelaskan, pasti takkan bisa kau terima nak. Sebab orang yang dibakar dendam, niatnya hanya satu yaitu membunuh lawan yang dibencinya. Dan kenapa aku tak mau melawanmu, padahal dengan mudah engkau bisa ku kalahkan? Sebabnya, aku sudah biasa menang dalam banyak perkelahian, dan dalam banyak persoalan. Kenapa untuk membahagiakan anak yang datang menuntut bela kematian ayahnya, aku tak mau mengalah?. Sesekali aku juga harus mau dikalahkan orang. Sesekali aku harus tahu, bagaimana rasanya jadi orang yang ditakluk kan. Dan dengan cara ini pula, aku bisa bicara padamu. Bisa menceritakan hal yang sebenarnya.

Parang Pariaman (bagian 7)

“Kapiten, saya datang kemari sebagai orang undangan. Saya disuruh menghadap untuk berunding! Beginikah cara orang Inggeris berunding?” suaranya terdengar dingin penuh ancaman. Kapten itu tak segera menjawab. Dia menoleh pada anak buahnya.
“Siapa yang melihat apa yang telah terjadi……?” katanya.
Seorang sersan maju.
“Letnan Sammy melarang orang yang mati itu untuk masuk ke kamarnya. Cukup hanya orang ini……” katanya sambil menunjuk pada Anduang Ijuak, “tapi orang itu mendesak terus, malah ketika dilarang, dia justru memulai menyerang Letnan Sammy. Untuk membela diri, Letnan menembak orang itu. Ya, hanya untuk membela diri, Kapiten! Tapi ternyata itupun terlambat. Dia tela kena hantam duluan. Mereka sama-sama mati!”
Dialog ini dilakukan dalam bahasa Inggeris. Karenanya Anduang Ijuak tak mengerti sedikitpun. Kapten itu menatap pada Anduang Ijuak.
“Lalu, orang ini mengapa saja?” tanyanya sambil memberi isyarat pada Anduang Ijuak. Sersan tadi menjawab lagi dalam bahasa Inggeris.
“Dia….dia, dia hanya berdiri saja Kapiten….”
“Berdiri saja?”
“Ya. Begitu yang saya lihat, Kapiten”
“Kamu harus melihat bahwa orang ini ikut menyerang Letnan Sammy. Mengerti!!”
“Yes, sir!”
Anduang Ijuak yang tak mengerti bahasa itu, hanya tegak menanti. Namun firasatnya mengatakan bahwa orang ini tengah mengatur siasat untuk menjebaknya.

Dia telah mempelajari situasi. Kamar itu telah penuh sesak oleh tentara Inggeris. Satu-satunya yang lowong adalah jendela dekat tubuh Letnan itu. Tapi jendela itu juga tidak menghubungkannya dengan dunia luar. Jendela itu keluar ke pekarangan dalam Loji itu sendiri.
Baragkali dia bisa melarikan diri. Memukul mati seorang atau dua orang dalam ruangan ini. Tapi itu, jelas bahaya besar bagi peguruannya. Perguruannya tengah menghimpun tenaga.
Tenaga setiap orang sangat dibutuhkan. Kini Sidi Marhaban, salah seorang senior di perguruannya telah mati, berarti tenaga sudah berkurang. Kalau dia juga mati, maka tenaga makin berkurang.
Kalau dia meneruskan untuk menghantam orang-orang Inggeris ini, maka efeknya adalah ditangkapinya murid-murid Sunua. Itu jelas akan mematikan perguruan itu. Daripada murid-muridnya ditangkapi, lebih baik dialah yang memikul resiko itu. Demikian Anduang ini mengambil kesimpulan.
Kalau dia harus juga ditahan, maka pimpinan perguruan di Ulakan masih bisa berusaha terus. Dengan harapan demikian dia tetap saja berdiri mendengarkan jebakan yang diatur untuk dirinya dalam bahasa yang tak dia mengerti.
“Tuan, tuan terpaksa saya tangkap. Tuan dan teman tuan ini telah menyerang perwira saya. Menyerang dan membunuhnya,” ujar Kapten itu berkata tegas pada Anduang Ijuak.

Anduang itu menatap si Kapten dengan mata yang disipitkan. Sesaat, hatinya berkata lagi, kalau kubunuh kafir yang satu ini, apakah mereka bisa ditaklukkan semua? Tapi dia kurang yakin.
Sekali tiga hari selalu ada patroli berkuda dengan kekuatan lima puluh orang yang datang dari markas besar Inggeris di Padang.
Kemudian sekali sebulan, ada kapal perangnya berlabuh di laut Pariaman. Barangkali esok atau lusa kapal itu akan berlabuh. Dan biasanya, kapal itu membawa serta dua ratus pasukan angkatan laut. Inilah yang membuat Anduang Ijuak dan pimpinan Ulakan lainnya berpikir masak-masak betul sebelum bertindak.
Dengan pikiran itu pula Anduang ini mengurungkan niatnya untuk membunuh Kapten tersebut.
“Tangkap dan masukkan dia ke penjara. Menjelang dikirim ke Padang untuk diadili!!” perintah Kapten itu menggema.
“Sebentar Kapten…..,” Anduang Ijuak berkata.
Tentara yang mendekatinya dengan borgol di tangan menghentikan langkahnya. Kapten Calaghan menatap sambil mengacungkan pistol.
“Saya harap tuan menyerahkan jenazah teman saya ini ke perguruan kami……”
“Saya akan menyuruh orang ke sana dan menyuruh murid tuan untuk mengambil mayat ini ke mari”.
Sejanak Anduang Ijuak menatap Kapten itu. Ingin sekali dia meremukkan kepala jahanam itu. Namun perbuatan itu pasti takkan menyelesaikan masalah. Patroli Inggeris yang datang dengan pasukan berkuda dan singgahnya kapal perang mereka di perairan ini, menyebabkan dia harus berpikiran panjang.

“Saya harap tuan menepati janji tuan, kapiten. Saya tak ingin mayat ini teraniaya….”. “Tuan mengancam saya?”. “Tidak, tapi tuan telah berjanji”. “Bawa dia ke sel bawah tanah!”
Dan guru persilatan Sunua itupun diborgol di tangannya. Kemudian dengan menempuh jalan berbelit, dia dibawa ke sebuah kurungan bawah tanah. Kurungan khusus untuk orang yang berbahaya.
Bunyi pintu besi yang telah berkarat terdengar menegakkan bulu roma ketika pintu tahanan itu dibuka. Beberapa ekor tikus berlompatan keluar tatkala Anduang itu didorong dengan kasar ke dalam.
Kemudian pintu berdentang ketika ditutupkan. Lalu pintu papan di bahagian luarpun ditutupkan pula. Dan….gelap! Bau yang pengap. Udara yang sumpek. Dan …… di kakinya yang telanjang, beberapa ekor tikus berkeliaran. Cukup besar-besar.
Dia tak bisa melihat apa-apa dalam kurungan ini. Bahkan tak bisa melihat dinding. Buat sesaat dia memejamkan mata. Mengatur pernafasan. Empat kali bernafas, dari getar udara yang ditimbulkan amat perlahan oleh nafasnya, berdasar pembalikan udara, dia dapat mengetahui, bahwa dinding penjara itu hanya tiga langkah ke kanan. Dan tiga langkah ke kiri. Ke belakang hanya selangkah. Yaitu dimana pintu besi tadi ditutupkan. Ke depannya hanya tiga langkah. Segitulah luas kamar itu.
Ke atas, hanya ada jarak sehasta antara loteng dengan ubun-ubunnya. Kamar itu segera saja jadi panas karena tak ada pentilasi.
Dia masih tegak di sana dengan diam. Pikirannya segera ke perguruannya.
Banyak di antara teman dan murid-muridnya menyaran kan agar tidak memenuhi panggilan Letnan itu ke Loji.

Tapi ketika dia meminta pendapat Syekh Malik Muhammad, maka pimpinan perguruan itnggi Islam Ulakan itu menyuruhnya untuk pergi.
“Pergilah. Supaya jangan ada alasan bagi mereka untuk menangkapi kita……”
“Tapi bagaimana kalau Inggeris memasang perangkap. Sehingga kami terjebak di sana. Dihadapkan pada situasi yang sulit sekali. Kemungkinan itu bukannya hal yang mustahil. Mengingat sifat penjajah sama saja. Apakah dia bernama Inggeris, Belanda atau Portugis sekalipun….”
“Ya. Saya rasa, hal itu mungkin saja terjadi. Hanya saja harap Anduang hati-hati….” begitu ucapan Syekh Malik Muhammad yang menjadi pimpinan tertinggi di antara mereka.
Apa yang mereka duga tentang jebakan dan akal licik Inggeris itu, kini sudah jadi kenyataan. Dia hanya berharap agar Syekh malik Muhammad cepat bertindak. Dalam sejarahnya, perguruan tinggi Islam di Ulakan itu, dimana guru atau murid banyak orang-orang dari Aceh, Gujarat dan India, perguruan itu sudah beberapa kali ditutup.
Ditutup karena sifat ekstrimnya terhadap penjajah yang berkuasa. Tapi perguruan itu senantiasa bisa bangkit kembali. Yaitu disaat-saat chaos. Disaat-saat ketidakpastian penjajahan. Disaat kekacauan. Adakalanya pesisir Barat Sumatera itu ditinggalkan oleh penjajah. Meskipun berada di bawah kekuasaan mereka. Tapi karena kekurangan personil, maka negeri itu dibiarkan saja. Ini terjadi ketika tahun-tahun 1400, 1500 dan 1600 dimana secaara berurutan Portugis, Spanyol dan Belanda berkuasa.
Dalam jil di bawah tanah itu kini keadaan sepi. Untuk pertama kalinya Anduang Ijuak melihat setitik cahaya merembes masuk, cahaya yang lemah yang masuk ke bilik tahanannya itu adalah cahaya yang menerobos celah kecil di pintu di balik pintu besi yang tadi ditutupkan di belakangnya.

Anduang Ijuak meraba-raba dalam kegelapan itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah balai-balai di sebelah kanan. Balai-balai dari beton. Tangannya terpegang beberapa ekor tikus. Yang tampaknya telah mendaulat tempat itu sebagai tempat mereka.
Tikus-tikus itu bertemperasan. Lari dengan suara mencericit. Dia lalu menanggalkan jubahnya yang berwarna merah. Mengibaskannya ke atas balai-balai itu. Kemudian perlahan dia duduk. Terasa dingin.
Pikirannya melayang pada temannya. Sidi Marhaban yang tewas. Tapi dia agak puas juga. Sebab Sidi itu juga telah membunuh letnan pongah itu.
—-o0o—
Di Loji Inggeris itu suasana jadi sibuk luar biasa. Sibuk dan tegang. Terbunuhnya Letnan Sammy menimbulkan kegoncangan dan amarah di kalangan pasukan berkuda Inggeris yang sengaja di tempatkan di Loji itu.
Kapten Calaghan sendiri mengadakan rapat darurat. Tamu-tamu yang datang ke Loji itu, para pedagang dari Aceh, india dan Gujarat, segera diminta untuk meninggalkan Loji.
Bendera Inggeris yang terpancang tinggi di sudut Utara Loji, segera di kerek turun setengah tiang diiringi bunyi terompet yang menegakkan bulu roma.
Penduduk Pariaman yang berada di sekitar Loji itu menjadi terkejut. Keterkejutan mereka bermula dari suara-suara letusan dari dalam Loji tadi. Banyak di antara mereka yang melihat Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban memasuki Loji Inggeris itu.
Berita kedatangan pasukan berkuda ke perguruan Sunua telah tersebar ke seluruh pelosok. Dalam sehari semalam saja, berita itu telah menjalar ke mana-mana.

Parang Pariaman (bagian 6)

“Saya ingin bertemu dengan Komandan Loji….”  “Sayalah komandannya di sini…..”  “Saya yakin tuan tak suka bermain-main. Saya ingin bertemu dengan Kapten Calaghan….”
“Persoalan perguruan tuan, bukan….?”
“Benar…..”
“Persoalan itu telah dilimpahkan pada saya. Saya yang menanganinya. Sekarang tuan harus berurusan dengan saya…”, suara letnan itu terdengar cukup keras.
Anduang Ijuak cukup maklum. Jika dia berurusan dengan perwira muda ini, maka dia akan berhadapan dengan seorang opsir yang suka menyombong. Dia sebenarnya ingin balik kanan saja. Tapi dia tahu, kaum penjajah bisa berbuat sekehendaknya. Maka akhirnya, dengan menekan perasaan, Anduang ini masuk juga.
“Ajudan tuan silahkan menanti di luar……” kata Letnan itu.
“Dia wakil saya. Saya tak memiliki ajudan…..” kata Anduang Ijuak.
“Wakil atau tidak, saya tak suka terlalu banyak orang melayu masuk ke kamar saya. Baunya kurang sedap bagi hidung saya!!” ujar letnan itu.
Dan akibatnya luar biasa. Muka Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban berobah menjadi merah padam. Sidi Marhaban melangkah dua langkah dengan tangan siap menghantam mulut letnan yang lancang itu. Namun Anduang Ijuak mencegahnya. Tapi seiring dengan itu, Letnan Inggeris tersebut telah mencabut pistol di pinggangnya. Dan menembak langsung!

Peluru pistol yang terbuat dari serpihan besi halus itu segera menerkam dada dan muka Sidi Marhaban, jarak tembak ini demikian dekatnya. Hanya dalam jarak sedepa! Dan yang diterkam peluru itu bukan hanya dada Sidi Marhaban. Tetapi juga tangan kanan Anduang Ijuak. Tangan Anduang ini berada di dada Sidi Marhaban karena dia mencegahnya ketika akan maju menyerang Letnan itu tadi.
Begitu tembakan menggema, lima orang serdadu Inggeris segera menerobos masuk dengan bedil dan pedang di tangan. Peristiwa itu nampaknya memang telah diatur Inggeris sedemikian rupa. Ini adalah titik awal dari api yang bakal memamah Pariaman dalam perang melawan Inggeris.
Begitu mereka masuk, semuanya tertegak diam. Letnan itu sendiri juga masih tegak dengan pistol yang telah kosong tergantung di tangannya. Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban juga masih tegak di tempatnya.
Inilah yang luar biasa.
Tembakan itu, jika ditembakkan pada manusia biasa, pasti telah membunuh sejak tadi. Tapi, meski dengan dada berlobang-lobang, dengan pakaian hangus, dengan muka yang juga berlobang di beberapa tempat, Sidi itu masih tegak di sana.
Tak sedikitpun darah nampak menetes dari bekas luka di dadanya. Tak setitikpun! Tangan Anduang Ijuak yang sejak tadi menahan Sidi Marhaban, lambat-lambat dia turunkan. Anduang Ijuak menjadi amat berang dengan sikap Letnan itu.
Dan turunnya tangannya dari dada Sidi Marhaban merupakan suatu tanda, bahwa dia tak lagi menghalangi Sidi yang telah terluka itu.

Dan memang itulah yang dilakukan Sidi marhaban. Dia tahu, meskipun ilmu bathinnya tinggi, namun tembakan itu tadi benar-benar tak pernah diduganya. Dan dia tak sempat mempersiapkan diri. Dan dia tahu, nyawanya bakal tak tertolong lagi. Dia hanya bisa bertahan buat waktu yang singkat.

Bertahan agar darahnya tak menyembur keluar dari bekas lukanya. Bertahan agar dirinya tetap tegak.
Dan begitu tangan Anduang Ijuak lepas dari dirinya, dia menghimpun tenaga bathin. Dan letnan itu masih tegak takjub ketika Sidi Marhaban membentak keras!
Bentaknya diiringi sebuah pukulan dari tempatnya berdiri. Bentakan itu demikian mengguntur dan demikian menggetarkan. Semua yang ada dalam ruangan itu, kecuali Anduang Ijuak, merasakan betapa lutut mereka jadi lemah. Dan yang lebih hebat lagi adalah akibat pukulan yang ditujukan pada Letnan yang masih memegang pistol kosong itu. Tubuh Letnan Inggeris itu seperti terangkat dari lantai. Kemudian terlambung ke belakang. Menghantam meja. Merubuhkan meja itu dan menyerakkan benda-benda yang ada di atasnya. Kemudian menghantamkan tubuh si Letnan ke dinding di belakangnya!
Letnan itu tertegak di sana. Matanya mendelik. Dan dari mulutnya yang ternganga, tiba-tiba darah segar menyembur!
“Set…..setaaan….ilmu se….taannn……” rintihhnya.
Dan itu adalah kalimat yang terakhir di permukaan bumi. Kemudian tubuhnya rubuh! Dan Letnan ini mati oleh sebuah pukulan Ulu Ambek yang terkenal itu. Pukulan jarak jauh yang tak memerlukan persentuhan badan. Pukulan yang disertai tenaga bathin yang cukup tinggi.

Lalu, begitu Letnan itu rubuh, terhempas dan tertelungkup ke atas meja yang telah centang perenang itu, para prajuritnya yang masuk tadi jadi tersadar. Tubuh Sidi Marhaban tertembus peluru dari enam moncong bedil. Dia ditembak dari belakang. Tubuhnya tak bergoyang sedikitpun. Perlahan rubuh disambut oleh Anduang Ijuak.
“Sidi….!” imbaunya.
Tak ada jawaban. Anduang Ijuak maklum, bahwa pukulan Ulu Ambek yang dilakukan Sidi tadi terhadap Letnan itu, adalah gerakannya yang terakhir. Sebab dengan pukulan itu, dia telah melepaskan pertahanannya terhadap dirinya yang terluka.
Anduang Ijuak yang tegak di sisi Sidi itu mendengar bisikan menyebut “Allah” tatkala Sidi itu membentak dan memukulkan tenaga bathinnya. Dan tak beberapa detik setelah pukulan itu, darah segar merembes dari badannya yang terluka sejak tadi. Dan di saat itu, yaitu di saat para pengawal itu belum menembakkan bedilnya, Anduang Ijuak maklum bahwa Sidi sudah berpulang! Tembakan keenam bedil itu mengenai sesosok mayat!
Anduang Ijuak merebahkan diri Sidi Marhaban di lantai.
Kemudian guru persilatan Sunua ini menatap pada keenam prajurit yang menembak Sidi itu. Ke enam prajurit itu kini menodongkan bedil kosong tapi tapi berbayonet runcing di ujungnya itu ke arah Anduang Ijuak.
Tembakan itu telah mengundang seluruh tentara Inggeris di Loji itu masuk ke ruangan tersebut. Dan waktu yang amat singkat, kamar itu dipenuhi para serdadu yang berbaju dari beludru merah dengan celana satin putih.

Parang Pariaman (bagian 5)

Syekh itu terdiam. Yang lain juga terdiam. Lelaki muda yang sejak tadi terus memperhatikan si Syekh, kini melemparkan pandangannya ke danau jauh di bawah sana. Kemudian dia menunduk. Keheningannya itu dipecahkan oleh kehadiran isteri petani itu. Dia datang membawa air kelapa muda dalam gelas dari alumanium.
“Aha, ini air kelapa muda. Mari silahkan bapak-bapak minum…..” kata lelaki muda itu sambil menolong isterinya membagi-bagikan gelas alumanium tersebut.
“Sekali lagi, mafkan kami mengganngu ketenanganmu nak….” Syekh Malik Muhammad bicara lagi pada isteri lelaki tersebut.
Perempuan cantik itu tersenyum. Setelah gelas itu dia bagikan, dia mengundurkan dirinya ke rumah. Mereka lalu meneguk minuman itu. Kemudian sama-sama terdiam.
“Bagaimana….?” Syekh itu kembali bertanya.
Anak muda itu menarik nafas panjang. Kemudian berkata perlahan :
“Saya benar-benar merasa malu hati atas perhatian tuan Syekh dan tuan-tuan pimpinan Ulakan dan Sunua. Saya tak tahu apa yang harus saya sumbangkan untuk maksud sebesar itu. Saya khawatir saya akan membuat kecewa tuanku Syekh, maafkan saya.”
Dia berhenti. Syekh itu dan teman-temannya terdiam.
“Maafkan jika penilaian saya salah. Setahu saya, di manapun saat ini, apakah di Pariaman atau di Tiku, apakah di Inderapuro atau di Bukittinggi, apakah di Padang Panjang atau di Batusangkar, belum satupun yang tepat saatnya untuk memulai perlawanan kepada Inggeris.

Di Pariaman ini saja misalnya, saya tak sangsi atas ketinggian ilmu perguruan yang tuan Syekh pimpin. Tapi dengan perguruan Syekh saja, tanpa mengikut sertakan perguruan dan rakyat lainnya, perjuangan itu hanya berupa bunuh diri.

Nah, di Pariaman, maafkan saya, saya dengar antara perguruan silat yang satu dengan perguruan silat yang lain terjadi pertentangan-pertentangan yang tajam. Saya justru khawatir, di saat satu pihak menyerang Inggeris, maka pihak lain akan menikam dari belakang. Jumlah seratus pasukan berkuda yang dimiliki Inggeris adalah jumlah yang besar. Besar selain karena mereka memiliki bedil yang tak satupun kita miliki, mereka juga pasukan yang sudah terlatih dari banyak perang di Eropah. Begitu yang saya dengar….”
Syekh itu menarik nafas panjang.
“Memang begitulah yang sebenarnya anak muda. Saya juga sependapat denganmu. Bahwa tanpa mengikutsertakan seluruh lapisan rakyat untuk berjuang, maka perjuangan itu sama dengan bunuh diri. Apa-lagi Inggeris memakai senjata api sesuatu yang sulit kita hadapi. Saya memang sudah menduga, bahwa engkau akan menolak…..”
“Tapi…..” “Saya mengerti maksudmu, kami datang hanya untuk menghilangkan was-was. Inggeris memang terlalu kuat saat ini. Pendapatmu sekaligus berguna bagi kami sebagai saran. Kami akan coba menghimpun sebanyak mungkin tenaga. Dan jika saatnya tiba, saya harap engkau bersedia membantu….”
“Jika saatnya tiba, adalah kewajiban saya sebagai anak Minang untuk berjuang mengusir penjajah. Dengan tulang delapan kerat, saya akan menggabungkan diri dengan Tuan Syekh…”, anak muda itu berkata pasti.

Syekh Malik Muhammad berdiri. Diikuti oleh ketiga rekannya. Dia mengulurkan tangan. Menyalami lelaki muda itu. “Giring-giring Perak. Nama besarmu akan menambah semangat kami. Saya bahagia dapat bertemu dengan tuan….” kata Syekh itu. Petani itu, yang memang si Giring-giring Perak, tersenyum tipis.
“Saya mendapat kehormatan yang besar sekali atas kunjugan tuan Syekh dan para pemimpin perguruan Ulakan ini. Maafkan kami tak dapat menyambut dengan cara yang layak…..”
“Sampaikan pada Siti Nilam, isterimu yang bahagia itu, bahwa kami tak sempat minta diri. Kami bergegas benar…”
Keempat pimpinan perguruan Ulakan itupun menaiki kudanya. Dlam waktu yang singkat ke empatnya lenyap dibalik tikungan.
Giring-giring Perak arif bahwa keempat lelaki yang barusan berkunjung ke rumahnya ini adalah ulama-ulama yang berilmu tinggi. Baik ilmu agamanya, maupun ilmu silat dan ilmu bathinnya. Dan sebentar ini, mereka mempergunakan ilmu “Siringan-ringan” untuk mempercepat jalan mereka. Itulah kenapa dalam waktu yang singkat, mereka telah hilang dari pandangannya.
“Mereka telah pergi….?” tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara isterinya.
Dia menoleh, Siti Nilam kelihatan turun dari tangga rumahnya menuju ke bawah batang jambu di mana dia tegak membawa baki. Dia memperhatikan isterinya. Perempuan cantik itu tetap saja cantik meski dalam pakaian yang amat sederhana.
“Mereka sudah pergi…..?”, kembali perempuan cantik itu bertanya.

Dan suaminya seperti terjaga dari sebuah lamunan. “Ya, mereka telah pergi……”, katanya perlahan. “Mengajak berperang?”
Giring-giring Perak tertegun. Dia tatap isterinya. “Engkau tahu?”  Siti Nilam tersenyum.
“Bagaimana saya takkan tahu, kalau melihat orang-orang yang datang adalah para pendekar, dan kedatangan mereka nampaknya amat rahasia? Lagi pula, setiap isteri, pasti dapat merasakan apa yang tengah dipikirkan suaminya….Mereka adalah pimpinan perguruan Ulakan, bukan?”
“Ya, mereka pimpinan Ulakan. Engkau cukup arif dan berpengamatan tajam, Nilam….Dan mereka memang mengajak untuk bersatu melawan Inggeris….” “Inggeris?”

“Ya, melawan Inggeris. Mereka merasa sudah tiba waktunya untuk berbuat demikian……”
“Melawan Inggeris yang punya lebih dari delapan puluh pasukan berkuda?”
“Tepatnya sekitar seratus pasukan berkuda….”
“Dan lengkap dengan senjata api”.
“Ya. Lengkap dengan senjata api”.
“Apakah itu mungkin?”
“Penyerangan itu bisa saja mungkin….”
“Ya. Serangannya pasti mungkin. Tapi bagaimana dengan hasilnya?”
“Itulah yang saya lihat tak mungkin. Tak mungkin untuk menang…….”
Siti Nilam menarik nafas panjang. Dia duduk di depan suaminya. Dia adalah wanita yang selain amat mencintai suaminya, juga amat mengaguminya.
“Lalu bagaimana putusan uda tadi?”
“Saya rasa belum saatnya saya untuk ikut. Karenanya saya kembalikan saja persoalan itu pada mereka. Saya janjikan bahwa saya akan ikut kalau telah tersusun kekuatan dari berbagai lapisan penduduk Pariaman.”
—o0o—
Anduang Ijuak, salah seorang pimpinan Ulakan yang datang ke rumah si Giring-giring Perak itu bersama Syekh Malik Muhammad, kini tertegak di depan rumahnya dalam komplek perguruan Silat Sunua yang dia pimpin.
Melihat plakat yang ditempelkan oleh pasukan Inggeris ketika dia tengah mengadakan pertemuan di Ulakan. Dia menghela nafas. Kemudian berbalik akan melangkah ke rumah. Namun langkahnya terhenti. Dia menatap keliling. Dan di sekelilingnya, telah berdiri murid-muridnya yang lelaki. Tegak dengan diam. Mereka membentuk setengah ligkaran. Jumlah mereka sekitar 20 orang.
“Jumlah kita terlalu sedikit dibanding dengan pasukan Inggeris….” masih terngiang olehnya ucapan si Giring-giring Perak tiga hari yang lalu ketika mereka datang ke rumah anak muda itu.
Dan kini dia tatap murid-murid persilatan Sunua yang dia pimpin itu. Hanya sekitar 20 orang. Berdatangan dari berbagai daerah. Mulai dari Luhak Nan Tigo, yaitu Tanah Datar, Agam dan 50 Kota. Sampai dari Riau dan jambi. Bahkan ada yang datang dari Aceh.
Hanya dua puluh. Dan dari jumlah itu, hanya empat atau lima orang saja yang memiliki silat Ulu Ambek. Silat yang paling atas dalam perguruan mereka. Selebihnya hanyalah silat Jantan dan Betina. Ya, kita terlalu sedikit, kata guru Gadang ini dalam hatinya sambil menarik nafas panjang.

“Anduang……” salah seorang muridnya buka suara. Anduang Ijuak mengangkat kepala. Meski hatinya gundah namun dia tersenyum.
“Kalian sudah sholat?” “Sudah, Anduang” kata mereka serentak. “Syukurlah….” “Ada yang akan kami sampaikan pada Anduang” “Apakah saya kalian izinkan sembahyang dahulu? Saya belum sholat Asyar….”
“Maafkan kami. Silahkan Anduang sholat….”
Anduang Ijuak, lelaki bertubuh kekar dengan rambut kasar dan kulit berwarna hitam itu, tersenyum. Secara keseluruhan lelaki ini adalah orang perkasa. Dengan tubuhnya yang besar itu, dia patut untuk ditakuti.
Namun siapapun yang melihat wajahnya, takkan ada kesan menyeramkan dari wajahnya. Wajahnya bersih. Selalu tersenyum lembut.
Dia melangkah menuju langgar kecil dalam pekarangan sasaran Sunua itu. Dia memang berusaha untuk tak segera berdiskusi dengan murid-muridnya ini. Bukan rahasia lagi baginya, para murid ini ingin segera menyerang Loji Inggeris di Pariaman dan Tiku. Dan bukan jadi rahasia pula, bahwa sejak lama ada permusuhan antara perguruannya di Sunua ini dengan perguruan silat Harimau Kumbang di Pariaman.
Perkumpulan silat Harimau Kumbang itu mempunyai murid lebih dari 30 orang. Bermacam-macam golongan kumpul di sana. Ada penghulu, ada ninik mamak, ada pemuda, ada nelayan, ada perampok. Ada yang Islam, ada yang tidak.

Dan bukannya rahasia lagi, perguruan itu selalu menimbulkan huru-hara di daerah Tiku sampai ke Pariaman. Pimpinan perguruan itu adalah seorang lelaki gemuk, tinggi besar dan selalu memakai gelang akar bahar di lengannya, bernama Uwak Sanga.
Dia dinamakan Uwak Sanga karena memang tak ada soal yang beres baginya. Setiap soal, jika dihadapkan padanya ujungnya pasti tak beres. Dan ujung ketidakberesan itu adalah bicaranya kaki dan tangannya.
Sikapnya yang kasar dan mudah naik darah, membuat orang menggelarinya Uwak Sanga. Dan meski demikian dia cukup ditakuti. Baik oleh kawan maupun lawan. Dan terus terang saja perguruan Syekh Burhanuddin yang kini dipimpin oleh Syekh Malik Muhammad merasa “segan” pada Uwak ini.
Uwak itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Kabarnya dia pernah menuntut di Pagaruyung dan ke Aceh. Ilmu silatnya mirip ilmu silat harimau di darat sana. Tak diketahui dengan pasti, apakah karena itu makanya perguruannya di namakan dengan Harimau Kumbang.
Uwak ini beragama islam. Itu pasti. Sebab tak seorangpun di antara murid-murid yang pernah belajar ke Aceh yang tak beragama Islam. Namun, sudah puluhan tahun lamanya Uwak itu tak kelihatan sembahyang. Dan dia membiarkan pula murid-muridnya berjudi, menyabung, mabuk-mabuk dan menodai anak isteri orang.
Sejak lama, perguruan itu saling intai mengintai langkah dengan perguruan Ulakan. Pihak Ulakan tak pernah mau memulai pertikaian. Sebab mereka memang dididik dengan aturan-aturan agama yang keras.

Sementara perguruan Harimau Kumbang juga tak berani secara terang-terangan memusuhi perguruan Ulakan. Kendati demikian, perkelahian antara murid-murid Ulakan dengan murid-murid Harimau Kumbang sudah beberapa kali terjadi.

Meski tidak sempat melibatkan perguruan secara menyeluruh, namun sudah ada tanda-tanda bakal terjadinya “kebakaran” antara kedua perguruan tersebut. Pihak Harimau Kumbang juga menaruh segan pada Ulakan. Bukan rahasia lagi, bahwa perguruan itu memiliki pendekar-pendekar aliran Ulu Ambek yang tangguh.
Bagi pihak Ulakan sendiri, ada hal yang membuat mereka menaruh perasaan tak sedap pada perguruan Harimau Kumbang. Perguruan yang dipimpin Uwak Sanga itu diketahui sangat rapat dengan Inggeris. Dulu dia rapat dengan Belanda. Kini ketika Inggeris menggantikan Belanda, dia rapat dengan Inggeris. Itulah soalnya.
Dan esoknya, Anduang Ijuak memang datang ke Loji Ingeris yang terletak dekat lapangan lebar di pusat kota. Dia datang ke sana setelah bermufakat dengan Syekh Malik Muhammad di Ulakan.
Datang bersama seorang wakilnya bernama Sidi Marhaban. Kedatangannya disambut oleh Letnan yang kemaren datang memimpin pasukan berkuda ke sasarannya.
“Aha….akhirnya tuan datang Anduang Ijuak! Mari, silahkan masuk…..” ujar letnan itu meramah-ramahkan diri. Tapi Anduang Ijuak tak beranjak dari tempatnya.

Parang Pariaman (bagian 4)

Letnan itu mulai memperlihatkan watak penjajah aslinya. Dia tertawa. Mula-mula hanya tertawa bergumam. Kemudian mulai terkekeh. Dan tiba-tiba dengan sebuah teriakan panjang, dia memacu kudanya. Kuda itu melejit ke depan. Menerjang keenam lelaki murid perguruan Sunua itu.
Dan sepuluh orang diantara anak buahnya masuk pula dengan suara gemuruh. Keenam murid perguruan itu hanya memerlukan sedikit gerakan untuk menghindar dari kuda-kuda yang melejit di depan mereka. Pasukan berkuda Inggeris yang sepuluh lagi tetap berada di luar dinding perguruan itu. Duduk di atas punggung kudanya dengan bedil terhunus. Menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tak dingini.
Dan penduduk yang berada di luar areal perguruan itu menatap dan menanti perkembangan dari kejauhan dengan diam. Kesebelas pasukan berkuda Inggeris itu segera berada dalam areal perguruan. Dan mereka segera terhenti. Di dalam areal itu, ada sekitar tiga puluh orang, lelaki dan perempuan, yang tengah berlatih silat.
Ada yang latihan tangan kosong. Ada yang latihan mempergunakan keris, tombak dan panah. Semua mereka terhenti berlatih. Letnan Inggeris itu menatap mereka dengan diam. Kemudian menjalankan kudanya ke arah sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat latihan itu.
“Ada pimpinan kalian di sini?” kembali dia bertanya.
“Kalau yang tuan maksudkan Anduang Ijuak, dia tak ada di sini.”
Sebuah suara memecah dari antara orang banyak yang berhenti latihan itu.
Letnan itu…

Perguruan itu kini sepi. Tak seorangpun yang bergerak dari tempatnya. Beberapa orang di antara mereka melirik pada plakat yang tadi ditempelkan di dinding rumah Anduang Ijuak. Mereka hanya melirik dari kejauhan. Tak seorangpun yang berminat untuk mendekat mem bacanya. Sebab bagi mereka sudah jelas maksud plakat itu.
“Asyar….” salah seorang di antara mereka bergumam perlahan.
Yang lain seperti diingatkan pada waktu solat yang telah tiba. Mereka segera bersibak. Lelaki pergi ke barak lelaki, yang perempuan kembali ke baraknya pula. Barak mereka dipisahkan oleh pagar. Hanya waktu berlatih saja mereka bergabung di sasaran ini. Sebuah sasaran lebar berlantai pasir putih di bawah batang-batang kelapa dan pohon asam jawa.
Mereka mengambil udhuk. Kemudian sembahyang berjamaah. Dan saat itulah, lelaki yang bernama Anduang Ijuak itu memasuki perguruannya.
Lelaki ini berambut kasar dan lurus. Berkumis tebal kasar. Tak diketahui dengan pasti apakah karena rambut dan kumisnya yang kasar seperti ijuk itu makanya dia dinamakan Anduang Ijuak. Dan dia segera melihat plakat yang ditempelkan di dinding rumahnya.
Ketika berada di Ulakan tadi, hatinya memang sudah berdetak bahwa ada apa-apa di perguruannya ini. Mereka, para pimpinan dalam perguruan Ulakan dan Sunua yang berada di bawah pimpinan Syekh Malik Muhammad, yaitu murid kesekian di bawah Syekh Burhanuddin yang telah almarhum itu, memang sudah dua kali mendapat peringatan dari Inggeris untuk menghentikan latihan silat.

“Tuan-tuan boleh melanjutkan perguruan agama tuan-tuan di Ulakan. Tapi tidak perguruan silat di Sunua.” Begitu dua kali peringatan yang pernah disampaikan Kapten Calaghan pada Syekh Malik Muhammad tiga bulan yang lalu. Mereka mengetahui dengan pasti apa alasan larangan itu.
Mereka memang melatih silat untuk menghimpun kekuatan. Ada dua maksud utama yang ingin mereka capai dengan latihan silat itu. Pertama mereka akan menghimpun tenaga untuk mengusir penjajah dari Minangkabau. Untuk itu dibutuhkan ilmu perang dan ilmu beladiri.
Kedua, mereka memang tak mudah menyebarkan Agama Islam di tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan berbagai perbuatan maksiat. Makanya mereka lalu mempersiapkan diri dengan ilmu silat.
Ada beberapa tingkat pelajaran yang harus dilalui oleh murid-murid perguruan di Ulakan. Pada tingkat pertama mereka harus menuntut ilmu agama. Setelah mencapai tingkat tertentu, baru masuk ke Sunua untuk belajar dasar-dasar silat.
Kemudian kembali ke Ulakan untuk memperdalam agama. Dan kembali lagi ke Sunua untuk memasuki taraf lebih lanjut dari silat. Jika lolos, maka kembali lagi ke Ulakan. Di sini mereka belajar Tarikat. Dan jika lulus dari sini, untuk kali ketiga kembali lagi ke Sunua menjadi murid-murid senior yang diberi pelajaran silat Ulu Ambek yang terkenal itu.
Sejenis silat yang mempergunakan tenaga batin. Silat yang tak memerlukan saling bersentuhan fisik untuk membunuh.

Mulai dari Portugis, Belanda dan kini Inggeris, mencium bahaya yang tersimpan di balik perguruan ini. Jika dibiarkan orang-orang ini bisa menjadi pasukan yang tangguh. Dan itu sudah pasti berbahaya bagi yang menjajah.
Dalam sejarah, perguruan ini sejak seratus tahun terakhir memang menjadi pusat pergerakan menentang kaum penjajah. Itulah sebabnya Inggeris melarang mereka melanjutkan latihannya.
Anduang Ijuak masih tertegak di luar rumahnya. Membaca maklumat yang ditempelkan oleh tentara Inggeris tadi. Kemudian dia menoleh ke lapangan pasir di bawah pohon kelapa dan pohon asam di mana murid-muridnya selama ini berlatih.
Ada jejak telapak kuda mencekam pasir lembut itu. Dia segera tahu, pasukan berkuda itu telah menerobos kemari. Dan dia bersyukur, murid-muridnya dapat menahan emosi untuk tidak melibatkan diri dalam perkelahian dengan pasukan itu. Sebab dalam perundingannya dengan Syekh Malik Muhammmad, pimpinan tertinggi perguruan Ulakan dan Sunua saat itu, didapat kesimpulan bahwa mereka belum saatnya untuk mulai menyerang Inggeris.
Belum saatnya, karena mereka belum terkoordinir. Kekalahan yang dialami ketika berperang dengan Belanda beberapa tahun dahulu masih berbekas. Banyak anggota dan pendekar-pendekar Ulakan yang gugur.
Mereka, pimpinan perguruan di Ulakan dan Sunua itu, juga telah menghubungi seorang lelaki yang tinggal di kampung kecil bernama Ambun Pagi di Puncak Lawang. Sebuah kampung yasng berada di pucuk bukit terjal yang mengelilingi danau Maninjau.

Dari tempat tinggalnya, juga dari sawah dan ladangnya, pemandangan ke danau Maninjau luar biasa indahnya. Amat luar biasa indah. Pagi maupun sore, kabut dan embun seperti mengapung di desa berudara sejuk itu. Dari celah-celah embun dan kabut itu danau Maninjau kelihatan seperti beludru. Kicau burung dan elang seperti suara salung dan bansi. Di tebing-tebing kelok terjal menuju Maninjau kelihatan pucuk-pucuk cengkeh seperti permadani ke merah-merahan.
Mereka datang kerumah lelaki muda yang memiliki isteri amat cantik itu bersama Syekh Malik Muhammad, Anduang Ijuak dan dua orang pemuka Pariaman Lainnya. Saat merke datang kedua suami isteri itu tengah menanam jagung tak jauh dari rumahnya. Mereka berhenti bekerja begitu melihat ada serombongan orang menunggang kuda yang datang.
“Assalamualaikum…..” Syekh Malik Muhammad membuka perjumpaan itu, sesaat setelah mereka menambatlan kudanya di depan rumah.
“Waalaikum salam…” jawab lelaki muda tersebut sambil meletakkan tajaknya.
Lelaki muda itu agak terkejut melihat kehadiran orang-orang perguruan Ulakan dan Sunua ini. Dia sudah akan melangkah dan menyilahkan tamunya ke rumah, tapi Syekh Malik Muhammad mencegahnya.
“Tak usah merepotkan anda. Kami ingin bertemu sebentar saja….”
“Ya, tapi mari naik…..” kata lelaki muda itu.
“Apakah tuan keberatan kita bicara di bawah pohon itu?” Syekh itu menunjuk ke pohon jambu yang rindang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,510 other followers