Baginda Raja Ingin Seperti Umar bin Khattab

Mendadak Baginda Raja memanggil pesuruh untuk memanggil Abu Nawas ke istana.
Abu Nawas :”Apa gerangan yang terjadi sehingga Baginda tiba-tiba memanggil hamba?”
Baginda Raja :”Saya akan berkunjung mengelilingi pelosok-pelosok negeri ini Abu Nawas. Dan diriku membutuhkan engkau untuk menemani selama perjalanan tersebut!”
Abu Nawas :”Baiklah Baginda, hamba tidak patut membantah titah Baginda Raja!”
Maka berangkatlah Baginda Raja hanya berdua saja dengan Abu Nawas mengelilingi seluruh negeri yang masih menjadi daerah kekuasaan kerajaan beliau.
Abu Nawas :”Kenapa Baginda tidak membawa pengawal istana beserta mentri-mentri?”
Baginda Raja :”Engkau lihat saja nanti!”
Dengan perasaan was-was Abu Nawas tetap mengikuti perintah Raja. Setelah sekian lama berkeliling negeri, di suatu desa terdengar suara anak kecil menangis.
Baginda Raja :”Wahai Abu Nawas, engkau dengar itu ada suara anak kecil menangis. Ayo kita kesana!”
Abu Nawas :”Baik Baginda!”, dengan tergopoh-gopoh Abu Nawas mengikuti langkah Baginda Raja.
Setelah mengetok pintu rumah, keluarlah ibu muda dengan air mata berlinang.
Baginda Raja :”Kenapa anakmu menangis wahai ibu?”
Ibu muda :”Siapakah engkau berani-beraninya bertanya seperti itu?”
Baginda Raja :”Kami musyafir yang kebetulan lewat!”
Ibu muda :”Kami sudah 3 hari tidak makan. Anak-anakku kelaparan dan tidak ada makanan yang bisa ku masak!
Abu Nawas :”Itu apa yang kau rebus di dapur wahai ibu muda?”, tiba-tiba Abu Nawas menimpali pembicaraan mereka.
Ibu muda :”Aku merebus batu untuk mengelabui anak-anakku!”
Abu Nawas :”Sungguh teganya dirimu mengelabui anak-anakmu yang kelaparan!”
Ibu muda :”Sudah tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Sebelumnya saya masih bisa berhutang ke tetangga. Tapi sekarang mereka tidak mau lagi meminjami ku uang. Seminggu yang lalu listrik kami sudah diputus karena saya menunggak membayarnya. Harga listrik melambung 3 kali lipat, ini sama dengan mencekik leher kami pelan-pelan!”. Tanpa dikomandoi meluncur semua kegundahan yang ada dikepala ibu muda ini. Baginda raja merasa kena tampar oleh keluhan ibu muda ini.
Baginda Raja :”Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu sebentar nanti kembali lagi!”
Ibu muda :”Kalau sempat tuan-tuan bertemu Baginda Raja tolong sampaikan ini semua. Tidak pantas dia memimpin kerajaan ini. Sebaiknya ganti saja raja Kerajaan ini!”
Abu Nawas :”Baik ibu, nanti saya sampaikan!”
Bergegas Baginda Raja menarik krah baju Abu Nawas meninggalkan rumah ibu muda itu.
Baginda Raja :”Kita harus ambil beras digudang secepat mungkin Abu Nawas!”
Abu Nawas :”Di gudang mana wahai Baginda?”
Baginda Raja :”Di gudang kerajaan, emang ada gudang yang lain?”
Abu Nawas :”Mana ada beras disana Baginda!”
Baginda Raja :”Beberapa hari yang lalu aku menyuruh mentri pertanian untuk mengimpor beras dari negeri tetangga!”
Abu Nawas :”Bukannya beras itu masih tertahan di dermaga Baginda?”
Baginda Raja :”Astaga, aku lupa. Lalu apa yang mesti kita bawa untuk menolong ibu muda itu wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Mestinya Baginda membantu petani untuk swasembada beras, bukan malah mengimpor beras. Dengan kebijakan impor tersebut petani banyak yang merugi. Sehingga mereka tak mau lagi ke sawah!”
Baginda Raja :”Lalu apa yang harus ku lakukan wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Lakukanlah kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil Baginda!”
Baginda Raja :”Maksudku apa yang harus kita bawa untuk menolong ibu muda tadi?”
Abu Nawas :”Jadikan saja dia istri Baginda!”
Baginda Raja :”Apa katamu? Tidak ada kisah Sayyidina Umar bin Khattab seperti itu!”

Advertisements

Abu Nawas dan Tukang Pisang

Sudah seminggu ini Pangeran Kerajaan sakit dan tak keluar kamar. Seluruh Tabib istana sudah dikerahkan namun apa penyakit yang menghinggapi Pangeran tidak kunjung diketahui. Terlintas oleh Baginda Raja untuk melakukan sayembara agar Pangeran bisa diobati, namun hal tersebut urung dilakukan karena beliau mengikuti saran dari Abu Nawas.
Abu Nawas :”Menurut hemat hamba, tidak usah Baginda Raja melakukan sayembara karena jika ada kerajaan lain yang berseberangan dengan Baginda mendengar berita ini bisa jadi senjata oleh mereka. Dan bukan tak mungkin mereka bisa menaklukan kerajaan dari sisi ini!”
Baginda Raja :”Benar juga katamu wahai Abu Nawas. Lalu bagaimana cara untuk menyembuhkan putra mahkota ini?”
Abu Nawas :”Biar hamba coba untuk mengobatinya Baginda!”
Baginda Raja :”Kamu jangan mengada-ngada Abu Nawas. Sedangkan tabib yang paling hebat di kerajaan ini saja tidak bisa mengobati bagaimana mungkin kau bisa melebihi mereka?”
Abu Nawas :”Jika Baginda Raja percaya kepada saya, akan saya coba dengan segenap kemampuan saya!”
Baginda Raja berpikir sejenak. Selama ini Abu Nawas terkenal dengan ide-ide yang brilian. Dan tidak ada salahnya untuk mencoba.
Baginda Raja :”Baiklah Abu Nawas, tapi ada satu syarat!”
Abu Nawas :”Syarat apakah itu Baginda Raja?”
Baginda Raja :”Jika kau gagal mengobati sang Pangeran, maka kau akan dihukum rajam!”
Abu Nawas :”Bbbbaaik Baginda, hamba ber…ber..bersedia memenuhi syarat tersebut!”
Dalam hati Abu Nawas khawatir, sebab ia tidak mempunyai ilmu pengobatan. Namun dia memiliki keyakinan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Setelah mendapat ijin dari Baginda Raja, maka Abu Nawas memasuki kamar Pangeran. Sesaat kemudian Abu Nawas keluar dari kamar Pangeran.
Abu Nawas :”Hamba membutuhkan seorang penjual buah wahai Baginda Raja!”
Segera permintaan Abu Nawas dikabulkan. Dak tak manunggu lama sang penjual buah sudah berada di istana kerajaan. Berdua dengan penjual buah, Abu Nawas kembali masuk ke kamar Pangeran.
Abu Nawas :”Wahai bapak penjual buah, tolong sebutkan nama buah-buahan yang paling laku kau jual!”
Ketika penjual buah itu menyebutkan nama buah-buahan satu persatu, Abu Nawas menempelkan telinganya di dada Pangeran. Saat disebut nama pisang, degup jantung Pangeran mendadak menjadi kencang.
Abu Nawas :”Tolong ulangi lagi pak!”
Sama seperti tadi, saat diucapkan pisang degup jantung sang Pangeran menjadi kencang.
Baginda Raja :”Ada apa ini Abu Nawas, kamu jangan main-main ya!”
Abu Nawas :”Hamba sudah tahu penyebab sakit putra mahkota ini wahai Baginda Raja!”
Baginda Raja :”Cepat sebutkan Abu Nawas agar bisa dicari obat secepatnya!”
Abu Nawas :”Nama penyakitnya adalah PLU!”
Baginda Raja :”Apa itu PLU?”
Abu Nawas :”Nantilah hamba jelaskan dan yang pasti obatnya adalah guru matematik wahai Baginda!”
Baginda Raja :”Apaaaa, guru matematika?”
Abu Nawas :”Baginda sudah tidak percaya dengan hamba lagi?”
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Baginda Raja selain memberikan isyarat kepada pesuruh istana untuk segera mendatangkan guru matematika. Setelah guru matematika datang, Abu Nawas membisikkan sesuatu dan guru itu mengangguk-angguk.
Guru matematika :”Wahai Pangeran tolong perhatikan baik-baik ya!”
Pangeran hanya menggangguk pelan.
Guru matematika :”Kalau bilangan mempunyai 3 angka nol itu disebut seribu, 6 nol disebut sejuta dan 9 nol disebut semilyar!”
Pangeran Kerajaan :”Astaga selama ini saya salah hitung. Pantas saja setiap saya menghitung tidak cocok dengan uang yang ada!”
Mendadak wajah Pangeran menjadi segar kembali.
Baginda Raja :”Ada apa ini Abu Nawas?”
Abu Nawas :”PLU adalah Penyakit Lupa Uang!”
Baginda Raja :”Jangan bertele-tela Abu Nawas!”
Abu Nawas :”Beberapa waktu lalu saya mendapat kabar bahwa Pangeran mendirikan kedai pisang goreng. Dan cabangnya sudah banyak diseluruh kerajaan ini. Kabar terakhir yang saya dengar sudah ada 8 cabang. Nah, ketika ada yang bertanya kepada Pangeran kenapa menjual pisang goreng, Pangeran memberikan alasan bahwa untungnya sangat besar. Dia bisa beruntung besar. Dan kata beliau juga, jika dihitung untungnya 9 digit triliunan!”
Baginda Raja :”Waduuuuuh!”
Baginda Raja menepuk keningnya sambil memberikan isyarat agar semua keluar dari ruangan. Mukanya merah menanggung malu.

Abu Nawas dan Pekerja Negeri Tetangga

Abu Nawas sangat tidak setuju dengan kebijakan Baginda Raja yang mempermudah masuknya pekerja dari negeri tetangga. Untuk menyatakan langsung ketidaksetujuannya itu tidak mungkin karena salah-salah bicara dia bisa kena rajam. Maka dicarilah akal oleh Abu Nawas agar Baginda Raja tidak marah. Abu Nawas menghadap dan memberikan laporan kepada Baginda Raja.
Abu Nawas :”Wahai Baginda Raja yang saya muliakan. Tempo hari saya berkeliling ke ujung-ujung negeri kerajaan ini. Seminggu lamanya saya menyaksikan hal yang sangat berbeda. Ada benda ajaib yang menurut saya belum pernah Baginda Raja lihat seumur hidup!”
Baginda Raja :”Benda apakah gerangan yang kau lihat wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Sebaiknya Baginda Raja lihat sendiri, sebab kalau saya ceritakan Baginda Raja tidak akan percaya!”
Baginda Raja :”Baiklah kalau begitu. Ayo kita kesana sekarang!”
Abu Nawas :”Hmmmmm begini Baginda Raja…!”, Abu Nawas tak melanjutkan kalimatnya.
Baginda Raja :”Ada apa wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Kalau Baginda Raja tetap berpenampilan seperti sekarang, tidak akan mungkin kita bisa melihat benda ajaib itu sebab orang akan mengenali Baginda Raja. Pasti akan ramai orang akan ikut menyaksikan benda tersebut!”
Baginda Raja :”Jadi bagaimana sebaiknya penampilan ku Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Perawakan Baginda mirip rakyat negeri tetangga. Mata Baginda Raja agak sipit dan kulit kuning langsat. Menurut hemat hamba alangkah baiknya Baginda Raja menyamar menjadi warga negeri tetangga. Seakan-akan Baginda Raja kesini sebagai pendatang sehingga orang tidak akan mengenali Baginda!”
Tanpa pikir panjang Baginda Raja mengikuti saran Abu Nawas dan langsung mengubah penampilannya seperti warga negeri tetangga. Mungkin lebih tepatnya disebut pekerja negeri tetangga.
Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja yang telah menyamar itu pergi ke suatu negeri yang dimaksud. Sebelum sampai di negeri tersebut tiba-tiba Abu Nawas mendadak berhenti.
Baginda Raja :”Ada apa Abu Nawas? Kenapa tiba-tiba berhenti?”
Abu Nawas :”Begini Baginda Raja. Kalau hamba ikut dengan Baginda sampai ke desa itu saya takut penyamaran Baginda akan ketahuan. Jadi sebaiknya Baginda berjalan sendirian memasuki desa itu. Di ujung desa ada sebuah gua yang tidak begitu besar. Pintu gua itu tidak kelihatan karena terletak dibalik pohon besar. Agar Baginda Raja mudah mencarinya, pohon itu sudah saya cat dengan warna merah. Nah di dalam gua itu letak benda ajaib yang saya maksud!”
Tanpa basa basi lagi, bergegas Baginda Raja meninggalkan Abu Nawas demi melampiaskan rasa penasaran yang sudah memuncak. Tidak terlalu susah beliau dapat menemukan tanda cat merah seperti yang diceritak Abu Nawas tadi. Alangkah girang hatinya karena tidak lama lagi benda ajaib akan berada ditangannya. Namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ribut-ribut.
Penduduk kampung :”Siapakah engkau yang berani-beraninya masuk kampung kami!”
Baginda Raja :”Saya hanya pencari kayu!”, ia tidak mau penyamarannya diketahui oleh masyarakat sekitar.
Penduduk kampung :”Nah, yang satu ini ternyata bisa berbahasa kita. Ayo kita seret dia menemui teman-temannya yang lain!”
Spontan Baginda Raja diseret oleh penduduk kampung yang notabene adalah rakyatnya sendiri. Setiba di sebuah bagunan yang mirip dengan gudang, Baginda Raja dilemparkan ke sekeruman orang yang jumlahnya puluhan orang.
Penduduk kampung :”Coba kau ceritakan, kenapa kau datang begitu ramai ke negeri kami ini!”
Baginda Raja sesaat memelototi orang yang ada dihadapannya.
Baginda Raja :”Engkau ini siapa?”
Orang di dalam gudang :”*&^%$#@)((!”
Baginda Raja :”Bicara apa kau ini, aku tak mengerti!”
Penduduk kampung :”Hei budak sipit, jangan berpura-pura kau di depan kami. Cepat ceritakan maksud kau datang ke negeri kami ini!”
Merasa kena kerjai oleh Abu Nawas, Baginda Raja langsung membuka kedoknya.
Baginda Raja :”Tidak kenalkah kau dengan diriku?”
Mendadak penduduk kampung terperangah. Setelah Baginda Raja membasuh riasannya, barulah semua warna mengenalinya.
Penduduk kampung :”Ampuuuunn… ampunkan kami Baginda Raja. Kami tidak tahu bahwa Baginda menyamar!”
Baginda Raja :”Lalu kenapa kau mengurung orang-orang aneh ini di gudang?”
Penduduk kampung :”Mereka itu pekerja dari negeri tetangga Baginda. Sejak mereka datang ke kampung kami, kami kehilangan pekerjaan. Semua tambang rakyat mereka kuasai sehingga kami hampir semua jadi pengangguran!”
Baginda Raja terdiam seribu bahasa. Dia yang semula ingin menghukum Abu Nawas atas kekurangajarannya, sekarang mengurungkannya. Malah dalam hati kecilnya, ia berterima kasih. Kalau tidak begini mungkin dirinya tidak akan mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan di kampung-kampung yang telah di datangi oleh pekerja dari negeri tetangga.

Abu Nawas dan Menteri “Penyihir”

Baginda Raja sedang dipusingkan dengan keadaan negara yang semakin semraut. Kian hari hidup rakyatnya kian sengsara. Baginda Raja berencana membuat kebijakan yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Maka dipanggillah Abu Nawas ke istana untuk diminta pendapatnya.
Baginda Raja :”Wahai Abu Nawas, aku butuh nasehatmu!”
Abu Nawas :”Nasehat yang seperti apa yang Baginda Raja butuhkan dari aku?”
Baginda Raja :”Begini, aku ingin membuat hidup rakyatku bahagia. Aku ingin rakyatku sejahtera, namun aku tidak punya ide kebijakan apa yang harus aku dahulukan. Bisakah kau berikan aku nasehat yang jitu agar rakyatku segera keluar dari himpitan kemiskinan?”
Abu Nawas tidak menjawab permintaan sang Raja. Dia hanya bermenung sambil mengangguk-angguk kecil.
Baginda Raja :”Kenapa kau hanya diam wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Begini Baginda Raja, aku tak ingin menyampaikan langsung nasehat kepadamu, sebab nanti kalau terdengar oleh orang lain akan bocor rahasia ini. Sebaiknya aku tulis saja nasehat dan akan ku kirimkan secarik surat besok hari!”
Baginda Raja :”Baiklah Abu Nawas, aku tunggu suratmu besok hari!”
Sambil berjalan pulang, Abu Nawas berpikir keras kebijakan apa yang harus dia usulkan. Beruntung Baginda Raja menyetujui usulnya sehingga dia masih bisa berpikir barang sehari. Keesokan harinya Abu Nawas datang ke istana untuk menyerahkan langsung surat yang dia janjikan. Tetapi seorang menteri kerajaan mencegat Abu Nawas.
Menteri Kerajaan :”Ada keperluan apa kamu ke istana wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Saya ingin menyerahkan surat ini kepada Baginda Raja wahai bapak Menteri!”
Menteri Kerajaan :”Tinggalkan saja suratmu itu disini, karena Baginda Raja saat ini sedang tidak mau ditemui!”
Menteri Kerajaan ini berusaha menghalangi niat Abu Nawas untuk menemui Baginda Raja, sebab beredar kabar Abu Nawas ingin memberi nasehat kepada sang Raja. Menteri ini sudah terkenal ingin menggulingkan Baginda Raja.
Abu Nawas :”Baiklah bapak Menteri, saya titip surat ini padamu!”
Abu Nawas tidak dapat mengelak dan dengan berat hati dia tinggalkan surat rahasia itu pada Menteri Kerajaan.
Sepeninggal Abu Nawas, Menteri tersebut membuka surat rahasia dan membaca isinya. Alangkah senangnya hati Menteri Kerajaan mengetahui isi surat tersebut. Bergegas Menteri tersebut menukar isi surat itu dan memberikannya kepada Baginda Raja.
Baginda Raja menerima surat dari Abu Nawas melalui Menterinya. Setelah dibaca, maka Beliau langsung mengikuti nasehat Abu Nawas dengan menaikkan harga BBM. Surat itu menjelaskan bahwa dengan menarik subsidi BBM maka pendapatan kerajaan akan bertambah dan Raja bisa memberikan kelebihan uang tersebut untuk kesejahteraan rakyat.
Baru sehari kebijakan menaikkan BBM diluncurkan, mendadak terjadi protes di seantero negeri. Rakyat-rakyat turun kejalan mendemo kebijakan Baginda Raja. Alangkah terkejutnya beliau dengan kejadian ini. Tanpa pikir panjang Baginda Raja menemui Abu Nawas di rumahnya.
Baginda Raja :”Apa maksudmu dengan memberi nasehat untuk menaikkan harga BBM wahai Abu Nawas. Kau lihat apa akibatnya sekarang, seluruh rakyatku marah dengan kebijakan ini!”
Sejenak Abu Nawas berpikir, sebab ia telah dikhianati oleh Menteri Kerajaan.
Abu Nawas :”Begini Baginda Raja, di kerajaan mu itu sekarang ada penyihir. Kemarin aku memberikan nasehat untuk menggratiskan biaya pendidikan agar rakyatmu bisa pintar. Jika pendidikan gratis otomatis rakyat akan berbondong-bondong ingin sekolah wahai Baginda Raja. Nah, kerajaan akan maju jika rakyatnya cerdas-cerdas!”
Baginda Raja :”Tidak mungkin ada penyihir di istanaku. Kau berbohong Abu Nawas!”
Abu Nawas :”Aku tidak berbohong Baginda. Begini saja Baginda, besok saya akan ke istana membawa sepucuk surat lagi. Isi surat itu adalah membuat kartu sehat untuk rakyat. Saya yakin surat itu akan disihir oleh menterimu. Dan saya pastikan Baginda besok tidak akan menerima surat yang berisi kartu sehat untuk rakyat tetapi surat kemarin yang telah disihir akan Baginda dapati!”
Baginda Raja :”Baiklah kalau begitu Abu Nawas. Tapi ingat jika kau berbohong, terima hukuman yang setimpal yakni hukum diludahi rakyatku selama seminggu!”
Gemetaran juga Abu Nawas mendengar ancaman dari Baginda Raja. Keesokan harinya Abu Nawas datang ke istana dengan membawa secarik surat yang berisi kartu sehat untuk rakyat. Seperti tempo hari Abu Nawas kembali dicegat oleh Menteri Kerajaan.
Menteri Kerajaan :”Ada keperluan apa lagi kau kesini wahai Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Tempo hari aku salah berikan surat wahai bapak Menteri. Surat yang sebenarnya itu adalah yang ini. Surat kemarin itu berisi tentang kebijakan yang menggratiskan pendidikan. Nasehat itu akan sangat merugikan kerajaan sebab sebanyak ini rakyat yang ingin sekolah di gratiskan pastilah kerajan ini akan bangkrut. Makanya aku ingin menukar surat tersebut. Sebab alangkah marahnya Baginda Raja jika menerima nasehat yang salah!”
Menteri Kerajaan :”Tinggalkan suratmu itu disini, biar aku yang menyerahkan kepada Baginda Raja!”
Abu Nawas meninggalkan surat itu tanpa sepatah katapun dan ia pun kembali ke rumahnya.
Ketika Baginda Raja menerima surat titipan yang diserahkan oleh Menteri Kerajaan, terperanjat ia karena apa yang dikatakan Abu Nawas benar adanya bahwa dikerajaannya memang ada tukang sihir.
Baginda Raja :”Wahai Menteriku. Apa benar ini surat dari Abu Nawas?”
Menteri Kerajaan :”Benar Baginda!”, dengan senang hati Menteri berpikir bahwa sebentar lagi Abu Nawas akan menerima hukuman dari sang Raja.
Baginda Raja :”Surat ini berisi kebijakan untuk menggratiskan pendidikan. Lalu surat yang berisi tentang kartu sehat untuk rakyat mana?”
Mendadak keluar keringat dingin di kening Menteri Kerajaan. Baginda Raja langsung memerintahkan untuk mengikat Menterinya itu di alun-alun kerajaan untuk diludahi selama seminggu.

Abu Nawas Melunasi Hutang Baginda Raja

Ini adalah kisah Abu Nawas ketika dia mengembara ke sebuah kerajaan yang negerinya kaya raya. Sumber daya alam berlimpah, alamnya begitu indah tapi sayang rakyatnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Saat ini Baginda Raja sedang pusing tujuh keliling dikarenakan hutang kerajaan yang kian hari kian menggunung. Negeri tetangga selalu menawarkan uang kepada Raja untuk dipakai membangun negeri. Awalnya baginda Raja sangat senang hatinya, bisa membangun jalan sampai ke pelosok negeri. Namun tanpa disadarinya pinjaman sudah tak terkendali sementara pembangunan jalan baru separoh saja. Mendengar Abu Nawas datang berkunjung, Baginda Raja segera memanggilnya untuk meminta nasehat.
Baginda Raja :”Wahai Abu Nawas, sangat senang hatiku engkau mau datang ke kerajaan ku ini!”
Abu Nawas :”Terima kasih Baginda, hamba juga senang Baginda. Betapa tidak, hamba yang hanya seorang pengembara bisa hadir diajak untuk makan siang di istanamu yang megah ini!”
Baginda Raja :”Makanlah sepuasmu Abu Nawas, jangan malu-malu!”
Abu Nawas :”Kalau boleh tau ada apa gerangan Baginda Raja memanggil saya ke istana?”
Baginda Raja :”Habiskanlah dulu makananmu, baru nanti saya bercerita!”
Abu Nawas segera menyelesaikan makanannya agar Baginda Raja menceritakan maksud undangan ini.
Baginda Raja :”Tidak enakkah makananku ini Abu Nawas? Begitu tergesa-gesanya kan makan?”
Abu Nawas :”Tidak Baginda, makanan ini sangat enak. Aku sebagai seorang pengembara tidak boleh makan banyak-banyak sebab perjalananku masih jauh!”
Baginda Raja :”Baiklah kalau begitu, mari kita jalan-jalan ke halaman belakang sambil kuceritakan maksud dirimu kupanggil ke istana!”
Abu Nawas dengan hati yang berdebar-debar mengikuti Baginda Raja dari sebelah kanan beliau.
Baginda Raja :”Begini Abu Nawas, aku saat ini sangat pusing tujuh keliling. Aku berusaha keras sekuat tenaga agar hidup rakyatku sejahtera. Namun yang terjadi malah sebaliknya, negeriku terlilit hutang. Apa yang harus kulakukan Abu Nawas?”
Abu Nawas :”Kenapa bisa terlilit hutang Baginda Raja bukankah negeri ini sangat kaya raya?”
Baginda Raja :”Itulah Abu Nawas, memang negeri ini sangat kaya namun rakyatku tak mampu mengelolanya. Maka sumber daya alam seperti tambang emas dan minyak bumi dibantu oleh negeri tetangga untuk mengelolanya. Semuanya berjalan dengan baik tidak ada yang salah!”
Abu Nawas :”Lalu kenapa bisa berhutang jika tidak ada yang salah?”
Baginda Raja :”Banyak negeri tetangga manawarkan pinjaman. Mereka bilang, jika seluruh rakyat ingin menikmati kekayaan negeri ini, maka aku harus membangun jalan raya sampai ke pelosok negeri. Jadilah aku bangun jalan sampai ke negeri terluar sekalipun. Tapi apa yang terjadi, negeriku ini sangat luas, sehingga butuh biaya yang sangat besar untuk membangun jalan. Kini sebelum pembangunan itu tuntas, hutang ku telah menggunung. Memang negeri tetangga tidak mempermasalahkan hutang tersebut, cuma aku sangat resah jika ku lanjutkan pembangunan ini bisa jadi negeri ini tidak mampu lagi membayar hutang. Alhasil bisa tergadai semuanya!”
Abu Nawas terdiam beberapa saat memikirkan cara yang jitu. Tak lama Abu Nawas membisikan sesuatu ke telinga Baginda Raja.
Dua hari sejak Abu Nawas ke istana, maka diundanglah Raja negeri tetangga yang telah meminjamkan uang ke kerajaan Baginda Raja ini. Ada empat orang Raja yang diundang yakni Raja Negeri Utara, Barat, Timur dan Selatan. Mereka diundang untuk mengikuti sayembara.
Baginda Raja :”Begini teman-temanku Negeri Utara, Barat, Timur dan Selatan. Maksud dan tujuan saya mengundang rekan sekalian adalah untuk mengadakan sayembara!”
“Sayembara apa?”, serentak keempat Raja negeri tetangga itu bertanya.
Baginda Raja :”Sayembara untuk mendapatkan kekayaan alam negeri ku ini. Jika teman-teman sekalian bisa menjawab pertanyaan dari Abu Nawas yang kebetulan berkunjung ke negeri ku ini, maka teman-teman berhak mendapatkan salah satu sumber daya alam yang dikehendaki. Tetapi jika tidak bisa menjawab maka hutangku kepada negerimu lunas. Bagaimana, setujukah teman-teman?”
Sesaat para hadirin terdiam. Mereka berpikir keras untung dan ruginya sayembara ini.
Raja Negeri Utara :”Aku sih tidak keberatan!”
Raja Negeri Barat :”Setuju!”
Raja Negeri Timur :”Boleh…boleh…!”
Raja Negeri Selatan :”Ayo Abu Nawas, keluarkan pertanyaanmu biar seluruh kekayaan alam negeri ini bisa berpindah ke kerajaan ku!”
Dengan tidak membuang-buang waktu, naiklah Abu Nawas ke podium untuk memberikan pertanyaan sayembara.
Abu Nawas :”Pertanyaannya mudah saja, yakni mana yang lebih dulu telur atau ayam? Alasannya harus masuk akal!”
Raja Negeri Utara :”Telur lebih dulu!”
Baginda Raja :”Alasannya apa?”
Raja Negeri Utara :”Tidak mungkin ayam lebih dulu karena ayam berasal dari telur!”
Baginda Raja :”Kalau begitu siapa yang mengerami telur?”
Raja Negeri Utara terdiam dengan wajah pucat, terbayang hutang Baginda Raja lunas dengan sendirinya.
Raja Negeri Barat :”Ayam lebih dulu!”
Baginda Raja :”Berikan alasan juga temanku!”
Raja Negeri Barat :”Ayam betina dibuahi oleh ayam jantan sehingga dia bisa bertelur. Makanya ayam tercipta lebih dulu!”
Baginda Raja :”Darimana asalnya ayam?”
Raja Negeri Barat :”Dari telur!”
Baginda Raja :”Nah, berarti bukan ayam yang lebih dulu!”
Leher Raja Negeri Barat mendadak menjadi tersekat.
Raja Negeri Timur :”Ayam dan telur sebenarnya tercipta bersamaan!”
Baginda Raja :”Kenapa begitu?”
Raja Negeri Timur :”Tidak mungkin ada ayam kalau tidak ada telur yang menetas. Tidak mungkin juga ada telur kalau tidak ada ayam!”
Baginda Raja :”Bukankah ayam betina bertelur harus dibuahi oleh ayam jantan?”
Mendadak Raja Negeri Timur menangih tersedu-sedu.
Raja Negeri Selatan :”Ayam jantan lebih dulu karena tanpa dibuahi oleh ayam jantan tidak mungkin ayam betina bisa bertelur!”
Baginda Raja :”Lalu ayam jantan darimana datangnya?”
Sama dengan teman-temannya yang lain, Raja Negeri Selatan tidak bisa menjawab pertanyaan Baginda Raja.
Baginda Raja :”Wahai Abu Nawas, sebenarnya mana yang lebih dulu?”
Abu Nawas :”Lebih dulu telur daripada ayam!”
Baginda Raja :”Kenapa telur lebih dulu?”
Abu Nawas :”Ayam bisa mengenali telur sebaliknya telur tidak bisa mengenali ayam!”
Sesaat seisi ruangan terdiam memikirkan jawaban Abu Nawas.
Alangkah senangnya hati Baginda Raja, karena hutang kerajaan yang telah menggunung mendadak menjadi lunas seketika.

Pasir Putih Enam Maret (34-tamat)

Sujudku Diujung Senja

Dari kejauhan kudengar ada orang yang memanggil-manggil namaku.
“Tung, Tung jangan pergi dulu Tung! Ada yang mau bicara denganmu!”
Suara itu berasal dari belakangku. Aku menoleh dan ada tiga orang sedang menuju kearahku. Ketiga orang itu sangat kukenal yaitu Rinto, Dewi dan satu lagi adalah Puti. Mereka tergesa-gesa mendekatiku seperti ada hal yang sangat penting yang mau mereka bicarakan. Aku sedikit linglung dengan suasana disekitarku. Kucoba menggeleng-gelengkan kepalaku dan benar didekatku sekarang telah berdiri Rinto, Dewi dan Puti.
“Ada apa Tung, kau seperti orang yang kebingungan?”, Rinto memandangiku dengan pandangan yang aneh.
Rinto adalah teman dekatku. Ia telah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Seingatku aku telah menitipkan sepucuk surat kepadanya untuk diserahkan kepada Puti. Kembali kuperhatikan keadaan disekelilingku. Suasana terminal masih penuh sesak oleh penumpang yang mau bepergian keluar kota. Dihadapanku masih ada pengemis yang baru selasai makan nasi bungkus. Kemudian aku kembali didatangi oleh agen yang tadi menanyaiku.
“Jadi mau ke Sungai Penuh Dek? Ini tiketnya, masih ada dua lagi. Cuma dua puluh lima ribu rupiah kok. Buruan Dek, ntar kehabisan tempat duduk!”
“Nanti ajalah Bang, kupikir-pikir dulu!”
“Gimana sih, tadi katanya mau ke Sungai Penuh! Eeh sekarang gak lagi. Jadi gak nih!”, dengan sedikit kesal agen itu masih menawariku untuk membeli tiket.
“Tunggu dulu Bang, kami mau berunding dulu. Kebetulan ada yang mau kami bicarakan. Maaf ya Bang. Sekali lagi kami minta maaf”, Rinto menengahinya dan menarik tanganku menjauhi kerumunan penumpang.
“Kamu ini gimana sih Tung! Ngomong apa kau disurat itu sehingga Puti mendesakku untuk menemuimu sekarang juga?”
Aku tak menjawab pertanyaan Rinto. Aku seperti kena sihir. Sekarang Puti ada dihadapanku, dan tak lagi jelmaannya sebagai anak kepala suku Kabut. Rinto masih menunggu aku mengucapkan sesuatu. Sayup-sayup aku mendengar berita tv dari toko yang tak berapa jauh dari tempat kami berdiri.
“…jangan sampai anda ketinggalan untuk menyaksikan kejadian langka hari ini tanggal enam maret sekitar pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Kita akan menyaksikan gerhana bulan total di atas langit Sumatera. Kejadian langka ini hanya berlangsung sekitar lima sampai sepuluh menit…”
Aku agak terkejut mendengar berita barusan. Entah kenapa lamunanku menjadi kenyataan.
“Hoi Tung, kamu tuli ya? Cepat temui si Puti tuh!”
Rinto dan Dewi pergi menjauhi kami berdua. Aku sedikit gugup berhadapan dengan Puti. Lama kupandangai wajah Puti dan ia hanya menunduk sambil bertanya,
“Apa sih maksud suratmu itu?”
“Oh itu. Anu, maksud ku itu begini. Nggggg ngak ada apa-apa kok!”
“Ngak ada apa-apa? Apanya yang ngak ada apa-apa?”
“Aku Cuma bercanda kok, jangan dimasukan kehati!”
“Lho! Buktinya kamu mau pergi meninggalkan kita semua. Apa kamu gak mau lagi aku menjadi sehabatmu? Jangan salah tanggap dulu….”
“Ups, jangan diteruskan. Keputusanku telah bulat. Aku tak mau menyakiti diriku sendiri. Aku cukup puas dengan keadaanku sekarang ini. Aku mohon jangan ganggu aku lagi. Sudah cukup jelas isi surat itu kok!”
“Tung, kau egois. Kau tak jauh beda dengan bapakku. Aku tak menyangka kau akan menjadi begini.”
“Sudah, sudah jangan diteruskan. Aku berterima kasih atas segalanya. Biarkan aku mengelilingi jagad ini untuk menemukan semua misteri hidupku.”
Aku segera berlari mencari agen yang menawariku tiket tadi.
“Hei Tung, janganlah kau dustai dirimu sendiri. Aku sudah tahu semuanya dari Rinto. Rinto telah bercerita banyak tentang dirimu padaku.”
Mendadak langkahku terhenti. Kembali kupandangi wajah anggun Puti. Cahaya yang dipancarkan matanya itu seakan memberiku semangat. Kudekati Puti dan kurogoh isi tas pinggangku. Sebelum sampai diterminal tadi, di atas angkot aku sempatkan menulis sebuah puisi yang rencananya akan kubawa berkelana kemana kaki ini melangkah. Kuserahkan secarik kertas itu sebelum aku benar-benar menghilang dari kota ini. Puti membuka secarik kertas itu dan membacanya,

Sujudku diujung senja
Meraup semua pahala yang hampir sirna
Terdamparku bersama jingga
Terbuang selama dosa masih membekas
Terbenamku belum bisa
Menggapai suara-suara yang masih terkatung
Akankah kau terima
Sujudku diujung senja?
Bila ku masih mampu berkata,
akan kuulangi semua yang ada
Jika kesempatan itu kembali kau rajut,
akan kurangkai semua yang indah
Adakah kau mendengar
Sujudku diujung senja?
Seperti kata yang hilang diujung suara
Membujuk mentari tuk kembali bangkit
Seperti nada yang hilang diujung irama
Merayu cahaya tuk tak pernah redup
Meski itu hanya harap dipenghujung sujud

Dan setelah Puti selesai membaca puisi itu, aku telah duduk di atas bus yang menuju ke Sungai Penuh. Langit terlihat kelam diselimuti oleh awan hitam yang mungkin sebentar lagi memuntahkan hujan ke bumi. Aku sangat lelah dan kucoba untuk memejamkan mata ini, namun suara pengamen itu mengingatkan ku akan lamunan diterminal tadi.
********

Pasir Putih Enam Maret (33)

Aku termenung beberapa saat lamanya. Kucerna semua perkataan anak kepala suku Kabut itu satu persatu. Kupahami satu persatu meski kepalaku dibuat bertambah sakit. Tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi kelam. Awan hitam mulai muncul satu persatu. Semua penduduk suku Kabut terdiam menyaksikan perobahan yang begitu cepat. Mereka semua memandangiku dengan pandangan aneh. Aku tak mengerti apa maksud pandangan mereka itu. Anak kepala suku Kabut itu berlari menjauhiku dan menghilang dibalik kerumunan penduduk. Tujuh orang tetua adat mulai berbisik-bisik dan memandangiku dengan pandangan aneh pula. Bulan yang awalnya purnama penuh, berangsur-angsur tertutupi oleh benda bulat yang aneh. Saat ini bulan itu tinggal tiga per empatnya, lalu setengahnya, lalu seperempatnya dan akhirnya langit menjadi kelam. Bulan yang tadi memancarkan sinar dengan indahnya sekarang berubah menjadi kelam yang ditutupi oleh benda bulat yang aneh di depannya.
Aku juga menyaksikan keanehan ini. Dalam benakku, sepertinya aku pernah tahu akan keajaiban ini. Kuingat dengan segenap kemampuanku. “Ya, ini adalah gerhana bulan. Mungkin mereka belum pernah menyaksikan sebelumnya. Dan inilah saatnya…”
“Ha..ha..ha..ha..ha.”
“Kalian telah menyaksikan kemurkaan Dewa terhadap perilaku kalian semuanya. Ia marah terhadap tindakan kalian terhadapku. Aku adalah anak Dewa yang diutus ke bumi untuk membersihkan bumi ini dari keangkaramurkaan. Kalian telah merperlakukan ku dengan kesewenang-wenangan. Perilaku kalian itulah yang membuat Dewa begitu marah. Kalian telah mengotori telaga ini dengan perbuatan yang tak sesuai lagi dengan budaya yang telah diturunkan oleh nenek moyang kalian. Sadarilah dari sekarang sebelum semuanya terlambat. Sebelum Dewa betul-betul marah. Sebelum langit ini runtuh dan menghancurkan segalanya sampai musnah dan tak bersisa satu juapun.”
“Lalu apa yang mesti kami perbuat?”, kepala suku Kabut memberanikan dirinya mengajukan pertanyaan padaku.
“Kalian harus bertobat. Yaitu dengan membiarkanku terbang kelangit. Lepaskanlah tanganku dari ikatan ini. Pergilah kalian untuk menjauhi telaga ini. Masuklah kalian kerumah gua yang kalian tempati dahulunya. Berdiamlah disana dan tunggu aku kembali. Aku akan terbang ke langit menuju singgasana Dewa. Disana aku akan minta pengampunan-Nya. Dan kalian semua akan terbebas dari kemurkaan Dewa.”
Lalu mereka membebaskanku dan segera meninggalkan Pasir Putih ini secepat mungkin. Dengan sekejap hanya tinggal aku sendirian di tepi telaga ini. Aku bersyukur dengan kejadian yang baru menimpa perkampungan ini. Mereka sangat takut dengan gerhana bulan. Semua perkataanku mereka percayai. Aku memang dianggapnya anak Dewa. Utusan Dewa yang bermaksud menyelamatkan perkampungannya.
Aku masih berdiri di tepi telaga menyaksikan kejadian yang jarang ditemui itu. Kunikmati kesendirianku ditepi telaga ini. Pikiranku mulai tenang. Jantungku kembali berdetak seperti sedia kala. Awan dilangit berangsur-angsur menipis. Awan hitam mulai menghilang dibawa oleh angin. Bentuk bulan yang tadi kelam kini berangsur-angsur pula menampakkan diri. Seperempatnya, setengahnya, tiga perempatnya dan kembali bulan menjadi purnama penuh. Hatiku bahagia menyaksikan keagungan Sang Pencipta itu. Namun tiba-tiba ada ganjalan yang muncul di benakku. Bulan telah kembali purnama. Hari kembali cerah. Jantungku mulai berdetak cepat. Ketakutan merayap disegenap tubuhku. Aku mendengar suara-suara mulai mendekati telaga ini. Dan itu berarti…
********