Pasir Putih Enam Maret (30)

Malam ini aku ingin merenungi kembali semua kisah hidupku yang masih bisa kuingat. Aku telah kehilangan segalanya. Aku tak mempunyai orang yang kucintai. Didunia ini aku hanya sendiri. Semuanya terpaksa ku ikhlaskan untuk pergi dariku. Aku akan berakhir di tanah pengorbanan yaitu Pasir Putih. Semua kisah yang telah kulalui akan berakhir semuanya di tanah suci itu tanpa ada yang menangisi kepergianku. Aku merasa ini adalah sebuah kutukan akibat dari semua kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat selama hidup di dunia. Mereka bilang besok tanggal enam maret. Dan tanggal itulah hari kematianku. Katanya aku akan menuju alam nirwana. Dimana aku akan hidup bersama dewa, malaikat dan iblis. Namun aku tak begitu percaya dengan kehidupan setelah mati. Pokoknya sehabis hidup, ya mati. Tak ada lagi kehidupan.
Lalu aku kembali teringat akan Puti. Rasanya aku pernah mengatakan bahwa aku akan pergi jauh mengembara untuk menemukan semua misteri yang telah menyelimuti hidupku. Akankah misteri itu berakhir di tanah pengorbanan? Pekat memang duka yang kubawa. Kelam memang nasib yang kuterima. Apa benar aku adalah manusia malang yang mereka anggap suci? Mudah-mudahan masih ada keajaiban yang berpihak kepadaku.
Hari telah tinggi ketika aku bangun di pagi enam maret ini. Tak ada sarapan yang menemaniku, yang ada hanya segelas air putih. Kata mereka sejak pagi ini sampai nanti aku dikorbankan, aku tak boleh menyentuh makanan. Aku hanya diperbolehkan meminum air putih. Aku dituntun ke tempat pemandian dimana aku pertama kali mandi di perkampungan ini. Disana aku dibersihkan oleh para ahli nujum suku Kabut. Sekitar setengah jam lamanya mereka memantraiku. Setelah selesai prosesi penyucian aku tak dibawa kembali ke dalam gua, melainkan aku dibawa mengelilingi perkampungan suku Kabut. Mereka membuatkan tandu yang terbuat dari bambu dan menanduku keliling kampung. Acara itu selesai sekitar tengah hari. Menjelang sore, aku tak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun. Aku dikawal oleh empat orang prajurit suku Kabut. Aku masih berpikir mencari celah untuk meloloskan diri. Tapi kesempatan itu sepertinya tak ada sama sekali.
Selepas magrib aku didatangi oleh kepala suku Kabut beserta anaknya. Sepintas kulihat anak kepala suku Kabut begitu anggun dan mirip sekali dengan Puti. Aku masih tak percaya mereka bisa semirip itu. Kuusap mataku berkali-kali untuk memastikan bahwa aku tak berhalusinasi dan hasilnya mereka memang sangat mirip.
Kepala suku Kabut mendatangiku dan memberitahuku bahwa aku diperbolehkan mengajukan satu permintaan terakhir sebelum aku dikorbankan. Aku hanya melongo mendengar kesempatan yang diberikan oleh kepala suku kabut kepadaku. Tak mungkin aku meminta permohonan “Aku ingin bebas”. Jika dianggap layak permintaanku, mereka akan mengabulkannya. Lama aku berpikir apa yang akan kuminta. Akhirnya aku pasrahkan hidupku akan berakhir. Rasanya aku telah siap menuju alam nirwana. Kubujuk diriku bahwa di alam nirwana itu tidaklah menyakitkan. Kucoba menerima anggapan bahwa aku akan berteman dengan para roh yang telah mendahuluiku. Setelah menunggu dan aku tak memberikan jawaban, kepala suku Kabutpun bergegas pergi meninggalkanku. Sebelum ia terlalu jauh, aku sempatkan berbicara.
“Bolehkah aku ditemani oleh anakmu sebelum rohku dipersembahkan kepada Dewa kalian?”
Kepala suku itu menoleh kepadaku. Ia tak mengeluarkan kata-kata hanya memberikan anggukan pertanda setuju dan ia berlalu meninggalkan kami berenam.
“Ada apakah gerangan sehingga kau memintaku untuk menemanimu?”
“Aku ingin berbicara denganmu berdua sebelum ajal menjemputku. Bolehkah?”
“Maksudmu tanpa ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita?”
“Ya.”
Anak kepala suku itupun memberi kode kepada empat orang pengawal yang mengawasiku sehari ini untuk meninggalkan kami berdua. Beberapa saat kemudian empat orang pengawal itu meninggalkan kami berdua.

Advertisements

Pasir Putih Enam Maret (29)

Persembahan untuk Dewa

Gerimis mulai membasahi perkampungan suku Kabut. Aku masih terikat di pohon yang mereka anggap sebagai pohon suci. Sepanjang siang ini mereka mengikatku di pohon tersebut. Mereka memandikan ku dengan air kembang sebanyak tiga kali. Yang pertama tadi pagi sebelum matahari terbit. Yang kedua siang hari disaat matahari pas di atas kepala. Dan yang ketiga sebentar lagi menjelang matahari terbenam.
Mereka rupanya telah menyiapkan korbannya sehari sebelum acara dilaksanakan. Hari ini tubuhku mereka bersihkan dengan mandi air kembang. Seluruh pakaian ku mereka copot hanya menyisakan dibagian kemaluan saja yang tak mereka tanggalkan. Mereka juga mencoret kening, bagian belakang telinga, kedua belah bahu, siku, pergelangan tangan, kedua belah tulang pinggul, lutut dan tumitku dengan menggunakan kunyit yang telah dipotong. Untuk mandi yang ketiga ini, upacara langsung dipimpin oleh kepala sukunya. Kepala suku Kabut kali ini tidak mengenakan pakaian ala berburunya. Ia menggunakan kerudung putih dengan strip merah. Mulutnya komat-kamit sambil menyemburkan cairan warna merah yang berasal dari getah tumbuh-tumbuhan kehadapanku. Kalau mandi yang pertama dan kedua tadi disaksikan oleh seluruh penduduk kampung ini, berbeda dengan mandi yang ketiga. Aku hanya dimandikan oleh kepala suku tanpa ada yang boleh melihatnya. Pas ketika binatang hutan mengeluarkan suara-suara yang menandakan telah berganti siang menjadi malam, saat itulah aku dimandikan oleh kepala suku Kabut. Sejak dari ubun-ubun sampai keujung kakiku, diusapinya tanpa ada sejengkalpun tertinggal.
Setelah selesai mandi keningku diolesi dengan bedak yang berwarna putih. Ia mencoretnya dengan bentuk tiga goresan yang memanjang. Barulah setelah upacara ini selesai, semua ikatan di tubuhmu ia lepaskan. Aku tak berani melawan. Aku merasa semua hidupku akan berakhir besok malam. Selintas ada juga sedikit penyesalan kenapa aku tak pernah menyempatkan diri untuk mengenal Sang Pencipta. Contohnya kali ini, aku tak tahu harus mengadu pada siapa. Tak ada seorangpun yang dapat menolongku. Tak ada siapa-siapa yang sanggup menentang ritual penyucian kampung ini dengan menjadikanku sebagai tumbalnya.
Malam ini mereka tak menempatkan di kamar yang dulu lagi. Mereka kembali mengikatku di dalam gua dan menempatkanku di sebelah altar tempat pemujaan kepada Dewa mereka. Disekelilingku ada beberapa buah nampan yang telah berisi Gadung Emas dan tumbuhan itu mereka bakar sehingga asapnya mengelilingi seluruh tubuhku. Mereka mempercayai bahwa dengan mengasapi seperti itu akan melindungi rohku dari kekuatan jahat. Rohku harus suci dari kekuatan jahat sedikitnya sehari semalam sebelum ritual pengorbanan dilakukan.
Dari semua ritual penyucian yang mereka lakukan hari ini, aku tak melihat keberadaan anak kepala suku Kabut. Beberapa waktu yang lalu memang ia yang memberikan makanan, tapi kali ini hanya perempuan-perempuan tua yang melayaniku. Perempuan tersebut tidak boleh menatap mataku dan ia selalu menunduk ketika memberikan makanan kepadaku.
Ruangan ini dibiarkan gelap dan tak ada satupun penerangan. Penjagaan mereka lakukan di depan pintu gua. Aku dibiarkan sendirian diruangan ini. Para tetua suku menyiapkan berbagai tumbuhan untuk melengkapi semua persyaratan ritual pengorbanan besok malam. Di pohon tempat aku diikat siang tadi juga telah disiapkan tiga ekor kambing hutan yang berwarna hitam untuk acara selamatan selepas aku dikorbankan.

Pasir Putih Enam Maret (28)

Aku duduk di atas batu sambil mencuci kedua belah kakiku. Airnya tak begitu dalam, hanya setinggi lutut orang dewasa. Semua bekas goresan dan lumpur yang menempel dikakiku telah bersih semua. Kulihat pak Burhan telah selesai membersihkan tubuhnya dan kelihatannya ia ingin melakukan ritual syukur kepada Sang Pencipta. Tanpa disadari matahari telah tergelincir dari tengah hari. Aku hanya termenung melihat pak Burhan menunaikan shalat zuhurnya. Kembali kuingat-ingat kejadian yang baru menimpa kami. Aku berpikir, tak mungkin sepasukan kera tadi mengeluarkan suara tanpa ada maksud tertentu. Kenyataannya sampai detik ini memang tak ada kejadian yang mengusik ketenangan jiwa kami.
Aku kembali memandangi air sungai ini yang sangat jernih. Didasarnya terlihat ikan kecil-kecil sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Mereka terlihat sangat asyik menikmati dunianya. Andaikan aku menjadi ikan tersebut, barangkali semua beban ini tak akan pernah singgah pada diriku. Mereka bermain disela-sela bebatuan yang dipenuhi oleh lumut. Sesekali mereka memakan lumut dibatu itu. Lama kuperhatikan habitat yang ada didasar sungai itu. Sampai tanpa kusadari, aku melihat bayanganku sendiri diatas permukaan air. Mukaku telah ramai ditumbuhi oleh rambut-rambut yang tak terurus. Entah kapan terakhir aku membersihkan wajahku, aku tak ingat lagi. Aku merasa sudah sangat lama di dalam hutan ini. Entah dikarenakan oleh ketakukan atau karena aku tak betah karena mau dijadikan tumbal, aku juga tak tahu.
Aku masih asyik memperhatikan wajahku yang kacau balau ini. Ada sedikit keanehan diwajahku. Aku merasa rambutku semakin cepat tumbuhnya. Semakin besar dan besar. Lalu muncul wajah lain di atas kepalaku. Dan….
Pak Burhan sudah tak ada lagi disekelilingku. Air yang tadinya jernih, kini telah menjadi keruh. Puluhan kaki telah mengacaukan kejernihan sungai ini. Pandanganku mulai gelap dan nanar.
“Toloooooooong….”
Aku berteriak sekuat tenaga. Namun semuanya sia-sia. Puluhan suku Kabut telah menangkapku. Mereka menotok beberapa bagian tubuhku dan aku tak dapat bergerak dan bersuara lagi. Aku hanya bisa melotot. Urat keningku mulai membesar ketika anggota tubuhku memberikan perlawanan terhadap pengaruh totokan tersebut. Sangat cerdik memang para suku Kabut itu. Mereka membiarkan kami membersihkan diri terlebih dahulu di sungai kecil itu sebelum mereka menangkapku. Setelah mereka mengetahui keberadaan kami, mereka berusaha memotong langkah kami. Dan kenyataannya mereka sukses besar.
*****

Pasir Putih Enam Maret (27)

Sepuluh menit berselang kami kembali melanjutkan perjalanan. Hari telah berangsur siang. Perasaanku mulai tak enak, seakan-akan ada sesuatu yang mengikuti kami. Aku beranggapan itu sebuah ketakutanku saja. Kulihat gerak-gerik pak Burhan juga semakin waspada. Aku tak mau berpikir bahwa itu adalah sebuah ancaman. Saat ini kami berada disebuah tempat terbuka yang dikelilingi oleh hutan heterogen. Kawasan ini memang sangat cocok untuk melakukan penyergapan. Ujung tempat terbuka ini adalah sebuah lembah yang mesti kami lalui. Di dasar lembah itu ada sebuah sungai kecil. Sepertinya kami dikelilingi oleh beberapa pasang mata yang selalu mengintai pergerakan kami. Aku dan pak Burhan semakin mempercepat langkah menuju sungai yang berada di dasar lembah.
“Hati-hati Un, bapak mulai merasakan suasana yang akan mengancam keselamatan kita. Jangan berbuat ceroboh”.
“Ya pak!”
Sekilas aku melihat bayangan hitam yang berbulu lebat. Aku memegang tangan kiri pak Burhan dan memberikan isyarat untuk melihat bayangan tersebut. Kami menoleh kebelakang. Terlihat beberapa ekor hewan yang menyerupai orang utan. Hewan itu lebih besar dari orang utan, tangannya lebih panjang dari pada kakinya. Warna bulunya hitam keputih-putihan. Mukanya hampir menyerupai manusia. Mereka semua memandangi kami dari balik pepohonan dengan tatapan aneh. Seakan-akan mereka mengerti apa yang kami rasakan dan juga mengetahui apa yang akan menimpa kami. Beberapa saat aku dan pak Burhan tak beranjak dari tempat kami berdiri. Aku menahan nafas dan keringat dingin mulai mengucur dikeningku. Kuperhatikan mulut pak Burhan komat-kamit entah apa yang diucapkanya. Mungkin ia sedang membaca mantra atau sedang meminta pertolongan kepada Yang Kuasa. Aku tak tahu lagi apa yang mesti kuperbuat. Dari atas pohon disekeliling kami, hewan tersebut mulai mengeluarkan suara aneh yang memekakkan telinga. Dari suaranya berkemungkinan jumlah mereka ada puluhan ekor. Raut muka pak Burhan mulai menampakkan kecemasan. Dan beliau membisikkan sesuatu kepadaku…
“Itu adalah hewan piaraan suku Kabut”.
“Jadi…….”
“Ya, keberadaan kita telah diketahui oleh suku Kabut”.
Serasa langit akan runtuh dan menimpa kepalaku saat mendengar penuturan pak Burhan tadi. Pusing mulai merayap di kepalaku. Ternyata para suku Kabut telah mengirim hewan piaraannya untuk mengetahui keberadaan kami. Hewan tersebut dapat melacak jejak buruannya sampai ratusan meter disekitarnya. Mereka diyakini mempunyai penciuman yang sangat tajam. Dahulunya hewan ini hidup bebas tanpa ada yang memeliharanya. Mereka tidak tergolong hewan buas. Sejak diketahui keberadaanya oleh suku Kabut, mereka memanfaatkan hewan itu untuk kebutuhannya mengintai mangsanya. Para suku Kabut melatih hewan langka itu untuk patuh kepadanya. Terbukti saat ini hewan tersebut mau mengikuti apa kehendak dari suku Kabut. Suku Kabut akan memakai jasa hewan itu jikalau mereka kehilangan jejak mangsanya. Suku Kabut telah melatih penciuman mereka dengan sangat tepat. Sebelum hewan tersebut mencari mangsanya, para suku Kabut terlebih dahulu memberikan beberapa potong bagian tubuh dari mangsanya untuk dicerna baunya oleh indra penciuman hewan yang masih sekerabat dengan kera ini. Bisa jadi kami telah meninggalkan jejak berupa potongan rambut atau potongan pakaian sehingga hewan itu dapat menemukan kami ditempat terbuka ini. Para hewan itu masih bersorak seakan memberikan isyarat kepada tuannya.
Pak Burhan mulai menyiapkan kuda-kudanya untuk menghadapi apa yang akan terjadi nantinya. Beberapa saat telah berlalu dan tidak ada kejadian menakutkan yang menimpa kami berdua. Mendadak suara hewan tadi lenyap dan mereka sudah tak ada di sekitar kami. Seperti hantu mereka raib ditelan hutan belantara. Hatiku mulai tenang dan tak secemas tadi lagi. Perlahan pak Burhan mengajakku kembali melanjutkan perjalanan. Kami mulai menuruni lembah kedua. Suara gemercik air seakan memberi ketenangan bagi jiwaku. Air yang mengalir di sebuah sungai kecil ini begitu jernih. Aku langsung berlari menuju sungai itu dan segera mencuci muka. Kunikmati air ini dengan segala kesejukkannya. Begitu juga pak Burhan, ia mencuci mukanya. Raut wajahnya mulai menampakkan ketenangan. Ketegangan yang baru menimpa kami perlahan mulai hilang.

Pasir Putih Enam Maret (26)

Tertangkap

“Bagaimana Un, sudah lebih segar dari kemarin?”
“Yaa, agak lumayan sih pak!”
“Kalau begitu, sehabis sarapan ini kita bisa lanjutkan perjalanan. Kita tak mungkin membuang waktu lagi. Perasaan bapak tidak enak. Bisa jadi suku Kabut masih berkeliaran di sekitar hutan ini.”
Pagi ini pak Burhan telah beres menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Dua ekor ikan bakar dan beberapa umbi-umbian yang dibakar dari sisa api unggun semalam. Aku tak tahu darimana didapatkan umbi dan ikan tersebut oleh pak Burhan. Lagian aku juga malas untuk bertanya pada beliau. Memang pagi ini beliau bangun lebih pagi. Barangkali disekitar air terjun ini masih banyak tumbuh sejenis tumbuhan yang umbinya dapat dimakan dan tidak beracun.
Selepas sarapan pagi kami melanjutkan perjalanan menuju kediaman pak Burhan. Untuk mencapai kediaman pak Burhan, kami harus melalui jalan melingkar. Jalannya cukup susah dibanding dari tempat kami bertemu kemarin. Dari air terjun ini, kami harus melalui hutan yang didalamnya tumbuh beberapa tanaman yang membahayakan kulit manusia. Salah satunya tumbuh tanaman yang mereka sebut Jilatang.
Di hutan ini tumbuh dua jenis jilatang, yaitu Jilatang Ayam dan Jilatang Api. Yang membedakan Jilatang Ayam dan Jilatang Api hanya warna bulunya. Warna bulu Jilatang Api agak kemerahan dibandingkan dengan Jilatang Ayam. Apabila salah satu bagian kulit kita mengenai tumbuhan ini, maka akan menyebabkan gatal-gatal. Gatal itu disebabkan oleh bulu-bulu yang ada pada tumbuhan tersebut. Bulu itu mengandung zat yang berbahaya bagi kulit dan dapat membuat kulit melepuh seperti terbakar. Kata pak Burhan jilatang yang tumbuh dihutan ini jauh lebih besar dari tempat-tempat lain. Terutama Jilatang Api. Jilatang api yang tumbuh disini memiliki daun yang cukup lebar. Lebarnya kira-kira seluas punggung orang dewasa.
Sekitar satu jam perjalanan dari air terjun, barulah kami memasuki kawasan hutan yang banyak ditumbuhi oleh tanaman Jilatang. Disini kami harus berhati-hati agar tak menyentuh tumbuhan tersebut. Akupun berusaha melindungi tubuhku agar tak menyentuh Jilatang tersebut. Aku tak ingin kulitku melepuh seperti terbakar akibat dari bulu jilatang itu. Kawasan hutan yang kami lalui ini cukup jauh dari perkampungan. Dari cerita pak Burhan, ada sekitar tiga punggungan bukit lagi tempat kediaman beliau. Dan itu berarti kami harus melalui dua lembah. Lembah yang pertama telah kami lalui sekitar lima belas menit yang lalu. Lembah yang kedua masih sekitar dua jam perjalanan lagi dari tempat kami berdiri sekarang.
Sampai sejauh ini kecemasan pak Burhan akan keberadaan suku Kabut tidak terbukti. Akupun berharap bahwa mereka tak akan muncul lagi. Jika kami bertemu dengan mereka itu artinya nyawaku tak tertolong lagi. Mereka tak akan melepaskan kami berdua. Terutama aku, karena sekitar dua hari lagi adalah hari yang mereka tunggu-tunggu.
Tak jauh sebelum kami menempuh lembah yang kedua itu, kami beristirahat sejenak di dekat sebuah batu besar.
“Ini adalah kuburan orang sakti, Un!”
“Dahulunya banyak orang yang datang kesini untuk menuntut ilmu hitam dikuburan ini. Menurut mereka ini adalah kuburan seorang pendekar yang mempunyai ilmu sangat tinggi. Bahkan ia dipercaya dapat membunuh orang hanya dengan kerlingan mata. Ia tahan tembak dan tahan bacok. Konon ia mati dengan keinginannya sendiri. Katanya ia berbicara dengan pencipta dan ia berkewajiban untuk menemui-Nya. Kata orang yang pernah bertemu dengannya bahwa ia akan menurunkan semua ilmu yang dimilikinya jika ada orang yang mau bertapa selama tujuh hari dikuburan ini. Maka berbondong-bondonglah para pencari ilmu sesat untuk menuntut ilmu dikuburan ini. Namun itu tak bertahan lama, karena kegiatan mereka itu mengusik daerah perburuan suku Kabut. Mereka semua yang pernah bertapa dikuburan ini mati ditangan suku Kabut. Tak seorangpun yang dapat memiliki ilmu yang pernah dijanjikan oleh pendekar yang berkubur dibawah batu ini”.
“Kuburan kok ditutupi batu pak?”
“Konon batu itu adalah pintu masuk kesebuah lorong yang ada dibaliknya. Pendekar yang ada dalam kuburan ini akan keluar jika ada orang yang berhasil memenuhi semua persyaratan yang telah diajukannya untuk memiliki ilmu sesuai dengan keinginan petapa. Tapi sampai saat ini semua cerita itu tak pernah terbukti”.
Sepintas batu tersebut terlihat biasa-biasa saja. Kalau pak Burhan tidak bercerita aku tak tahu itu adalah sebuah kuburan. Memang dibawah batu itu tumbuh rumput. Dan dibalik rumput itu ada sebuah lobang. Untuk memasuki lobang itu kita mesti merayap. Pak Burhan melarangku untuk memasuki lobang tersebut. Barangkali ada binatang buas didalamnya atau mungkin juga karena takut nantinya akan membuang waktu percuma di tempat ini.

Pasir Putih Enam Maret (25)

Perlahan kuberdiri dan keluar dari gua ini. Setelah melewati percikan air terjun, ku duduk disebuah batu yang cukup besar dan kurebahkan tubuhku disana sambil mengingat-ingat nama tadi. Langit begitu cerahnya malam ini. Bintang bertaburan dimana-mana. Disela-sela pepohonan terlihat bulan yang hampir penuh bulatnya. Menurut perkiraan ku mungkin tiga atau dua hari lagi purnama penuh. Mendadak ketakutan merayap disekujur tubuhku. Bulan yang hampir purnama itu kembali mengingatkanku akan ritual yang dilakukan oleh suku Kabut. Dan rencana mereka yang akan menjadikanku sebagai tumbalnya. Keringat dingin mulai keluar dari ubun-ubunku. Bayangan tentang ritual itu melintas begitu saja. Disana terlihat beberapa orang yang berpakaian ala suku Kabut yang dipimpin oleh kepala sukunya. Dikanan kepala suku itu berdiri seorang perempuan. Ia terlihat begitu anggun di bawah sinar purnama. Wajahnya yang menarik. Matanya yang tajam, rambutnya yang terurai dan dimainkan sepoinya angin telaga. Dan wajah itu memandangku begitu dalam. Tatapannya menusuk jauh ke dalam sanubariku. Menggoncangkan semua jiwaku. Mengisi semua kehampaan hatiku. Memacu semua syaraf dan ingatanku. Tiba-tiba syarafku bergetar dan terngiang nama Puti.
Ya, perempuan itu bernama Puti. Ia telah menghantui kehidupanku selama ini. Tapi kenapa ia ada diantara suku Kabut. Dan berpakaian ala suku Kabut. Kalau aku tidak salah ia bukan Puti, tapi anak suku Kabut yang mirip dengan Puti. Aku yakin itu bukan Puti. Tapi kenapa ia begitu mirip sekali. Wajahnya, tingkah lakunya, bahkan suaranya juga mirip. Atau barangkali Puti telah menjelma menjadi anak suku Kabut. Atau…… Aku terus membatin dan tak habis pikir kenapa tiba-tiba aku kembali ingat akan kisahku dengan Puti.
Disatu sisi aku bersyukur karena ada selintas kejadian telah pulih dalam ingatanku. Dan disisi lain aku juga kecewa karena ingatanku yang pulih itu justru sisi kelam hidupku. Berawal dari sana kembali aku ingat bahwa aku pernah kuliah, tapi aku belum tahu apakah aku sudah tamat apa belum. Yang pasti ku ingat yaitu Puti itu adalah temanku sekampus. Apakah satu jurusan, satu fakultas, teman seangkatan atau juniorku, aku tak ingat lagi. Dan yang paling kuingat adalah tentang diriku yang telah mengecewakannya. Aku dianggap telah mengkhianati persahabatan diantara kami. Sebelumnya Puti telah menganggapku sebagai seorang sahabat yang setia. Semua keluh kesahnya, semua gundah gulananya selalu dicurahkan pada diriku. Bagaimana konfliknya dengan orang tuanya, juga ia beberkan padaku. Suatu kali ia pernah bercerita tentang perpecahan keluarganya padaku. Bapaknya marah besar, dan kemarahan itu berujung perceraian diantara orang tuanya. Setelah itu bapaknya lari ke propinsi tetangga dan kawin lagi disana dengan wanita lain yang jauh lebih muda dari istri pertamanya itu. Kejadian itu membuat goncang hidupnya. Dan masih ada lagi yang diceritakannya padaku seperti penyakit genetik yang diidapnya semenjak kecil. Dan masih banyak lagi yang kuketahui darinya. Ia telah terlanjur menganggapku sebagai sahabat. Sementara dalam diriku tumbuh benih-benih cinta. Aku tak tahu kenapa rasa itu muncul. Dan aku juga tak mengerti kenapa aku bisa mencintainya. Ketika aku menyatakan semua asa dan rasa itu pada Puti, ia malah menganggapku tak jauh berbeda dengan bapaknya. Ia beranggapan bahwa aku telah mengkhinati semua persahabatan yang telah terjalin sebelumnya. Ia tak percaya bahwa itu adalah cinta suci. Malahan ia beranggapan bahwa aku telah memanfaatkan kelemahannya sebagai wanita. Dan sejak kejadian itu Puti tak mau lagi menemuiku. Serta yang terakhir bisa kuingat adalah aku telah menitipkan sepucuk surat padanya lewat teman dekatku. Setelah itu tak ada lagi yang bisa kuingat. Kenapa aku ada bersama pak Ahmad dan berobat pada pak Burhan, semua itu belum bisa terjawab dengan utuh.
Aku masih termenung memandangi langit yang dihiasi dengan bulan dan bintang. Bau dari bunga Bangkai juga menambah warna suasana malam ini. Dari sini dapat kusaksikan bayangan pak Burhan dibalik air terjun yang masih berusaha membuat api unggun untuk tetap hidup. Semua teka-teki tentang Puti mungkin telah kembali dalam ingatanku. Tapi tentang anak suku Kabut yang menyerupai Puti itulah yang masih menjadi tanda tanya bagiku. Kenapa ia bisa sedekat itu kemiripannya.
Sementara udara disekitar tempat kududuk ini semakin dingin, dan perutku pun mulai merasakan lapar. Kulihat dibalik air terjun itu pak Burhan melambaikan tangannya seakan memanggil diriku untuk kembali bergabung dengannya. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kudekati pak tua itu.

Pasir Putih Enam Maret (24)

Setelah beberapa saat kuperhatikan air terjun ini tak kalah indahnya dengan air terjun yang berada di perkampungan suku Kabut. Di sebelah kanan air terjun ini, terdapat sebuah tanaman langka, yaitu tumbuhan Raflesia Arnoldy. Konon tumbuhan tersebut hanya tumbuh di hutan Sumatera dan sudah sangat jarang ditemukan. Dan konon juga tumbuhan ini ditemukan oleh seseorang yang berkebangsaan Inggris yang namanya diabadikan menjadi nama tumbuhan tersebut. Namun ada juga menamainya sebagai bunga Bangkai. Maklum tumbuhan ini pemakan serangga. Bunga ini belum mekar seutuhnya, barangkali beberapa hari lagi tumbuhan ini akan mekar dengan sempurna. Mungkin karena baunya yang tak sedap itu yang membuat lalat dan serangga lainnya selalu terbang menghampiri bunga tersebut.
Aku masih terpaku melihat bunga Bangkai yang baru pertama kali kutemui. Dari belakangku muncul pak Burhan.
“Kita terpaksa bermalam di tempat ini, Un! Tak mungkin kita melanjutkan perjalanan malam hari. Tempat ini sangat berbahaya malam harinya. Binatang buasnya masih banyak berkeliaran. Dan kita harus mencari kayu bakar untuk penerangan kita malam nanti. Sebaiknya kita bermalam di sebuah gua yang ada dibalik air terjun itu. Bapak sudah memeriksanya tadi siang. Dan tempat itu cukup untuk kita berdua”.
Benar apa yang dikatakan oleh pak Burhan. Tempat kami bernaung malam ini tak begitu luas. Tempat ini hampir sama luasnya dengan tempat yang dijadikan kamarku di perkampungan suku Kabut. Untuk masuk ke gua ini, kita harus melalui hempasan air terjun terlebih dahulu. Barangkali gua ini terbentuk dari hempasan air terjun yang mengikis bebatuan disekitarnya. Tepatnya tempat ini bukanlah sebuah gua, melainkan sebuah cerukan yang lembab.
Sementara pak Burhan telah selesai dengan tumpukan kayu bakarnya. Dengan cekatan beliau telah berhasil membuat api unggun, walaupun tak begitu besar. Udara di tempat ini tak sedingin di luar. Namun aku masih menggigil kedinginan ketika pak Burhan memulai ceritanya mengenai kejadian yang telah menimpaku.
“Kau pingsan cukup lama juga Un! Tubuhmu sempat diseret sungai ini beberapa saat. Ketika bapak temukan kamu sudah dalam keadaan pingsan. Tubuhmu tersangkut diantara dua buah batu yang airnya cukup deras. Bapak cukup kewalahan juga mengangkat tubuhmu dari batuan itu. Dan kau baru tersadar saat kau bertanya kenapa kita ada disini. Sementara itu, bapak tetap siaga kalau-kalau suku Kabut masih tetap menguntit kita. Sepanjang perhatian bapak, kita aman. Tak ada seorangpun dari suku Kabut yang mengintai kita. Disekeliling air terjun ini telah bapak telusuri semuanya sepanjang siang tadi. Tak ada tanda-tanda dan bunyi-bunyian aneh yang berasal dari suku Kabut. Mungkin mereka telah mengangggap kita mati. Dan mereka membiarkan bangkai kita dihanyutkan sungai serta disantap oleh binatang buas, sehingga mereka tak lagi memperhatikan kondisi kita saat ini. Itu semua dikarenakan mereka sempat melihat tubuhmu hanyut di sungai. Bapak dengan jelas memperhatikan bahwa raut wajah mereka terlihat puas dan mereka mengira kita telah mati”.
“O, ya. Ada satu hal lagi yang mau bapak tanyakan padamu. Selama kau pingsan, kau sering kali menggigau. Tak jelas apa isi igauanmu itu. Tapi yang pasti ada satu nama yang terlontar dari mulutmu, yaitu Puti. Siapa itu?”
“Puti!”
“Ya, Puti. Kau menyebutnya ada sekitar tiga atau empat kali. Adikmu, kakakmu, sepupumu, orang tuamu atau pacarmu kah ia?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan pak Burhan. Sampai saat ini aku belum dapat memecahkan misteri diriku sendiri. Siapa namaku dan dari mana asalku, belum bisa kujawab. Kini hadir lagi seseorang yang bernama Puti. Ini akan menambah sederet panjang tanya dalam benakku.