Tawa dan Tangis

Disalo galak denai manangih…

(Di sela tawa daku menangis…)

Itulah sepenggal lagu minang yang masih ingat di kepala ku ketika lelucon kecil terlontar dari obrolan kita sehabis masak bareng-bareng sore itu. Entah dari mana cerita itu berawal, lelucon-lelucon kecil mulai bermunculan diantara kita. Mulai dari menetawakan diri sendiri, aktivitas sehari-hari, prilaku orang-orang yang berada di sekitar sampai menertawakan kebijakan-kebijakan pemerintah yang kita anggap aneh dan sia-sia.

Kita larut dalam suasana tawa yang tak henti-hentinya sampai muncul teriakan dari luar jendela.

“ Ruhe…..Ruhe”, tiba-tiba tawa terhenti sejenak dan kita saling berpandangan.

“Kayak di Indonesia aja, ada yang teriak-teriak”, salah seorang diantara kita mengomentari teriakan tersebut dan tawapun berlanjut.

“Ruhe!…”, kembali semua yang ada di dapur terdiam. Kita kembali saling berpandangan. Lalu dari sebuah sudut ruangan seseorang yang merasa dirinya masih baru bergabung berkomentar:

„Jangan-jangan ada yang neriakin kita!“

Pembicaraanpun bubar seketika sambil meninggalkan ruangan tersebut. Tapi masih ada yang cekikikan. Entah karena merasa gak bersalah atau memang gak mengerti sama sekali arti teriakan itu. Karena bergunjing itu memang memberikan kesenangan tersendiri, akhirnya pembicaraan yang sempat terpotong tadi di lanjutkan lagi di ruangan yang lain. Topik pembicaraan masih di sekitar gunjingan sana-sini.

Dari hasil gunjingan itu bermunculan berbagai macam istilah. Ada yang di gelari Bintang, Minyak Tanah, Menggigit, Pengurus Beras Warga, Tukang Tidur, Mencucurkan Air Mata, Duk..Duk..Duk..,Fredi S, Si Pelupa, Pemburu e-bay dan lain sebagai nya. Tapi dari sekian banyak bermunculan gelar di gedung ini, gelar yang paling sering di tertawai adalah gelar Bintang. Entah dari mana lucunya, setiap membahas Bintang selalu di akhiri dengan tawa yang tak habis-habisnya bahkan sampai meneteskan air mata. Kisah kegetiran, kisah kesuksesan maupun kisah negarapun di akhiri dengan tawa. Seseorang yang sibuk memikirkan negara sekalipun juga di ketawakan, seseorang yang dilanda cinta dan mabuk kepayang kepada adik seorang teman juga diketawakan. Seseorang yang hidup berpindah-pindah dan dianggap mempunyai niat tertentu di ketawakan juga. Sampai hal-hal yang pribadi sekalipun tak luput dari bahan tertawaan. Sebagian orang memang berpendapat bahwa ketawa itu adalah obat mujarab untuk mengatasi stress dan penuaan dini. Tapi tertawa yang berlebihan yang selalu terjadi disini sepertinya sudah di luar konsep tadi.

Memang prilaku yang mulai muncul ini bisa di bilang suatu keanehan baru, namun hal tersebut telah muncul tanpa disadari. Berkembang sendiri layaknya seorang bocah yang sedang tumbuh. Seseorang yang merasa baru tadi masih terbengong-bengong melihat prilaku aneh ini. Mungkin yang berkecamuk dalam benaknya, Orang-orang ini ketawa apakah karena kegirangan atau menangisi jiwa masing-masing dalam menjalani studinya sih!. Tapi memang itulah kenyataannya. Sehingga seseorang yang baru itu membuat penafsiran tertentu terhadap gaya hidup segelintir orang-orang yang suka ketawa ini.

Kegirangan, kekesalan, patah hati, kepedihan, kerinduan dan lain sebagainya memang masih bisa di sembunyikan lewat tawa. Tapi apa yang sedang bersemayam di diri masing-masing tetap akan menjadi rahasia pribadi masing-masing. Itulah sepenggal kisah tentang arti sebuah tawa yang mungkin bisa menjadi kambing hitam untuk menutupi sesuatu hal walau sedih sekalipun.

Bremen, 120408

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s