Menanti Kelahiran

Pada bulan Maret itu malam lambat datangnya. Sinar matahari sore melantuni bayangan hitam panjang-panjang arah ke timur. Seorang perempuan muda terlindung oleh palem di pot dari sinar yang cerah itu. Dari tadi dia duduk-duduk bersama suaminya di teras, sebagaimana biasa dilakukannya bila sore indah. Mereka sama membisu oleh keasyikan masing-masing. Tadinya dia menjahit. Sedang suaminya membaca koran. Tapi kini dia mengalai lena pada kursi rotannya.

“Tahu ia apa yang kuingat sekarang,” pikir perempuan itu. “Selamanya ia dengan bacaannya. Mengapa ia tak menanyakan apa yang kujahit? Memangnya laki-laki selamanya tidak peduli pada istrinya yang dalam keadaan seperti aku ini.”

Lalu dia ingat pada beberapa kejadian di sekitarnya, seperti yang ia dengar dari kawan-kawannya. Laki-laki itu banyak main gila dengan perempuan lain di kala istrinya sedang mengandung. “Kenapa begitu, ya?” tanyanya dalam hati. Di antara laki-laki yang main gila itu, ada juga yang sampai mengambil istri muda. “Hiii,” reaksinya sendiri. Kemudian dia ingat lagi, betapa bibinya melepaskan sakit hati karena dimadu diam-diam. Dia ambil pisau cukur, dipotongnya kemaluan suaminya yang sedang tidur. “Memang hukuman yang pantas bagi laki-laki hidung belang,” komentarnya dalam hatinya. Tapi bibinya sendiri dihukum juga dalam penjara selama setahun. “Kalau suamiku ini main gila pula nanti, aku bersedia juga masuk penjara.”

Tapi cepat-cepat dia terkejut oleh pikirannya itu. Menyesal dia telah mengangankan niat yang sampai sekian jauhnya. Dicobanya menjinakkan lamunannya dengan pikiran yang baik-baik tentang suaminya. Tapi ada sesuatu yang tidak dipahaminy, masih juga dia tidak mengerti: kenapa di saat-saat akhir ini dia menjadi begitu benci kepada suaminya itu. Apa saja yang dilakukan suaminya, selalu taj sedap dalam pandangannya. Dia merasa perasaannya begitu aneh. Padahal sebelum mereka kawin, beberapa tahun yang lalu, dia merasa gila kalau tidak berjumpa dengan laki-laki itu sekali sehari.

“Tentu saja,” kata hatinya pula. “Dia dulu peramah. Sekarang dia terlalu banyak diam.”

Dilayangkan matanya kepada laki-laki itu. Duduknya, tekunnya masuh juga seperti tadi dengan korannya. Dulu laki-laki itu jarang berada di rumah. Tapi semenjak mereka kawin, duniannya adalah rumahnya. Dia senang mendapat suami yang tidak suka keluyuran. Memang demikianlah laki-laki yang diangankannya. Tapi laki-laki ini berkeluyuran dengan bacaannya sendiri. Entah berapa koran dan majalah dilangganinya. Belum lagi buku-buku.

“Apa ia sudah bosan padaku? Dan cintanya beralih ke koran?” pikirnya lagi.

“Ris, bila aku kau ajak lagi?” tanyanya tiba-tiba tak terencana. Dia sendiri jadi terkejut oleh suaranya yang ketus. Sebetulnya ia tak sadar akan pertanyaan yang diucapkannya. Tapi ditunggunya juga apa kata laki-laki itu. Matanya tidak memandang pada suaminya, melainkan tetap menatap bulat ke daun palem yang bergoyang-goyang segan diembus angin sore itu. Seekor laba-laba di tengah jaringnya ikut bergoyang-goyang. “Kurang ajar,” makinya dalam hati. “Setiap hari aku bersihkan, kini dia ada lagi di sini.”

Dan dia ingat lagi kepada suaininya. Tapi laki-laki itu masih asyik juga dengan korannya. Dongkol benar dia jadinya.

“Ris,” serunya setengah berteriak. “Tidak kau dengar kataku?”

“Mm?” laki-laki itu menyahut, sedang matanya tidak beralih dari koran di tangannya.

“Aku katakan, bila aku kau ajak lagi?” katanya dengan napas yang sesak.

“Ke mana?”

Hati perempuan itu sakit benar jadinya. Dengan kata-kata tajam dia berkata lagi, “Ke mana? Ke mana, katamu? Kalau dulu, kaulah yang selalu mengajak aku. Kau yang menentukan ke mana kita mau pergi. Tapi kini sesudah aku begini, mengapa kau tak mengajak aku lagi?”

Sebenarnya ia ingin bertengkar. Dia lirik laki-laki itu. Tapi laki-laki itu masih juga seperti tadi. Membaca korannya.

“Tak kau dengar aku?” teriaknya lagi.

“Ya. Ke mana kau mau pergi, Len?”

“Ke mana aku mau pergi, tanyamu? Kalau itu yang kautanyakan, baik. Aku jawab begini. Antarkan saja aku pulang ke rumah orang tuaku.”

Laki-laki itu meletakkan koran di pangkuannya. Dan matanya tercengang melihat istrinya. “Len,” serunya.

“Sudah bosan kau padaku. Katakanlah begitu,” kata perempuan itu sambil menegakkan duduknya dan memandang suaminya dengan mata yang menantang. Dia benar-benar mau bertengkar sekarang. Dia ingin reaksi keras suaminya. Tapi laki-laki itu seperti tak peduli. Ia memalingkan pandangannya ke korannya lagi.

“Bagaimana kita bisa pergi, kalau yang jaga rumah tidak ada?” kata laki-laki itu kemudian.

“Alaah kau. Kau selamanya memakai alasan itu-itu saja,” balasnya. Dan kini napasnya kian kencang dirasakannya.

“Tak baik marah-marah, Len. Ingatlah akan anak kita yang dalam kandunganmu itu.”

“Anak kita? Oooo, ada juga kau memikirkannya? Ada juga kau ingat padanya. Tapi ada kau pernah menanyakan apa-apa yang diperlukan buat menyambut kedatangannya? Tidak. Kau tak pernah bertanya. Kau selamanya tidak peduli. Kenapa? Karena kau sudah bosan padaku. Kau sudah bosan. Pasti.” Napasnya jadi tersengal-sengal kini. Hingga dadanya turun naik dengan kencangnya. Sebenarnya dia mau mengatakan kata-kata yang lebih tajam lagi dengan menyuruh laki-laki itu supaya kawin lagi, kalau ia benar-benar sudah bosan. Dan sesudah itu, sesudah itu, dia rela dipenjarakan seperti bibinya dulu. Tapi dia tak kuasa bicara banyak sambil meradang-radang. Dia lekas merasa letih. Lalu sesuatu dalam perutnya terasa bergerak-gerak. Dia belai sekitar perutnya yang besar itu. Dan dalam pada itu dia sadar pada ketajaman kata-katanya yang baru saja berlompatan.

“Ah. Mengapa aku begini?” kata hatinya mulai menyesal. “Aku hamil. Sebetulnya aku tak boleh marah-marah begini. Nanti anakku jadi buruk rupa seperti …”

Lalu dia ingat pula pada Aisah babunya yang baru dua minggu di rumahnya. Aisah punya anak juga. Baru satu tahun. Dan rupa anak itu begitu jelek. Seperti kera. Tidak sebanding dengan ibunya.

“Tentu waktu hamilnya Aisah suka marah-marah pula. Cerewet seperti aku,” pikirnya. “Kalau anakku seperti anak Aisah nanti, oh, minta ampun.”

Dua minggu yang lalu, ketika Haris telah berangkat ke kantornya, Lena sedang menyapu teras rumahnya seperti biasa dia lakukan. Waktu itu masuklah ke halaman rumahnya seorang perempuan. Perempuan itu menggendong seorang bayi dan membimbing seorang anak laki-laki. Sepuluh tahun kira-kira umurnya. Tamunya ini sungguh tak menyenangkan. Dia selamanya merasa jijik pada orang yang kumal, bodoh, dan tak sopan menurut pandangannya. Dia merasa lebih baik tidak melayani tamunya itu, melihatnya pun jangan. Karena tamu yang menjijikkannya itu, selalu akan lama tinggal dalam ingatannya.

Dia ingat ibunya pernah bilang, “Len, dalam hamil, jangan suka ingat pada yang jelek-jelek. Nanti anakmu jadi jelek pula. Kalau tidak wajahnya, tentu perangainya.”

Lena mau pergi saja cepat-cepat ke dalam rumahnya. Tapi perempuan itu sudah menegurnya, “Nyonya, kami dengar Nyonya perlu babu.”

Lena tertegun dan dipandanginya perempuan itu menyelidik. Kepala yang tak tertutup itu, tak pernah dijamah sisir. Kain dan bajunya seperti tidak pernah kena air. Kakinya telanjang, kotor, dan pecah-pecah tepi telapaknya. Rasa jijiknya kian meluap. Memang benar dia memerlukan babu. Tapi bukan yang seperti perempuan itu kotornya. Bukan yang punya anak banyak. Memang sudah lama sekali dia ingin seorang babu di rumahnya, sampai sekarang tak juga didapatnya. Kalau pun pernah dapat, hanya beberapa hari saja mereka bertahan. Lalu lenyap tak memberi tahu.

“Kau terlalu cerewet, Len. Tentu saja orang tak tahan lama-lama tinggal di sini,” kata suaminya ketika babu yang terakhir pergi pula. Dan perkataan suaminya itu ada terasa benarnya, tapi selamanya terlambat datangnya. Karena setiap suaminya mengatakan kecerewetannya berbabu, secepat itu pula dia membangkang kata-kata suaminya itu.

“Kau. Mengapa kau lebih menyalahkan istrimu daripada menyalahkan babu?”

“Tidak. Aku tidak memerlukan babu,” katanya tegas kepada perempuan yang dari tadi menunggu jawabnya.

“Nyonya. Kasihanilah kami, Nyonya,” kata perempuan itu beriba-iba.

Tapi Lena tak tergetar lagi hatinya oleh kata kasihan itu. Dia sudah muak mendengarnya. Setiap orang yang datang meminta uang, meminta kerja, semuanya berkata begitu. Dan kemudian, setelah mereka memperoleh apa yang dimintanya, lalu pergi begitu saja, diam-diam, tanpa pamit dan tanpa ucapan terima kasih. Malahan seorang yang mengaku-aku sebagai kerabatnya dari kampung yang datang minta pondokan, ketika pergi tanpa pamit, juga membawa lari beberapa potong kain Lena yang bagus-bagus.

“Mengapa setiap orang minta dikasihani saja sekarang? Mengapa? Nanti sesudah dikasihani, lalu mencuri,” pikirnya.

“Kami datang dari jauh, Nyonya. Kami lapar,” perempuan itu berkata lagi minta dikasihani.

“Hm. Semua orang sedang kelaparan saja rupanya.” Lena berkata dalam hati. Lalu katanya kepada perempuan itu, “Kau kira kami punya gudang beras, heh?”

Maka kini matanya beralih pada anak laki-laki itu. Anak ini tentu banyak makannya. Dan anak kecil ini, tentu akan bikin ribut saja sepanjang malam, kata hatinya pula. Lalu ia berpaling dan hendak masuk ke dalam rumahnya.

“Nyonya. Kalau Nyonya tidak kasihan kepadaku, kasihanilah bayi ini, Nyonya. Dia tidak berayah lagi, Nyonya. Sudah mati dibunuh gerombolan,” kata perempuan itu lagi dengan gigihnya meminta belas kasihan.

Lena tertegun dan matanya tertarik melihat anak yang dalam gendongan itu. Kurus benar. Pucat lagi. Tengkorak kepalanya begitu besar, sedang matanya terbudur keluar di antara kerinyut jangat-nya. Persis seperti kera. “Tidak. Aku tidak mampu melihat bayi itu lama-lama. Nanti tercetak dalam pikiranku. Itu akan mempengaruhi anakku. Kalau anakku seperti itu pula nanti, tidak berayah pula, oh, biar aku tak punya anak, biar aku mati saja. Tidak. Aku tak sanggup hidup kalau anakku seperti itu,” kata hatinya yang kini mulai tersentuh rasa kasihan. Dan kemudian dia ingat lagi pada petuah ibunya: “Orang hamil, Nak, haruslah santun. Tidak boleh merasa benci kepada siapa pun. Supaya anakmu juga berhati mulia.”

Selanjutnya hatinya berkata pula. “Ah, aku tidak boleh jijik pada bayi kecil ini. Kalau anakku tidak hendak seperti bayi ini, aku tidak boleh jijik melihatnya sekarang. Aku tidak boleh marah-marah. Apalagi membenci. Aku harus ramah-tamah, penyantun, baik hati, bersikap mulia, supaya anakku seperti itu pula kelak sifat-sifatnya.”

Namun hatinya digoda terus oleh rasa jijik setiap dia memandang kepada ketiga orang yang masih berdiri di halaman itu. Maka ia kembali ragu-ragu. “Alangkah baiknya,” pikirnya, “kalau Haris ada di sini. Bisalah kami berunding.” Tetapi secepat itu pula dia mendapat pikiran lain. Bahwa dia ingin menunjukkan pada suaminya, yang dia tidak mau diejek lagi tentang sifatnya yang selalu ragu-ragu itu. Dia mau menunjukkan kepada suaminya, bahwa dia juga bisa bertindak sendiri dengan tepat. Namun begitu sungguh mati rasanya. Begitu memualkan. Begitu jijiknya dia pada ketiga orang itu. Bagaimana nanti kalau sudah serumah?

Akhirnya, ya, akhirnya, demi kepentingan anak yang sedang dikandungnya dan demi dia tak mau diejek lagi sebagai peragu, maka dia paksakan berkompromi dengan apa yang dihadapinya.

“Kenapa suamimu dibunuh gerombolan?” tanyanya lagi dengan dipaksa-paksakan. Tiba-tiba pada mata perempuan itu dilihatnya linangan air mata. Sekarang hati rahimnya mulai lagi tersentuh. Dan tiba-tiba rasa sesalnya timbul karena mengajukan pertanyaan yang dirasanya bodoh itu. Lalu katanya mencoba memperbaiki keadaan, “Anakmu ini siapa namanya?”

“Yang besar ini, Darman. Tapi orang memanggilnya Bisu.”

“Bisu? Kenapa dipanggil Bisu?”

“Karena dia memang bisu, Nya.”

Lena ingat lagi kepada anaknya yang bakal lahir. “Anakku tidak boleh bisu. Kalau aku berbuat baik pada anak bisu ini, tentu anakku tidak akan kena bisu kelak. Tentu saja aku harus menunjukkan hati baikku. Akan kupelihara anak bisu ini, supaya anakku tidak bisu pulanantinya.”

Ketika Haris, suaminya, pulang dari kantor, alangkah tercengangnya dia melihat perubahan Lena yang telah mampu bertindak sendiri. Lena merasa geli melihat betapa takjub suaminya kepadanya. Dan betapa senang hatinya, ketika Haris mencium keningnya seraya berkata, ” Aku memang sudah duga juga, kau betul-betul telah siap jadi seorang ibu.”

Kemudian lamunannya lenyap. Ia ingat kepada suaminya. Ia menoleh kepada suaminya, dan ketika itu Haris sedang memandangnya terheran-heran seperti dulu itu. Dia merasa geli dan juga merasa senang. Dia tersenyum.

“Ayolah, Len. Kenapa kau diam saja? Tukarlah pakaianmu,” kata suaminya.

Lena tercengang seketika karena tak ingat apa hubungannya dengan kata-kata suaminya itu. Tapi ketika dia ingat bahwa tadi ia mengumpat suaminya karena tak pernah mengajaknya bepergian, maka ia bertanya sedikit gugup. “Ke mana kita?”

“Ke mana sajalah. Tukarlah pakaianmu dulu. Kalau film bagus kita nonton,” kata suaminya.

Sudah lama benar mereka tidak keluar malam bersama-sama. Banyak benar sebab dan alasannya. Sejak kehamilannya, sesungguhnya ia kurang bergairah keluar dari rumah. Lebih-lebih keluar bersama suaminya. Perasaannya selalu tidak enak bila bersama suaminya. Alasan tidak ada orang yang menunggui rumahnya, itu memang sebab lainnya. Meninggalkan rumah pada pembantu saja, sulit dipercaya. Seperti pernah terjadi dulu. Ada pembantu yang menghilang dengan membawa kain-kainnya, ketika ditinggalkan sendiri di rumah. Kini meninggalkan rumah kepada Aisah, hatinya masih was-was. Tapi ia pikir pula, perasaan was-was itu karena kehamilannya juga. Dan lagi, tidak mempercayai seorang pun di kala mengandung anak mereka yang pertama, sesungguhnya merupakan tabiat yang akan diwariskan kepada anaknya, jika menurut petuah ibunya. Dan Aisah bisa dipercaya. Terutama karena tidak akan mudah bagi perempuan yang mempunyai dua orang anak, apalagi ada bayi pula, untuk menghilang dengan mudah. Tampaknya Aisah bisa dipercaya. Kelihatannya sopan. Tahu menempatkan diri. Jujur, meski sedikit bodoh. Namun demikian, ia terus ragu-ragu untuk bepergian. Apalagi dengan suaminya. Kalau ia pergi juga akhirnya, adalah karena terpaksa, karena menenggang hati suaminya yang tadi telah ditempelaknya. Tapi juga karena supaya Haris tidak menganggapnya sebagai calon ibu yang selalu ragu dan bimbang.

Berdasarkan pengalaman, mereka meninggalkan rumah dengan hati-hati juga. Semua pintu dikunci. Termasuk pintu kamar dan semua kunci mereka bawa. Tersimpan dalam tasnya. Suatu pengalaman buruk dulu, rumah ditinggalkan pada kerabatnya. Hanya kunci lemari yang dibawa. Toh, beberapa minggu kemudian diketahui ada barang-barangnya yang hilang dari lemari. Beruntung saja barang emas intannya yang rnasih sedikit itu, dipakai waktu itu. Tapi kini, barang emas intannya telah lebih banyak. Dan ia tak berani memakainya lagi, karena musim todong-todongan sedang berjangkit. Barang emas intannya terkunci dalam kamarnya yang terkunci. Dan semua kunci ada dalam tasnya. Jadinya jauh lebih aman. Sedangkan perempuan itu, kelihatan dapat dipercaya. Dan lagi, takkan mudah baginya menghilang sambil membawa dua orang anak.

Mereka memilih berjalan kaki saja. Sebab bulan yang sejak senja telah penuh mengambang di sebelah timur, disayangkan bila tidak dinikmati. Mereka berjalan lambat-lambat. Lampu-lampu minyak penjual rokok di tepi jalan, meski warnanya memudar karena sinar bulan, dirasakan Lena sebagai pemandangan yang indah, seperti lampu-lampu pada pasar malam. Orang-orang yang lalu-lalang berpakaian apik. Berpasang-pasangan, seperti mereka juga. Mobil-mobil sedan mengkilap dengan desauan lembut bunyi mesinnya, becak-becak dengan gemerencingan loncengnya, serta sepeda-sepeda itu memeriahkan suasana, dirasakan Lena. Alangkah indahnya malam seperti itu. Cukup ternikmat olehnya. Sedangkan tangannya menyelinap dalam kepitan lengan suaminya.

Waktu itu ia benar-benar merasakan Haris adalah suaminya yang ideal, seperti yang diharapkannya dulu. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri, yang tiba-tiba saja merasa senang pada Haris, suaminya. Padahal selama ini ia begitu benci, muak, hingga ia menjadi cerewet dan suka marah-marah bila ada suaminya di rumah. Ia merasa malu dan menyesal sekali bila dia ingat betapa tajam kata-katanya tadi sore. Namun hatinya ditenang-tenangkannya, dengan meyakinkan dirinya bahwa Haris tentu maklum pada kondisi diri istrinya. Kalaulah Haris tidak sebangsa laki-laki yang penyabar, mungkin jadi tidak ada jalan-jalan seperti senja sekarang, karena mereka sudah berpisah.

Mereka tak jadi menonton, meski filmnya bagus. Karena mereka datang terlambat. Semua karcis telah habis terjual, kecuali pada tukang catut. Lalu mereka melancong ke tempat-tempat yang tenang, yang benderangnya datang dari langit. Setelah penat berjalan, mereka ke restoran. Restoran yang sering mereka datangi sebelum kawin dulu. Lena merasa seolah-olah bawaan Haris ke tempat itu, ialah untuk membangkitkan kenangan indah masa mereka bercinta dulu.

Dalam antara kenangan pada masa lalu, di bawah sinar bulan, dalam gandengan tangan laki-laki yang dicintainya, terasa oleh Lena, bahwa hidup ini memang indah sekali. Lalu kian dieratkan pegangannya ke tangan suaminya. Di saat itu dia tidak ingat pada anak yang dalam kandungannya. Yang dia ingat rasa bahagia di samping Haris suammya.

Tiba-tiba Haris berhenti melangkah dan dipegangnya lengan istrinya seraya memandang ke sekumpulan anak-anak dan tukang-tukang becak bersukaan. Mereka gembira sekali. Semuanya tertawa berkakahan. Dan Lena yang tak biasa bergaul dengan orang-orang seperti itu, merasa jijik memandangnya. Dia ajak Haris supaya cepat-cepat berlalu. Tapi Haris masih tegak mengamati kelompok itu.

“Ayolah. Buat apa dilihat. Aku jijik,” kata Lena.

“Kaulihat anak yang membanyol itu?”

“Peduli apa?”

“Rasanya anak itu, anak yang di rumah kita.”

“Tak mungkin. Anak di rumah kita bisu.”

“Mari kita dekati untuk memastikannya,” kata Haris sambil menarik istrinya mendekati kelompok yang sedang bersuka ria mendengar banyolan anak laki-laki itu.

“Hampir setiap hari, kalau dia mandi, aku intip dari lubang itu. Aduuh, Mak, putihnya bukan main. Seperti singkong berkubak pahanya. Tapi perutnya, bukan main. Begini,” kata anak itu sambil menirukan jalan perempuan dalam hamil berat dengan cara yang berlebih-lebihan. Dan orang-orang di kelompok itu terkakah lagi.

Lena sadar, bahwa kehamilannyalah yang dibanyoli anak itu. Dia merasa sangat malu dibanyoli secara kotor demikian. Tapi hatinya sakit mendengar tertawa kelompok itu. Dia mau pergi cepat-cepat. Ditariknya tangan Haris. Tapi Haris masih tertegak di situ. Kemudian ia melangkah mendekati kerumunan orang-orang yang bergembira itu.

Tapi tiba-tiba Lena sadar, bahwa mereka selama ini sudah rertipu mentah-mentah. Anak itu ternyata tidak bisu. Malah membanyoli bentuk tubuhnya yang telanjang ketika mandi. Dan di rumahnya, kini sedang ada komplotan penipu. Maka timbullah secara beruntun macam-macam hal dalam pikirannya, tentang serba kemungkinan yang sedang terjadi selama rumahnya dipercayakan kepada komplotan penipu itu. Dia ingat pada harta bendanya yang berharga, pada emas intannya dalam lemari. Kini benda itu telah lenyap dicuri komplotan penipu itu. Tiba-tiba pula dirasanya sesuatu memukuli jantungnya. Begitu kencang. Sehingga ia menjadi lunglai dan jatuh terduduk. Sedangkan tangannya tak kuasa menggapai-gapai suaminya yang kian jauh ke kerumunan orang-orang itu. Dan anak yang dalam perutnya bagai memberontak dirasakannya. Suatu rasa nyeri di perutnya bagai membawa nyawanya terbang. Dia mau berteriak memanggil suaminya.

Kemudian ia tak dapat melihat sesuatu yang di depan matanya lagi. Bahkan ia tidak sadarkan diri, ketika ia terbaring di kelilingi banyak orang yang mengerumuninya. Kemudian, secara samar-samar didengarnya reriakan anak yang membanyol tadi. “Tidak! Dia bukan ibuku! Aku tak kenal padanya! Dia mengajakaku untuk meminta-minta!”

Teriakan anak itu bagai menusuk-nusuk di dalam tubuhnya yang terbaring di rumput itu. Rasa nyeri kian tak tertahankan lagi. Dia merasa saat ajalnya akan sampai. Hatinya menjadi kian ciut. Denyutan jantungnya kian mengencang. Dan napasnya tersengal-sengal.

Ketika rasa nyeri itu mulai berkurang, secara samar-samar ia ingat lagi pada harta bendanya di rumah. Sudah pasti habis digondol perempuan penipu itu. Hatinya menjadi sakit dan luluh. Perasaan sakit yang begitu perih itu, diimbanginya dengan berteriak-teriak dan meronta-ronta serta memukul-mukul dadanya. Suasana dirasakannya mengambang lagi, hingga ia tak sadarkan dirinya lagi.

Dan besoknya, sebelum ia membuka matanya, diraba-raba perutnya lebih dulu. Tapi perut itu tidak gendut lagi. Dia terkejut. Lalu dia duduk dari tidurnya sambil berteriak-teriak, “Anakku! Anakku! Mana anakku?!”

Seorang juru rawat segera datang padanya dan sambil merebahkan badannya kembali ia berkata, “Tenanglah, Nyonya. Anak Nyonya tidak apa-apa.”

Lena ingat segala-galanya lagi. Anaknya telah lahir kemarin. Anaknya itu laki-laki. Dan memang dia ingin anak laki-laki. Jadi persis seperti yang diinginkannya. Persis seperti warna hijau muda pada pakaian dan perlengkapan bayi yang dijahitnya sendiri, warna yang sesuai untuk bayi laki-laki. Tapi kelahiran bayinya itu tidak sempurna bulannya. Bayi itu dalam pertumbuhannya juga akan tidak sempurna, seperti pertumbuhan bayi yang lahir normal. Lalu dia menangis dan merintih di dalam hatinya, satu-satunya cara yang dia punyai untuk mengobati hatinya yang luka. Dan suara rintihan itu kedengaran begitu nyata pada telinganya.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s