Pengemis Tua di Sebuah Stasiun

Derai tawamu menyentak disanubari

sadari bahwa gelombang memang ada

tarian hidupmu mengiringi rotasi semesta

sentuh sadarku dalam buaian emosi

Tengadah tanganmu ibarat setetes kesejukan ditengah dahaga cita

Sesaat belenggu sirna menatap arah hidup

terhempas laksana buih

uapkan kesombongan dunia

Kau hadir menyapa ego

datang kala angkuh mulai menyapa

kau sentuh lubuk nurani

bangunkan pengakuan suci

ibarat simfoni yang tak pernah sumbang

Termenungku menemui diri

tafakur ratapi hadirmu

kembali kurajut lembah cinta

diantara kerasnya karang obsesi

kembali hiasi malam sunyiku

bangunkan asa yang telah lama diam

Kau tiupkan dahaga cinta

menyapu segala gundah dan gulana

perjalananmu sadarkan keakuanku

sebab hidup hanya sesaat

Bremen,DE, 201007

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s