Penolong

Sidin berlari, berlari terus bagai anjing yang kemalaman pulang. Dan memang, di kala itu malam telah datang. Hujan renyai yang turun rintik-rintik sejak siang tadi, membelam malam dan mendinginkan senja, sampai malam itu. Namun Sidin berlari juga. Tapi dia tidak sendiri. Banyak orang, yang juga berlari. Mereka berlari di malam gelap, di sepanjang jalan aspal yang rusak berlubang-lubang yang tak terlihat. Sehingga banyak yang terperosok dan jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. Sidin pun mengalaminya berkali-kali.

Dalam berlari Sidin selalu ingat, bahwa ada kereta api jatuh di jembatan Lembah Anai. Itulah yang mendorongnya berlari, seperti orang-orang lain juga. Sama seperti dulu, ketika peristiwa yang sama terjadi enam bulan yang lalu. Ketika itu, hujan renyai juga. Tapi peristiwanya pagi. Dan ia tak pernah sampai di tempat kejadian. Karena ada larangan. Namun ia berbelok mengambil jalan lain. Tapi di tengah jalan ia tertahan oleh rombongan yang telah kelelahan mengangkut para korban. Dan Sidin ikut menggotong korban ke tempat penampungan di sebuah mesjid.

Ketika itu zaman pendudukan Jepang. Tidak ada angkutan umum selain kereta api. Karena kendaraan bermotor lainnya telah diambil balatentara Jepang untuk keperluan perangnya. Sehingga angkutan kereta api menjadi penuh sesak. Penumpang dan barang bertengger di mana saja. Di atap, di jendela, di bordes, di tangga, bahkan juga di besi bumper dan rantainya. Seolah orang hanya ingat cuma satu, bukan keselamatan dirinya, melainkan badannya harus sampai ke tempat tujuan. Gerbong dan lok yang tidak terawat karena kekurangan peralatan dipaksa terus mengangkut muatan berlebih. Dan tidak seorang pun yang peduli. Kereta api harus jalan dan penumpang harus bepergian. Dan semangat orang bepergian melebihi dari biasa. Dengan bepergian, sambil membawa barang dagangan, terutama beras yang hanya sekitar 100 kg, sudah cukup memberi makan satu keluarga untuk beberapa hari dari hasil keuntungan. Mereka bukan pedagang. Mereka menamakan dirinya tukang catut. Dan kereta api yang sarat oleh penumpang meluncur di rel yang licin oleh renyai sejak siang pada jalan yang menurun di lereng lembah dan perbukitan. Rem dapat menghentikan roda berputar, tapi tak dapat menghentikan kereta api itu meluncur. Karena muatan berlebih dari kemampuan, kereta meluncur kian kencang dan kian kencang lagi. Dan di sebuah tikungan patah, lok lepas dari relnya. Disambut oleh lengkungan besi sebuah jembatan. Lengkungan itu ambruk dan lok pun terjun ke sungai yang tengah deras airnya karena hujan di hulu. Seluruh gerbong pun ikut terjun bertindihan. Kecelakaan telah terjadi lagi. Lebih hebat dari kecelakaan yang sama pada enam bulan yang lalu.

Pada waktu Sidin sampai di tempat kecelakaan itu, orang-orang belum banyak. Lampu-lampu tekan yang sedikit tak kuasa memberikan penerangan bagi orang-orang yang memberikan pertolongan. Banyak korban telah dikeluarkan dari gerbong yang terguling bertindihan di bawah jembatan yang ambruk itu. Dibariskan di tepi jalan raya. Tidak diketahui pasti, apakah mereka masih hidup atau mati. Beberapa Jepang dengan pakaian militernya, hanya memilih Jepangnya saja. Dikeluarkan dari gerbong, digotong ke tepi jalan raya, dan diangkut cepat dengan truk yang disiapkan untuk diberi rawatan di rumah sakit terdekat. Sedangkan korban yang lain, diurus .oleh bangsanya sendiri pula.

Dan Sidin, demi melihat para korban bergeletakan di tepi jalan itu, dalam cahaya remang-remang lampu tekan yang enggan nyala ditimpa gerimis, merasa tersentak dan bulu romanya menggerinding. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, seperti halnya ia tidak tahu mengapa ia sampai di situ dengan berlari-lari. Mulanya ia memang didorong oleh rasa ingin tahunya untuk datang ke situ. Tapi setelah ia sampai dan tahu apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi, ia bingung, malah merasa ngeri. Ia pikir, mungkin ada kerabat atau temannya yang menjadi korban, tapi bagaimana mencari mereka di antara korban yang telah tergeletak itu, di dalam gelap lagi. Ia mendekati korban-korban yang tergeletak itu. Ada yang telah diam, tapi ada juga yang bergerak, merintih. Dan apa yang dapat ia lakukan untuk mereka yang menderita atau yang telah mati itu?

Tiba-tiba didengarnya ada orang yang berteriak-teriak meminta tambahan tenaga di dekat gerbong-gerbong yang berimpitan itu. Memang sangat lengangnya orang di sebelah sana. Seperti dihipnotis, Sidin berlari ke sana. Di jalan kereta api dekat jembatan yang telah ambruk, didapatinya pula banyak korban sedang tergeletak. Ia tak tahu juga, apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Seseorang menyuruh Sidin ikut menggotong korban yang baru saja dikeluarkan dari gerbong-gerbong itu. Dengan beberapa orang ia mengangkatnya. Tapi seseorang berkata lagi, “Angkat yang masih hidup.” Dan mereka mencari-cari korban yang masih hidup. Seorang korban yang merintih, mereka angkat berdua. Terasa berat tubuhnya. Dan licin lagi. Sehingga sulit mengangkatnya. Mereka memaksakan diri untuk menggotongnya. Dan si korban berteriak kesakitan. Mungkin terpegang pada lukanya atau mungkin ada tulangnya yang patah tidak cukup terpapah. Setelah datang seorang lagi ikut menggotongnya, korban mereka angkut ke jalan raya yang sejajar dengan jalan kereta api itu, ke tempat korban-korban lain menanti pertolongan pengobatan atau pengangkutan ke rumah sakit di kota. Tapi korban yang mereka gotong itu begitu berat, karena gemuknya. Dan selalu meraung-raung kesakitan. Sidin sungguh-sungguh tak tahan mendengar dan merasakan penderitaan orang itu.

Salah seorang yang menggotong itu berkata, “Kalau tak salah, orang ini Mak Gadang. Semestinya ia tidak ditolong.”

“Kesengsaraan bisa mengubah tabiat,” kata yang lain.

“Kalau ular, biar dipenggal kepalanya, ular juga,” kata yang pertama.

Kini jalan yang mereka tempuh begitu sempit, sulit dilalui oleh dua orang bersamaan. Menurun lagi. Berbatu besar. Sidin mempererat genggamannya agar si korban tidak melorot. Tapi si korban mengerang kesakitan. Dan Sidin menduga pegangannya tepat pada bagian yang cedera. Tapi ia tak mungkin mengendurkan pegangannya. Korban itu mengerang terus.

“Jangan cengeng. Kami bukan anak buahmu atau istri-istri mudamu yang bisa membelai-belaimu,” kata laki -laki yang pertama.

“Bagaimana kau tahu ini Mak Gadang dalam gelap begini?” kata Sidin. Tapi itu hanya dalam khayalannya saja. Sidin kenal nama Mak Gadang di kotanya. Dikenal pencatut. Tapi lebih terkenal sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang dan mendapat upah dengan menjualkan barang-barang curian milik Jepang langganannya itu. Dan Mak Gadang menjadi kaya karenanya.

Dan dalam menggotong korban yang terus mengerang itu, Sidin berpikir, apakah memang orang seperti ini perlu diberi pertolongan? Begitu berat tubuhnya yang memang besar dan tambun itu. Melewati jalan setapak yang terjal menurun pula, sungguh merupakan siksa baginya. Lebih tersiksa lagi oleh pikirannya pada nama yang terkenal di seluruh kota sebagai orang yang bejat hatinya. Dan dalam hatinya ia sesungguhnya menyetujui semua komentar orang yang tidak dikenalnya tapi sama-sama menggotong itu.

“Wah, susah amat menggotong buaya ini. Letakkan saja di sini. Biar orang lain yang menggotongnya lagi,” kata laki-laki yang pertama tadi, seraya merendahkan tubuhnya untuk benar-benar hendak meletakkan tubuh itu ke tanah.

“Tahanlah. Sedikit lagi,” kata temannya.

“Familimu?”

“Tidak. Tapi ia korban kecelakaan.”

“Banyak yang lain lagi yang patut ditolong.”

“Tanggung menolong. Sedikit lagi kita sudah sampai.”

Korban itu tidak mengerang lagi. Sudah tenang. Dan ketika mereka sudah sampai di pinggir jalan raya, dua orang yang berbaju putih menyongsongnya. Salah seorang mengambil pergelangan tangan korban untuk memeriksa denyut nadinya. Dan kemudian katanya, “Taruh di sebelah sana.”

Kemudian datang dua orang lain ikut membantu menggotong sampai ke tempat yang ditunjuk oleh orang yang berpakaian putih tadi. Dan Sidin tiba-tiba sadar, bahwa orang yang digotongnya itu telah mati. Karena disuruh letakkan sekelompok dengan korban-korban lain yang telah diam, tak bergerak dan tak mengerang oleh kesakitan.

Sidin tercenung kebingungan ketika bersandar pada pagar tembok jembatan. Matanya melihat orang-orang lalu-lalang mengangkut dan mencari korban yang mungkin dikenalnya. Dari tempatnya ia juga melihat orang-orang di sebelah sisi sungai berbanjar menyambut korban yang baru keluar dari gerbong, lalu memberikannya kepada orang berikutnya secara beranting. Beberapa kelompok mencari-cari kerabat atau kenalannya dengan menggunakan suluh. Tapi juga ia melihat ada seseorang yang meraba-raba korban demi korban. Tapi jelas orang itu tidak hendak memberikan bantuan. Matanya melihat, tapi pikirannya tidak jalan. Dan Mak Gadang yang digotongnya tadi, masih tergeletak di tempatnya. Dan ia merasa masih mendengar betapa erangannya ketika digotong.

“Hai, Omae! Mari sini!” Kedengaran seseorang berseru dekat tiang kawat telepon. Sidin menoleh ke arah suara itu. Dilihatnya seorang Jepang memanggilnya. Rupanya Jepang itu memerlukan pertolongannya untuk memasang kawat telepon darurat, karena kawat yang lama telah putus oleh sebuah tiang yang juga tertabrak kereta api yang terguling itu. Jepang itu menyuruh Sidin tegak di bawah tiang telepon. Kemudian ia memanjati pundak Sidin yang kurus kerempeng itu, lalu dengan berpijak di pundak itu ia mengikatkan kawat-kawat baru. Sidin keheranan pada dirinya, karena ia mampu mendukung tubuh Jepang yang kekar itu. Bukan hanya sebuah tiang, melainkan sembilan buah tiang yang kawat lamanya telah kendur dan terjela-jela di tanah di sepanjang jalan kereta api itu, ia telah melakukan tugasnya. Sedangkan Jepang yang seorang lainnya, hanya menyenter dengan lampu baterai ke arah kawat darurat itu diikatkan pada tiang.

Sidin tidak merasakan apa-apa ketika tubuh Jepang itu berpijak di bahunya. Sehingga kenangannya pada erangan Mak Gadang ketika digotongnya timbul lagi. Juga pada tubuhnya yang terkulai di saat ia menggotongnya. Lalu pada korban-korban yang diperkirakan telah meninggal, yang digeletakkan terpisah dari yang masih hidup. Didengarnya juga erangan dan rintihan korban yang masih hidup. Dan pikirnya, mungkin korban itu mengerang dan merintih karena nyawanya sedang diregang-regang maut. Kemudian ia ingat pada seorang yang memeriksa mayat demi mayat. Tiba-tiba hatinya menduga bahwa orang itu pastilah pencuri. Oleh dugaan itu, tiba-tiba saja badannya terasa lemah dan tak kuasa lagi mendukung tubuh Jepang itu pada tonggak yang kesembilan. “Anata. Anata,” katanya memperingatkan Jepang yang memegang senter itu agar menggantikannya.

Ketika Jepang-jepang itu telah pergi ke tiang lain, Sidin tersandar keletihan di bawah tiang. Hawa malam terasa dingin dengan tiba-tiba. Hawa malam di lembah pegunungan itu. Dan tak seorang pun dilihatnya. Tempat kecelakaan tak tampak dari situ, terlindung di balik punggung bukit. Ia merasa sangat sendiri. Sehingga rasa kecut merasuk ke dalam dirinya. Sendiri, di malam gelap pada pesawangan, dan tak seorang pun terlihat. Lunglai ia mencoba berdiri dan melangkah ke tempat kecelakaan itu terjadi, karena di sana banyak orang dan rasa kesendiriannya bisa hilang .

Bertambah banyak mayat bertumpuk di tempat ia meletakkan Mak Gadang tadi. Hampir seluruh perempuan yang telah mati, kainnya telah tiada. Hingga kakinya sampai ke pangkal paha terbuka. Sidin cepat-cepat memalingkan pandangannya. Namun selintas ia masih menampak Mak Gadang di tempatnya semula. Mengapa orang tega mencuri kain perempuan-perempuan itu, dan membiarkan tubuhnya telanjang? Pikir Sidin. Rasa dingin malam kembali menerpanya. Baju balcunya yang tipis, yang tadinya basah oleh gerimis, kini sudah kering karena renyai telah berhenti. Tapi hewan malam tak tertahankan. Ia merasa sangat lapar, karena ia tadi belum sempat makan malam ketika berangkat. Dan yang paling menggodanya ialah rasa haus. Lalu ia menuruni tebing sungai di bawah jembatan itu hendak meminum air yang bening mengalir. Teringat pada bagian hulu sungai itu, dibawah jembatan kereta api, masih banyak mayat bertumpuk-tumpuk degan gerbing yang terendam dalam sungai itu. Hilanglah keinginan minumnya. Ia kembali naik ke jalan. Di sebuah lapangan sempit di tikungan jalan yang mulai mendaki dilihatnya irang ramai di sekitar api unggun. Sidin mendekati. Ada orang merebus air pada sebuah ketel. Tapi air itu belum mendidih.

“Di sana. Ada pancuran kecil,” kata seseorang sambil menunjuk ke kaki bukit ketika Sidin menanyakan dari mana air dalam ketel itu diambil.

Sidin yang kehausan melangkah ke arah yang ditunjuki orang itu. Di dalam gelap malam itu, ia melihat pancuran bambu. Airnya jatuh gemericik. Ditampungnya air itu dengan kedua telapak tangannya. Lalu di bawa ke mulutnya. Ia minum sepuas-puasnya untuk menghilangkan haus dan mengisi perutnya yang kosong. Ia minum sampai keluar serdawa dari mulutnya. Kemudian barulah ia dapat melihat situasi dengan lebih jelas. Dan kinilah ia baru tahu untuk apa sarung mayat perempuan diambil orang. Kain itu digunakan untuk tandu menggotong kerabat mereka yang jadi korban. Entah masih hidup korban itu atau sudah mati. Setiap ada korban yang digotong ke kota, diiringi oleh banyak orang. Mereka pulang setelah menemukan korban yang dicarinya, mungkin familinya, mungkin kawannya. Tapi tak banyak lagi orang yang berdatangan dari arah kota. Namuh Sidin masih kebingungan karena tak tahu apayang harus diperbuatnya. Tak seorang pun famili atau kenalannya yang diperkirakannya ikut menjadi penumpang kereta api yang sial itu. Ia datang ke tempat itu hanya untuk melihat peristiwa. Tidak lain maka ia menyesali dirinya sendiri.

Ia kembali ke jembatan jalan umum. Sambil bersandar ke pagar besi di tengah-tengah jembatan itu, dia memandang ke arah jembatan kereta api yang ambruk. Samar-samar, meski diterangi oleh beberapa lampu tekan, ia dapat memperhatikan lebih saksama betapa hebatnya kecelakaan itu. Ia melihat ada tiga gerbong penumpang yang bertindihan. Yang teratas berdiri dengan vertikal setengah miring. Dan tersandar pada kaki jembatan. Beberapa buah gerbong barang terendam berserakan di dalam air. Air itu telah susut jika dibandingkan ketika mula datang tadi. Dan di salah satu pinggir sungai ia melihat orang-orang berbanjar dari tempat gerbong bertindihan itu ke tepi jalan raya. Mereka berdiri dalam kelelahan. Pikir Sidin, mereka itu menanti korban yang dikeluarkan dari gerbong itu, lalu dengan beranting menggotongnya sampai ke tepi jalan raya untuk diperiksadan dirawat oleh tenaga-tenaga kesehatan yang semuanya berbaju putih dan biru tua. Tapi begitu lamanya, tak ada korban lagi di gerbong itu. Kalau memang tidak ada kenapa masih ada orang berbanjar di tepi sungai itu? Kalau masih ada, kenapa begitu lama mereka menanti?

Seperti ada yang mendorong Sidin untuk menyelusup ke dalam gerbong yang terbelingkang itu. la lewati orang yang berbanjar itu.

“Di gerbong paling bawah,” kata orang yang berdiri paling dekat di gerbong itu, ketika Sidin kebingungan hendak memasuki salah satu gerbong. Gerbong terbawah itu tergencet antara gerbong barang dan gerbong penumpang. Pada bagian yang ditimpa gerbong di atasnya begitu remuknya, hingga roda-roda gerbong yang menimpanya terbenam ke dalam gerbong di bawah itu. Sidin memasukinya lewat beberapa jendela yang telah dibongkar tiang pembatasnya. Sebuah lampu tekan tergantung dengan diikatkan pada kayu rak barang.

“Rekas! Rekas! ” kata seorang serdadu J epang menyuruh Sidin yang tertegun hendak memasuki gerbong itu. Sehingga ia tak bisa lagi untuk mundur tersebab rasa ngerinya melihat mayat yang saling berimpitan di dalam gerbong itu. Tapi hanya seorang penolong yang ada di sana, sedang mencoba menarik-narik seorang korban agar terlepas dari tumpukannya. Kenapa hanya seorang penolong saja, pikir Sidin.

Tiba-tiba dari arah jalan raya ada seseorang berteriak-teriak. “Tuan-tuan, kopi, Tuan-tuan!”

Serentak dengan teriakan itu, orang-orang yang berbanjar di sepanjang tepi sungai itu bagai semut yang terpijak sarangnya. Berebut mencari kopi yang diimbau dengan teriakan itu. Dan makian Jepang “Bagero omae! bagero omae! ” tak seorang pun yang mempedulikan. Hanya beberapa orang saja yang tidak beranjak dari tempatnya. Hari memang telah lewat tengah malam. Orang-orang memang telah letih, juga haus, dan bahkan lapar karena tak henti-hentinya bekerja menggotongi korban yang dapat dikeluarkan dari gerbong atau terpental ke dalam sungai.

Tapi Sidin telah berada di dalam gerbong. Anak muda, yang seusia Sidin, satu-satunya orang yang masih menolong untuk mengeluarkan korban dari dalam gerbong itu, tersenyum menyambut kedatangan Sidin. Sidin tidak bisa membalas senyum itu, perasaan ngeri yang sangat menyebabkan seluruh sendinya demikian goyahnya. Dan maki-makian Jepang menyuruhnya segera bekerja, tak mampu menggerakkan semangat Sidin untuk memulai. Ia tersandar pada dinding gerbong. Namun matanya melayang juga ke keliling dengan perasaan ngeri yang tak kunjung hilang. Akhirnya ia melihat anak muda itu mencoba mengangkat korban yang bertumpukan seorang diri. Mungkin korban yang telah mati. Hati Sidin bagai terlecut jadinya. Dan ketika anak muda itu memandang kepadanya, kemudian mengajaknya ikut membantu, Sidin tak sempat berpikir banyak lagi. Berdua mereka mengangkati korban yang telah mati itu dan mengeluarkannya melalui jendela gerbong. Tapi tak ada orang yang menyambutnya. Dan bagero Jepang itu melayang-layang lagi di udara malam itu. Tak seorang pun yang mempedulikannya.

Tiba-tiba terdengar suara mengerang-ngerang dari antara tumpukan korban. Keduanya buru-buru mencarinya. Dengan memindah-mindah mayat-mayat lainnya, seperti orang memindahkan setumpukan karung-karung beras untuk mencari dari mana sumber suara itu. Akhirnya mereka menemukan sumber suara itu. Seorang gadis kecil yang terjepit di antara beberapa mayat yang bertumpukan. Dan mereka berusaha mengeluarkannya, tapi usahanya kandas karena setiap mereka mencoba menariknya, gadis itu selalu terpekik.

Mereka mencoba mengangkat mayat yang di atas gadis itu. Lagi-lagi gadis itu menjerit kesakitan. Lalu mereka mencoba lagi menarik mayat yang lebih di atas lagi. Namun bagaimanapun keras usahanya menarik-narik, mayat itu tak beranjak dari tempatnya. Sidin melihat ada roda gerbong yang menekan ke bawah. Dan itu tak mungkin mereka angkat berdua. Sidin hendak minta tolong kepada orang lain untuk membantu memindahkan roda besi yang menekan itu. Ketika kepalanya keluar dari jendela, seseorang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka. Sidin menerimanya. Secangkir diserahkan kepada temannya dan yang lain segera diminumnya karena dengan tiba-tiba rasa haus dan lapar digoda oleh aroma kopi itu.

“Lagi?” tanya orang yang mengantarkan kopi itu.

Sidin mengangguk. Karena memang secangkir kopi tidak cukup baginya. Tapi ketika ia melihat kepada temannya itu, ia merasa terpukul. Dilihatnya temannya itu tidak meminumnya, melainkan diminumkannya kepada gadis kecil itu. Alangkah lahapnya gadis itu meminumnya. Dan Sidin mengutuki dirinya yang hanya memikirkan dirinya seorang. Kutukan itu dirasakannya kurang cukup untuk mengajari dirinya. Dipukulnya keningnya beberapa kali, sampai tangannya dirasakannya sakit. Dan bersamaan ia dengar hatinya sendiri merintih dan lehernya membengkak serta jakunnya terasa tersendat di lehernya untuk menahan jeritan hatinya keluar dari kerongkongan.

Walau bagaimana pun sudah diusahakan, namun kaki gadis itu tak dapat dilepaskan dari jepitan mayat itu. Mestinya mayat yang di bagian atas itulah yang harus dibongkar lebih dahulu, tapi itu tak mungkin mereka melaksanakannya berdua saja. Sidin lalu menceritakan dengan bahasa isyarat pada Jepang yang kerjanya Cuma memaki dengan bagero itu.

“Potong na. Potong na,” kata Jepang itu seraya memberikan kampak.

Kampak itu diambil oleh temannya sambil menyeringai ketawa seperti ketika ia menyambut kedatangan Sidin tadi. Pikirnya tak mungkin digunakan kampak itu untuk memotong mayat yang menjepit itu. Kalau mesti menggunakannya, ia tak mampu melaksanakannya. Ia keluarkan kepalanya lewat jendela yang dibongkar itu. Pikirnya selintas, mungkin tadi kampak itulah yang digunakan untuk memperlebar lubang jendela itu.

“Seorang gadis terjepit kakinya!” seru Sidin pada orang yang berdiri di atas batu kali, orang yang paling dekat darinya.

“Apa?!” tanya orang itu dengan berseru pula. Tapi suara itu berbaur dengan desauan air yang mengalir, sehingga Sidin hanya melihat mulut orang itu terbuka.

“Kaki seorang gadis terjepit. Minta bantuan tenaga!” kata Sidin berteriak lagi.

“Kopi?” tanya orang itu lagi. Tapi tidak bisa telinga Sidin menangkapnya.

Sidin menggamit orang itu supaya mendekat. Sambil ia berseru meminta dua orang tenaga dengan mengacungkan dua jarinya. Sedang bagero Jepang itu terus juga melayang-layang.

“Dua? Baik. Aku ambilkan,” kata orang itu seraya pergi menjauh.

Sidin menyangka orang itu akan mengatakan pesannya kepada orang terdekat. Tapi ia terus juga melewati orang-orang yang berdiri di tepi sungai itu. Dan Sidin terus juga berteriak-teriak mengatakan apa yang ia perlukan. Di sela oleh bagero Jepang itu. Tak ada orang yang memahami apa yang dikatakannya, karena suaranya ditelan oleh desauan air sungai yang mengalir di sela-sela batu, bagero-bagero Jepang yang melayang-layang, padahal jarak mereka tidak jauh.

Tiba-tiba saja, anak muda yang jadi temannya dalam gerbong yang sial itu, telah berada saja di sisinya. Ia tertawa nyengir seperti waktu menyambut kedatangannya tadi. Sidin bingung seketika, oleh tawa yang pada waktu dan tempat yang tidak sesuai itu, meski hanya menyengir saja.

“Beres,” kata anak muda itu sambil terus menyengir.

Sidin melirik ke tempat gadis kecil itu terjepit. Gadis itu tak di sana lagi. Gadis itu ada di dalam gendongan anak muda itu. Wajahnya diam dan kepalanya terkulai. Dan ketika ia naik ke bangku gerbong tempat Sidin berpijak, maka Sidin turun dari bangku itu untuk memberi kesempatan pada anak muda itu keleluasaan menggotong korban itu. Tapi tiba-tiba ia tidak melihat sebelah kaki gadis itu. Di ujung kaki yang tak terlihat itu ada daging merah yang masih mengucurkan darah. Secara refleks ia menoleh ke tempat gadis itu terjepit kakinya oleh mayat dari korban kecelakaan itu. Di sana ia juga melihat ada daging kaki yang terpenggal dan darah berserakan pada mayat yang di bawahnya. Sebuah kampak tergeletak di dekatnya. Sidin tiba-tiba puyeng dan rebah terhenyak menimpa mayat yang ditaruhnya tadi. Dan Sidin tidak tahu ketika gerbong itu berguncang. Juga ia tidak tahu ketika mayat yang bertindihan yang tadinya dicobanya membongkar terlepas, lalu berguling menimpanya.

Ketika Sidin sadar kembali, ia tidak tahu bahwa waktu sudah hampir dini hari. Karena kegelapanlah yang ia lihat sekeliling. Dan sejajaran benda besar yang lebih hitam bagai hendak menyungkupnya. Dikejap-kejapkan matanya agar bisa melihat lebih nyata benda hitam apakah itu. Lama juga disadarinya bahwa benda besar yang hitam itu adalah bukit barisan dan bagian atasnya adalah langit. Lalu ia tahu, bahwa ia sedang tergolek di udara terbuka. Tapi di manakah sesungguhnya ia berada sekarang, pikirnya. Dan ia memicing lagi untuk memusatkan pikirannya dalam mencoba mengenangkan di mana ia sedang berada. Ketika kesadarannya mulai agak pulih, ia memaksakan dirinya untuk duduk. Tapi tenaganya bagai telah habis, karena tusukan rasa nyeri pada hampir seluruh tubuhnya. Lalu ia memicing lagi, memusatkan pikirannya lagi.

“Anak itu, anak itu. Kenapa dipotong kaki anak itu!” katanya berteriak-teriak sambil bangkit dari berbaringnya, ketika ia ingat peristiwa yang dialaminya terakhir.

Seorang gadis perawat menghampirinya dan merebahkannya lagi seraya membujuk agar Sidin tenang.

“Gadis itu. Gadis itu ia potong kakinya dengan kampak,” kata Sidin berulang-ulang ketika perawat itu berusaha membaringkannya kembali. Sidin tidak mau dibaringkan. Ia terus hendak duduk lagi, sambil berkata tentang kaki gadis yang dipotong dengan kampak itu.

Seorang perawat laki-laki datang membantu temannya.

“Kena syok oleh peristiwa ini, agaknya,” kata gadis perawat itu. Kemudian katanya pula, “Ambilkan kopi.”

Setelah ia minum kopi yang disodorkan kepadanya, Sidin yang sejak tadi terus meracau tentang gadis kecil yang dipotong kakinya, mulai agak tenang. Dan ketika kopi pada cangkir kedua yang disodorkan padanya telah habis diminumnya pula, pikirannya telah lebih jernih lagi.

“Aku tidak apa-apa. Aku tidak jatuh di kereta api. Aku menolong korban di gerbong itu. Seorang gadis kecil kakinya terjepit. Gadis itu masih hidup. Ada orang memotong kaki gadis itu dengan kampak. Di mana gadis itu sekarang?” tanya Sidin.

“O, gadis itu. Ia tidak apa-apa. Sudah diobati. Sudah dibawa familinya pulang,” kata perawat itu lagi.. “Istirahatlah dulu. Saudara terlalu payah. Berbaringlah kembali.”

Nyeri di sekujur tubuhnya terasa lagi. Tapi ketika ia hendak berbaring, ia melihat ke kiri kanannya. Ia menampak banyak orang terbujur di sekitamya. Pada beberapa bagian badan mereka ada yang di balut kain, di antaranya berbecak-becak dengan warna yang gelap. Ia tahu bahwa semua mereka adalah korban kecelakaan kereta api, dan dia sendiri bukan salah seorang di antara mereka. Tapi rasa nyeri di sekujur tubuhnya bagai tak terderitakan lagi. Dan ketika gadis perawat itu membaringkannya kembali, ia menurut saja. Jadi gadis itu tak apa-apa. Sudah dibawa pulang, kata hatinya ketika ia mengingat-ingat apa yang dikatakan perawat itu. Tapi mengapa dibawa pulang? teriak hatinya pula.

Sidin bangun lagi dan berdiri menuju ke tempat perawat-perawat itu berkumpul mengelilingi lampu tekan yang terang benderang. Ketika ia hendak menanyakan ke mana gadis kecil yang dipotong kakinya itu dibawa, Sidin melihat seseorang yang diikat kaki dan tangannya. Ia merasa mengenalnya. Dan orang itu tertawa menyeringai kepadanya. Dan ia ingat itulah temannya dalam gerbong itu. Sidin hendak berkata, ketika seorang perawat laki-laki mendekatinya dan menanyakan keperluannya.

“Dia itu. Dia itu,” kata Sidin tanpa dapat menyelesaikan kata-katanya karena pikirannya belum teratur demi ia melihat anak muda itu masih menyeringai memandang kepadanya.

“Itu orang gila. Menyasar ke sini,” kata perawat itu.

Dan Sidin tiba-tiba nanar. Hampir saja jatuh terkulai lagi ke tanah kalau perawat itu tidak segera menopangnya. Lama kemudian, ketika rasa kejutnya menyurut, timbul pertanyaan dalam kepalanya, kenapa hanya ada orang gila di dalam gerbong itu?

Perasaannya tersenak ketika ia ingat pada gadis kecil yang kakinya dipotong dengan kampak oleh seorang gila. Emosi dan sesalan Sidin tak terbendung lagi. Dan orang pun menyangkanya juga gila.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s