Perempuan Itu Bernama Lara

Lama juga setelah perang usai Si Dali mencari-cari dengar dimana Lara. Pada waktu dia hampir-hampir melupakannya, perempuan itu ditemuinya di Bandara Kemayoran. Pada mulanya keduanya sama terpaku ketika saling pandang seperti tidak percaya pada penglihatan masing-masing. Lalu keduanya saling menyongsong. Si Dali mengulurkan tangan untuk bersalam. Sedangkan Lara mengembangkan kedua tangannya untuk merangkul.Lalu mereka duduk bersisian sambil berbicara tentang macam-macam hal tanpa menyinggung masa lalu yang telah jauh di belakang.

Seperti tiba-tiba saja suara panggilan untuk penumpang jurusan Surabaya terdengar. Lara berdiri. Keduanya berangkulan lagi sebagai sahabat lama yang akrab. Kemudian Si Dali bertanya: “Tadi kau bicara tentang bisnis. Kalau aku boleh tahu, bisnis apa?”

“Oh. Berdagang saja.”

“Dagang apa?”

“Dagang apalagi kalau sudah terlanjur dari dulu. Aku dagang diriku sendiri.” jawab Lara dengan suara datar, seperti padanya tak lagi ada emosi.

Si Dali terhempas duduk ke kursinya lagi. Matanya nanap memandang Lara yang kian menjauh. Tiba-tiba dia seperti kenal betul beda sosok perempuan seperti Lara dengan perempuan karir atau perempuan rumahtangga. Seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, yang duduk pada kursi di belakangnya bertanya: “Anda kenal dia juga, rupanya?”

“Dia isteri komandan kami. Kapten. Meninggal dalam pertempuran dulu.” kata Si Dali seperti kepada diri sendiri.

“Coba kalau aku tahu sebelumnya……” kata laki-laki itu tanpa melanjutkan.

“Mengapa?”

“Tak apa-apa. Akupun kapten dulunya.” kata laki-laki itu seperti orang baru melewati tanjakan.

Si Dali yang dulunya seorang kopral tersentak. Naluri prajuritnya masa gerilya mendorongnya berdiri untuk memberi hormat. Tapi segera ia sadar, masa tabik-menabik telah lama lewat.

“Sejarah menghasilkan kehidupan yang tidak sama. Begitu Lara. Begitu aku. Begitu anda sendiri, barangkali. Hanya nilai moral yang tidak pernah berobah. Hanya kita yang sering lupa. Atau tidak peduli.” kata laki-laki itu.

Lalu mereka berpisah ketika panggilan untuk penumpang ke Padang agar naik ke pesawat. Berpisah tanpa bersalaman. Dalam penerbangan dari Jakarta ke Padang, bayangan peristiwa lama kembali mengambang dalam mata ingatan Si Dali.

***

Tentu saja si Kapten menghiruk-pikuk, memaki-maki bahkan bercarut-carut ketika tahu isterinya minggat. Setahu orang, Lara tidak pernah bertengkar dengan suaminya. Tapi semua orang tidak yakin apabila Lara tidak pernah berselingkuh dengan laki-laki muda ganteng, yang beberapa di antaranya sering bersama Si Kapten. Apalagi sepeninggal Si Kapten pada waktu meninjau front. Biasanya Si Kapten pergi tidak kurang dari sepekan. Kadang-kadang sampai dua pekan. Karena garis frontnya memang luas dan memanjang.

Kepergian Si Kapten sekali ini tidak meninjau front. Melainkan menghadiri rapat komando. Cuma beberapa hari saja. Termasuk perjalanan dua hari pulang pergi. Lara sudah tahu itu. Apa pasal makanya dia minggat. Padahal ketika ditinggal lebih lama dia tidak kemana-mana.

“Kalau dia mau pergi, boleh saja. Masuk kota juga boleh. Perempuan tidak perlu ikut perang. Malah jadi beban. Dulu sudah aku bilang, tinggal saja di kota. Tapi dia tidak mau. Alasannya, dia tidak mau mengkhianati perjuangan. Tapi kini dia pergi. Ke kota lagi. Siapa tahu, dia sudah bosan tinggal di hutan lalu mau khianat.” Si Kapten bertura-tura ketika caci-makinya mulai berkurang.

“Mana Si Dali.” teriaknya kemudian.

Ketika Si Dali tiba, lalu katanya: “Cari dia sampai dapat. Paling kurang, aku tahu kemana dia pergi.”

Menurut aturan dalam pasukan, bila komandan marah-marah, bawahan tidak boleh menjawab. Demikian pula apabila turun perintah, apapun macamnya harus segera dilaksanakan. Tak boleh ada pertanyaan. Kerut kening saja pun tidak boleh. Meski bentuk perintah itu demi kepentingan pribadi. Karena kepentingan pribadi akan banyak mempengaruhi mental komandan.Artinya mental komandan tidak boleh sampai kacau. Jika mentalnya sampai kacau, komandonya pun akan kacau. Perang akan kalah. Maka segera saja Si Dali menghambur.

Si Dali berjalan cepat menyusuri jalan kampung yang tak pernah terawat semenjak perang. Diapun tidak bertanya pada dirinya harus kemana mencari isteri yang minggat itu. Pokoknya ia mesti jalan tanpa memikir apa-apa. Seperti yang selalu dikatakan komandan: bahwa seorang prajurit bila da- pat perintah maju, harus maju. Meski peluru musuh berdesingan. Tidak boleh berpikir apa-apa. Walau maut tantangannya.

Karena bukan robot, akhirnya Si Dali kecapaian juga ketika jalan itu dihadang sungai kecil yang airnya begitu bening. Sambil duduk di atas batu dan menjuntaikan kaki ke air, Si Dali mulai berpikir. Dia mencoba menyelusuri saat-saat terakhir Lara dilihatnya. Yang paling dia ingat benar, perempuan itu memang cantik sekali. Rambutnya ikal. Alis matanya lebat. Dadanya penuh. Betisnya aduhai. Dia pun ingat pada suatu khayalannya, mereka mulai dari bersentuhan tangan, lalu berangkulan. Akhirnya nafas mereka sama ngos-ngosan. Ketika selesai, Lara memasangkan baju si Kapten kepadanya. Lalu melekatkan satu bintang kuning di bahunya. Bintang yang sudah lama disiapkan Si Kapten setelah tersiar cerita bahwa pangkatnya akan naik. Lalu kata Lara: “Engkau lebih hebat dari dia.”

Pada saat itu si Kapten muncul. Tapi dia tidak marah. Malah berdiri tegap sambil memberi tabik kepadanya, seolah-olah Si Dali yang atasan. “Memang enak jadi komandan. Meski salah tetap dihormati.” kata hati Si Dali.

Ketika dia sadar dari lamunan, hatinya berkata: “Prajurit seperti aku, memang hanya dapat berkhayal.” Tak lama kemudian khayalannya berlanjut. “Masih mending berkhayal belum terlarang. Bagaimana jika khayalan itu dibolehkan pula jadi kenyataan, seperti kehidupan di luar ketenteraan? Bayangkan.”

Tiba-tiba seekor kucing air muncul di permukaan sungai. Berlari masuk semak. Di moncongnya seekor ikan menggelepar-gelepar. Sesaat terlayang dalam pikirannya, ikan yang dimoncong kucing air itu ialah Lara yang berusaha lepas dari tangkapan Si Kapten.

“Bagus Lara, kalau kau bisa lepas.” katanya seraya melemparkan batu ke belukar persembunyian kucing itu.

Setelah lima hari mencari tanpa tahu kemana mencari, Si Dali kembali. Mau melaporkan bahwa pencariannya gagal. Tapi kampung yang jadi pos komando sudah kosong. Tak seorang pun dijumpainya. Penduduknya pun tidak. Maka tahulah dia bahwa kampung itu ditinggalkan akibat serbuan musuh. Rumah yang ditempati Si Kapten telah menjadi puing. Hitam terbakar. Sisa apinya masih mengepulkan asap. Asap yang tipis.

Di tangga rumah di lereng bukit Lara sedang duduk termangu. Ditemani perempuan setengah baya yang berselubung kain batik lusuh. Keduanya senang melihat Si Dali datang. Si Dali pun senang, karena tugas yang diperintahkan kepadanya telah selesai. Lara telah ditemukan. Sejenak dia ragu, karena menyangkakan itu lagi-lagi khayalan belaka.

Dan malam pun tiba. Lama-lama semakin larut. Si Dali tidak bisa tidur. Lalu duduk di tangga tempat Lara duduk termanggu siangnya. Udara terasa mulai dingin. Dia mulai berkhayal, khayalan yang kian kacau. Tak bisa dibedakannya antara khayal sebagai kenyataan dengan kenyataan sebagai khayal ketika tiba-tiba Lara sudah duduk pula di sisinya. Keduanya sama diam. Tapi pikiran Si Dali tidak keruan oleh bau tubuh perempuan yang sudah lama menggemaskan hatinya itu.

“Aku tidak bisa tidur. Kau juga?” kata perempuan itu setelah lama mereka sama membisu. Pikiran Si Dali yang kacau mulai membentuk khayal laki-lakinya. Lambat laun pikiran itu tidak lagi khayalan. Kemudian sekali, di sisi perempuan baya yang mendengkur dalam tidurnya lewat tengah malam, Lara berkata sepelan bisikan ke telinga Si Dali.

“Kau tahu Si Kapten lebih doyan anak jawi*) daripada aku, isterinya?”

Si Dali mendengus.

“Kau tahu aku disuruh tiduri oleh anak jawinya sebagai imbalan?”

Si Dali mendengus lagi.

“Kau kira aku senang?”

“Dapat perjaka silih berganti, mengapa tidak senang?” kata Si Dali dalam hati.

“Aku benci digermoi suamiku. Aku muak melayani anak ingusan. Aku inginkan laki-laki matang seperti kau.”

Perasaan Si Dali seperti balon hampir pecah oleh tiupan angin kencang yang berapi.

“Sejak mula kawin aku sudah curigai dia peranak jawi. Maka itu aku ikuti dia bergerilya. Supaya perangainya tidak berkelanjutan. Justru di sini aku digermoinya.” lanjutnya. Setelah agak lama terdiam dia berkata lagi. “Aku pernah memancingmu. Tapi kau tidak acuh. Mengapa?” tanya Lara agak lama kemudian.

“Apalah aku, seorang prajurit kacungan. Bagaimana bisa bersaing dengan perjaka yang cakap-cakap itu.” jawab Si Dali dalam hatinya. Kemudian katanya: “Engkau istri komandan. Bagaimana jadinya aku bila ketahuan. Bagaimana perang ini jadinya bila komandan dikhianati prajurit?”

“Kalau komandan mengkhianati istrinya, menjadikan anak buahnya sebagai anak jawi?” Lara berkata seperti tidak untuk dijawab.

Lama sebelum perempuan itu tidur lagi, Si Dali bertanya: “Kemana saja kau hilang beberapa hari ini?”

“Aku muak digermoi. Aku mau ke kota. Tapi di jalan aku bertemu patroli musuh. Ngeri bertemu mereka. Lebih ngeri bila mereka meniduriku. Maka aku kembali.” kata Lara.

Setelah beberapa lama hening, Dali bertanya lagi: “Bagaimana cara hidupmu begini berakhirnya?”

“Aku pikir ini masih permulaan.”

“Permulaan?”

*) Anak jawi = anak muda pasangan laki-laki homo.

“Kata suamiku, ia berperang karena menjadi tentera. Ia menjadi tentera untuk mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Setelah merdeka, sampailah cita-cita pemimpin bangsa. Maka tentera tidak diperlukan lagi. Dia akan jadi pengusaha untuk mengisi kemerdekaan itu, kata- nya”. kata Lara dengan suara yang lusuh.

“Engkau akan jadi isteri pengusaha besar. Betapa enaknya buah kemerdekaaan itu bagimu.” kata hati Si Dali.

“Aku kira aku akan merana bila dia sukses jadi pengusaha.”

“Merana?” tanya Si Dali karena tidak paham.

“Kalau dia kaya, seperti halnya orang berobah nasib secara mendadak, anak jawinya akan lebih banyak. Lalu aku akan cepat menjadi tua. Mengerikan.”

Hati Si Dali tersentuh hiba. Lalu dia memeluk Lara erat-erat. Mereka terbangun ketika perempuan baya membawakan mereka dua cangkir kopi panas, yang masih dapat ditemukannya pada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Si Dali mencubit pahanya kuat-kuat untuk tahu apakah ia berada dalam khayalan? Cubitan itu terasa sakit. Dan tiba-tiba ada rasa rikuh karena merasa tepergoki. Tapi kedua perempuan itu tidak rikuh.

Berhari-hari kemudian terberita Si Kapten terbunuh pada suatu serangan musuh. Lara bergegas mengemasi miliknya. Lalu berangkat ke kota. Karena ditinggalkan tanpa pamit, Si Dali meyakinkan dirinya bahwa segala yang terjadi semata mimpi dari masa silam yang telah lama lewat. Mimpi yang panjang. Mimpi yang tak kunjung hilang dalam kenangan. Kenangan yang bukan peristiwa yang dapat dicatat oleh buku sejarah.

***

Ketika kakinya mencecah landasan Bandara Tabing, sejenak dia termangu. Kenangan kepada Lara ditindih oleh pikiran yang kemudian diucapkannya: “Lara berdagang dirinya untuk menggapai hidup yang lebih baik. Aku? Aku tidak berdagang, tapi tergadai. Ya, tergadai.”

Demi melihat banyak orang di gedung terminal, Si Dali bertanya pada dirinya. “Apa mereka juga tergadai seperti aku? Kalau ya, apa mereka bisa menebusnya? Kalau seperti Lara, berapa lama dagangannya diminati?”

Tiba-tiba Si Dali tidak merasa kakinya di atas beton landasan. Kakinya seolah terangkat oleh pikirannya yang terbang mengawang.

1 September 1996.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s