Sang Guru Juki

Juki bukan tentera. Dia guru. Sebenarnya dia tidak perlu ikut-ikut menyingkir ke pedalaman pada masa perang itu. Ikut tidaknya dia, tidaklah akan menentukan menang-kalah mereka yang berperang. Kalau dia merasa perlu juga ikut, alasannya cuma satu: agar tidak disangka mengkhianati teman-teman yang berjuang menegakkan kebenaran. Juga menurutnya, semua orang harus meninggalkan kota agar musuh tahu bahwa rakyat tidak menyukainya. Kalau itu tidak mungkin, semua orang terpelajar yang harus menyingkir. Aku pikir taktik itu benar juga. Maka istrinya, Rosni, dengan dua anaknya yang masih kecil ditinggalkan pada mertuanya di kota. Karena perempuan tidak perlu ikut perang. Apalagi membawa anak-anak yang masih bayi. Mereka akan jadi beban perang saja, katanya memberi alasan pada istrinya.

“Perang ini tidak akan lama. Hanya tiga bulan. Paling lama enam bulan. Musuh tidak akan mampu berperang lama-lama.” dia menambahkan.

Berpisah dengan anak dan isteri di masa perang, untuk masa tiga-empat bulan pertama, bukanlah masalah berat. Apalagi di desa pengungsian Juki menumpang tinggal di rumah seorang muridnya. Murid perempuan yang menerimanya dengan segala rasa bangga dan hormat seorang murid kepada guru. Apalagi kepada guru yang ikut berjuang. Tapi setelah empat bulan masa berlalu, tanda-tanda perang akan cepat berakhir tidak terlihat, batinnya pecah berantakan. Dalam sepotong hatinya ada rasa malu karena dilayani demikian ramah, tanpa perlu memberi apapun. Dalam sepotong hati sisanya, Sitti, murid yang penuh perhatian mengurus kepentingannya terasa sebagai seorang wanita. Juki tergoda. Sitti dipeluk dan diciumnya. Mulanya pada pipi. Lalu seterusnya pada bibir. Dan kemudian mereka kawin. Maka lupalah Juki pada anak dan istrinya yang di kota.

Ketika Sitti mulai mengandung, desa itu diserbu dan diduduki musuh. Juki yang semula jadi guru, kemudian ikut-ikut aktif menjadi pejuang, tidak bisa lain selain harus mengungsi lagi ke pedalaman yang lebih dalam. Karena dia tidak mau ditangkap musuh yang konon tenteranya suka main tangan sampai popor senapan. Di desa pengungsian kedua, Juki diajak tinggal di rumah seorang muridnya yang laki-laki. Oncon nama panggilannya. Dia pikir, dia akan aman. Akan tetapi ibu Oncon, Bedah, sudah lama menjanda dan usianya hanya dua tiga tahun lebih tua dari Juki.

Kata orang, setiap laki-laki yang pernah berulang kawin, tidak sulit mengulangnya berkali-kali. Juki laki-laki yang seperti itu. Apalagi jauh di pedalaman yang tidak diketahui berapa lama lagi dia harus mengungsi. Lewat sebulan tinggal di rumah Ibu Oncon, maka kawin lagilah dia.

Kawin dengan perempuan yang sudah lama menjanda, Juki dimanjakan benar. Dia dibelikan dua stel pakaian dalam dan piyama yang berbeda warnanya. Sepasang sandal kulit model kepala buaya serta sarung pelikat dan baju model gaya Betawi yang putih berterawang. Semua serba baru. Dengan itulah Juki dibungkus keseharian kemanapun dia pergi di desa pengungsian itu. Sedangkan pakaian yang dibawanya dari kota tak pernah dikenakannya lagi. Karena dia tidak tahu dimana disimpan istrinya. Namun Juki maklum akan siasat istrinya, bahwa dia tidak akan dilepas perempuan itu mengungsi lagi bila musuh datang menduduki desa itu. Karena bagaimana mungkin seseorang ikut bergerilya terus dengan mengenakan piyama. Tidak lucu, pikirnya.

“Kawin di daerah gerilya, tergantung pada kefaedahan. Lebih dari itu tergantung pada nyali.” kata Juki pada Si Dali ketika mereka ketemu.

“Konyol kamu.” kata Si Dali.

“Kau pikir enak jika menumpang di rumah orang tanpa memberi apapun? Enak, ya memang enak. Tapi hatiku ini yang merasa tidak enak. Tidak ada jalan lain, Si Janda dapat suami, aku dapat makan. Impaslah.” kata Juki seperti seenak perutnya.

“Jika desa ini diduduki musuh pula, bagaimana kau?”

“Daripada ditangkap dan dipenjarakan musuh, ya, biarlah ditangkap janda lagi. Apa salahnya? Halal.” jawab Juki.

Jawaban itu menyeruduk nilai moral dalam perut Si Dali. Karena beberapa hari sebelumnya dia memprotes sobatnya, Mayor Ancok, yang membiarkan anak-buah memperkosa perempuan di desa itu. Ancok menjawab santai: “Perang menempatkan prajurit tidak punya pilihan lain daripada membunuh atau terbunuh. Maka itu pertistiwa perkosaan, perampokan dan penyiksaan tidak berarti apa-apa dibanding dengan kematian demi tanahair. Dimana-mana pun begitu. Perempuan bahkan dijadikan sama dengan barang rampasan. Dan apa salahnya bila anak buahku hanya memakai, bukan merampas perempuan itu.”

“Perang ini, perang orang sebangsa, Ancok.” tangkis Si Dali yang pada prinsipnya tidak menerima perlakuan durjana tentera terhadap penduduk. Karena menurutnya, jika tentera itu tidak ganas, tapi memperlakukan penduduk sebagai bangsa yang disantuni, perang itu akan selesai sebelum banyak korban berjatuhan.

“Wah, bacalah sejarah. Di zaman Nabi pun ketika orang Arab berperang antara sesamanya sudah begitu. Simaklah sejarah masa itu.” kata Ancok.

Si Dali tidak bisa menerima dalil itu, apalagi dengan mengaitkannya dengan Nabi yang junjungannya. Dia memang tidak tahu benar sejarah peperangan Nabi. Namun menurut logikanya, Nabi tidak akan membenarkan pasukannya merampok dan memperkosa musuh-musuh yang ditaklukkan. Oleh karena peperangan Nabi mengandung misi yang amat mulia, misi kesucian agama. Bagaimana musuh bisa ditaklukkan dan menerima Islam apabila pasukan Nabi sama ganas dengan tentera jahiliah. Lalu katanya dengan emosi tak terkendali: “Zaman itu dengan zaman sekarang beda. Perang sekarang terikat dengan konvensi internasional.”

“Naif betul kau Dali. Justru perang sekarang yang jauh lebih kejam dari masa dulu. Meski bom atom dilarang, namun akibat bom napalm tak kurang ganasnya ketika ditembakkan ke desa. Itu yang berlangsung sekarang, Dali.” kata Ancok seraya menepuk-nepuk bahu Si Dali tanpa peduli yang Si Dali tidak suka diperlakukan seperti anak sekolah bila ditepuk bahunya oleh guru.

“Bagaimana perasaanmu apabila isterimu atau anakmu diperkosa musuhmu?” tanya Si Dali kemudian.

Ancok tidak segera menjawab. Sesaat air mukanya berobah. Jari-jemarinya kentara gementaran. Dengan nada suara yang rendah, Ancok berkata: “Itulah risiko perang.”

“Berapa kali lagi kau akan mengungsi apabila perang ini masih akan berlanjut.” tanya Si Dali lagi pada Juki.

“Kau mau tahu juga berapa kali aku akan kawin lagi, bukan? Itu tergantung.” jawab Juki seenaknya.

Lama kemudian barulah Si Dali bertanya lagi. “Bagaimana kau mengemasi isteri-isterimu nanti bila perang berakhir?”

“Kau pikir hidup perempuan-perempuan desa itu bergantung pada suaminya? Mereka perempuan yang mandiri. Mereka punya rumah, punya tanah, punya ladang untuk menjamin hidupnya.”

“Tapi dimana letak moralnya?”

“Moralnya? Moralnya adalah pada kebanggaan orang desa dapat suami orang kota seperti aku. Guru lagi.”

“Yang aku tanya bukan mereka. Tapi waang sebagai guru.” kata Si Dali dengan menggunakan kata waang sebagai ganti kata “engkau” yang lebih kasar dalam bahasa daerahnya.

“Biar guru, waktu perang moralnya beda.”

“Tapi kamu tidak ikut perang. Cuma kawin melulu.”

“Moral perang orang Minangkabau masa dulu menjadikan aduan kerbau daripada mengadu manusia untuk berbunuhan.”

“Ah, itu sama dengan judi dalam dongeng.”

Mereka berdebat terus tak putus-putusnya. Si Dali dengan emosi. Sedangkan Juki tak pernah kehilangan helah. Yang melerainya beduk Magrib ditabuh orang. Melerai perdebatan, bukan pandangan hidup mereka.

***

Tiba juga gilirannya desa itu diduduki musuh, Semenjak itu Si Dali tidak pernah ketemu Juki lagi. Entah kemana dia lari. Menurut sangka Si Dali, di setiap desa pengungsian Juki pasti menikah lagi.

Pada pengungsian terakhir, yakni setelah desa pengungsian Si Dali ke lima diduduki musuh pula, dia diangkut ke kota sebagai tawanan. Pada mulanya dia disekap bersama puluhan tawanan lainnya di salah satu gudang dalam komplek asrama batalyon. Selama tiga bulan. Selama jadi tawanan itu, Si Dali merasa arti dan harga dirinya sebagai manusia betul-betul tidak ada lagi. Dia dihina, dicaci, dipukul sampai hampir seluruh tubuhnya membiru dan juga disulut dengan api rokok.

Waktu mengambil makanan dia harus antri dengan berjongkok. Si penjaga mendorong piring nasinya dengan kaki. Dia ingat film “Stalag 17” yang dibintangi William Holden, mengisahkan tentera Amerika dalam kamp tawanan Nazi Jerman pada masa Perang Dunia Kedua. Tidak ada penyiksaan oleh tentera pemenang terhadap musuh yang kalah. Karena penderitaan itulah setiap selesai sembahyang Dali berdoa kepada Tuhan: “Ya, Tuhan, berilah semangat kawan-kawanku agar bertempur terus. Karena itu lebih baik dari pada jadi tawanan.”

Si Dali tidak tahu, apakah doanya dikabulkan Tuhan. Yang dia tahu, ketika dipindahkan ke penjara umum, bekas luka bakar oleh api rokok telah sembuh. Hanya bekas-bekas saja yang menghitam. Kulit tubuhnya yang biru memar oleh bekas pukulan dan tendangan tidak terlihat lagi. Tapi dagunya miring ke kanan dan sebagian giginya rontok.

Di penjara itulah Si Dali ketemu Juki lagi. Sekilas saja dia sudah tahu itu temannya. Tapi Juki seperti tidak mengenalnya atau tidak mau mengenalnya lagi. Juki menempati ruangan di samping kantor sipir. Sedangkan Si Dali pada bangsal berbau kencing, yang ditempati oleh lebih dari dua puluh orang, hingga tidurnya berdesakan pada balai-balai besar yang terpasang dari dinding depan ke dinding belakang. Tengah malam, bila ada yang mau kencing, lepaskan saja di lantai. Besok pagi disiram lagi. Namun baunya tak kunjung hilang.

Dari omong-omong sesama tahanan, di penjara itu ada dua golongan tahanan. Yang mendapat kamar untuk empat tempat tidur sejajar dengan kantor penjara, ialah tahanan politik. Sedangkan yang lain sebagai penjahat perang. Yang tersangka sebagai penjahatan perang, sewaktu-waktu ada yang diambil tengah malam dan tidak pernah kembali. Si Dali tergolong penjahat perang. Antara kedua golongan tahanan itu tidak boleh berkomunikasi. Pada mulanya tahanan politik dapat menerima kunjungan istri atau keluarga sekali sebulan. Kemudian dua kali sebulan. Tidak demikian dengan tahanan penjahat perang. Tidak dibenarkan menerima tamu.

Bedanya dengan ruangan tahanan batalyon, di penjara tidak ada lagi terdengar suara pekikan tawanan yang kena pukul. Akan tetapi rasa ketakutan masih terus mencekam. Karena hampir setiap malam ada saja tawanan yang dijemput orang-orang bersenjata, tapi tidak pernah kembali lagi. Kalau ditanya kepada pengawal penjara, jawabnya singkat saja. “Sudah dikirim ke bulan.” Dan itu artinya mereka tidak di dunia lagi.

Yang dinamakan tempat mandi di penjara itu letaknya di tengah halaman terbuka. Di sekitarnya blok ruang tahanan. Ada dua sumur persegi empat yang panjang. Pada masing-masing sumur disediakan empat timba bertali. Delapan timba untuk seratus lebih tahanan yang harus selesai mandi dan berak selama satu jam. Tentu saja tidak mungkin semua mereka bisa mandi. Paling-paling hanya bisa membasahi badan dengan seember air.

Di sana, pada suatu hari Si Dali ketemu bermuka-muka dengan Juki. Tapi bukan waktu mandi. Melainkan ketika Si Dali bertugas membersihkan ruang mandi pada waktu menjelang tengah hari, Juki datang hendak mengambil air wuduk untuk sembahyang berjemaah tahanan politik. Meski tidak berpelukan, pertemuan kedua sahabat itu hangat juga. Juki mengguncang-guncang tangan Si Dali kuat sekali. Hanya sebentar, tangan itu dilepaskannya. Dia mundur selangkah sambil menatap seluruh tubuh temannya. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan pancaran wajah yang hiba.

“Jangan ceritakan apa-apa. Aku sudah tahu yang kau alami. Puluhan, mungkin ratusan orang yang mengalami seperti yang kau derita. Kuatkan hatimu. Perang ini sudah akan berakhir. Tak lama lagi. Begitu koran memberitakan.” kata Juki. Dan seperti tiba-tiba ingat sesuatu, Juki bertanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong piyamanya. Piyama yang dibelikan istri ketiganya dulu. “Kau merokok?”

“Tidak.” kata Si Dali sambil menggeleng.

“Kasi pada temmn-temanmu. Di penjara rokok sulit.” Kata Juki lagi.

Ketika mereka hendak berpisah Si Dali bertanya: “Juki, kenapa kau bisa jadi tahanan politik?”

“Menggunakan ini.” kata Juki sambil mengetok-ngetok batok kepalanya dengan jari telunjuk.

***

Si Dali tidak menyesali jalan hidupku yang dia rancang dan lalui. Karena dia menghayati benar makna tulisan H. Agus Salim dalam buku “Takdir, Iman dan Tawakal.” Maksudnya kira-kira: “Ada takdir yang tidak bisa dipikirkan akal, yaitu lahir dan mati. Lainnya, takdir yang datang karena bersebab dan berakibat. Karena manusia berbuat sesuatu pada suatu waktu dan pada suatu tempat, maka berakibat tertentu pada diri sendiri. Berbuat dan berakibat oleh perbuatan itulah yang harus dipikirkan oleh akal supaya hidup selamat dunia dan akhirat.”

Si Dali telah memilih hidup ikut berjuang bersama teman-teman sepaham, yang dia tahu apa akibatnya: menang atau kalah. Si Dali tentu berpikir untuk menang. Tapi ternyata perangnya kalah. Menurutnya, itulah kelemahan akalnya ketika hendak memulai. Maka itu, meski sangat menderita, dia tidak menyalahkan takdirnya. Tapi yang menjadi pikirannya ialah perilaku Juki. Takdir apakah yang diberikan Tuhan dengan akalnya itu. Seandainya perang mereka menang, Juki akan dianggap sebagai pejuang yang menang. Tapi nyatanya perang mereka kalah, namun Juki tidak menderita separah Si Dali. Kalau Juki pun dipenjara kondisinya lebih enak. Kalau itu dinamakan pemanfaatan akal, akal apa yang dia pakai? Apakah karena perjalanan akal berasal dari wa- tak turunan atau lingkungan mereka yang berbeda? Sampai keluar dari penjara, dia tetap tidak mampu memecahkan masalah takdir. Sampai di situ dia berhenti berpikir.

Bagi Si Dali tidaklah penting lagi memikirkan beda takdir yang mereka alami bersama Juki. Pokoknya mereka telah kembali ke kehidupan bermasyarakat. Masa lalu telah lewat. Tidak perlu diratapi lagi. Perjalanan hidup masa datang lebih penting dipikirkan dibanding dengan masa lalu. Namun ketika dia ketemu dengan Marwan, teman sama-sama mengungsi dulu, sosok Juki tampil lagi dipermukaan.

“Dia? Si Juki itu? Apa yang penting baginya selain dari dirinya sendiri? Istrinya bisa dia berikan pada orang asal dia bebas dari tahanan.” kata Marwan dengan sinis.

Otak Si Dali berbinar-binar antara percaya dengan tidak dan ingin tahu istrinya yang mana yang tega dia korbankan. “Kau ingat Baiyah, isterinya yang ketiga? Ibu si Oncon? Dia tidak mau melepas Juki mengungsi lagi ketika APRI menduduki kampung itu. Akibatnya dia ditawan. Ketika dibawa ke kota, Baiyah ikut. Ditemuinya Komandan Resimen. Dia minta agar Juki dibebaskan. Komandan itu hanya bisa mengubah Juki sebagai tawanan politik. Asal….” Marwan menggantung kalimatnya.

“Asal?”

“Maklum. Komandan pertempuran biasa berpikir praktis dan bertindak cepat. Lalu….”

“Lalu apa?” tanya Si Dali ketika Marwan menggantung kalimatnya lagi.

“Baiyah masih muda. Komandan itu membawanya tinggal di rumahnya. Bertugas sebagai nyai. Dan ketika komandan itu pindah, Baiyah seperti inventaris yang dioperkan. Sampai Juki dibebaskan setelah perang usai.”

“Apa kata Juki?”

“Mana aku tahu apa katanya. Karena aku tidak pernah ketemu dia. Menurut kabarnya Juki diterima kerja di Departemennya. Berkat bantuan paman si Baiyah.” kata Marwan kian sinis.

Dalam hati Si Dali tertanya-tanya: “Siapa sebetulnya yang berkorban atau yang dikorbankan?” Jalaran pikirannya berlanjut pada istri Juki yang lain. Rosni dan Sitti. Apakah mereka ikut berkorban atau jadi korban? Ataukah ikut terseret oleh perjalan takdir yang berputar di sekitar sumbu sejarah. Bila benar, apa makna manusia sebagai orang seorang sebagaimana makhluk Tuhan? Lama kemudian Si Dali memperoleh kesimpulan bahwa perang dibangun oleh manusia yang saling punya super ego. Kehancuran dan kemusnahan atas manusia tidak lain daripada kiamat yang dijanjikan. Dalam masa kiamat setiap makhluknya akan menemui dirinya sendiri, sebagai yang beriman atau sebagai pengikut Dajjal yang menjanjikan kenikmatan atas kesengsaraan orang lain.

Kesimpulan itu telah meredakan kebalauan pikirannya. Sehingga dia bisa tertidur. Tapi dalam mimpinya, kasus Juki mengapung lagi dengan pertanyaan: “Termasuk golongan makhluk apa sahabatnya itu?”

***

Bertahun-tahun kemudian Si Dali ketemu juga dengan Juki. Sudah sama-sama tua. Selain dari hampir seluruh kepalanya kehabisan rambut, kondisi fisik Juki lebih kokoh dan gerakannya masih gesit. Demikian pula waktu ketewa mulut Juki lebih lebar. Sebenarnya Si Dali ingin bertanya banyak. Namun keinginan itu dilepaskannya. Menurutnya, buat apa menanyakan kebahagiaan orang. Lebih afdol menanyakan kesulitan hidup orang sebagai tanda prihatin.

Setelah mengudap beberapa potong gorengan dan mereguk kopi di restoran mungil itu, sambil bicara hilir mudik, akhirnya Juki bercerita juga tentang dirinya. Bahwa selama di Jakarta Juki telah tiga kali lagi menikah, tidak menarik hati Si Dali. Orang seperti Juki yang tukang kawin, akan terus kawin lagi bila ada kesempatan. Orang yang tukang kawin, otomatis jadi tukang cerai istri. Selalu punya alasannya untuk kawin lagi dan untuk cerai lagi. Namun Si Dali ingin tahu juga tentang Baiyah yang selalu berusaha dengan caranya untuk menjaga Juki agar tidak kesulitan.

“Dia selalu menuntut lebih dari kemampuanku dengan menyebut-nyebut usaha dan pengorbanannya di masa lalu. Seperti menuntut imbalan. Kau tahu apa yang dinamakannya korban? Apa itu betul-betul bernama korban?” kata Juki setelah lama juga mereka terdiam.

Setelah mengalih bahan omongan ke berbagai situasi politik yang sedang berlangsung, Si Dali terkaget dalam hatinya ketika Juki menceritakan, bahwa istrinya yang terakhir perempuan Belanda. “Dulu dia mengajar di IPB. Sering ketemu aku di Departemen. Dia kerasan tinggal di sini. Ketika kontraknya hampir habis, dia bingung. Lalu aku katakan: “Jangan bingung. Kawin dengan orang Indonesia. Kalau kau mau tinggal terus di sini.” Lalu apa katanya? Kau tahu? “Apa kau mau?” katanya. Tentu saja aku bilang. “Kenapa tidak?” Kini dia jadi konsultan di BTN.”

“Kau pikir perkawinan demikian bisa langgeng?” tanya Si Dali.

Sebelum selesai Si Dali bicara, Juki lantas memotong. “Ah, itulah kau. Sejak dulu tidak mau berobah. Selalu berpikir serius. Pada hal dunia ini tempat hidup serba main-main. Untuk main-main orang buat panggung untuk pesta musik dan teater. Atau arena olah raga besar untuk pesta olimpiade. Anak kecil main gundu. Orang dewasa main golf. Kalau habis untung perkawinan, ya bubar. Tak usah dipikirkan amat.”

Hampir saja Si Dali mau muntah karena ada perasaan mual berat pada perutnya. Sampai mereka berpisah rasa mual itu masih dirasakannya.

Kayutanam, 1 Juli 1990.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s