Si Montok

Untuk melanjutkan perjuangan setelah musuh menduduki semua kota, Si Dali menyingkir ke sebuah desa di balik bukit peladangan tebu. Dengan dua teman sesama prajurit Si Dali dapat menempati rumah yang berkamar satu. Tapi mereka tidak tidur di kamar itu. Melainkan pada satu-satunya ruangan yang ada. Tidur berdesakan. Kamar itu sendiri ditempati Si Montok dan anaknya yang berusia empat tahun, Amir. Bertiga dengan ibunya. Kamar itu sendiri tidak berpintu. Tapi di depannya, sejajar dengan ruang sempit jalan ke dapur, menjadi ruang tidur ayah Si Montok.

Si Montok, janda dengan satu anak itu berpotongan seperti namanya. Montok yang aduhai, menurut ketiga prajurit itu. Maka adalah masuk akal apabila ketiga prajurit itu sama berselera kepadanya. Meski sama berjuang melawan musuh bersama, mereka sama bersaing memperebutkan hati janda itu. Masuk akal jika dikaji bahwa mereka telah bertahun berpisah dengan isteri masing-masing. Isteri yang mereka tinggalkan di kota. Isteri yang tidak patut dibawa ikut berperang. Sehingga ketiganya sudah bertekad dalam hati masing-masing, apabila datang lagi serbuan musuh yang pertama-tama dibawa ikut lari ialah Si Montok.

Namun Si Dali yang mendapat tanggapan lebih dari janda itu. Tentunya karena Si Dali yang lebih tinggi pangkatnya. Awal kisahnya sederhana saja. Kebutuhan air isi rumah itu pada sungai kecil di kaki bukit. Setiap hari mereka harus turun-naik bukit itu kalau memerlukan air. Ketiga prajurit itu selalu turun dan naik bersama. Seperti ada perjanjian rahasia, tidak seorang pun yang boleh tinggal di rumah apapun alasannya. Berdua pun tidak. Ketiganya seperti sepakat pula, mereka akan selalu beriringan dengan Si Montok ke sungai kecil itu. Dan semua sama ingin membantu membawa beban Si Montok, seperti air di perian, kain cucian. Berbuat baik seperti pekerja sosial. Sehingga tidak seorang pun yang dapat berjalan sendirian bersama janda itu.

Dalam situasi itu, yang kurang cerdik menjadi santapan yang lebih cerdik. Dan yang lebih cerdik rupanya Si Dali. Perhitungannya yang paling pas. Ia memilih beban yang paling berat. Yaitu menggendong Amir yang kecil di atas bahu. Sambil mengkelakarinya sepanjang jalan, sehingga si kecil terpingkel tawanya. Ibu yang janda mana yang tidak suka pada laki-laki yang disenangi oleh anaknya?

“Seperti anakku.” kata Si Dali pada suatu ketika pada Si Montok seolah ia memenuhi rasa rindu pada anaknya yang di kota.

“Kalau Amir maukan Uda jadi ayahnya, tergantung pada Udalah itu.” kata Si Montok membalas sambil mengerling.

“Katakan kepadanya. Ini zaman perang. Jangan dia sampai dua kali kehilangan ayah.” kata Si Dali.

Si Montok menatap Si Dali dengan matanya yang berkaca-kaca. Tidak lama benar. Tanpa berkata dia pun berlalu. Si Dali marah pada dirinya sendiri. Menyesali ucapannya. Dan sesal itu tidak bisa diperbaiki. Sesal yang betul-betul tidak ada gunanya. Karena beberapa hari kemudian seorang kapten datang bermalam dalam suatu perjalanan inspeksi ke garis depan. Setelah matanya nanap menatap Si Montok, lalu malam yang semalam menjadi berketerusan. Dan rumah kecil di lereng bukit peladangan tebu itu akhirnya berobah menjadi pos komando. Maka Si Dali beserta temannya tergusurlah.

“Semalam saja. Aku capek setelah berhari-hari jalan terus.” kata kapten itu pada mulanya dia datang.

Mungkin karena sifat seorang komandan yang harus mampu bertindak tegas dan cepat, maka sebelum tidur pada malam pertama ia datang, kapten itu melamar Si Montok pada ayahnya. Tak obahnya orangtua itu seperti mendapat pohon durian rebah, sehingga tidak perlu memanjat dulu untuk memetik buahnya. Maka lamaran kapten itu diterima.

“Sekarang saja nikahnya.” kata kapten itu selanjutnya.

“Tapi rumah kadi amat jauh.” kata ayah Si Montok.

“Menurut agama, yang berhak menikahkan anak perempuannya, ayahnya sendiri, bukan?” kapten itu memberi alasan.

Malam itu juga pernikahan itu terjadi. Si Dali ikut menjadi saksi. Dan malam itu juga Si Dali dan temannya tergusur seolah seperti musuh datang menyerbu lagi. Bila dulu mereka pergi begitu saja dari kota seperti seharusnya sudah begitu, maka kini Si Dali pergi membawa gerutu dan caci-maki. Juga menyesali diri sendiri.

***

“Engkau pasti akan jadi ganjal batu* bila perang usai.” kata Si Dali pada Si Montok ketika mereka ketemu.

“Sama saja, Uda. Uda pun akan meninggalkan orang kampung ini bila perang usai.” kata perempuan itu.

“Itulah yang jadi pikiranku, maka aku tidak melamarmu.” kata Si Dali seperti membela diri.

“Yang tidak Uda pikirkan, pikiranku.”

“Apa yang jadi pikiranmu?” tanya Si Dali setelah lama merenung-renung maksud kata-kata perempuan itu.

“Uda seperti tidak perlu perempuan. Padahal sudah lama aku ingin laki-laki.” kata janda yang baru saja menikah itu.

Tiba-tiba Si Dali nanar. Ketika ia sadar, Si Montok sudah berlalu membawa tubuh sintalnya yang aduhai sambil menggerai-geraikan rambutnya yang habis keramas.

***

Sekitar masa setahun sehabis perang Si Dali menyukuri diri karena tidak sampai menikahi Si Montok. Soalnya, setelah perang usai seluruh tentera kembali ke kota. Maka tinggallah desa-desa yang telah memberi pelindungan hidup pada pejuang-pejuang itu. Si Montok pun ditinggal. Sama seperti desanya. Maka orang kota, seperti kapten itu juga, sama lupa pada desa-desa tersebut. Juga lupa pada janin yang sehat pada perut Si Montok. Janin yang kemudian menjadi bayi laki-laki yang bugar.

Pada suatu hari, dengan perasaan sangat bangga, Si Montok datang ke kota menemui Si Kapten yang telah jadi mayor untuk memperagakan anak mereka. Celakanya, Si Montok menemui mayor di rumahnya. Tentu saja isteri mayor naik pitam ketika mendengar bahwa bayi itu adalah anak suaminya yang dilahirkan Si Montok. Diambilnya pestol yang tergantung di dinding kamar tidur. Diledakkannya. Pelurunya bersarang di lengan kanan mayor. Ketika di rumah sakit, lengan itu dipotong. Karena lengan telah pontong, mayor itu dipensiun.

Kedua perempuan itu sama menyesal di kediaman masing-masing. Isteri mayor menyesal karena telah meledakkan pistol suaminya. Si Montok menyesal karena membawa bayi kebanggaannya. Sedangkan mayor menyesali nasibnya sendiri. Namun tidak diketahui apakah pistol itu pun ikut menyesal, karena selama perang tidak pernah melukai musuh, tetapi sehabis perang melukai pemiliknya sendiri. Tentu saja begitu, karena pistol itu memang tidak punya perasaan.

——————————————————————————–

* Ganjal batu, ialah batu pengganjal roda truk sarat muatan yang tiba-tiba mogok di pendakian. Ketika truk itu sudah bisa jalan lagi, batu itu ditinggalkan begitu saja.
Kayutanam, 17 Desember 1996.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s