Gunung Talamau

Gunung Talamau merupakan gunung yang tertinggi di Sumatera Barat. Dengan tinggi 2982 mdpl, gunung yang terletak di Kabupaten Pasaman ini merupakan suaka alam dan telah dikelola Pemda Pasaman sebagai objek wisata gunung. Keseriusan pengelolaan Pemda Pasaman terhadap gunung Talamau ini terlihat dari diterapkannya peraturan-peraturan yang mengikat pendaki, rambu-rambu dan tempat perhentian/Basecamp yang jelas dan adanya petugas yang bertanggung jawab atas gunung ini.

Syarat pendakian:

  1. Setiap pendaki harus mempunyai surat keterangan berbadan sehat dan surat izin dari orang tua.
  2. Apabila mengatasnamakan organisasi, harus dilengkapi surat tugas dari organisasi.
  3. Menyerahkan/memperlihatkan identitas (KTP, SIM dsb) di posko dan dapat diambil lagi ketika menyelesaikan pendakian.

Semua persyaratan ini diserahkan dan diperlihatkan pada satgaspala gunung Talamau.

Jalur pendakian dimulai dari desa Pinaga kecamatan Pasaman Barat. Dengan ongkos Rp 9.000,- dari Padang-Simpang Empat Pasaman ditambah Rp 2.500,- naik angkutan pedesaan dari Simpang Empat-Pinaga, pendakian dimulai dari Km 14 yang terletak di seberang jalan Kantor Desa Pinaga. Km 14 ini merupakan posko I dan lama perjalanan menuju posko II ± 150 menit.

Posko II terletak di bukit Siharimau Campo dimana satgaspala gunung Talamau, Moh. Daniel Zulekha tinggal di pondok satriapala. Di sini semua persyaratan diserahkan pada satgaspala. Jumlah logistik dicatat dan setiap pendaki membayar Rp 3.500,- sebagai retribusi yang ditukarkan dalam bentuk souvenir sebagai identitas untuk tiap pendaki. Berbeda dengan gunung Merapi ataupun Singgalang Talamau tidak boleh didaki pada malam hari, otomatis perjalanan hanya dilakukan di siang hari dan malamnya pendaki dapat mendirikan camp di posko-posko yang tersedia dalam perjalanan menuju puncak. Di bukit Siharimau Campo ini terdapat air terjun Puti Lenggogeni dengan ketinggian ± 100 m yang berjarak ± 600 m dengan jalan yang curam tetapi menjanjikan pemandangan alam yang permai.

Dari bukit Siharimau Campo ini pendakian yang sebenarnya dimulai karena rute yang dilewati berupa rimba belantara yang lembab dan masih alami sehingga banyak pacet yang mendiami daerah ini terutama pacet tanah. Posko selanjutnya adalah camp Rindu Alam yang terletak di hutan Sari Bunian yang dapat ditempuh ± 155 menit dari bukit Siharimau Campo. Pada rute ini terdapat sejenis jamur berfosfor yang memendarkan cahaya berwarna biru langit yang dapat dilihat pada malam hari apabila jamur ini disinari, kemudian sinar dimatikan. Pada posko III ini pendaki dapat mendirikan camp karena jarak dari Rindu Alam ke sungai hanya 75 m. Posko ini terletak di atas Km 7.

Perjalanan dilanjutkan menuju posko IV yaitu Bumi Sarasah yang terletak antara Km 5 dan Km 4. Sepanjang jalan dari Sari Bunian ke Bumi Sarasah diameter pohon semakin besar, suhu semakin lembab dan jenis pacetpun makin bervariasi seperti pacet daun, pacet hariamau yang berwarna loreng, pacet siamang yang hitam dan tubuhnya berbulu dan yang unik adalah “pacet bola”. Pacet bola adalah sekelompok pacet yang mengelompok membentuk sebuah bola dan bergantungan di pohon. Jumlah pacet ini sangat banyak dan mereka akan jatuh, menyebar apabila terusik. Jadi hati-hatilah! Selain itu jenis kera-keraan juga banyak ditemukan, seperti Siamang yang mengiringi perjalanan dari ketinggian pepohonan, begitu pula burung-burung dari berbagai jenis yang berkicau mendendangkan tembang-tembang alami. Jarak dari Sari Bunian-Bumi Sarasah dapat ditempuh ± 180 menit. Di Bumi Sarasah ini terdapat aliran sungai Batang Karunia dengan pemandangan yang indah walaupun untuk mencapainya harus melalui jalan yang curam dengan jarak ± 20 m.

Dari Bumi Sarasah perjalanan dilanjutkan ke posko V yaitu daerah Paninjauan yang terletak di atas Km 2 dan dapat ditempuh ± 135 menit. Sampai Km 3, rute masih merupakan rimba belantara, tapi dari Km 3 vegetasi mulai berubah yaitu tumbuhan paku-pakuan, selain itu pacet makin jarang ditemui. Daerah Paninjauan sesuai dengan namanya merupakan daerah terbuka dimana pendaki dapat meninjau daerah dibawahnya dengan leluasa. Suhu pada daerah ini mulai terasa menggigit dan disini pendaki ditemani oleh tikus-tikus besar yang jinak dan tidak segan mendekati para pendaki, bahkan logistik harus digantungkan dengan tali agar sang tikus tidak ikut menikmati logistik. Disini terdapat mata air yang bisa digunakan untuk minum dengan jarak ± 5 m.

Pendakian dilanjutkan menuju posko VI yaitu base camp Rajawali Putih yang terletak di daerah Padang Siranjano. Perjalanan dapat ditempuh ± 75 menit. Ketika pendakian dari Paninjauan terasa semakin melelahkan, mendadak terhampar padang bunga yang luas, datar, indah dan permai. Inilah daerah Padang Siranjano dengan posko Rajawali Putihnya. Posko ini terletak di atas Km 1. Di daerah Padang Siranjano ini terdapat 13 buah telaga yang masing-masing mempunyai nama. Besar telaga ini bervariasi mulai dari yang besar hingga yang kecil. Tetapi pada musim kemarau hanya 8 telaga yang dapat dilihat keindahannya karena telaga lainnya kering.

Pendakian makin mendekati puncaknya ketika langkah berlanjut dari Km 1 menuju Km 0 yaitu puncak Talamau yang bernama puncak Tri Martha. Meskipun jalan yang dilalui curam, tetapi dapat diselesaikan dalam waktu ± 25 menit. Akhirnya puncak Tri Martha, Km 0 dengan pembagian 3 nama. Puncak Tri Martha masing-masing bernama: Puncak Rajo Dewa, Puncak Tri Martha dan Puncak Rajawali. Di puncak gunung ini terdapat sebuah goa dengan diameter liang ± 10 m. Di puncak ini dilarang mendirikan tenda atau membuang kotoran.

Dalam perjalanan pulang, semua sampah logistik harus dibawa, tidak boleh dibakar di dalam hutan karena nantinya akan disesuaikan lagi oleh satgaspala dengan catatan logistik yang dibawa. Jumlah sampah harus sesuai dengan jumlah logistik yang dibawa dan sampah harus dibawa ke bukit Siharimau Campo (posko Satriapala). Ini bertujuan supaya lokasi gunung Talamau tetap terjaga keasrian dan kealamiannya serta bersih dari sampah non organik.

Akhirnya pendakian ke gunung Talamau menghabiskan minimal 3 hari, karena perjalanan hanya dilakukan pada siang hari sedangkan malamnya pendaki dianjurkan untuk mendirikan camp disalah satu dari 6 posko yang tersedia.

Tim ekspedisi Talamau 17 Agustus 2001

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s