Hati manis mulut berbisa

Sepintas kalimat di atas agak janggal bunyinya. Tapi memang kalimat itu yang tiba-tiba terlontar dari mulutku. Sepenggal kalimat itu tidak lahir dengan sendirinya. Kalimat itu terlontar dari pembicaraan panjang seputar masalah makanan.

Hari ini seorang teman mengalami sebuah pengalaman berharga. Mungkin baru pertama kali ia mengalami pengalaman ini. Cerita berawal dari sebuah makanan yang bernama rendang. Makanan ini di bawa oleh seseorang yang datang dari Indonesia sekitar tiga minggu yang lalu. Namun baru kemaren kita menikmati rendang tersebut. Rendang itu telah mengalami metamorfosa yang panjang, sehingga baru sampai ke kota ini kemaren malam. Dari bau nya yang lezat itu membuka selera makan bagi siapa yang sempat membauinya. Tak terkecuali kita yang berada di Woltmers ini. Saking rindunya dengan masakan Indonesia, sampai aku yang masih agak kenyang, menyempatkan diri untuk mencicipinya. Kita ketawa-ketawa menikmati makanan yang entah kapan lagi bisa menikmatinya. Malam itu berakhir dengan suka cita.

Keesokan harinya (hari ini-red) aku bangun kesiangan. Aku sengaja malas untuk bangkit dari tempat tidur karena sejak dua hari yang lalu aku memang mengalami flu berat. Sekitar tengah hari aku beranjak ke dapur. Maklum dari pagi belum satupun makanan hinggap di perut ku. Dapur kelihatan begitu bersih dan rapi. Termasuk rendang yang tersisa hanya dua potong di penggorengan. Rendang ini juga tergolong bersih, karena dua potong daging itu memang telah bersih dari bumbunya. Dan ku beri nama „rendang botak“. Dari rendang botak inilah pengalaman seorang teman itu lahir. Dua potong rendang botak ini memang aku yang menghabiskan, dengan seijin seorang teman lainnya terlebih dahulu. Awalnya aku makan rendang itu dengan nikmatnya, senikmat rasa rendang itu sendiri. Namun beberapa jam setelah itu aku merasa gak enak dengan menghabiskan rendang botak itu.

Cerita punya cerita ternyata seorang teman tadi telah memantau dari pagi rendang tersebut. Awalnya ia masih mendapati rendang itu berjumlah sekitar delapan potong, kemudian ia balik lagi ke kamarnya karena memang dia merasa masih belum lapar. Beberapa saat setelah itu ia kembali lagi ke dapur. Ia pun kaget karena rendang tadi telah menjadi botak dan hanya tinggal dua potong. Namun karena ia masih belum lapar juga, ia kembali ke kamarnya meninggalkan rendang yang masih di penggorengan. Selang beberapa saat ia kembali ke dapur. Kali ini penggorengan tersebut telah berada di tempat pencucian piring yang telah digenangi air. Apa mau dikata, rendang botak telah hilang, sementara teman ini belum juga mencicipinya semenjak pagi. Entah apa yang ada dalam pikiran teman ini saat itu. Yang jelas rendang botak sudah tak ada lagi.

Kami berkumpul lagi untuk menyiapkan makan malam. Teman yang tak kebagian rendang tadi menceritakan pengalamannya kepada penghuni rumah yang sempat hadir di dapur.

Lalu seorang teman menyeletuk,

„Mestinya saat rendang itu tinggal dua potong lu ambil satu. Walaupun lu masih belum lapar, sekurang-kurangnya lu simpan aja dulu!”

Dari cerita yang semakin berkembang, lalu teman ini berkata,

„Lain kali guwe mesti brutal nih!“

Spontan seisi ruangan ketawa mendengar penuturan teman tadi. Namun di balik itu aku menjadi merasa gak enak sama teman ini, karena akulah tokoh yang menghabiskan rendang botak itu. Dengan penuh kesadaran aku lontarkan kalimat „Hati manis mulut berbisa“. Sesaat seisi ruangan terdiam mendengar ucapan ku barusan. Lalu seseorang memecahkan keheningan,

„Benar kalimat itu! Dari pada mulut manis hati berbisa!“

Lalu teman yang lain lagi berkata,

„Iya. Yang lebih parah lagi mulut berbisa hati berbisa!“

Aku amini celetukan kedua teman tadi. Karena aku sangat sadar bahwa walaupun teman tadi mengeluarkan kata-kata kasar, tapi hatinya begitu manis dan teduh.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s