Tuhan Sedang Berbicara denganku

Siang itu aku terbangun, tiba-tiba aku telah berada di tengah padang pasir luas. Sesaat aku termenung melihat keadaan sekitar. Aku tak tahu secara pasti kejadian apa yang sedang kualami. Dengan sekuat tenaga kuingat semua peristiwa sebelum aku terbangun di padang pasir ini. Tapi sia-sia. Semakin ku usahakan untuk mengingat nya, semakin hilang ingatan tentang masa laluku.

Padang pasir ini terlalu luas dan sejauh mata memandang tak ada satu manusiapun yang bisa kulihat. Aku merasa terperangkap di tengah ke gersangan ini, tapi mengapa? Pertanyaan itu tak henti-hentinya muncul di benakku. Melihat luasnya padang pasir ini seakan tak kuasa untuk menjelajahinya, namun untuk menjawab segala pertanyaan yang bermunculan di kepala, ku usahakan juga untuk mengarungi padang pasir ini.

Hampir setengah hari aku berjalan, tak ketemukan jawaban tentang semua ini. Haus pun mulai menyerang tenggorokanku. Pikiran yang pertama kali muncul adalah mencari sumber air. Namun ini adalah pekerjaan gila. Aku harus memilih arah yang tepat agar sumber air yang dimaksud dapat ditemukan. Tapi itu semua ibarat sebuah perjudian. Hewan yang bernama kunang-kunang seakan mulai mengitari kepalaku. Tubuhku mulai tidak merespon apa yang di perintahkan otak. Aku tak bisa lagi membedakan antara fatamorgana dengan pusing. Keduanya membaur manjadi satu dalam pandanganku. Di langkah kaki terakhir yang masih bisa di perintahkan oleh otakku, aku melihat sebuah dataran rendah. Diujung dataran itu seakan-akan ada tumbuhan yang hidup disana, tapi otakku tak mampu lagi berpikir. Dan langkah terakhir itu pula yang membawa badanku rebah berguling entah berapa kali.

Sejenak aku merasakan dingin di sekujur tubuhku. Lalu ku ingat lagi, ini bukan dingin tapi sejuk, sejuk itu hanya di sebagian tubuh saja, tidak semuanya. Perlahan kubuka mata untuk menyelidiki apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan tubuhku. Sesaat aku terdiam. Beberapa detik tubuhku mematung. Seakan tak percaya dengan penglihatanku. Detak jantungku menjadi lebih cepat. Mulutku pun berteriak. „Aku memenangi perjudian ini“! Sumber mata air yang sebelumnya hanya menjadi impianku, kini telah di depan mataku. Selain kata-kata yang telah kulontarkan tadi, aku tak bisa lagi berkata-kata. Tanpa pikir panjang, dahaga yang telah hampir merenggut nyawaku itu segera kulepaskan. Kunikmati sepuasnya sampai ku kembali terdiam.

Aku masih tetap sendiri di tengah padang pasir ini. Tidak ada siapa-siapa. Tak beberapa lama setelah itu segerobolan hewan melata mendatangi sumber air ini. Mereka menikmati keberadaan sumber air ini sepuas keinginannya. Lalu pergi seakan tak mengacuhkan keberadaan ku disini. Aku kembali mempertanyakan tentang keberadaanku di tengah padang pasir ini. Ku coba memutari lingkungan di sekeliling sumber air ini. Tak kutemukan jawaban apa-apa. Aku kembali ke sumber mata air tadi. Di pinggirnya terdapat beberapa onggok tanaman perdu yang batangnya hampir mirip dengan batang bambu, cuma ukurannya jauh lebih kecil dari bambu. Ukuran batang perdu itu yang paling besar hanya hampir seukuran jari kelingking tangan orang dewasa. Ku ambil beberapa batang dan kujadikan sebagai tempat cadangan air. Aku tak tahu pasti entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan keadaan ini. Aku usahakan membawa cadangan air sebanyak mungkin. Aku tak mau berjudi lagi.

Dalam perkiraanku tak lama lagi hari akan gelap. Ketakutan baru mulai menghampiriku. “Bermalam dimana aku malam ini?” Aku tak mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu. Ku percepat langkah ini dengan harapan ada sebuah keajaiban seperti siang tadi. Beberapa menit setelah itu, jalan yang ada dihadapanku bersimpang dua. Tanpa pikir panjang ku pilih jalan yang berbelok kekanan. Karena naluriahku sebagai manusia mengatakan bahwa jalan yang kupilih ini adalah yang terbaik. Di ujung pandanganku terlihat seperti ada kehidupan. Aku sangat yakin dengan pandanganku kali ini. Aku membayangkan bahwa aku akan segera terlepas dari jeratan padang pasir gila ini. Hal inilah yang memperkuatku untuk memilih jalan ini.

Baru beberapa langkah setelah keputusan itu kuambil, aku merasakan ada yang aneh di kakiku. Spontan kulihat ke bawah. Barusan aku menginjak daerah pasir isap. Segera kurebahkan tubuhku dan merayap menjauhi pasir isap tersebut. Setidaknya tindakan seperti itu yang masih kuingat dari pelajaran pramuka semasa sekolah dulu. Akupun berhasil keluar dari pasir isap tersebut. Aku terperangah dengan situasi ini. Nyawaku masih tertolong. Dalam satu hari ini, nyawaku telah selamat dua kali. Kupandangi ke arah pasir isap tadi, tak ada perbedaan mencolok dengan dataran pasir lainnya. Aku tak bisa membedakannya dan juga tak bisa mengetahui seberapa besar daerah pasir isap ini. Ku coba mencari sesuatu untuk ku jadikan alat bantu penanda daerah pasir isap. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku

„Tuhan sedang berbicara denganmu anak muda!“. Sejenak kuperhatikan lelaki tua yang menepuk pundakku tadi. Keningku menggerinyit.

„Siapakah dirimu gerangan pak tua?“

„Kau tak perlu tau siapa diriku. Yang penting aku hanya mengingatkan mu bahwa Tuhan sedang berbicara denganmu!“

„Jangan buat aku bertambah bingung pak Tua?“

„Baiklah. Coba kau perhatikan ujung jalanan ini. Di ujung sana seperti terlihat kehidupan yang menjanjikan. Dan memang di ujung sana ada kehidupan. Tapi tak menjanjikan untuk semua orang. Contohnya dirimu ini. Kau sangat mendambakan janji manis ujung jalanan ini kan! Tapi perjalananmu terhalang pasir isap. Kau tak bisa mengetahui bagian mana dari jalanan ini yang menjadi bagian pasir isap dan bagian mana yang tidak. Ini adalah pertanda anak muda!“

„Makanya, bantu aku untuk melewati pasir isap ini pak Tua!“

„Aku telah melihat usahamu untuk melewati daerah tersebut. Tapi apa yang kau punya. Tak satupun bisa membantu kan!“ Aku terdiam sejenak. Ada benarnya omongan pak tua ini. Aku memang tak punya alat bantu apa-apa untuk melewati pasir isap tersebut.

„Tapi kau jangan putus asa anak muda. Coba kau ingat-ingat lagi kebelakang, masih ada jalan kan!“

„Maksud pak Tua jalan yang berbelok ke kiri itu?“

„Persis!“

„Gila, itu namanya bunuh diri pak Tua! Jelas-jelas jalan itu masih padang pasir tandus yang tak tau di mana ujungnya. Orang waras manapun tak akan memilih jalan itu pak tua!”, dengan agak emosi aku membantah ide pak tua tersebut.

“Begitulah Sang Pengatur kehidupan berbicara anak muda!”

“Tidak. Aku tidak mau mengambil resiko lagi. Hari ini telah dua kali nyawaku hampir melayang. Aku tak mau bertaruh lagi. Ini gila. Gilaaa!”

“Justru dengan dua kali kau selamat itu mestinya kau sadar bahwa hidup ini telah ada yang mengatur. Dan kali ini, coba kau cermati lagi. Diujung sana ada kehidupan yang menjanjikan. Mungkin disana banyak orang yang tertawa dan bahagia dengan kesuksesan yang di raihnya. Tapi tidak denganmu. Untuk melewati pasir isap saja kau tak mampu. Itu artinya jalan ini bukanlah yang terbaik bagimu anak muda!”

“Kau jangan menambah beban di otak ku pak Tua!”

„Aku hanya mengingatkanmu anak muda. Keputusan tetap ada di tangan mu!”

“Tapi membuang umur di tengah kesia-siaan juga dosa pak Tua!”

“Berpikirlah!”, tiba-tiba pak tua yang ada di hadapanku hilang entah kemana.

Kutampar pipiku beberapa kali. Kuyakinkan diriku bahwa aku sadar sepenuhnya. Aku tak tahu harus bagaimana. Mentari baru saja terbenam mencumbui malam. Pikiranku bertambah kalut. Sisa minuman yang kubawa tadi juga hampir habis. Kupandangi jalan yang berbelok ke kiri itu. Sejauh mata memandang, tak ada apa-apa yang bisa kusaksikan kecuali hamparan pasir yang begitu luas. Takut, kalut, cemas, resah, gelisah, galau dan segala hantu blau itu beraduk menjadi satu dalam benakku.

“Kenapa Kau berbicara seperti ini Tuhanku!”.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s