Menunggu Kata Cinta

Assalamualaikum,

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)

Seikat puisi di atas mengingatkan ku kembali akan masa-masa indah dalam mengarungi dunia ini. Terutama yang berkaitan dengan sebuah „penaklukan“ hati. Kata demi kata yang mengalir dalam puisi itu selalu memberi ku semacam kekuatan, namun entah kenapa di setiap akhir perjalanannya tidak lah semulus yang aku dambakan.

Kali ini aku kembali melirik puisi tersebut. Aku tidak sepenuhnya yakin bahwa puisi ini selalu mengakhiri kisah cintaku dengan ujung patah hati. Aku yakin, trauma itu akan berakhir. Karena kita telah menjalani beberapa tahapan yang menurutku perkembangannya cukup memuaskan pengharapanku. Memang jujur aku katakan bahwa dari hubungan kita ini belumlah bisa aku ambil kesimpulan bahwa kita saling mencintai. Tapi setidaknya aku cukup puas dengan keadaan yang sedang berlangsung saat ini. Secara pasnya aku belum menemukan kata-kata yang cocok untuk menggambarkan perasaanku padamu. Entah senang, gembira, sedih, galau, gundah, cemas, rindu, kangen, hangat, entahlah. Tak bisa ku pilih kata yang pas. Namun yang pasti aku merasa nyaman dan damai saat berkomunikasi denganmu. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaanmu kepadaku. Entah senang, bahagia, sedih, cemas juga atau malah biasa-biasa saja. Aku tetap tak tahu. Memang kadang aku bisa menduga-duga perasaanmu kepadaku, namun itu terlalu subjektif.

Sehubungan dengan perjalanan kita kali ini, aku merindukan sesuatu yang bernama Cinta. Kerinduanku ini bukanlah sekedar melampiaskan gejolak manusiawi yang bergelora di raga ini, tapi melebihi itu semua. Seperti matahari yang menyinari bumi. Ia dengan ikhlas memberikan kehangatan untuk kelangsungan hidup dimuka bumi tanpa mengenal lelah dan pamrih. Dan sinar itu mungkin tak akan pernah pudar sampai kehidupan ini berakhir. Akupun menginginkan sebuah cinta yang ku rindukan itu seperti hal tersebut. Tak pernah pudar di hadang badai kehidupan. Tak lekang diuji kekerasan jaman.

Apakah kerinduan yang kutunggu ini merupakan salah satu fenomena yang bedasarkan hukum dialektika atau sebab akibat. Apakah dahulu Newton sebelum menelurkan idenya tentang hukum aksi-reaksi juga menunggu hal sama denganku. Aku tak tahu. Penjelasannya melebihi kerumitan hukum yang dibikin oleh ahli mekanika klasik ini. Memang aku menunggu reaksi dari aksiku kali ini. Tapi reaksi yang ku tunggu bukanlah berasal dari partikel yang mempunyai massa dan menempati ruang. Aku menunggu reaksi dari sesuatu yang diciptakan oleh Pencipta tanpa tahu massa dan nomor atomnya. Sehingga belum ada satu rumusan yang aku temukan untuk menemukan jawabannya selain dari mendengar langsung dari bibirmu yang indah itu.

Penantian ini kadang menyiksaku dan kadang memberiku kekuatan. Menyiksa jika semua angan, janji, mimpi hilang di telan masa. Dan kepalaku selalu dihantui dengan tanda tanya besar yaitu adakah kata cinta di hatimu, adalah kata cinta untukku. Memberiku kekuatan jika reaksi yang kutunggu adalah sepenuhnya manifestasi dari aksi yang telah aku berikan padamu. Wallahualam, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui segalanya. Seiring penantian itu, akupun tak ingin menunggu sesuatu yang dipaksakan. Aku tak ingin mendengar nantinya bahwa dirimu memaksakan cinta demi menghormati seseorang yang aku tak tahu. Aku tak ingin kau ucapkan cinta hanya untuk membahagiakan diriku semata. Aku tak ingin kau ucapkan cinta hanya untuk berbakti kepada kedua orang tuamu. Aku hanya ingin kata cinta yang ku tunggu itu lahir dengan tulus dan suci dari lubuk hatimu yang paling dalam dan dapat menerimaku apa adanya. Tanpa ada rekayasa sedikitpun. Sehingga makna kata demi kata dan bait demi bait dari puisi di atas dapat kunikmati dengan segudang karunia jagad semesta. Dan akupun berharap bahwa aku akan memberikan suatu cinta yang tulus dan suci untuk pendamping setiaku sampai jasad ini menemui Pemiliknya.

Diujung tulisan ini, aku ucapkan terima kasih atas waktu yang telah engkau sediakan untukku selama ini. Disela-sela waktu dan aktivitasmu yang padat kau masih sempat mendengarkan celotehanku sehingga aku merasa tersanjung. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih padamu wahai calon permaisuriku.

2 Comments

  1. owaaiiiik….

  2. komentar ang mancimeeh mah per!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s