Bagian 1

Riset

Riset atau penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu yang belum kita ketahui. Defenisi yang sederhana ini dapat diterjemahkan secara bebas dan luas. Contoh: mengukur suhu tubuh, mencari alamat seseorang, mencari jadual kereta api dan lain sebagainya. Dari contoh yang diberikan tersebut tidak terwakili kegiatan riset. Lalu definisi di atas ditambahkan dengan pertanyaan tentang apa yang merupakan penambahan kecerdasan. Contoh: berapa tingkat polusi kota Bandung, berapa jumlah tingkat pengangguran di Indonesia, berapa kerugian/keuntungan suatu perusahaan dan lain sebagainya. Dari contoh ini tingkat kecerdasan bertambah dengan adanya beberapa pertanyaan, namun jawaban dari pertanyaan tersebut hanya berupa penambahan kecerdasan dan masih bukan kegiatan riset.

Adanya perbedaan atau kesenjangan antara kenyataan dan teori melahirkan pertanyaan-pertanyaan “kenapa”. Pertanyaan kenapa ini akan memberikan penjelasan, hubungan, perbandingan, prediksi, generalisasi dan teori. Riset menjadi perlu dilakukan untuk mencari jawaban dari pertanyaan “kenapa“ tersebut. Apabila kenyataan dan teori tak sama maka lahirlah permasalahan. Dengan adanya masalah maka perlu dilakukan pemecahannya atau mencari jawaban dari permasalahan tersebut. Untuk menyelesaikan atau menjawab permasalahan tersebut perlu dilakukan identifikasi masalah dan perumusan masalah. Di dalam hal ini diperlukan observasi untuk mengumpulkan fakta yang berhubungan dengan masalah itu.

Identifikasi masalah

Sumber:

a.    Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian

b.   Seminar, diskusi, konferensi dan lain-lain pertemuan ilmiah

c.    Pernyataan pemegang otoritas

d.   Pengamatan selintas

e.    Pengalaman pribadi

f.    Perasaan intuitif

Perumusan masalah

a.   Perumusan hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya

b.   Rumusan hendaklah padat dan jelas

c.   Rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu

Sehingga pertanyaan dari penambahan kecerdasan di atas yang menanyakan berapa tingkat polusi kota Bandung diganti dengan kenapa tingkat polusi udara di kota Bandung sangat besar.

Kegiatan yang menjawab pertanyaan “kenapa“ tidak hanya sebagai penambahan kecerdasan tetapi juga memberikan penjelasan antara kenyataan dan teori untuk membangun sebuah pemahaman.

Untuk mendapatkan hasil dari suatu penelitian atau riset yang baik dan memuaskan semua pihak, maka perlu dibuat dengan sifat kriteria sebagai berikut :

1.   Riset berdasarkan sistem pemikiran terbuka

Riset tidak memihak pihak tertentu, tidak memiliki kepentingan tertentu. Riset murni dilakukan hanya untuk menguji benar atau salah suatu permasalahan, hubungan antara kenyataan dan teori, sehingga hasil riset ini dapat digunakan kembali oleh orang lain.

2.   Peneliti menguji data secara kritis

Pengujian data secara kritis diharapkan dapat menemukan hasil riset yang terbaik. Yaitu  hasil riset yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, teliti, cermat dan akurat sesuai dengan tujuan penelitian atau riset.

3. Peneliti mengeneralisasikan dan menspesifikasikan keterbatasan pada generalisasinya.

Generalisasi dan spesifikasi bertujuan untuk lebih menfokuskan permasalahan. Sehingga hasil riset yang diperoleh tidak membingungkan.

Penelitian atau riset yang baik akan memiliki nilai yang baik pada ketiga kriteria point di atas. Hasil yang kurang pada satu atau lebih faktor kriteria akan dapat membuat penelitian menjadi tidak valid.

Beberapa tipe atau jenis dasar riset adalah sebagai berikut:

1. Riset eksploratoris

    Riset eksploratoris adalah riset yang memiliki tujuan untuk mendapatkan keterangan, wawasan, pengetahuan, ide, gagasan, pemahaman, dan lain sebagainya sebagai upaya untuk merumuskan dan mendefinisikan masalah, menyusun hipotesis, serta dapat dilanjutkan dengan riset lanjutan yang lebih mendalam. Ide atau gagasan risetnya belum dapat dirumuskan dengan baik karena topik riset belum banyak diketahui.

    Sifat-sifat riset eksploratoris :
    – Hasil riset bersifat tentatif
    – Bertujuan untuk lebih memahami akar permasalahan
    – Dapat dilanjutkan dengan riset lanjutan yang lebih serius
    – Proses riset tidak terstruktur rapi
    – Analisa data primer dengan sampel yang kecil
    – Informasi dasar bersifat fleksibel

    Contoh riset eksploratoris :
    – Interview atau wawancara secara mendalam
    – Diskusi berkelompok
    – Studi kasus yang pernah terjadi
    – Analisa data sekunder
    – Survey ke para ahli

    2. Riset pengetesan

      Misalnya menentukan batas-batas generalisasi.

      3. Riset penyelesaian masalah

        Riset jenis ini biasanya berangkat dari masalah riil dan praktis.

        Ilmu Pengetahuan atau Sains

        Sains adalah metoda pengkajian tentang alam atau suatu cara untuk mengetahui alam yang menemukan pengetahuan yang dapat dipercaya. Sains bukan hanya sekedar pemikiran tentang alam, kumpulan fakta, kumpulan pengkajian sistemik tetapi adalah pengetahuan yang memberikan bukti-bukti tentang suatu fenomena yang diteliti dan dapat dipercaya. Agar fenomena yang diteliti dapat dipercaya kebenarannya digunakanlah metoda yang dapat dipertanggungjawabkan. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan.

        Sains juga merupakan suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistematik, logik dan konsisten. Hasil dari ilmu pengetahuan dapat dibuktikan dengan percobaan yang transparan dan objektif.

        Sains membangkitkan minat manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan pemahaman untuk menjelaskan rahasia alam seluas-luasnya. Membuka atau mencari bukti rahasia alam satu persatu membawa sains itu sendiri menjadi lebih berkembang. Dengan berkembangnya sains maka melahirkan temuan-temuan baru dan teknologi. Hal inilah yang akan menjadi sarana bagi manusia untuk menjalani hidup lebih mudah. Saat ini sains dan teknologi menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sains dan teknologi telah menjadi budaya ilmu pengetahuan yang saling mengisi, dimana sains mengandung makna teknologi dan teknologi mengandung hakikat sains.

        Dari definisi sains membuat kerangka berpikir manusia menjadi terpola. Membuat kepercayaan bagi manusia untuk membuktikan sesuatu agar dapat dipercayai dan kepercayaan yang terbentuk adalah kepercayaan yang sah kebenarannya. Kerangka yang terbentuk tersebut mendorong manusia untuk berpikir dengan sistemik yang disebut dengan berpikir ilmiah.

        Berpikir Ilmiah

        Metoda ilmiah adalah praktek dari berpikir ilmiah. Berpikir kritis adalah berpikir secara benar sehingga dapat menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah. Berpikir kritis memungkinkan kita mempunyai pengetahuan yang dapat dipercaya tentang seluruh aspek kehidupan kita dan kehidupan sosial, dan berpikir kritis tidak dibatasi oleh pendidikan formal tentang alam. Metoda Ilmiah juga merupakan metoda berpikir yang didasarkan oleh penalaran deduksi (berpikir rasional) dan penalaran induksi (berpikir empiris).

        Metoda ilmiah dipraktekkan dalam hubungannya dengan berpikir ilmiah dan berpikir kritis berdasarkan tiga komponen yaitu:

        1. Menggunakan bukti empirik

          Bukti empirik adalah bukti yang dapat dirasakan langsung, dapat dilihat, didengar dibaui. Atau bukti yang dapat langsung diterjemahkan oleh panca indera manusia. Tanpa bukti empirik metoda ilmiah tidak dapat diakui sebagai fakta ilmiah.

          2. Mempraktekkan nalar logis

            Logika memungkinkan kita untuk bernalar benar. Logika dipakai untuk menarik kesimpulan dari suatu proses berpikir berdasar cara tertentu, yang mana suatu proses berpikir disini merupakan suatu penalaran yang menghasilkan suatu pengetahuan. Proses berpikir secara rasional disebut penalaran, maka berpikir secara rasional dapat disebut berpikir secara nalar atau secara logis.

            Penalaran dapat dikatakan sebagai suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan. Berpikir adalah suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Sebagai kegiatan berpikir, maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu:

            • Pertama, adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika

            • Kedua, adanya proses analitik dari proses berpikirnya

            3. Memiliki sikap skeptis

              Sikap skeptis selalu diharapkan dalam berpikir ilmiah. Dengan memiliki sikap skeptis ini, akan memunculkan sikap yang selalu bertanya mengenai kepercayaan dan kesimpulan yang telah dipunyai. Sikap skeptis juga akan memunculkan sikap yang selalu menguji bukti, fakta, alasan/sanggahan dan nalar yang dipakai untuk meyakini kepercayaan tersebut.

              Pertanyaan Riset

              Tahap pertama dari metodologi penelitian adalah pertanyaan penelitian atau pertanyaan riset. Perumusannya harus tepat dan jelas. Tidak bertele-tele dan fokus. Pertanyaan riset merupakan elemen penting dalam riset. Pertanyaan riset menjadi penting karena dengan mengajukan pertanyaan yang tepat akan membantu peneliti untuk mengarahkan penelitiannya ke arah jawaban yang dikehendaki. Pertanyaan riset menjadi dugaan teoritis dan merupakan perumusan yang akan dicapai oleh peneliti. Pertanyaan riset haruslah memiliki hubungan yang jelas dengan teori yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah. Tingkat ketercapain penyelesaian masalah sangat bergantung dengan pertanyaan riset ini. Pertanyaan riset yang tidak tepat bisa membuat masalah yang dihadapi tidak terjawab dengan tuntas.

              Perumusan pertanyaan riset yang lebig spesifik disebut hipotesis.

              Hipotesis

              Hipotesis salah satu cara untuk memperoleh penjelasan (jawaban/fakta) atas suatu masalah yang belum teruji. Hipotesis juga merupakan tebakan/dugaan yang kemungkinan dapat mengacu pada suatu fakta.

              Perlunya hipotesis karena memberi panduan dan cakupan dalam memecahkan masalah, sehingga proses pemecahan masalah menjadi lebih mudah, lebih efektif dan lebih efisien. Namun terkadang hipotesis tidak terlalu diperlukan pada kasus-kasus tertentu yang absolut dan definit. Contoh: HP di dalam saku celana berdering, kita tidak perlu melakukan hipotesis untuk mengetahui dari mana asal HP yang berdering itu, langsung saja merogoh saku celana. Hipotesis biasanya digunakan untuk menjawab permasalahan: ‘mengapa begini/begitu’, ‘apa alasannya’, ‘apa penyebabnya’.

              Terkadang, penggunaan hipotesis tidak menjamin suatu masalah dapat dengan berhasil dipecahkan, antara lain karena pemilihan hipotesis yang salah dapat menuju pada jawaban/sasaran yang kurang tepat. Penggunaan hipotesis yang benar terhadap suatu masalah belum tentu menjamin jawaban yang memuaskan dapat diperoleh ketika hipotesis tersebut diuji.

              Penggunaan analogi (adanya kesamaan ciri khas) dalam membangun suatu hipotesis akan memudahkan dalam pemecahan suatu masalah yang dianggap relevan (dianalogikan) dengan fakta lain. Contoh: Rutherford menganalogikan struktur atom dengan sistem tata surya.

              Hipotesis dapat datang dari mana saja. Tidak ada aturan-aturan, karena terkadang inspirasi dan kreativitas dapat menjadi sumber hipotesis. Kemampuan dalam membuat suatu hipotesis dapat dilatih dengan bakat dan minat pada disiplin ilmu yang ditekuni dimana masalah tersebut ada. Tentunya sense terhadap analogi-analogi yang ada juga diperlukan. Intinya dengan kerja keras, kreativitas dan imaginasi, kita dapat menemukan suatu hipotesis yang cukup jitu dalam memecahkan suatu masalah.

              Perumusan hipotesis hendaklah mempertimbangkan:

              a.    Hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih

              b.   Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.

              c.    Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat

              d.   Hipotesis hendaklah dapat diuji, artinya hendaklah orang mungkin mengumpulkan data menguji kebenaran hipotesis itu

              Secara garis besar hipotesis dapat dibedakan:

              1)    Hipotesis tentang hubungan

              2)    Hipotesis tentang perbedaan

              Secara awam hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan terpelajar.

              Daftar Pustaka

              Abidin, Hasanuddin Z., Penelitian: Karakteristik dan Metodologi. Kelompok Keilmuan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. ITB.

              Miharja, Dadang k., 2004. Metodologi Penelitian Sains Kebumian. Jurusan Oseanografi FITB. ITB.

              http://ibnurusdi.wordpress.com/2008/04/06/pengertian-penelitian/

              http://tahugezrot.blogspot.com/2008/11/kriteria-riset-yang-baik.html

              http://definisi-pengertian.blogspot.com/2009/11/pengertian-ilmu-dan-ilmu-pengetahuan.html

              http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Pengetahuan_Alam

              Advertisements

              Leave a comment

              No comments yet.

              Comments RSS TrackBack Identifier URI

              Leave a Reply

              Fill in your details below or click an icon to log in:

              WordPress.com Logo

              You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

              Twitter picture

              You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

              Facebook photo

              You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

              Google+ photo

              You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

              Connecting to %s