Bagian 5

Bagian I (lanjutan Bab 1)

Hubungan dengan Pembaca

Sesuatu yang lebih penting kita kerjakan adalah kita lakukan bersama orang lain. Bersama orang lain disini kita artikan secara luas. Bersama dalam artian harfiah yaitu adanya interaksi langsung antar sesama dan dalam artian non harfiah yaitu interaksi secara tidak langsung. Contoh interaksi tidak langsung adalah membaca hasil karya orang lain. Dengan membaca hasil karya orang lain berarti kita telah melakukan komunikasi dengan si penulis. Komunikasi ini akan berjalan dengan adanya pemahaman dari si pembaca terhadap karya si penulis. Orang sekelas Einstein atau Newton tidak akan berarti apa-apa kalau tidak ada orang yang membaca tulisannya.

Kita berhubungan dengan orang lain setiap waktu kita membaca buku menggunakan peralatan penelitian, atau mengandalkan rumus statistik. Setiap waktu kita berkonsultasi dengan narasumber, kita bersama dan dengan kebersamaan, memelihara pembicaraan yang mungkin puluhan tahun dan bahkan ratusan tahun lamanya. Ini mengartikan bahwa kita jangan serta merta menelan langsung apa yang disampaikan oleh narasumber, bisa saja kita tidak setuju atau menambahkan dalam penulisan buku tersebut. Lebih baik jika kita juga mengajak kawan diskusi yang juga membaca buku atupun alat penelitian atau rumus statistik yang sama sehingga dengan berdiskusi kita dapat lebih memperkaya pengetahuan yang mungkin tidak kita ketahui. Seorang penulis akan melahirkan berbagai tulisan, dengan membuat tulisan inilah penulis menjalin komunikasi dengan pembaca (orang lain) dalam waktu yang lama. Walau si penulis telah tiada pun komunikasi ini akan terus berlangsung selama tulisannya masih dibaca orang.

Bab 2

Pembicaraan antar Peneliti

Tulisan kita merupakan cerminan penilaian kita yang telah ditetapkan tentang pengetahuan dan pemahaman pembaca kita, tapi lebih penting lagi, apa yang ingin pembaca untuk mengenali/menghargai hal-hal penting dalam riset kita. Tulisan dapat juga berupa keraguan yang ada di kepala si penulis dengan tujuan mengundang orang lain untuak menanggapinya. Dan tulisan bisa juga hanya sekadar informasi. Contoh adalah petir. Kita bisa memberikan informasi kepada pembaca tentang kebaikan  dan keburukan petir. Pemahaman yang kita berikan kepada pembaca tergantung dari cara kita menilai sesuatu pengetahuan tersebut. Karena belum tentu pengetahuan yang kita berikan kepada orang lain itu adalah yang terbaik, mungkin saja pembaca mempunyai pengetahuan lebih baik dari penulis sehingga pembaca dapat memberikan masukan kepada penulis untuk memperbaiki tulisan sebelumnya.

Sebelum kita menentukan tahap pertama menuliskan makalah riset, kita harus berpikir tentang cara mengutarakan maksud kita pada pembaca, tentang macam hubungan apa yang kita ingin kita buat dengan mereka, dan tentang macam hubungan apa yang kita harapkan dari mereka. Tulisan yang berupa makalah riset bukan seperti diari pribadi yang hanya untuk kita pahami sendiri, tapi sebaliknya makalah riset adalah semacam tulisan yang dapat menjalin komunikasi antara sesama peneliti. Pembaca makalah diharapkan mengerti mengenai apa yang kita tulis. Jangan sampai pembaca salah tangkap terhadap tujuan yang kita maksudkan. Untuk itu dalam mengutarakan maksud penulisan, tulisan dan penyusunan kalimat sedapat mungkin sederhana dan mudah dimengerti. Sehingga secara tidak langsung berjalan diskusi antara pembaca dan penulis.

Berarti pengetahuannya tidak hanya siapa mereka dan siapa kita, tapi apa yang kita dan mereka pikirkan, dan itulah yang kita anggap benar.

Bagian II

Prolog

Merumuskan permasalahan dengan pertanyaan dan mencari jawabannya.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah :

  1. Kita harus mengetahui topik yang spesifik dan menguasai informasi yang kita cari. Merumuskan topik se-spesifik mungkin dan jangan terlalu luas. Topik yang terlalu luas akan menyebabkan kebingungan untuk menjawabnya.
  2. Kita harus mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang akan mengantar kita dalam melakukan riset dan mengarahkan kearah penyelesaian soal yang diinginkan.
  3. Kita harus mendapatkan data yang relevan untuk menjawab pertanyaan kita. Data tidak hanya berupa angka tetapi juga berupa informasi. Dengan menulis kita akan mendapatkan informasi dari banyak perencanaan. Jadi tahapan apapun agar lebih mudah untuk diingat maka langsung dituliskan, jangan ditunda-tunda. Misalkan dengan langsung menulis outline, diagram, atau sumber-sumber yang bisa dipercaya.

Seandainya penulis belum mempunyai pengetahuan sedikitpun mengenai topik yang akan ditulis, tidak ada salahnya mendahulukan poin mencari informasi. Informasi yang dikumpulkanpun sebisamungkin telah terkelompok agar lebih memudahkan penulis untuk menentukan topik yang akan diangkat. Pengumpulan informasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan membaca berbagai makalah. Sebelum lebih lanjut membaca makalah yang terkait dengan riset kita terlebih dahulu dikelompokkan makalah dalam dua kelompok besar yaitu makalah utama dan makalah pendukung. Untuk makalah utama, kita harus membaca sedetail mungkin dari awal sampai akhir. Sementara untuk makalah pendukung cukup dibaca abstrak dan kesimpulan saja karena fungsinya hanya untuk memperkaya tulisan. Setelah membaca makalah kita akan mendapatkan gambaran sejauh mana orang telah melakukan riset dan selanjutnya kita bisa menulis sesuai dengan yang kita pahami.

Tips : menulis di dalam kelompok atau teman sejawat dalam bidang.

Diharapkan kita mendiskusikan hasil kesimpulan riset yang kita utarakan kepada teman-teman sebidang dalam grup kita, dengan begitu kita akan lebih mengerti apa yang dimengerti oleh orang lain dari hasil tulisan kita.

Tiga kunci bekerja dalam kelompok (grup) :

  1. Banyak bicara/ngobrol/bertanya
  2. Setuju menuju tidak setuju dan akhirnya setuju
  3. Posisikan diri kita pada grup dengan pemimpim grup.

1. Banyak bicara

Dibutuhkan perencanaan dalam grup, dan berbicara/berdialog adalah satu-satunya cara untuk membentuk perencanaan , tujuannya adalah memonitor kemajuan kerja kita, dan yang lebih penting adalah kita bisa merubah rencana yang semula diusulkan ke arah yang lebih baik. Mengatur waktu pertemuan, atau mengadakan pertemuan setiap minggu atau bisa juga berbagi dari e-mail yang biasa disebut milist (mailing list).

2. Setuju menuju tidak setuju, dan akhirnya setuju

Diskusi sangat dianjurkan, tapi jangan harap teman-teman dalam grup kita bisa langsung setuju 100% dalam setiap diskusi. Jika kita menemukan ketidaksetujuan itu artinya kelompok kita bisa menghasilkan pemikiran yang lebih baik. Dan apabila pendapat kita tidak disetujui karena ada pendapat yang lebih baik yang diutarakan oleh teman kita harus menerimanya dengan senang hati. Ketika ketidaksetujuan kita muncul dan tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan kesimpulan, sebaiknya kita lupakan saja pendapat tersebut.

3. Posisikan diri kita dalam dalam kelompok dengan pemimpin grup

Dalam setiap grup diperlukan ada yang menjadi moderator atau fasilitator atau koordinator atau organizer (yang mengatur), karena setiap kelompok membutuhkan seseorang untuk tetap menjaga (memantau) jadwal pertemuan dari grup, bertanya tentang kemajuan, menengahi diskusi dan ketika kelompok menemui jalan buntu ada satu orang yang dapat menanganinya selama proyek berlangsung. Sehingga keharmonisan kelompok tetap terjaga, tidak terjadi keretakan dan perpecahan.

Tiga strategi bekerja dalam kelompok :

  1. Membagi tugas, memberi kepercayaan, dan bersaing sehat : kelompok memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan perseorangan. Keberhasilan terbaik adalah bila setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pendidikan dan bakat yang berbeda, karena dari situlah setiap anggota akan bekerja menurut latar belakangnya dan menghasilkan hasil kerja yang terbaik dengan mengisi kekosongan atau kekurangan dari progress yang diraih. Contoh: Dalam satu kelompok terdapat 6 anggota dimana 2 orang bekerja untuk mencari data, 2 orang bekerja untuk mengolah, menganalisis dan meghasilkan grafik-grafik dan 2 orang lagi bekerja dalam drafting, dan akhirnya semua bekerja untuk merevisi hasil yang diperoleh. Ada juga yang berpendapat bahwa dalam suatu kelompok minimal ada 3 anggota, karena jika hanya 2 anggota saja tidak cukup karena tidak ada penyeimbang jika dari kedua anggota terjadi ketidaksepakatan dan akan cepat jenuh bila dalam kelompok hanya 2 anggota. Dan maksimal dalam satu kelompok memiliki 8 anggota karena itulah jumlah maksimum dalam setiap anggota memberikan sumbangan pikiran yang paling sedikit/minim, jika lebih dari 8 anggota dimungkinkan akan ada anggota yang pasif dalam kelompok tersebut. Jika dilihat dari contoh di atas bahwa 6 orang pun sudah sangat cukup dalam bekerja di bidangnya masing-masing dan menghasilkan hasil yang baik.
  2. Menulis Sejalan (Write side-by-side) :  berbagi pekerjaan dalam kelompok, bekerja sejalan adalah jalan terbail. Strategi ini  jadi sangat baik ketika pada kelompok kecil anggotanya saling terikat dan dapat saling bekerja sama dan banyak menghabiskan waktu pada tugasnya.
  3. Membuat perubahan (take turns) : strategi ini sangat efektif ketika anggota dari kelompok memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam mengutamakan apa yang penting, dari perbedaan ini akan lebih melengkapi daripada kontradiksi antar anggota. Perbedaan adalah berkah, yaitu saling melengkapi dan diambil yang terbaik. Bisa saja dalam suatu kelompok menggunakan strategi yang berbeda dan tempat yang berbeda, sebagai contoh : pada rencana awal kita ingin bekerja bersama-sama/sejalan, dan akhirnya kita mendapatkan masalah dan kejenuhan ditengah jalan maka boleh saja kita mengganti strategi dalam bekerja. Dari sini diperlukan juga suatu pengalaman dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, mungkin untuk pertama kali kita akan merasa kaget tapi dengan berjalannya waktu kita akan menjadi biasa.

Bab 3

Dari Topik menjadi Pertanyaan

Jika kita bisa bebas menentukan banyak topik riset yang menurut kita menarik, kita bisa saja jadi bingung dalam memilih, banyak pilihan tetapi sedikit waktu. Mencari topik hanyalah sebuah langkah awal penelitian, jangan dianggap setelah kita mendapatkan topik maka pekerjaan kita hanya mencari informasi dan melaporkan apa yang telah kita dapatkan .Dengan banyak mencari informasi maka kita akan bisa mendapatkan topik yang kita inginkan. Semakin banyak kita mencari informasi secara intensif kita bisa memangkas waktu sehingga tidak terlalu berlama-lama dalam mencari topik.  Di dalam topik, kita harus menemukan penyebab kenapa kita memilih topik tersebut dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama mungkin berminggu atau berbulan-bulan dan kemudian mencoba menanyakan pada pembaca pun juga membutuhkan waktu.

Seorang peneliti harus lebih banyak melakukan daripada hanya mengambil informasi dan kemudian melaporkan hasilnya. Peneliti menggunakan informasi untuk menjawab pertanyaan dari topik. Pada awalnya pertanyaan tersebut hanya digunakan untuk peneliti itu sendiri Tapi untuk beberapa poin, pertama-tama peneliti harus menentukan pertanyaan dan jawaban yang signifikan yang awalnya untuk peneliti itu sendiri tetapi pada akhirnya ke orang lain, guru, atau kolega ataupun komunitas peneliti lainnya. Dari sini peneliti harus dapat melihat tugasnya dari sisi yang berbeda, bukan hanya mencari jawaban dari pertanyaan, akan tetapi menempatkan penyelesaian masalah yang orang lain juga mengakui bahwa itulah penyelesaian masalahnya.

Peneliti harus melihat yang menjadi pembeda dalam tugasnya : peneliti tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi juga dapat mnyelesaikan masalah yang semua orang juga mengakuinya. Kata “masalah” adalah sesuatu yang khusus dalam dunia penelitian. Jadi jangan cemas jika pada awalnya tidak bisa menemukan topik. Akan tetapi kita tidak akan bisa maju jika kita tidak berusaha menemukan topik.

Kita memfokuskan pada langkah awal untuk memformulasikan pertanyaan riset. Bagaimana kita mengubah suatu topik yang kita minati menjadi sebuah riset?

Bagaimana kita menemukan pertanyaan yang bisa mengarahkan kita ke suatu riset? Bagaiamana kita memilih pertanyaan dan jawaban dari riset yang mana pada awalnya untuk diri sendiri dan akhirnya untuk orang lain/pembaca?

Prosesnya antara lain seperti berikut :

1. Temukan daerah subyek yang diinginkan.

Mencari subyek penelitian dengan mencari topik adalah langkah awak dari penelitian.

2. Persempit ketertarikan  ini menjadi topik yang masuk akal.

Topik yang terlalu luas akan menghasilkan kebingungandan penelitian menjadi bertele-tele, persempitlah agar lebih mudah dan sederhana.

3. Siapkan pertanyaan-pertanyaan dari topik yang dilihat dari segala sisi.

Dengan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan maka akan mempertajam pemahaman kita, ditambah dengan dari segala sisi maka akan menjadi  lebih baik.

4. Memberi alasan untuk project yang kita lakukan.

Pekerjaan riset adalah menggunakan rasio dan bukan dengan emosi.

Daftar Pustaka

Booth, W.C., G.G. Colomb., J.M. Williams., 1995. The Craft of Research. The University of Chicago. London.

Miharja, Dadang K,. 2004. Metodologi Penelitian Sains Kebumian. Jurusan Oseanografi FITB. ITB.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s