Bagian 7

Perbedaan antara  Masalah Praktis dan Masalah Riset

Pembedaan antara masalah praktis, masalah pragmatis, dan masalah riset mungkin terlihat sebagai masalah “biasa/mudah”, tapi membedakannya merupakan hal yang sangat penting.  Masalah praktis lebih cenderung atau lebih jelas diketahui pemecahannya karena masalah praktis ini biasanya berupa riset terapan. Sementara masalah riset belum tentu kita akan meraih jawaban atau penyelesaiannya karena masalah riset selalu saja ada kekurangan atau kelemahannya.

Masalah praktis berasal dari masalah “dunia nyata” dan pasti memerlukan “biaya” uang, waktu, pengorbanan dan lain-lain. Sebelum dapat memecahkan masalah praktis kita harus berusaha untuk menemukan/memberi jawaban terhadap masalah riset.

Masalah riset berasal dari pikiran kita yang keluar sebagai pengetahuan yang masih belum lengkap dan pemahaman yang “cacat/kurang”. Kita memilih masalah riset tersebut karena harus memecahkan masalah praktis, tapi kita tidak bisa memecahkan masalah praktis hanya dengan menyelesaikan masalah riset.

Mungkin kita menerapkan pemecahan masalah riset untuk menyelesaikan masalah praktis. Walaupun demikian pemecahan masalah riset tidak mengubah apa-apa dalam dunia nyata, tapi setidaknya kita belajar lebih tentang sesuatu atau lebih memahami masalah praktis lebih baik lagi. Dari penjelasan ini juga dapat kita jelaskan bahwa suatu masalah dapat diselesaikan dari berbagai segi tetapi penyelesaian kita hanya bagian kecil dari seluruh penyelesaian masalah tersebut, artinya bahwa tidak mungkin meyelesaikan masalah praktis hanya dengan satu pemecahan riset.

”Masalah” dalam dunia riset mempunyai arti khusus yang berbeda dengan ”pengertian awam” tentang masalah yang diartikan sebagai ”sesuatu yang sulit”. Persoalan dan masalah itu sering kali disebutkan dengan perkataan problema, yang merupakan terjemahan dari kata asing problem, memang problema itu tidak lain dari suatu masalah atau keadaan yang belum diketahui dan menunggu pemecahan. Hasil pemecahan problema-problema itu diharapkan dapat digunakan oleh pihak yang berkepentingan sebagai landasan dalam pengambilan kebijaksanaan untuk kesejahteraan masyarakat.

Setiap periset memerlukan masalah riset yang ”baik” untuk bekerja didalamnya. Jika periset tidak punya masalah riset yang ”baik” maka ia mempunyai masalah praktis yang sungguh-sungguh ”sulit”.

Membedakan Masalah dan Topik

Penentuan topik adalah tahap awal dalam proses penelitian atau penyusunan karya ilmiah. Topik yang masih bersifat awal tersebut kemudian difokuskan dengan cara menyempitkan cakupannya. Ketika cakupannya sudah sesuai, kemudian permasalahan dapat ditentukan, permasalahan dapat berupa pertanyaan yang harus dijawab atau pernyataan argumentasi yang merupakan penjabaran bukti berdasarkan analisis.

Contoh: Prediksi Cuaca.

Topik penelitian adalah prediksi cuaca. Untuk peneliti pemula, mereka akan mengalami kesulitan dalam menentukan masalah penelitian. Kadang mereka terjebak dengan topik penelitian dan banyak yang menganggap topik penelitian sama dengan masalah penelitian. Seperti contoh di atas, kebingungan peneliti pemula akan mengakibatkan mereka memberikan jawaban bahwa topik penelitian adalah prediksi cuaca sementara masalah penelitian juga mereka sebut prediksi cuaca. Padahal yang menjadi masalah adalah apa yang menjadi penyebab atau faktor agar bisa memprediksi cuaca. Dimana tuntutan dari prediksi cuaca itu sendiri adalah untuk mencapai keakuratan prediksi cuaca. Dengan mempertimbangkan faktor agar kita dapat memprediksi cuaca dengan baik, maka kita bisa menentukan masalah penelitian yaitu bagaimana menjawab tuntutan prediksi yaitu akurasi dengan mengetahui interaksi udara dan laut yang menyababkan terjadinya proses konveksi.

Namun ada alasan lain yang menyulitkan periset pemula dan bahkan periset yang sudah punya sedikit pengalaman dengan gagasan/pikiran tentang “masalah”. Periset yang berpengalaman bicara tentang masalah riset sering dalam cara yang singkat/pendek yang terlihat seperti topik.

Contoh: Saya meneliti variabilitas ARLINDO di Selat Makassar. Atau saya mengkaji mekanisme pembentukan rip current di Pelabuhan Ratu.

Banyak periset pemula bingung merumuskan masalah riset dari suatu topik yang dipunyai/ada. Periset pemula, sering merasakan frustasi ketika penilai/pembimbing mengatakan: “ Saya tidak melihat “sesuatu yang penting”, itu hanya “kumpulan fakta yang tidak berarti”. Kita akan menyia-nyiakan waktu “pembaca” jika kita tidak dapat membedakan antara topik dan masalah riset.

Kesamaan Struktur dari Masalah Riset dan Masalah Praktis

Kita telah membedakan antara masalah praktis dan masalah riset, tapi masih dalam struktur yang sama. Keduanya terdiri dari dua elemen, yaitu:

  1. Beberapa situasi dan kondisi khusus.
  2. Hal tersebut merupakan konsekuensi  yang tidak diinginkan yang menuntut “biaya” yang kita tidak ingin “bayar”.  Dalam masalah praktis, biaya yang kita tidak ingin bayar itu adalah biaya proses dan pembuatan proyek. Kita cenderung memangkas biaya dalam suatu proyek. Sementara dalam masalah riset, biaya yang kita tak ingin bayar adalah biaya penelitian yang menuntut uang dan waktu, baik itu dalam mencari atau melengkapi data riset tersebut.

Masalah Praktis

Masalah praktis biasanya merupakan sesuatu yang melelahkan karena merupakan keadaan di dunia nyata yang pasti memerlukan “biaya” (uang dan/atau waktu) untuk menyelesaikannya. Jika kita berpikir bahwa kita menemukan suatu masalah, yakinkan bahwa kita dapat mengidentifikasikannya dan menguraikan situasi dalam dua bagian:

1. Suatu keadaan yang memerlukan penyelesaian

Keadaan: Lubang di lapisan ozon makin membesar.

2. ”Biaya” dari keadaan tersebut yang kita tidak ingin pikul.

”Biaya” atau akibatnya : Banyak orang yang akan mati karena kanker kulit.

Kita kadang-kadang dapat mengganti ”biaya negatif” menjadi bentuk ”positif” sebagai ”keuntungan” dari penyelesian keadaan tersebut. Dari contoh diatas misalnya, Keuntungan : Jika kita dapat memperbaiki lubang ozon kita menyelamatkan banyak orang. Keuntungan yang lain adalah pengetahuan tentang pentingnya lapisan ozon bagi kelangsungan hidup manusia menjadi lebih berkembang.

Makin besar akibatnya suatu keadaan, apakah biayanya atau keuntungannya, makin penting masalah tersebut.

Masalah Riset

Masalah riset cakupannya lebih sempit dibandingkan masalah praktis karena masalah riset mempunyai fokus yang lebih tajam dan sifatnya yang multidisiplin. Masalah praktis dan masalah riset mempunyai struktur yang sama tetapi berbeda dalam dua jalan/cara yang penting.

Jalan yang pertama adalah Keadaan.

Ketika masalah praktis dapat dinyatakan pada keadaan suatu kejadian, masalah risetnya selalu didefenisikan dengan konsep yang lebih sempit. Masalah riset selalu beberapa bagian/keadaan dari kejadian/peristiwa dimana kita tidak mengetahui atau tidak memahami yang kita pikir bahwa hal tersebut harus diketahui dan dipahami lebih baik lagi. Untuk mempermudah kita dalam penentuan keadaan ini langkah yang sebaiknya ditempuh adalah memetakan permasalahan yaitu dengan cara mendeskripsikan apa-apa yang sudah diketahui dan apa-apa yang belum diketahui.

Pertanyaan yang ”baik” adalah suatu tahap pertama yang harus dilakukan dalam merumuskan pertanyaan riset, karena pertanyaan berpengaruh pada apa yang kita harus tahu atau apa yang harus dipahami. Contoh: bagaimana pengaruh tutupan es terhadap cuaca? Atau Bagaimana pengaruh rip current terhadap angkutan sedimen di perairan pantai?

Jalan kedua adalah Biaya.

Perbedaan kedua antara masalah praktis dan masalah riset adalah tingkat kesulitan untuk pemahamannya atau ”meraihnya”. Masalah riset mungkin tidak segera dapat dihubungkan/ ”dipakai” dengan dunia nyata. ”Biaya” (atau dapat juga ”keuntungan”) segera yang menyergap masalah riset adalah ketidaktahuan dan ketidakpahaman, dan lebih penting lagi adalah konsekuensi ketidaktahuan atau ketidakpahaman yang dirumuskan dari keadaan masalah. Gagasan tentang ”biaya” dengan mudah dipahami dalam masalah praktis karena ”biaya” tersebut biasanya secara jelas, seperti ”perasaan sakitnya” atau ”penderitaannya”, kehilangan uang, kesempatan, kegembiraan, reputasi, dan lain-lain.  Sedangkan ”biaya” dalam masalah riset adalah ketidaktahuan atau ketidakpahaman.

Periset yang berpengalaman harus menunjukkan pada ”pembaca” atau ”khalayak” bahwa ketidaktahuan atau ketidakpahaman tersebut penting untuk ”diatasi”. Agar pertanyaan ”so what” dapat dijawab dengan baik. Ringkasnya: Kita tidak akan punya masalah riset sampai kita tahu ”biaya” ketidaktahuan atau kekurangpahaman kita.

Ketika Masalah Riset Dimotivasi dari Masalah Praktis

Akan lebih mudah menentukan “biaya” dan manfaat suatu masalah riset jika di dorong oleh masalah praktis.

  • Lalu apa (so what) jika kita tidak dapat menentukan faktor yang menyebabkan banjir 5 tahunan di Jakarta.

Hal ini yang membedakan riset murni dan riset terapan. Suatu masalah praktis dengan “keadaanya” dan “biayanya” yang jelas mudah untuk dimengerti dan menarik bagi periset pemula, mereka sering tergoda untuk mengambil sebagai topik risetnya karena lebih jelas masalahnya. Hal tersebut baik saja sebagai permulaan. Tapi mereka beresiko melakukan kesalahan jika mereka pikir bahwa masalah nyata dicoba diselesaikan dalam riset mereka atau dapat diselesaikan oleh hasil riset mereka.

Tidak ada makalah hasil riset dapat menyelesaikan masalah nyata seperti banjir, tapi riset yang baik mungkn dapat memberikan pengetahuan yang dapat membantu kita menyelesaikan masalah nyata. Masalah riset hanya memberi petunjuk apa yang kita tidak tahu atau tidak sepenuhnya dimengerti. Sehingga ketika menulis makalah bukan untuk menyelesaikan masalah nyata, seperti masalah banjir, tetapi untuk menyelesaikan masalah yang menarik yang tidak kita ketahui atau tidak mengerti, atau sesuatu yang kita perlu tahu sebelum kita berhubungan dengan masalah nyata.

Membedakan “Riset  Murni” dan “Riset Terapan”

Dalam banyak tulisan akademik, kita jangan mencoba menerangkan “biaya” ketidaktahuan dengan memperlihatkan bagaimana riset kita akan memperbaiki masalah nyata. Lebih baik kita perlihatkan kita dan “pembaca/khlayak” tidak dapat mengerti seberapa besar dan seberapa penting masalah yang menjadi perhatian kita dapat dimengerti lebih baik.  Jika penyelesaian riset kita tidak menunjukkan penerapannya untuk penyelesaian praktis tapi hanya menjadi perhatian masyarakat akademik, maka riset kita merupakan riset murni yang kebalikan dari riset terapan.

Sebagai contoh tidak ada diantara kita yang mengetahui berapa banyak bintang di langit, kita tidak merasa buruk jika kita tidak mengetahuinya. Kita tidak berkeinginan untuk mengetahunya, akan tetapi kita tidak bisa  berpikir biaya bila kita mengetahuinya, atau manfaat yang akan kita dapat. Dan sejauh itu, tidak masalah untuk kita jika kita tidak mengetahuinya.

Tetapi untuk ahli astronomi, mereka tidak mengetahui banyaknya bagian dari rmasalah riset “murni” yang memiliki signifikan yang besar untuk mereka. Hingga kita mengetahui kuantitas, mereka tidak dapat menghitung lainnya yang lebih penting, yaitu massa total jagat raya. Jika mereka dapat menghitung massa dari jagat raya, mungkin mereka akan menemukan sesuatu yang lebih penting: apakah jagat raya ini akan meledak kembali dan menjadi jagat raya baru, atau tetap pada keadaan yang tunak. Dengan mengetahui jumlah dari bintang mungkin tidak dapat menolong menemukan dalam masalah nyata, tapi untuk ahli astronomi (mungkin juga ahli teologi), maka akan menemukan celah pada pengetahuan mereka dan itu adalah biaya yang sagat besar:  pengetahuan tersebut dapat memberikan pemahaman untuk sesuatu yang lebih signifikan, yatu masa depan jagat raya.

Kita dapat mengelompokkan apakah masalah riset itu merupakan riset murni atau terapan dengan melihat paling sedikit tiga tahapan dalam mendefinisikan proyek riset kita.

Masalah riset murni:

  1. Topik: Saya mengkaji densitas cahaya dan radiasi elektromagnetik dalam bagian kecil dari jagat raya.
  2. Pertanyaan riset: Sebab saya ingin mencari tahu berapa banyak bintang dilangit.
  3. Alasan: Dalam upaya untuk mengerti apakah jagat raya akan selalu mengembang atau mengkerut kedalam suatu Big Bang baru.

Riset murni tersebut terlihat jelas pada tahap 2 dan 3, dimana tahap 2 menguraikan bahwa kita tidak tahu sesuatu, dan tahap 3 menyatakan bukan sesuatu yang akan dilakukan tapi sesuatu yang kita tidak tahu tapi harus diketahui.

Dalam riset terapan, pertanyaan risetnya masih menyatakan sesuatu yang kita ingin tahu, tapi alasan pada tahap 3 menguraikan sesuatu yang kita inginkan atau perlu dilakukan.

Masalah riset terapan:

  1. Topik : Saya mengkaji perbedaan antara hasil pembacaan dari teleskop Hubble dan teleskop di permukaan Bumi dari bintang yang sama.
  2. Pertanyaan riset: Sebab saya ingin mencari tahu seberapa besar pengaruh atmosfer mengganggu hasil pengukuran cahaya dan tingkat radiasi elektromagnetik.
  3. Alasan: Dalam upaya untuk mengukur lebih teliti lagi densitas cahaya dan radiasi elektromagnetik dalam suatu bagian kecil jagat raya.

Apakah Masalah Riset Anda Murni atau Aplikasi?

Kita membedakan riset murni dan terapan dari pernyataan alasan, dimana dalam riset murni pernyataan tersebut berupa konsep dan apa yang ingin diketahui, sedangkan dalam riset terapan apa yang mau dikerjakan. Jika kita berpendapat bahwa pertanyaan dalam riset murni yang dilakukan mempunyai akibat langsung yang nyata, tambahkan dalam masalah riset kita kemungkinan lanjutan yang penting.

Jika kita menginginkan pertanyaan dari riset murni seperti kita dapat mengaplikasikan jawaban ke dalam masalah praktis, pembaca akan berpikir bahwa kita naïf. Ketika kita menginginkan pertanyaan murni dan kita ingin mendiskusikan konsekuensi nyata dari jawaban, maka formulasikan masalah kita pada masalah riset murni yang sebenarnya lalu tambahkan masalah ke depan yang mungkin signifikan.

Contoh:

–  Topik : Saya ingin mengkaji banjir di Jakarta

–  Pertanyaan: Karena saya mau mengetahui faktor-faktor alam yang dominan penyebab banjir tersebut.

–  Alasan: dalam upaya memahami mekanisme banjir besar lima tahunan, apakah siklus tersebut merupakan keniscayaan atau ada siklus lain yang perlu diwaspadai.

–  Kemanfaatannya: Dengan pengetahuan tentang faktor-faktor alam, yang dominan kita dapat mewaspadai kemungkinan banjir besar dengan siklus yang lain.

Salah satu penyebab mengapa peneliti pemula kesusahan dalam melakukan riset murni, adalah biaya dan konsep seperti menghitung bintang. Mereka merasa bahwa sepertinya hal tersebut tidak terlalu baik, sehingga mereka mencoba mencari solusi dari masalah riset ke dalam solusi masalah praktis.

Jika proyek riset kita lebih murni tapi kita yakin bahwa hasil riset kita mempunyai akibat nyata tak langsung, rumuskan kemungkinan akibat nyata tersebut dalam kesimpulan kita.

Menemukan Masalah Riset

Sulit menemukan masalah riset bagi peneliti, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman. Untuk menemukan masalah riset terlebih dahulu perlu ditulis mengenai apa yang telah dibaca dan memetakan permasalahan. Ada 4 tahapan yang dapat memudahkan kita antara dalam menemukan masalah riset. Namun tahapan ini tidak harus dilakukan semuanya, bisa satu saja, sebagian atau seluruhnya tergantung dengan kebutuhan. 4 tahap tersebut adalah sebagai berikut :

Cari bantuan

Lakukan apa yang periset berpengalaman lakukan jika mereka tidak tahu sesuatu, mereka lakukan penelitian, dan bicara dengan orang-orang. Bicarakan dengan pembimbing, dan teman atau seseorang yang mempunyai perhatian yang sama dengan topik dan pertanyaan riset kita. Kenapa orang lain membutuhkan untuk menjawab pertanyaan kita? Apa yang akan mereka lakukan dengan jawaban kita? Apa pertanyaan kedepan yang akan kita jawab lagi?

Jika kita bebas dalam memilih topik, kita harus melihat bagian masalah yang lebih besar di wilayah penelitian kita. Kita tidak seperti untuk menjawabnya, tapi jika kita memisahkannya ke dalam bagian-bagian kecil maka proyek kita akan memberikan beberapa manfaat (itu akan mencerdaskan diri kita tentang masalah kita).

Jika pembimbing membantu mendefinisikan masalah kita sebelum kita memulai riset dan memberikan kita informasi-informasi, jangan membuat itu membatasi pencarian kita. Kita harus mencari informasi lain, bawa sesuatu yang merupakan dari kita sendiri dalam mendefinisikan masalah.

Cari masalah dari apa yang dibaca

Kita dapat menemukan masalah riset setelah kita membaca buku secara kritis. Membaca kritis adalah langkah dalam menemukan lubang-lubang atau gap yang masih akan ditambal. Jika belum menemukan gap berarti harus lebih kritis lagi dalam membaca. Dari berbagai bahan bacaan di perpustakaan atau internet peneliti dapat menemukan sumber permasalahan yang  baik untuk dikembangkan menjadi penelitian, yaitu dengan mengukuhkan teori yang ada dengan mencari bukti baru secara empiris dari data lapangan. Buku-buku atau literatur mutakhir yang pada umumnya membahas tentang teori, konsep ataupun metode-metode baru dengan disertai contoh-contoh konkrit akan banyak memberikan masukan kepada para pembacanya untuk menemukan topik-topik permasalahan untuk penelitian. Siklus yang terus bergulir antara konsumsi ilmiah dengan membaca, akan mengarahkan kita menemukan masalah riset kemudian menghasilkan produk ilmiah kemudian menuliskannya, dan dari situ kita bisa saja mendapatkan suatu masalah baru: error, ketidakcocokan, atau ketidakkonsistenan yang membuat mereka benar.

Tentu bisa saja kita yang salah, jadi jika kita tidak setuju pada pertengahan proyek kita, maka kita harus membaca ulang untuk meyakinkan pemahaman kita.

Sesekali kita menemukan teka-teki atau error, cobalah lagi kemudian gabungkan poin tersebut. Jika informasi mengatakan X dan yang kita pikirkan adalah Y, maka kita harus mencari masalah riset jika hanya kita dapat menunjukkan pembaca yang percaya bahwa X akan menyimpangkan pemahaman yang lebih penting nantinya.

Bacalah beberapa halaman terakhir dari bacaan kita. Banyak peneliti yang memberikan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban, lebih dari masalah yang telah didapat solusinya.

Cari masalah dari apa yang anda tulis.

Cara lain menemukan masalah riset adalah ketika kita memformulasikan draft masalah riset dan kemudian membacanya secara kritis. Setelah itu kita bisa menuliskan masalah riset yang final dari hasil bacaan kritis terhadap draft yang kita susun.

Ketika kita menyelesaikan draft pertama, kita harus melihat lebih dekat tiga atau dua halaman terakhir.

  • Lihat poin utama dalam makalah, kalimat atau dua kalimat yang dapat mempertahankan klaim kita.
  • Selanjutnya beri tanda pada poin dimana kita telah menyelesaikan teka-teki, konflik opini, sesuatu yang benar-benar belum diketahui.
  • Cobalah membuat pertanyaan yang kompleks pada poin utama, yang menurut kita susah untuk dijawab. Pertanyaan tersebut harus didefinisikan dengan kondisi penolakan atau ketidakpahaman sehingga dapat mengurangi jawaban kita sehingga kita dan pendengar akan tetap melanjutkan pada pertanyaan itu.

Jika kita bisa melakukan itu semua maka kita telah mendefinisikan kondisi dari masalah riset kita, apa yang kita tidak tahu tapi ingin diketahui. Langkah selanjutnya mudah : pertanyaan lalu apa?, adalah pertanyaan yang susah dijawab. Tapi jika kita bisa menjawabnya, kita telah berhasil mencari penyebab ke belakang dari solusi kita untuk statement penuh dari masalah kitayang telah terjawab.

Gunakan masalah standard.

Maksud penggunaan masalah “standard” dalam memperoleh masalah riset disini adalah menemukan masalah riset dengan “memetakan” permasalahan dalam suatu topik riset tertentu sehingga diperoleh gambaran tentang “kekurangan” atau “lubang-lubang” yang ada mengenai “informasi” atau “pemahaman” dari suatu topik riset yang masih harus “diisi/dicari” atau diteliti.  Atau masalah riset dapat diperoleh juga dari suatu topik yang masih menjadi perdebatan diantara para periset karena masih terdapat perbedaan pendapat diantara mereka.

Masalah dari Masalah

Masalah riset yang telah ditetapkan oleh pembimbing yang harus diselesaiakan mahasiswa. Dalam menyelesaikan masalah riset tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenai kepentingan/manfaat masalah riset tersebut untuk anda tanpa mempedulikan apakah orang lain punya kepentingan atau tidak. Jika kita bisa melakukan lebih dari itu dan jika kita bisa memecahkan teka-teki yang ingin kita selsesaikan maka kita akan memberikan manfaat yang baik dan akan menenangkan hati pembimbing kita. Langkah kedua adalah kita harus mempunyai keinginan atau alasan untuk berbagi dengan orang lain dengan berbagi pengetahuan baru atau pemahaman baru yang anda peroleh dari hasil penyelesaian masalah riset anda. . Langkah ketiga adalah kita harus mencoba memahami keinginan/kepentingan “pembaca”

Merupakan langkah yang besar jika kita tidak hanya berbagi pengetahuan dengan “pembaca” tapi dapat “menghibur” atau memberi “kepuasan” pada mereka.

Untuk pekerjaan tersebut, kita harus melewati semua tahapan seperti dibawah ini, kita bisa menggunakan 3 langkah untuk didiskusikan. Kita mengubah bahasa menemukan dengan memperlihatkan dan mengerti/paham dengan menjelaskan, tapi langkah ketiga dan kedua masilh mendefinisikan masalah kita secara implisit :

1. Nama topic :

    Saya menulis tentang___________________,

    2. Arah pertanyaan (tergantung definisi kondisi dari masalah kita) :

      ……. karena kita mencoba untuk ,memperlihatkan siapa/bagaimana dan kenapa­____

      3. Bagaimana jawaban kita akan menolong pembaca memahami yang sesuatu yang lebih penting nantinya (berdasarkan definisi biaya dari pertanyaan yang tidak diketaui) :

      4. …… untuk menjelaskan kedapan kita bagaimana/kenapa________________

        Semua ini seperti tidak terhubung dengan dunia nyata, tapi tidak. Masalah riset di dunia benar-benar terstruktur seperti pada dunia akademik. Kerja yang kita lakukan sekarang adalah kesempatan terbaik untuk menyiapkan bermacam-maca pekerjaan yang akan kita lakukan, jika kita ingin maju pesat di dunia maka kita harus menyiapkannya dan tidak hanya dengan menyelesaikan masalah, tapi juga menemukan masalah.

        Bagian II

        BAB V

        Dari Pertanyaan-pertanyaan ke Sumber

        Jika anda seorang periset pemula dan tidak begitu mengenal perpustakaan, gunakan bab ini untuk perencanaan riset anda, tapi jika anda merupakan periset yang sudah mempunyai sedikit pengalaman lewat bab ini, lewati dan menuju bab selanjutnya.

        Ketika anda sudah memformulasikan pertanyaan riset Anda, maka Anda akan segera mencari sumber-sumber untuk mendukung mencari jawabannya. Jika anda menemukan sumber dalam buku akademik atau artikel, anda dapat membaca hingga kebawah dan menemukan catatan kaki (footnotes) dan bibliografi dan mendapatkan sumber-sumber lain seperti yang anda cari dalam catalog buku tersebut. Jika anda tidak tahu dimana akan menemukan sumber-sumber maka anda akan mengalami stress saat mencari sumber dan tidak tau harus memulai dari mana.

        Saat yang paling genting adalah saat dimana anda terjun langsung tanpa perencanaan, maka ketika itu anda akan kehilangan arah untuk menuju apa yang dicari sebenarnya. Untuk mendapatkan sumber-sumber yang sesuai, maka kita harus mempunyai pertanyaan riset yang baik dan bisa juga dalam mecari sumber dan pertanyaan riset dilakukan secara beriringan atau secara bersamaan sehingga mendapatkan kedua-duanya sekaligus.

        Sebagai alternatif, kita bisa mencari sumber-sumber dari internet (surfing), terkadang mencari sumber-sumber dari internet/website lebih menyenangkan dan carilah literatur/sumber-sumber yang terarah, dari situ kita akan lebih merasa terhibur dan lebih mudah.

        Sumber-sumber dapat mengarahkan kita kemana saja, sehingga sangat mudah kehilangan orientasi. Tidak ada yang salah membaca tanpa tujuan, dan bahkan baik-baik saja. Setiap orang yang suka belajar selalu menemukan waktu menjelajah dunia pemikiran. Kesempatan menemukan masalah baru atau hubungan baru yang tidak seorangpun dapat melihat adalah merupakan suatu kebahagiaan yang tiada ternilai.

        Sayangnya, kita tidak dapat selalu mengandalkan pada kesempatan tersebut untuk menemukan masalah riset yang baik. Menghadapi tenggat waktu, anda memiliki waktu yang terbatas untuk mencari pertanyaan yang baik dalam fokus anda. Tapi memfokuskan sesuatu akan lebih menghibur dan berpikir apa yang telah anda dapatkan.

        Berhadapan dengan keterbatasan waktu, kita mempunyai keterbatasan pula untuk membaca dan merumuskan pertanyaan riset yang baik yang menjadi titik perhatian kita. Memperoleh pertanyaan riset yang terarah tidaklah mudah, tidak seperti mengumpulkan informasi biasanya merupakan pekerjaan yang lebih mudah dan menghibur. Secara ringkas : jika kita mempunyai keterbatasan waktu, maka kita memerlukan suatu perencanaan.

        Dalam bab 5 ini, Anda akan dipandu tahap demi tahap sebagai berikut:

        Temukan Informasi di Perpustakaan.

        Anda akan menemukan banyak sumber di perpustakaan terdekat. Ketika anda mencari di perpustakaan maka sangat baik jika anda mencari sumber-sumber dengan melihat seperti berikut :

        • Pustakawan acuan

        Jika pertama kali memasuki perpustakaan, tanyakanlah sumber-sumber yang ingin diketahui ke penjaga perpustakaan dan cobalah untuk menanyakan yang dapat dimengerti oleh penjaga perpustakaan tentang apa yang ingin diketahui. Sebelum kita bertanya pada pustakawan, maka kita harus mempersiapkan dahulu pertanyaan kita agar kita tidak membuang waktu. Jika kita tidak mempersiapkan pertanyaannya, maka bisa jadi pustakawan tersebut tidak dapat menolong kita. Sebelum kita fokus pada masalah, maka kita harus membuat pertanyaan yang lebih umum. Contohnya, “Petunjuk apa yang dapat kita gunakan untuk mencari sumber tentang glelombang laut?” Dan ketika kita ingin mempersempit pertanyaan kita yang mengarah pada topik kita, maka cobalah untuk bertanya pertanyaan yang akan membantu pustakawan mengerti apa tepatnya yang kita perlukan, “Dimana kita bisa menemukan buku yang berkenaan dengan tsunami?”. Dengan begitu anda akan lebih menghemat waktu.

        • Ensiklopedi dan kamus umum, seperti Encyclopedia Britannica

        Keutungannya antara lain anda akan mendapatkan pengetahuan umum tentang topik anda, dan dimana di akhir artikel anda akan menemukan daftar dari sumber yang akan dimasukan ke katalog perpustakaan.

        • Pedoman Bibliografi umum, seperti the Reader’s Guide to Periodical Literarur

        Anda harus dapat menemukan satu bibliografi tahunan dimana menunya lebih spesifik. Jika anda beruntung, anda akan mendapat biliografi bercatatan yang terfokus dan mendekati ke pertanyaan anda.

        • Kartu atau katalog yang dikomputerisasi, termasuk bibliografi yang dikomputerisasi dan database

        Datanglah ke katalog, yaitu kotak kartu, atau terminal komputer yang menyimpan data-data buku refrensi yang anda cari.

        • Ensiklopedi dan kamus khusus, seperti Encyclopedia of Philosophy and The Dictionary of Computing

        Anda akan menemukan dua macam bantuan referensi dasar seperti Encyclopedia Brittannica atau yang lebih spesifik seperti Encyclopedia of Philosophy. Pertama, anda akan mendapatkan wawasan standar dari topik anda. Kedua, anda akan mendapatkan daftar dari sumber-sumber di akhir artikel yang dapat dimasukkan ke dalam daftar pustaka.

        • Bibliografi khusus, abstrak artikel, buku teks, disertasi, dan angkuman tahunan dalam bidang tertentu

        Kita harus bisa menemukan setidaknya satu bibliography tahunan yang berisi keseluruhan atau salah satu aspek dari subjek kita. Jika kita beruntung maka kita akan menemukan sebuah bibliography yang fokus kepada daerah yang mendekati subjek kita. Bibliography tahunan ini dapat menjadi cara terbaik untuk mendapatkan inforamsi yang cepat tentang sumber dari subjek yang kita cari.

        • Pedoman yang merangkum sumber-sumber yang tersedia untuk riset dalam suatu bidang, dimana menemukannya dan bagaimana menggunakannya

        Setiap subjek utama selalu memiliki petunjuk kepada suatu sumber dimana para peneliti selalu menjadikannya sebagai rujukan. Petunjuk tersebut adalah daftar bibliography, lokasi dimana  bahan penting tersebut didapat, metode riset dan lain-lain. Jika kita ingin menjadi seorang peneliti yang profesional maka kita harus terbiasa dengan hal-hal tersebut.

        Mengumpulkan Informasi dari Orang Lain

        Banyak proyek riset dapat diselesaikan hanya dari sumber buku saja, tapi mungkin juga memerlukan informasi yang tersedia hanya dari orang-orang.

        • Para pakar sebagai bibliografi

        Pada setiap tahap riset, biasanya anda menemukan orang yang memandu anda, seperti dosen/pembimbing yang membantu anda untuk mengarahkan pada pertanyaan riset anda dan untuk memulai mengumpulkan informasi. Awalnya pembimbing akan menolong untuk menajamkan pada pertanyaan dan memulai mengumpulkan informasi. Makin dalam kita berpikir sebelum bicara dengan pembimbing semakin baik. Kita dapat menjelaskan apa yang akan/sedang lakukan dan semakin menolong mereka untuk menolong kita. Pembimbing kita mungkin tidak punya semua jawaban yang diperlukan untuk menjawab semua masalah riset kita, dan kita harus meminta tolong ke orang lain.

        Sumber baru sebagai bantuan bibliografi adalah elektronik ”bulletin board” atau “bulletin list” yang tersedia di internet. Kemajuan teknologi saat ini sangat membantu kita mencari sesuatu informasi dengan teknologi perangkat lunak yang tersedia.

        Ada tiga jenis sumber:

        1. Sumber Primer : Sumber-sumber yang secara langsung kita dapatkan
        2. Sumber sekunder : sumber ini berupa buku-buku atau artikel, dimana dalam sumber ini para peneliti melaporkan hasil penelitiannya berdasarkan data primer mereka.
        3. Sumber tersier : Sumber ini berupa buku-buku atau artikel yang berdasarkan pada sumber sekunder.
        • Orang-orang Sebagai Sumber Utama

        Dalam beberapa bidang, kita mungkin harus mengumpulkan data primer. Mewawancarai orang-orang tidaklah mudah, tapi anda harus ingat bahwa ada satu kesamaan antara belajar dari orang-orang dan dari satu buku, yaitu makin jelas anda dapat memisahkan apa yang diketahui dari apa yang anda mau ketahui, semakin efisien anda akan menemukan apa yang anda perlukan. Atau dengan kata lain anda harus membuat perencanaan. Kita harus membuat skrip pertanyaan yang akan kita ajukan pada orang-orang. Jika kita mencari informasi dengan sumbernya adalah buku, maka saat kita harus meyakinkan kembali informasi kita, maka kita dapat melihat kembali buku yang kita jadikan sumber info tersebut. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang. Saat kita menjadikan orang sebagai sumber utama, umumnya orang-orang tersebut tidak mau lagi mengulang menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, karena itulah kita harus mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan kita ajukan kepada mereka.

        Penjelajahan Bibliografi

        Riset tidak pernah sendirian, bahkan jika kita bekerja sendiri, kita berjalan dalam tahapan bersama yang lain, menggunakan hasil kerja orang lain seperti prinsip-prinsip dan praktek-praktek mereka.  Satu prinsip dasar adalah kita berbagi riset kita dengan mendokumentasikan sumber kita sehingga yang lain dapat menggunakannya/mengikutinya.

        Bibliografi memuat daftar buku dan artikel pada topik yang berhubungan. Jika daftar itu pendek, baca semuanya, tetapi jika daftarnya panjang, kita perlu memilih sumber yang penting dan sangat diperlukan. Dengan menjelajahi bibliografi, kita dapat menemukan cara untuk mengatasi kesulitan riset kita, karena satu sumber selalu membawa/menunjukkan sumber lainnya.

        Dengan dapat memetakan masalah, maka hal tersebut belum cukup dalam penjelahan literature. Karena memetakan masalah hanya memberikan kulit-kulit dari banyak literature, maka dari situ dikatakan masih kurang dalam penjelajahan literature.

        Apa Yang Anda Temukan

        Setelah anda memperoleh petunjuk, anda harus harus membuat daftar penting untuk menjadi pedoman tahap pertama dari hasil bacaan anda. JIka anda dapat menghasilkan sesuatu dari hasil bacaan, beli buku atau foto copy beberapa bagian yang penting untuk menghemat waktu mencatat. Buat catatan penting dan tandai dalam buku halaman-halaman yang memuat informasi dengan riset anda. Informasi yang diperoleh dari literatur, anda akan tahu seberapa jauh/dalam topik riset anda telah dikerjakan orang lain dan apa saja yang sudah dan belum dikerjakan. Sehingga dengan demikian anda dapat memformulasikan pertanyaan riset yang lebih baik.

        Sebenarnya, dengan bantuan dari orang lain yang bekerja dengan topik yang sama dengan anda sebelumnya, dengan begitu anda dapat menyakan pertanyaan yang lebih baik.

        Carilah kata kunci yang benar, misalnya dengan didapatkannya kata kunci pertama, maka kata kunci tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan topik yang kita kerjakan dan dari kata kunci pertama juga bisa didapatkan kata kunci kedua, dan selanjutnya.

        Daftar Pustaka

        Booth, W.C., G.G. Colomb., J.M. Williams., 1995. The Craft of Research. The University of Chicago. London.

        Miharja, Dadang K,. 2004. Metodologi Penelitian Sains Kebumian. Jurusan Oseanografi FITB. ITB.

        Leave a comment

        No comments yet.

        Comments RSS TrackBack Identifier URI

        Leave a Reply

        Fill in your details below or click an icon to log in:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

        Connecting to %s