Menulis Kritis

Dalam unit ini, akan dibahas tentang menulis kritis. Kata dasar kritik berasal dari kata Perancis yang berarti penilaian kritis, baik itu penilaian secara positif, negatif, atau campuran keduanya. Secara umum kritikan ini sangat luas ruang lingkupnya. Salah satu jenis kritikan yang umum kita kenal adalah ulasan film di berbagai media seperti koran dan televisi. Kritikan memiliki berbagai struktur, tetapi yang paling sederhana adalah ringkasan pendek dan evaluasi. Unit ini akan difokuskan pada evaluasi.

Dalam beberapa bidang studi, kritikan adalah bagian pekerjaan rumah (PR) yang biasa diberikan, tapi di bidang lain mungkin jarang ada. Guru/Dosen/Instruktur memberikan kritikan sebagai tugas adalah salah satu cara untuk mengevaluasi siswa terhadap tugas baca yang diberikan kepada mereka. Beberapa poin yang bisa dilihat dari kritikan tersebut adalah:

  1. Dapat memastikan bahwa siswa benar-benar telah melakukan tugas bacanya.
  2. Dapat melihat tingkat pemahaman siswa terhadap bacaan yang telah dibacanya.
  3. Dapat mengembangkan kebiasaan siswa untuk mempunyai kebiasaan membaca analitis.
  4. Melatih siswa untuk mengintegrasikan tugas baca tersebut dengan jalan membandingkan bacaan yang satu dengan bacaan yang lainnya.
  5. Memberikan siswa pengertian yang lebih baik terhadap ekspektasi ilmiah di bidang pilihan mereka.

Kritikan mengharuskan siswa belajar untuk mengekspresikan komentar evaluatif di  bidang yang sesuai dengan standar penilaian yang mereka terima. Hal ini penting karena kritikan akan menjadi “adil dan masuk akal.” Disebut “adil” karena sesuatu yang logis dalam satu bidang seharusnya tidak diterapkan pada bidang lain dimana kriteria tersebut bisa saja tidak masuk akal. Sebagai contoh, dalam hal bagaimana perlunya ketepatan pengukuran, di bidang psikologi tidak akan sebanding dengan fisika. Atau, standar yang diharapkan pada kelompok eksperimental, penelitian dalam metodologi pengajaran bahasa tidak sebanding dengan  mengukur kemampuan membaca anak SD.

Kita juga harus mencatat pada tahap ini bahwa bidang yang berbeda cenderung
memaksakan perbedaan penekanan pada kritikan. Dalam humaniora, perhatian mungkin terfokus pada bagaimana sebuah argumen itu “menarik”; dalam ilmu sosial, pada metodologinya dan dalam sains dan teknologi, pada hasil dan apa yang memungkinkannya (atau tidak mungkin) berarti.

Pada unit ini kita membatasi hanya pada kritikan artikel. Kita tahu bahwa siswa
kadang-kadang diminta untuk menulis kritikan dari berbagai hal seperti lukisan, musik,
bangunan terkenal, dan seterusnya. Kritikan karya seni memerlukan pelatihan khusus dan ketentuan penulisan khusus yang berada di luar lingkup buku ini. Dalam beberapa bidang, seperti sosiologi, siswa mungkin akan diminta untuk memberi kritikan beberapa buah buku, bahkan mungkin setiap dua minggu. Perlakuan ini dapat sangat keras kepada orang yang bukan penutur asli, dimana mereka (dipahami) tidak memiliki kecepatan membaca yang tinggi. Jika kita menemukan posisi dalam situasi ini, salah satu strategi yang berguna adalah mempelajari ulasan buku dalam jurnal bidang kita. Seperti tinjauan yang harus memberikan petunjuk tentang apa yang mungkin diharapkan.

Untuk melatih agar kita mampu memberikan kritikan terhadap makalah atau artikel yang telah kita baca, berikut diberikan beberapa penuntun antara lain:

  • Memberikan persetujuan/tidak setuju terhadap bacaan yang dibaca. Baik itu setuju/tidak setuju sebagian atau sepenuhnya dengan makalah atau artikel yang kita baca.
  • Memilah kalimat-kalimat yang mengandung pernyataan memuji dan kritis.
  • Memperhatikan penulisan kalimat secara gramatikal, apakah kalimat yang ditulis telah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Persyaratan Menulis Kritis

Pada tahap ini, diberikan beberapa persiapan untuk menulis kritis antara lain:

  • Memiliki kemampuan membaca analitis.
  • Memiliki pengalaman dalam menulis sebuah pembukaan ringkasan.
  • Familiar dengan peran dan tempat kualifikasi bacaan atau ”batasan”.
  • Menumbuhkan rasa dalam diri sebagai penonton.
  • Dapat menampilkan diri dalam tulisan sendiri sebagai anggota junior dari disiplin ilmu yang kita pilih atau dalam arti lain tulisan kita tidak bersifat menggurui.

Di sisi lain, agar sukses dalam menulis kritis, sedikitnya ada dua elemen yang mungkin akan diperlukan: kondisi seharusnya dan bahasa evaluatif.

Fokus Bahasa: Kondisi Seharusnya

Dalam sebuah kritik, kita perlu untuk mengekspresikan kritikan dengan mengatakan apa yang seharusnya dilakukan penulis. Berikut adalah dua contoh  pernyataan untuk kondisi seharusnya.

  • Artikel ini akan lebih meyakinkan jika penulis menghubungkan penemuannya dengan pekerjaan sebelumnya.
  • Akan lebih baik jika penulis menampilkan temuan utama mereka dalam bentuk tabel.

Kata jika yang menjadi kalimat hubung diantara dua kalimat menjadi patokan kondisi yang seharusnya dilakukan penulis.

Sekarang perhatikan bentuk-bentuk kata kerja yang dicetak miring berikut:

  • Penulis seharusnya telah memberikan lebih banyak data tentang sampelnya.
  • Walaupun ini merupakan makalah penting dan menarik, penulis dapat memberi perhatian lebih banyak terhadap fakta bahwa model pilihan konsumen mereka didasarkan sepenuhnya pada data Amerika Serikat.

Perhatikan bahwa kata seharusnya mengungkapkan komentar yang sangat negatif, sementara kata dapat kurang kuat. Kata harus adalah kritikan, kata bisa merupakan saran, dan kata mungkin merupakan saran yang lemah.

Fokus Bahasa: Bahasa Evaluatif

Persyaratan kedua untuk kritikan adalah dapat menunjukkan dengan tepat penggunaan bahasa evaluatif.

Kata sifat evaluatif

Kata sifat ini dalam kritikan bertujuan untuk meringkas pandangan kita dari penggambaran sumber dengan satu atau dua kata sifat evaluatif.

Kata sifat evaluatif terhadap disiplin ilmu

Andaikata satu kelompok terdiri dari mahasiswa dari beberapa disiplin ilmu. Dari pemahaman mereka terhadap kata sifat selalu memunculkan pertentangan makna. Ini dapat dimengerti karena mereka berasal dari disiplin ilmu yang berbeda-beda. Ambil kasus pada kata sederhana/kompleks. Mahasiswa dalam sains dan kedokteran, misalnya, berpikir sederhana sebagai hal positif dan kompleks sebagai hal negatif. Untuk siswa sederhana sama dengan “terencana” atau “rancangan yang jelas” dan kompleks sama dengan “bingung” atau “berantakan”. Sebaliknya, ilmuwan sosial menyamakan sederhana dengan “bersahaja” dan kompleks dengan “canggih”.

Dalam sebuah penelitian yang menarik, Becher (1987) menyurvei kata sifat di antara sejarawan, sosiolog, dan ahli fisika di Britania dan Amerika Serikat. Dia menemukan banyak perbedaan di antara tiga kelompok. Berikut hasil survey tersebut:

Tabel. Kata Sifat di antara sejarawan, sosiolog, dan ahli fisika di Britania dan Amerika Serikat

Pekerjaan yang baik Pekerjaan biasa saja Pekerjaan jelek
Sejarawan

Sosiolog

Ahli Fisika

Ilmiah atau asli

Tanggap atau ketat

Elegan atau ekonomis

Logis

Ilmiah

Akurat

Lemah

Anekdot

Ceroboh

Membaca kritis

Sekarang kita akan mencoba membahas tentang membaca kritis terhadap sebuah artikel atau makalah yang dihadapkan kepada kita. Kemampuan yang harus dimiliki untuk membaca kritis adalah harus bisa mendapatkan secara cepat gambaran tentang isi makalah atau artikel yang dibaca. Biasanya sebuah laporan singkat atau artikel ditulis dalam beberapa bagian seperti: pendahuluan, metoda, hasil dan diskusi. Pembagian ini akan memudahkan kita untuk membaca cepat. Bisa saja hanya dengan membaca salah satu bagian saja dari laporan tersebut kita sudah bisa mendapatkan gambaran tentang laporan tersebut. Selanjutnya kemampuan yang harus dimiliki adalah ketelitian. Ketelitian disini artinya kita mesti jeli melihat keabsahan artikel atau laporan singkat yang diberikan. Terlebih dahulu kita harus melihat judul, penulis, editor, penerbit dan alamat lengkap seandainya kita hendak menghubungi mereka lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang diberikan penulis hanya sebagian saja dan tidak mungkin memberikan semua informasi hanya dalam bentuk artikel atau laporan singkat.

Setelah kita membaca selanjutnya langkah yang kita lakukan adalah menulis kritikan. Kita dapat menulis kritikan jika:

  • Mampu menemukan titik-titik tertentu untuk di kritik
  • Mengungkapkan pendapat sendiri terkait dengan bacaan yang dibaca.

Fokus Bahasa : Inversi

Kita sudah mengetahui bahwa bahasa biasanya memerlukan susunan kata balikan untuk dijadikan pertanyaan. Kita juga mungkin tahu bahwa susunan kata yang berbeda diperlukan jika sebuah kata “negatif”  yang digunakan untuk membuka sebuah kalimat.

Sekarang mari kita lihat pernyataan di bawah ini, pertama terbalik, kemudian susunan katanya normal.

  • Yang paling menonjol adalah strategi fungsional. . .
  • Strategi fungsional. . . adalah yang paling menonjol.

Inversi semacam ini, bahkan dengan kata sifat atau participles sederhana, adalah cukup umum dalam puisi. Akan tetapi, di bidang akademik, hal ini hanya terjadi untuk ekspresi komparatif bahkan lebih. Inversi adalah sesuatu hal yang penting dan hanya boleh digunakan untuk penekanan khusus, seperti ketika kita ingin mengkhususkan satu hasil/kesalahan/ masalah/kebajikan dari yang lainnya.

Makalah Tanggapan

Sejauh ini, kita telah menempatkan penekanan kuat pada gaya formal. Akan tetapi, dalam bagian ini kita akan memperkenalkan dua jenis kritikan yang sifatnya lebih pribadi dan gaya penulisan informal yaitu: makalah tanggapan dan tinjauan (review).

Pada makalah tanggapan, siswa didorong untuk menggambarkan pengalaman mereka, perasaan, dan ide serta  membuat metodologi dan komentar analitis. Siswa internasional seringkali mempunyai keunggulan di sini karena mereka dapat menggabungkan pengamatan dan pengalaman yang mencerminkan latar belakang khusus mereka sendiri. Seringkali komentar akan membuka mata instruktur untuk hal-hal yang belum mereka pikirkan.

Fokus Bahasa: Kutipan Ironis

Sebelumnya, kita telah menyebutkan kata inversi sebagai hasil dari penempatan kata-kata “negatif” di awal kalimat. Kata negatif pada kalimat sebelumnya adalah “kutipan ironis”. Kutipan ironis adalah kutipan sebuah kata atau frasa yang artinya tidak menunjukkan makna sebenarnya terhadap kata atau frasa yang ditulis. Kegunaan kutipan ironis ini adalah sarana untuk menjauhkan penulis dari deskriptor. Penulis menunjukkan dengan kutipan ironis dia tidak perlu percaya bahwa suatu konsep adalah benar. Sebagai contoh, penggunaan tanda kutip  negatif pada contoh ini, menunjukkan bahwa negatif dapat ditafsirkan sangat luas, karena itu akan mencakup kata-kata seperti sukar dan tidak mungkin serta negatif “benar”  seperti tak pernah.

Dalam kritikan, kutipan ironis adalah cara yang berguna untuk memberi isyarat bahwa Anda belum tentu selalu berposisi sebagai penulis. Misalnya, Anda
mungkin menulis:

Kesimpulan Kobayashi tentang preferensi “budaya” . . .

Kutipan ironis menunjukkan bahwa Anda memiliki keraguan tentang keabsahan posisi Kobayashi. Kutipan ironi berguna untuk menampilkan keahlian kita dalam berbahasa. Namun, kutipan ini lebih cenderung digunakan dalam ilmu pengetahuan sosial dan humaniora daripada dalam sains dan teknik.

Tinjauan (Review)

Jenis kritikan yang kedua yaitu tinjauan. Disini kita berposisi sebagai peninjau atau reviewer. Kita bertugas meninjau dan mengevaluasi suatu makalah atau laporan.

Advertisements

1 Comment

  1. Pak Cunop, mohon untuk segera memposting tugas pengayaan berikutnya.. hehe…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s