Bagian 9

BAGIAN III

Membuat Pendakuan dan Mendukungnya

Dalam bagian ini akan dibahas bagaimana membuat alasan-alasan (arguments) yang memperkuat pendakuan kita dalam rangka menjawab pertanyaan riset atau menyelesaikan masalah riset serta menyusun data/informasi/bukti yang mendukungya.

Prolog : Argumen, Draf dan Dialog

Merencanakan penulisan draft pertama :

Jika anda mengumpulkan banyak catatan, fotocopy, ringkasan dan itu semua menumpuk di meja kerja serta memenuhi harddisk anda, sudah saatnya anda menuliskan draft pertama. Barangkali anda baru punya gambaran yang belum jelas betul tentang jawaban terhadap pertanyaan penting dalam riset anda, karena mungkin anda belum yakin benar bagaimana dan apa sesungguhnya sosok dari pertanyaan riset tersebut.

Ketika anda telah megumpulkan data/informasi mulailah berpikir apa yang dapat disarikan darinya. Salah satu cara pendekatan untuk jawaban terhadap pertanyaan riset adalah dengan cara meringkas bahan-bahan penelitian agar dapat membantu menemukan beberapa pola atau implikasi dan kemudian merumuskan pendakuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika anda periset pemula mulailah menusun bahan-bahan riset, mengenali dan menyusun topik-topik dalam deretan pioritas, kemudian mulailah menuliskannya. Kadang-kadang kita tidak beruntung karena apa  yang kita temukan kurang berarti. Walaupun jika topik-topik tersebut terlihat jelas lebih dalam, topik-topik tersebut seperti  sebuah sekuensi/rentetan linear (A+B+C+…), struktur retorika yang cukup kuat untuk mendukung argument yang panjang dan kompleks. Hasil yang paling jelak adalah jika anda hanya mengikuti ide orang lain.

Yakinkan bahwa penyusunan bahan-bahan tersebut merupakan cara yang baik untuk mempersiapkan draft pertama. Pisahkan data anda dengan topik yang cocok. Dalam penyusunan draft pertama, anda memerlukan prinsip pengelolaan bahan-bahan yang muncul bukan dari pengelompokkan bahan tersebut tapi dari pertanyaan riset dan “percobaan” jawabannya. Anda harus menyusun jawaban tersebut untuk mendukung pendakuan utama yang mau dibuat, yaitu suatu pendakuan sebagai jawaban yang “tahan” terhadap pertanyaan tajam dan suatu pendakuan sebagai pembenaran untuk menuliskan makala Anda. Dukungan terhadap jawaban dan pendakuan tersebut disebut argument riset.

Cuplikan dari kamus Filsafat (Lorens Bagus)

  1. Latin : argumentum (kata ini berasal dari kata kerja argutare yang berarti bersenda gurau atau dari kata kerja argure yang berarti menunjukkan atau memperjelas)
  2. Dalam bahasa Indonesia kata “argument” di sinonimkan dengan pembuktian atau bukti.
  • Cuplikan dari Kamus Umum (Echols and Shadily)
  1. Perbedaan Pendapat.
  2. Alasan penyanggahan.
  3. Uraian, penjelasan.
  4. argumentation” diterjemahkan sebagai “argumentasi”, “uraian atau “pembuktian”.

Argumen Riset Sebagai Dialog (Bertukar Pikiran)

Kita harus dapat membedakan argumen awam dan argumen dalam laporan riset. Orang kebanyakan berpikir bahwa argumen adalah “pertentangan” seperti anak kecil memperebutkan mainan atau teman sekamar dalam “mempersoalkan” TV atau radio yang siarannya “tidak disepakati” atau suaranya “terlalu keras”. Argumen tersebut dapat santun tapi walaupun begitu argumen berimplikasi pada pertentangan, ada yang “menang” dan ada yang “kalah. Perlu diketahui bahwa periset kadang-kadang terlibat dalam percekcokan tentang bukti, perebutan, dan sering “meledak” dalam kekurangkontrolan diri, ketidak mampuan dan bahkan penipuan/kecurangan. Tapi hal tersebut merupakan argumen yang membuat periset menjadi “terhormat”.

Argumen yang akan kita bicarakan berupa argumen yang bukan “pertengkaran” tapi lebih pada “dialog” pikiran degan bijaksana bersama yang lain, sehingga kita dapat mengembangkan ide tentang isu yang dipercaya sebagai hal yang penting. Dalam dialog tersebut, kita lebih bertukar pandangan. Dalam dunia riset, kita diharapkan membuat pendakuan yang kita pikir sebagai baru dan cukup penting untuk “pembaca” yang bertanya pada kita kenapa kita mempercayai pendapat/pendakuan tersebut.

Kita mengantisipasi pertanyaan tersebut dengan menyiapkan dukungan terhadap pendakuan dengan nalar dan dasar yang baik, dengan “bukti”. Kita harus maklum bahwa “pembaca” akan mengajukan pertanyaan terhadap “bukti” yang kita punyai, mungkin berupa logika kita, dan kita juga harus menjelaskan argumennya, dan menguraikannya dalam pendakuan yang rinci.

Mungkin kita perlu menjelaskan kenapa kita berpikir pada bukti tertentu yang secara logika mendukung pendakuan kita. Akhirnya kita harus mengantisipasi bahwa “pembaca” akan berpikir penolakan dan alternatif, sehingga kita harus menjawab seperti mereka berpikir. Tujuan kita secara keseluruhan bukan untuk memaksakan pendapat kita kepada pembaca atau mengatasi mereka dengan cara yang tidak berkualitas.

Sesungguhnya dalam mengantisipasi pandangan “pembaca”, posisis mereka, perhatian mereka, kita perlu menempatkan pendakuan kita dengan cara “menolong” mereka untuk mengenali/mengerti dengan cara mereka sendiri. Dengan demikian menolong kita mengenali keterbatasan bukti kita, dan menguji “gaung” nalar kita, sehingga unsur-unsur argumen yang baik menolong kita bekerja bahkan menentang “pembaca kita” tapi bersama mereka kita menemukan dan mengerti kebenaran yang kita dapat bagi.

Untuk situ, kita harus bisa mengetahui dan memahami darimana “pembaca kita” melihat, memiliki cara pandang dan dari sudut pandang mana dia membaca draft.

Dapat disimpulkan bahwa adu argumen dalam riset bukanlah pertengkaran, kita hanya melihat dari sudut pandang yang berbeda, misal : kita melihat dari sudut pandang A, tapi dengan dialog kita akan dapat melihat dari sudut pandang B atau C, ataupun D. Dalam adu argumen kita harus mempunyai pendakuan yang kuat untuk berdialog agar dapat melihat dari sisi yang berbeda, tetapi bukan berarti semuanya benar. Tujuan berdialog adalah untuk mencari kebenaran tentang fenomena alam dan bukan mencari siapa yang menang dan kalah.

BAB 7

Membuat Argument yang Baik : Sekilas Pandang

Dialog dan Argument

Tidak ada yang benar-benar sulit tentang bermacam-acam argumen yang akan dijadikan laporan riset. Sama saja degan memberi dan menerima diskusi langsung dengan pakar, dan khususnya pada saat mereka memberikan pertanyaan yang dapat menolong anda berpikir untuk solusi dari masalah-masalah yang bertumpuk.

Sebenarnya tidak ada kesulitan khusus dalam membuat argumen yang kita cari atau harus buat dalam laporan riset. Sama seperti dalam diskusi sehari-hari dengan seseorang terpelajar, khususnya jika pertanyaan mereka dapat membantu kita berpikir dalam menyelesaikan masalah rumit. Perbedaan antara “dialog dan “argumen” adalah dalam dialog kita selalu merasa lebih yakin tentang yang kita ketahui, dan ketika berhadapan dengan lawan bicara yang mengajukan pertanyaan tentang sesuatu yang mendorong kita untuk berpikir mengenai apa-apa yang kita percayai dan kenapa kita mempercayai.

Contoh “dialog”:

A : Bagaimana dengan semester ini, apakah kamu akan dapat nilai-nilai yang baik?

(A menanyakan pertanyaan yang secara implisit menimbulkan suatu masalah)

B : Saya pikir dan berharap semester ini akan lebih baik daripada semester yang lalu. (B menjawab pertayaan, B membuat pendakuan dan secara implisit menjawab suatu masalah)

A : Kenapa kamu berpendapat seperti itu?

(A menanyakan bukti yang mendukung pendakuan)

B : Karena saya mengikuti kuliah-kuliah lebih rajin dan belajar/latihan dirumah lebih banyak.

(B memberikan bukti)

Jika anda dapat membayangkan bagan dari dialog, anda akan menemukan bahwa tidak ada yang aneh dalam argumen riset, karena elemen-elemenya sama. Perbedaannya hanya pada laporan riset, tidak hanya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para pembaca, anda juga harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan untuk kepentingan mereka. Pertanyaan-pertanyaannya akan seperti ini :

Contoh “argumen”:

P : apa maksud anda?

K : Saya berpendapat bahwa …………………..

P : Bukti apa yang anda punya?

K : Bukti yang saya berikan /tunjukkan adalah……………

P : Apakah anda pikir bukti tersebutcukup untuk mendukung pendakuan anda?

K : Saya memberikan prinsip umum yang mendukung pendapat tersebut, …………..

Jawaban-jawaban anda berdasar pada argumen anda. Maka harus memenuhi :

  • Pendakuan,
  • Bukti, atau dasar-dasar yang mendukungya,
  • Sesuatu yang kita sebut jaminan, prinsip dasar yang menerangkan kenapa bukti anda relevan dengan pendakuan anda.
  • Kualifikasi yang dapat membuat pendakuan dan bukti anda lebih tepat.

Perbedaan yang jelas dari kedua dialog adalah dalam dialog ilmiah kita tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi juga mengajukan pertanyaan terhadap masalah. Dalam “argumen” ada unsur-unsur : pendakuan, bukti dan kualifikasi bukti.

Daftar Pustaka

Booth, W.C., G.G. Colomb., J.M. Williams., 1995. The Craft of Research. The University of Chicago. London.

Miharja, Dadang K,. 2004. Metodologi Penelitian Sains Kebumian. Jurusan Oseanografi FITB. ITB.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s