Langkah Kecil Untuk Perubahan Iklim

Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Pemanasan Global atau Global Warming. Kata-kata itu dalam beberapa tahun terakhir sering kita dengar. Kata-kata itu seakan tidak asing lagi dan seolah sudah menjadi santapan sehari-hari, karena terkait langsung dengan kehidupan manusia. Lalu muncul pertanyaan, apa itu pemanasan global, kenapa dan apa penyebabnya? Secara umum pemanasan global dapat diartikan sebagai kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi. Penyebab meningkatnya suhu permukaan bumi antara lain meningkatnya populasi manusia dan hewan, pembangunan dan teknologi. Pembangunan dan teknologi dapat digolongkan pada perilaku manusia. Perilaku manusia inilah yang menjadi penyebab utama pemanasan global yang menimbulkan meningkatnya gas rumah kaca di atmofer bumi. Gas rumah kaca berfungsi menahan gelombang panjang dari pantulan cahaya matahari terhadap bumi yang berdampak suhu permukaan bumi menjadi hangat. Gas rumah kaca ini kebanyakan dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, peternakan dan pembangkit listrik.

Gas rumah kaca tersebut antara lain karbon dioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan bermotor, industri-industri dan pembangkit listrik. Metana (CH4) yang berasal dari agrikultur dan peternakan terutama pada sistem pencernaan hewan. Nitrogen oksida (NO) yang berasal dari pupuk. Gas-gas yang digunakan pada kulkas dan pendingin ruangan (CFC), namun saat ini pemakaian kulkas dan pendingin ruangan yang ramah lingkungan telah marak disuarakan dari berbagai negara.

Pembabatan hutan secara besar-besaran juga menjadi penyumbang pemanasan global yang berakibat semakin meningkatnya kadar CO2 di atmosfer. Pohon berfungsi sebagai penyimpan CO2 yang baik dan kalau pohon tersebut mati maka CO2 yang tersimpan tersebut akan terlepas ke atmosfer. Penggundulan hutan juga berakibat menurunnya kesuburan tanah.

Dampak dari pemanasan global adalah mencairnya es di kutub utara, kutub selatan dan pegunungan Himalaya. Mencairnya es di kutub bumi belahan utara dan selatan berdampak langsung pada meningkatnya level permukaan air laut. Dataran tinggi Tibet yang disebut juga sebagai kutub ketiga terdiri dari pegunungan, sungai, danau dan dataran tinggi yang berfungsi sebagai pemasok utama air tawar bagi daerah disekitarnya. Dengan menipisnya es di dataran tinggi ini mengakibatkan berkurangnya cadangan air bersih yang dapat memicu perang.

Selanjutnya pemanasan global juga berdampak pada perubahan iklim dunia. Perubahan iklim berdampak langsung pada manusia seperti semakin sering terjadi bencana banjir, angin tornado, puting beliung, kekeringan, hujan es dan lain sebagainya. Pergeseran musim hujan yang susah ditebak berakibat pada pertanian yang sulit menentukan masa tanam. Peningkatan suhu juga menyebabkan sejumlah spesies serangga yang mengakibatkan penyakit tropik semakin meningkat seperti malaria. Dampak selanjutnya adalah menipisnya sumber daya air.

Dampak dari pemanasan global ini telah mengganggu hampir seluruh sendi-sendi kehidupan. Sebagai upaya dari menekan laju peningkatan suhu permukaan bumi dibutuhkan tindakan nyata yang sangat mendesak. Tindakan nyata itu antara lain mengurangi pemakaian bahan bakar fosil yang menimbulkan emisi karbon, mengurangi atau berhenti makan daging, memakai produk yang ramah lingkungan, menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan dan lain sebagainya.

Vegetarian

Dari semua tindakan atau perilaku yang harus dilakukan dalam rangka memperlambat laju peningkatan suhu permukaan bumi tersebut, ada hal yang menarik dari hasil penelitian para ahli yang disampaikan oleh PBB pada November 2006 bahwa emisi rumah kaca yang berasal dari peternakan sapi, ayam, babi dan hewan ternak lainnya sebanyak 18%. Ini lebih besar dibandingkan dengan emisi rumah kaca yang berasal dari transportasi seperti mobil, sepeda motor, truk-truk besar, pesawat dan semua alat transportasi lainnya yang hanya 13%. Fakta ini sangat mengejutkan karena sesuatu hal yang bernama daging menjadi penyumbang utama gas rumah kaca di permukaan bumi.

Solusi untuk mengurangi atau berhenti makan daging adalah memilih pola hidup  vegetarian. Secara singkat vegetarian berarti pola makan yang berbasis pada tumbuh-tumbuhan dan tidak mengkosumsi makanan yang berasal dari hewan. Pola hidup vegetarian secara umum dapat dibagi menjadi empat bagian, antara lain: Lacto Vegetarian, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani kecuali susu. Ovo Vegetarian, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani kecuali telur. Lacto-Ovo Vegetarian, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani kecuali susu dan telur.  Vegan, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani tanpa kecuali. Termasuk didalamya produk-produk kosmetik, pakaian, sepatu, aksesoris dan semua barang-barang yang terbuat dari bahan baku hewan.

Selain menekan laju peningkatan suhu permukaan bumi, gaya hidup vegetarian juga berdampak pada beberapa faktor antara lain kesehatan, lingkungan dan etika atau moral. Dari sisi kesehatan, pola hidup vegetarian telah terbukti lebih sehat dibandingkan dengan pola hidup yang mengkosumsi daging. Dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa berbagai macam penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat berasal dari pola hidup mengkosumsi daging, seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas (kegemukan), kanker dan lain sebagainya.

Dari segi lingkungan, pola hidup vegetarian telah berdampak menghemat sumber daya alam seperti air. Hasil penelitian kebutuhan air untuk berbagai produk diperlihatkan dari tabel berikut:

Tabel: Kebutuhan air untuk menghasilkan suatu produk

Kebutuhan Air

Daging     (1 kg)

liter

Produk Hewani   (1 kg)

liter

Buah-buahan dan sayur mayur (1 kg)

liter

Barang umum

liter

Sapi

Babi

Ayam

15.497

6.309

3.918

Sosis

Keju Olahan

Telur

Keju Segar

Yogurt

11.535

4.914

3.340

3.094

1.151

Ara

Plum

Ceri

Alpukat

Jagung

Pisang

Apel

Anggur

Jeruk

Kacang Polong

Stroberi

Kentang

Terong

3.160

1.612

1.543

1.284

909

859

697

655

457

359

276

255

25

Sepotong celana Denim

Seprai Katun

Kemeja Katun

Hamburger

Segelas susu

Secangkir kopi

Segelas anggur

Segelas bir

Secangkir teh

11.000

10.600

2.900

2.400

200

140

120

75

34

(sumber: National Geographic Indonesia, April 2010)

Untuk kebutuhan air selama hidup seekor ternak (sapi) dibutuhkan 3.091.000 liter. Air yang dibutuhkan oleh daging dan produk hewani pada tabel di atas termasuk air yang digunakan untuk menghasilkan makanan, pengolahan dan pembersihan kotorannya. Dari tabel di atas terlihat bahwa produk buah-buahan dan sayur mayur lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan daging, produk hewani dan barang umum. Ini menggambarkan bahwa pola hidup vegetarian akan membantu kita dalam program penghematan air.

Dari segi etika atau moral, pola hidup vegetarian dapat mengurangi krisis pangan yang tengah melanda dunia. Isu pemanasan global telah merubah pola pertanian dari petani pangan menjadi petani bio fuel. Bahkan ada beberapa negara yang memberikan subsidi bagi petani yang bersedia menanam tanaman untuk dijadikan bio fuel.

Hasil penelitian ilmuwan dari Universitas Chicago yang dirilis oleh New York Times melaporkan bahwa seorang vegetarian dapat menghemat emisi karbon sebanyak 1,5  ton per tahun. Sementara sebuah perusahaan mobil terkemuka menyatakan bahwa produk mobil hibrid mereka dapat menghemat 1 ton emisi karbon setiap tahun. Jika ada sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang dan vegetarian, ini berarti mereka dapat menghemat 4,5 ton emisi karbon per tahun. Hal ini jauh lebih murah dibandingkan dengan sebuah keluarga yang mengkosumsi daging dan mengganti mobilnya dengan mobil hibrid yang hanya menghemat emisi karbon 1 ton per tahun.

Vegetarian dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Biaya yang dibutuhkan untuk mengganti pola hidup dengan vegetarian jauh lebih murah dibandingkan dengan mengganti produk dengan produk yang ramah lingkungan atau membangun instalasi bio energi. Vegetarian juga tidak membutuhkan investasi yang besar untuk memulainya.

Langkah Nyata

Gaya hidup masyarakat kita yang memandang bahwa pola vegetarian adalah pola hidup kelas menengah kebawah harus mulai dirubah dari sekarang. Kebanyakan masyarakat kita menganggap bahwa semakin sejahtera secara finansial, maka semakin sering mengkosumsi daging, seperti sosis, steak, beef dan lain-lain. Selain itu ada juga anggapan bahwa vegetarian adalah pola hidup yang kurang gizi dan dapat mengurangi tingkat kecerdasan, terutama pada anak di usia pertumbuhan. Anggapan yang berkembang di masyarakat ini tidak terbukti secara ilmiah, bahkan sebuah studi yang dirilis oleh British Medical Journal pada tahun 2006 menyatakan bahwa; “Seorang vegetarian lebih cerdas daripada seorang pemakan daging”.

Merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di masyarakat kita bukanlah sebuah perkara mudah. Walaupun telah dipaparkan berbagai bukti ilmiah yang menerangkan bahwa pola hidup vegetarian lebih sehat dibandingkan dengan mengkosumsi daging, tetap saja susah untuk merealisasikannya. Untuk itu dalam makalah pendek ini diberikan sebuah pola vegetarian yang tidak akan membebani pola makan yang mengkonsumsi daging.

Dari uraian sebelumnya dipaparkan bahwa 1 orang vegetarian dapat menghemat 1,5 ton emisi karbon per tahun. Jika disederhanakan:

1,5 ton/tahun = 4,1 kg/hari

Seandainya digalakkan sebuah pola vegetarian sekali seminggu. Misalnya hari selasa kita jadikan sebagai hari vegetarian. Dimana selama satu hari ini kita tidak mengkosumsi produk yang berasal dari hewani. Dari perhitungan di atas 1 orang akan bisa menghemat emisi karbon sebanyak 213,7 kg/tahun (1 tahun = 52 minggu).

Jika hari vegetarian ini diberlakukan di sebuah instansi atau sekolah, maka perhitungan penghematan emisi karbon akan terlihat signifikan. Kita ambil contoh ITB. Jumlah komunitas di ITB (Mahasiswa, karyawan, dosen, dll) lebih dari 15 ribu orang. Kita asumsikan yang melakukan program hari vegetarian ini hanya 15 ribu orang.

15.000 x 213,7 kg = 3.205 ton

Hasilnya adalah komunitas ITB dapat menghemat emisi karbon sebesar 3.205 ton/tahun. Kita dapat bayangkan andaikata program hari vegetarian ini dapat diberlakukan di berbagai instansi dan sekolah di seluruh Indonesia. Program ini tidak mustahil untuk diwujudkan, karena tidak memerlukan dana dan investasi yang besar tetapi hanya membutuhkan keseriusan dari pengambil kebijakan.

Kesimpulan

Mengambil peran dalam rangka menekan laju peningkatan suhu permukaan bumi adalah sebuah langkah yang bijaksana. Langkah yang kita lakukan tidak harus sebuah langkah besar yang membutuhkan biaya yang besar pula. Tetapi yang kita butuhkan adalah sebuah perubahan besar. Dengan sebuah langkah kecil kita bisa memberikan perubahan besar, yaitu menggalakkan program hari vegetarian.

Mewujudkan hari vegetarian dipandang lebih mudah dibandingkan dengan merubah pola hidup masyarakat menjadi vegetarian. Hal ini dikarenakan oleh membentuk hari vegetarian tidak memberikan perubahan yang drastis kepada masyarakat.

Daftar Pustaka

Agus, R., Rudy S., 2008. Global Warming. Blog:hiduplebihmulia.wordpress.com.

Goodland, Robert., Jeff Anhang., 2009. Peternakan dan Perubahan Iklim. World Watch. www.worldwatch.org.

Hiduplebihmulia.com. 2009. Hidup Lebih Mulia dengan Vegetarian.

National Geographic Indonesia., 2010. Edisi Khusus: Air Dunia yang Dahaga. Kompas Gramedia. Jakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s