Musim

Ada 4 jenis musim yang di kenal di Bumi, antara lain:

1. Musim Dingin, yaitu terjadi di belahan bumi utara (bbu) pada bulan Desember, Januari dan Februari. Di belahan bumi selatan (bbs) terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus.

2. Musim Semi, yaitu terjadi pada bulan Maret, April, Mei di bbu dan September, Oktober, Nopember di bbs.

3. Musim Panas, yaitu terjadi pada bulan Juni, Juli, Agustus di bbu dan Desember, Januari, Februari di bbs.

4. Musim Gugur, yaitu terjadi pada bulan September, Oktober, Nopember di bbu dan Maret, April, Mei di bbs.

Di Indonesia tidak lazim disebut musim panas dan musim dingin karena variasi temperatur sepanjang tahun sangat kecil, dan lebih lazim disebut musim kering dan musim basah atau musim kemarau dan musim hujan. Musim Hujan terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari. Musim pancaroba pertama pada bulan Maret, April dan Mei. Musim Kemarau pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Musim pancaroba kedua pada bulan September, Oktober dan Nopember.

  • Ekinoks Musim Semi dan Musim Gugur

Ekinoks adalah kedudukan matahari pada ekuator atau garis khatulistiwa, terjadi dua kali dalam setahun yaitu tangal 21 Maret yang disebut Ekinoks Musim Semi dan 23 September yang disebut Ekinoks Musim Gugur. Pada saat ekinoks ini sinar matahari yang sampai ke bumi pada pukul 12.00 tepat berada di atas ekuator. Hal ini akan menyebabkan seluruh permukaan bumi mulai dari kutub utara sampai kutub selatan akan dikenai oleh sinar matahari sehingga lamanya siang dan malam sama yaitu 12 jam diseluruh bumi.

  • Solstis Musim Panas dan Solstis Musim Dingin

Solstis adalah kedudukan matahari pada titik balik, yaitu 23,5° LU terjadi pada tanggal 22 Juni yang disebut Solstis Musim Panas. Begitu juga sebaliknya ketika matahari berada pada titik balik 23,5° LS yang terjadi pada tanggal 22 Desember disebut Solstis Musim Dingin.

Solstis musim panas pada tanggal 22 Juni mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kutub utara condong 23,5° ke matahari.
  2. Sinar matahari jam 12.00 vertikal pada 23,5° LU.
  3. Di bbu, sinar matahari menyinggung 66,5° LU setelah melewati kutub utara, di bbs sinar matahari tidak menyinggung kutub selatan dan berakhir pada 66,5° LS.
  4. Lingkaran terang tidak membagi lintang sama besar kecuali pada ekuator sehingga lamanya siang dan malam tidak sama kecuali di ekuator.
  5. Bbu lebih luas ke arah matahari daripada bbs, sehingga siang hari lebih lama di bbu. daerah 66,5°-90° LS siang harinya mencapai 6 bulan.

Solstis musim dingin pada 22 Desember mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kutub selatan condong 23,5° ke matahari.
  2. Sinar matahari jam 12.00 vertikal pada 23,5° LS.
  3. Di bbs sinar matahari menyinggung 66,5° LS sehingga ada cahaya, sedangkan pada 66,5° LU tidak ada cahaya. Daerah 66,5°-90° LU malamnya sampai 6 bulan.
  4. Lingkaran terang tidak membagi lintang sama besar kecuali pada ekuator.
  5. Luas bbu lebih kecil ke arah matahari dibandingkan bbs sehingga malam hari lebih lama di bbu.
  6. Pada tanggal 22 Desember di bbu temperatur menjadi rendah sehingga terjadi solstis musim dingin.

(Sumber: Bayong Tjasyono HK, Geosains)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s