Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 371)

Pergolakan tengah membakar Minangkabau saat si Bungsu meninggalkan Australia dan menjejakkan kakinya di  Bukittinggi. Situasi amat rawan. Terlebih di kampung-kampung. Saling curiga, saling intai dan saling tuduh. Bahkan banyak orang yang ”hilang malam”. Dia sampai di kota itu ketika sore telah turun. Setelah melewati perjalanan jauh dan panjang: Australia – Jakarta – Padang – Bukittinggi. Dia ingin tidur karena lelah dan mengantuk. Namun, bertahun waktu telah berlalu sejak kepergiannya dari kota ini dahulu. Alangkah lamanya terasa.
Dalam waktu yang telah berlalu itu, ada rindu menusuk-nusuk hati. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian. Saat berganti pakaian itu dia mendengar suara lengking yang tinggi. Kemudian melemah. Sayup dan mendayu-dayu. Dia tertegak dengan baju belum terpasang. Suara itu amat dia kenal. Suara peluit kereta api! Ada rasa aneh menyelusup di hatinya. Rasa rindu dan haru yang membuncah. Dia tersenyum tipis, kendati matanya berkaca-kaca.
”Saya sudah di kampung …” bisik hatinya sambil meneruskan memakai baju.
Hotel dimana dia menginap adalah Hotel Indonesia. Sebuah hotel terbilang besar di Bukittinggi saat itu. Terletak di kawasan depan Stasiun Kereta Api. Selesai bertukar pakaian, dia keluar kamar. Mengunci pintu. Kemudian menyerahkan kuncinya pada pegawai hotel di lobi.
”Kereta dari mana yang masuk sebentar ini?” tanyanya pada pegawai hotel.
”Dari Padangpanjang, Uda akan kemana?”
”Akan ke Payakumbuh…”
”Aha..! Kereta yang baru masuk itu memang akan ke sana. Sebentar lagi berangkat. Tapi lebih baik Uda bermalam dulu di sini. Kalau keadaan agak aman setiap tiga hari ada kereta ke Payakumbuh..”
”Terimakasih..”
Si Bungsu melangkahkan kakinya ke jalan. Begitu keluar dari pekarangan hotel dan menoleh ke kiri dia berhadapan dengan Stasiun Kereta Api itu. Di sebelah kanannya ada kedai nasi yang tengah ramai. Beberapa bendi kelihatan berhenti di depannya. Sebelum bergolak dulu, tiap hari ada puluhan bendi menunggu penompang yang turun dari kereta api, yang datang dari kota-kota lain. Tapi sejak bergolak jadwal kereta api jadi tidak menentu.
Beberapa kusir tengah menikmati nasi ramas di atas bendi mereka. Lapau nasi itu hanya dipisahkan oleh jalan dengan Hotel Indonesia itu. Terletak agak di kiri, sekitar lima puluh meter dari hotel. Perlahan dia mengayunkan langkah ke sana. Dari balik kaca dia memandang ke arah makanan yang seperti dipamerkan. Ada goreng belut, dendeng, rebus daun ubi dan sambal lado. Perutnya terasa lapar. Dia memasuki lepau itu.
”Jo-a makan pak?”  tanya seorang anak muda sambil meletakkan mangkuk berisi air cuci tangan dan segelas teh di meja di depan si Bungsu.
”Nasi jo baluik,  dendeng. Letakkan daun ubi jo samba lado” katanya.  Ah, bahagia terasa. Bisa bicara dalam bahasa ibunya kembali. Seorang lelaki separoh baya, bertubuh segar yang tengah menyendukkan nasi bertanya.
”Ado patai jo jariang mudo. Nio ngku?”
Petai dan jengkol muda. Ah, sudah berapa lama dia tak mengecap makanan itu?
”Jadih, jariang mudo…” katanya.
Makanan yang dia inginkan itu diletakkan di depannya. Dia mengangguk pada beberapa orang yang duduk di sampingnya yang juga tengah  makan dengan lahap. Kemudian mulai menyuap. Ah, nasi padi baru dan sayur-sayur yang segar. Dia makan dengan lahap. Bertambah sampai tiga kali. Menghabiskan dua piring sayur daun ubi. Sepiring sambal lado dan enam buah jengkol muda. Sepiring belut dan dua potong dendeng. Ludes senua, nah wajahnya berpeluh. Mulutnya terasa disengat pedas yang hebat. Berkali-kali dia menghapus peluh di wajahnya. Berkali-kali dia mengerang menahan pedas.
”Kopi ciek…” katanya.
Secangkir kopi manis segera diletakkan.
”Kapai ka Pikumbuah, Nak?”  tanya seorang lelaki yang duduk di sisinya.  Dia menoleh, seorang lelaki tua yang tengah menghirup kopi kelihatan menatapnya. Dia coba mengingat. Kalau-kalau dia kenal pada orang ini. Namun dia tak mengenalnya. Dia menggeleng.
”Indak Pak…” jawabnya.
Lelaki itu hanya tersenyum. Lalu menghirup kopinya. Selesai membayar makanannya, si Bungsu melangkah ke luar. Orang ramai berkumpul di depan stasiun, yaitu mereka yang akan ke Payakumbuh, Baso, Biaro, Tanjung Alam, Piladang, Padang Tarok. Sambil berjalan dia memandangi orang-orang itu. Berharap kalau-kalau ada di antara mereka yang dia kenal. Namun dia telah jadi orang asing. Tak seorangpun yang dia kenal. Dan tak seorangpun yang mengenalnya.
Akhirnya dia tegak di taman kecil di bawah Jam Gadang. Tak lama setelah dia berdiri di bawahnya jam itu berdentang tiga kali. Gema Jam Gadang itu menegakkan bulu romanya. Dia tertegak diam.
Memandang ke Gunung Merapi yang bahagian kepundannya berwarna kemerah-merahan. Jauh di sana, di kaki sebelah kiri Gunung Merapi, dia melihat Gunung Sago. Ada debar di hatinya. Debar yang rindu. Debar yang sepi. Di kaki gunung itu terletak Situjuh Ladang Laweh.
Dia seperti bisa melihat susunan rumah dan letak mesjid di kaki gunung itu. Dia juga seperti melihat pandam pekuburan ayah, ibu dan  kakaknya! Peluit kereta api mengejutkan dirinya dari lamunan. Di hadapannya, di bawah sana, di antara ladang jagung dan padi yang menguning di Kampung Tangahsawah, dia lihat kereta api menuju ke kampungnya, berlari perlahan di atas rel. Asap hitam mengepul dari lokonya yang berada di depan. Deru mesin dan gemertak rodanya ketika melindas rel baja disampaikan ke telinganya seperti bunyi seruling anak gembala.
Perlahan dia…….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s