Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 372)

Perlahan dia…….mengambil tempat duduk di sebuah kursi kayu yang dicacakkan ke tanah, tak jauh dari Jam Gadang. Memandang ke lembah Merapi dan Singgalang. Rasanya seperti bermimpi. Dahulu dimasa revolusi, di kiri sana tak jauh dari Jalan Syech Bantam, dia pernah minum kopi di sebuah lapau kecil menanti seorang kurir. Di lapau itu dia membunuh dua orang serdadu Jepang. Setelah serdadu itu membunuh kurir yang dia nanti. Dari sana dia melarikan diri.
Seorang pedagang di jalan Syech Bantam menyem bunyikannya. Masuk ke ruang di bawah rumahnya. Kemudian keluar ke belakang. Turun ke jalan yang terletak jauh di bawah sana, di dekat Hotel Antokan. Dari sana, dengan menyelusur rel kereta api, dia berlari ke rumah Datuk Penghulu di Tarok, di mana dia menompang. Datuk itu seorang kusir bendi,  yang juga seorang pejuang bawah tanah. Ketika dia sampai ke rumah Datuk itu, dia dapati rumah itu telah musnah jadi abu. Api tengah berkobar memakan sisa puingnya.
Kekasihnya yang bernama Mei-mei, seorang gadis Cina, terhantar tak sadar diri. Gadis itu luka parah dan habis dinista serdadu Jepang. Tidak hanya Mei-mei. Tapi Tek Ani, isteri Datuk itu serta si Upik, anak gadisnya yang berusia lima belas tahun juga diperkosa serdadu Jepang. Mulai saat itu, dia dan Datuk Penghulu menghajar Jepang-jepang di kota ini. Menjebak dan membunuh mereka.
Mei-mei, gadis yang dia temukan di salah satu rumah di Payakumbuh, akhirnya meninggal di loteng sebuah masjid di Tarok. Meninggal sesaat sebelum mereka mengucapkana ijab kabul. Sesaat sebelum mereka disahkan menjadi suami isteri.
Dan…. setelah itu dia bertualang. Dia ditangkap Jepang. Disiksa di dalam terowongan di bawah kota ini. Kemudian ketika lepas, dirawat oleh Salma di rumahnya yang terletak di kampung Atas Ngarai. Dari rumah gadis itulah kemudian  dia berangkat ke Pekanbaru. Untuk kemudian terus ke Jepang mencari musuh besarnya, Saburo Matsuyama. Kini Salma berada di Singapura, menjadi isteri Overste Nurdin. Komandan pasukan di Pekanbaru yang berasal dari Buluhcina. Sebuah kampung kecil di tepian Sungai Kampar. Azan Asyar yang berkumandang dari Masjid Raya di Pasar Atas menyadarkan si Bungsu dari lamunannya. Perlahan dia bangkit, melemparkan pandangannya sekali lagi ke Merapi. Jauh di sana nampak Gunung Sago diselimuti kabut tipis. Di sanalah kampung halamannya, Situjuh Ladang Laweh.
Dia melangkah meninggalkan Jam Gadang. Menyongsong suara azan. Lewat di jalan Minangkabau yang diapit dua deret toko. Di ujung jalan ini ada sebuah bioskop. Agak di depan bioskop itu ada sebuah masjid yang letaknya berdempetan dengan sederet kedai. Itulah Masjid Raya di Pasar Atas, dari mana azan itu berkumandang. Masjid itu didirikan oleh kaum Muhammadiyah di kota itu. Suara azan yang tadi dia dengar sayup-sayup sekali di dekat Jam Gadang, makin lama makin jelas. Dia masuk setelah mengambil uduk. Ikut sembahyang berjamaah. Makmumnya tak berapa orang, karena situasi pergolakan selalu membuat orang cemas.
Selesai sembahyang dia tak segera pergi. Beberapa saat dia masih duduk. Melihat kanak-kanak berdatangan. Ada yang membuka Kitab Ama, ada yang membuka Alquran. Mereka mulai mengaji.
Mereka mengaji sore hari, karena sejak bergolak malam hari biasanya semua toko dan kedai di Pasar Atas itu tutup. Si Bungsu duduk bersandar ke dinding papan yang nampaknya telah rapuh. Mendengarkan anak-anak itu mengaji. Dia teringat pada masa kanak-kanaknya di kampung dahulu. Dia sama-sama berangkat dengan teman-temannya mengaji ke sebuah surau kecil di pinggir kampung.
Ketika teman-temannya masuk ke surau, dia dan beberapa temannya yang lain, berkelok ke sebuah rumah kosong. Di sana mereka berjudi. Main koa, atau remi. Memang judi kecil-kecilan. Bertaruh karet gelang atau kotak rokok. Bertaruh penganan atau pensil. Namun lama-lama, judi itu berkembang jadi judi benaran. Persis seperti dirinya yang lama-lama berkembang jadi dewasa. Dan akhirnya pula, siapa yang tak kenal padanya di bidang judi? Kini dia melihat kanak-kanak mengaji. Lelaki dan perempuan. Dan membayangkan masa kecilnya yang tak terlalu indah di kampung dahulu.
”Alif di ateh a, alif di bawah i, alif di dapan u :  A – I – U” 
Suara guru diikuti bersama. Berdengung dan serentak.
”Ba di ateh – ba, Ba di bawah – bi, Ba di depan – bu: Ba, Bi, Bu”
Suara murid-murid seperti koor yang kompak. Seperti sudah hafal akan setiap bunyinya. Si Bungsu bersandar diam. Beberapa murid mengaji, kanak-kanak berusia sekitar tiga sampai enam tahun, sesekali melirik padanya. Di antara suara A, I, U, Ba, Bi, Bu, Ta, Ti, Tu beberapa murid berbisik sesamanya. Kemudian menoleh selintas pada lelaki yang bersandar itu. Karena tolehan-tolehan itu, guru mengajinya juga menoleh. Guru mengaji itu, seorang gadis cantik berusia sekitar delapan belas tahun, juga melihat orang itu. Gadis itu segera mengetahui, bahwa orang yang tengah bersandar itu, adalah orang baru. Dia bisa mengatakan hal itu dengan pasti.
Sebab meskipun….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s