Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 375)

Pada lelaki tua…. peniup saluang dan pada tukang rebab. Akhirnya dia jadi tahu, orang-orang itu merasa kaget atas jumlah uang yang barusan dia letakkan ke depan perempuan itu. Dia juga menatap pada uang yang dia letakkan tadi.
Ya, uang itu ternyata terlalu banyak bagi ukuran orang-orang yang kini tengah mengelilingi tukang saluang itu. Uang rupiah yang masih baru benar. Jumlahnya itu yang membuat mereka kaget. Dengan uang itu ketiga tukang saluang itu, berempat bersama anak perempuan kecil itu, bisa hidup senang-senang selama satu bulan! Tiba-tiba pula, kini si Bungsu yang dibuat kaget tatkala menatap wajah perempuan tukang dendang itu. Perempuan itu kelihatan kurus. Namun siapapun yang melihatnya, pasti mengatakan perempuan itu cantik!
Tapi perempuan  itu sendiri nampaknya tak mengenal lelaki yang memberi uang itu. Ada beberapa saat dipergunakan oleh si Bungsu untuk memastikan apakah perempuan itu memang perempuan yang dahulu dia kenal. Tatkala kepastian telah dia peroleh, masih dia perlukan beberapa saat lagi untuk menentramkan hatinya. Kemudian baru berkata perlahan.
”Nyanyikan dendang parantauan…”
Perempuan itu masih diam. Tukang saluang itu masih diam. Tukang rebab itu masih diam. Yang tak diam adalah pengunjung yang makin lama makin ramai. Mereka pada berbisik dan berdengung seperti lebah.
”Dendangkanlah…” kata si Bungsu perlahan.
Hatinya mulai tak sedap melihat situasi yang mencekam ini. Lelaki peniup saluang itu meletakkan bambu ujung saluang ke bibirnya. Kemudian terdengar suara saluangnya. Mula-mula agak sumbang. Lalu lancar. Lelaki penggesek rebab itu menegakkan rebab kecilnya. Lalu menggesek rebab mengikuti bunyi salung. Tak lama setelah itu, terdengar dendang si perempuan. Mendendangkan lagu tentang seorang yang menderita di kampung halamannya karena hidupnya yang melarat, tanpa harta, tanpa sanak famili yang mengacuhkan.
Kemudian dia pergi merantau. Di rantau, nasib malang ternyata masih mengikutinya. Terlunta-lunta, sampai akhirnya dengan perjuangan keras dia jadi orang kaya. Lalu pulang ke kampung. Di kampung, dimana berita tentang kesuksesannya telah tersebar, kepulangannya di sambut dengan meriah. Sanak familinya tiba-tiba saja jadi banyak. Bahkan dia tak mengenal beberapa orang yang hari itu mengaku jadi familinya. Namun karena dia baru pulang, dan membawa sedikit harta, maka dia menerima kunjungan sanak familinya dengan hati senang.
Dia memberi mereka oleh-oleh. Tak lama, hasil pencahariannya di rantau pun habis. Ketika tiba-tiba dia jatuh sakit, tak seorangpun diantara sanak familinya atau yang kemarin mengaku sebagai sanak familinya yang datang menjenguk. Dan akhirnya, dengan kekerasan hatinya saja, meski dalam keadaan sakit, dia kembali pergi merantau. Tuhan juga yang mentakdirkan dia kembali sukses di rantau. Namun dia telah bersumpah untuk tak kembali lagi ke kampung halamannya.
Syair lagu ”Dendang Parantauan” ini terdengar terlalu mengada-ada. Bombas dan klise. Sesuatu yang banyak terdapat dalam film India. Tujuannya hanya satu, menguras air mata pendengar. Terutama kaum ibu. Namun demikian, lagu itu tetap populer. Biasanya para pengunjung yang datang mendengarkan lagu saluang itu juga ikut terharu. Dan tanpa setahu mereka yang tengah hanyut dalam emosi bersama dendang perantauan itu, ketika lagu itu berakhir, mereka tiba-tiba tak lagi melihat orang yang tadi meminta lagu itu. Peniup saluang itu berhenti. Demikian pula penggesek rebab.
Mereka mencari di antara orang-orang yang duduk bersila di depan mereka. Di antara orang-orang yang tegak berkerumun. Tapi lelaki muda yang tadi memberikan uang kertas baru itu tak kelihatan. Dia telah pergi entah  kemana. Orang-orang lainpun tiba-tiba teringat lagi pada lelaki itu. Mereka saling pandang sesamanya. Berharap melihat lelaki itu di antara mereka. Namun si Bungsu memang telah pergi. Dia tak pergi jauh.
Tadi, ketika Dendang Perantauan itu tengah mendayu-dayu, di antara orang yang makin mendesak ke depan untuk mendengarkan dan melihat perempuan cantik tukang dendang itu, si Bungsu perlahan menggeser tegak ke belakang. Kini anak muda itu sebenarnya berada tak jauh dari tempat tukang saluang itu. Dia tegak di tempat yang samar-samar. Menjelang malam turun mereka usai. Orang-orang yang mendengarkan sudah pulang. Hanya tinggal dua tiga orang saja.
”Magrib akan turun, kita pulang…” kata lelaki yang menggesek rebab.
”Ya, sebaiknya kita cepat pulang…”  ujar yang perempuan sambil membetulkan selimut anaknya.
Lelaki tua peniup saluang membungkus saluangnya dengan kain. Penggesek rebab itu juga membungkus rebabnya dengan kain baik-baik. Yang perempuan mengumpulkan uang yang di depannya. Tangannya terhenti lagi ketika memegang uang baru yang tadi diletakkan lelaki aneh yang meminta lagu ”Dendang Parantauan” itu. Tangannya terhenti tatkala mendengar sebuah suara menggeram.
”Uang itu uang palsu….”
Perempuan itu, suaminya yang menggesek rebab, dan lelaki tua peniup saluang tadi kaget dan menatap pada orang yang berkata tersebut. Yang berkata ternyata seorang lelaki bertubuh besar yang sejak tadi duduk di baris depan ketika melihat mereka bersalung.
”Ya. Uang itu palsu. Berikan pada saya…” katanya mengulurkan tangan.
Namun perempuan itu memegang uang tersebut erat-erat.
”Meskipun uang itu uang palsu, kami akan menyimpannya. Karena uang itu pemberian orang pada kami…” suami perempuan itu menjawab.
Terdengar tawa bernada tak sedap dari mulut lelaki besar itu. Dua temannya yang duduk di kiri kanannya juga tertawa bergumam.
”Engkau akan ditangkap dan dihukum masuk bui, buyung. Bukankah pada lembaran uang dituliskan, barangsiapa meniru, mengedarkan atau menyimpan uang palsu akan ditangkap dan dihukum? Nah, berikan saja uang itu pada saya. Saya intelijen…”
Lelaki besar itu tegak sehabis berkata demikian. Kedua temannya juga ikut tegak dan memang kiri kanan dengan tangan meraba pinggang. Ada tiga atau empat lelaki lagi di sana. Tadi mereka juga ikut tertarik mendengar uang itu uang palsu. Ada yang makin mendekatkan tegaknya. Namun begitu mendengar kata-kata ”tangkap” dan ”intelijen” dari mulut lelaki besar itu, mereka segera menjauh. Berlalu dari Los Galuang itu cepat-cepat. Seperti takut akan terbawa-bawa dan ditangkap.
Perempuan tukang dendang itu pucat. Dalam suasana bergolak sekarang ”intelijen” dan ”tangkap” merupakan dua kalimat yang teramat ditakuti. Namun lelaki tua peniup saluang itu tak yakin bahwa lelaki besar itu adalah benar-benar intelijen.
Dari tampangnya, …

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s