Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 376)

Dari tampangnya dan tampang kedua temannya yang tegak itu, tak sedikitpun menggambarkan mereka adalah alat negara. Paling-paling mereka hanya tukang peras. Mencatut nama intelijen untuk memeras orang lain.
”Saya harap sanak tak mengganggu kami. Kami akan pulang…” ujar lelaki itu perlahan.
Si perempuan memangku anaknya. Memasukkan uang ke sela kutangnya. Mereka lalu tegak. Bersiap untuk segera meninggalkan tempat itu.
”Serahkan uang itu pada saya!!” lelaki besar itu membentak.
Namun ketiga orang tukang saluang itu tak mau melayani ucapannya. Mereka berjalan menyamping. Pergi ke arah lain. Kedua orang teman si tinggi besar mencegat mereka. Di tangan mereka tergenggam pisau belati. Namun kedua lelaki pemain saluang itu bukan pula lelaki yang tak berisi. Mereka segera mempertahankan diri. Yang muda menghantam pergelangan tangan lelaki yang di dekatnya dengan sebuah tendangan. Tangan lelaki itu berhasil dia tendang dengan cueknya. Namun ten dangannya tak cukup kuat untuk melemparkan pisau lelaki itu dari pegangan lelaki tersebut.
Mereka berdua terlibat dalam perkelahian terbuka. Peniup saluang yang tua itu juga mempertahankan diri dengan menendang ke arah kerampang orang yang mengancamnya dengan pisau. Lelaki berpisau itu terpekik dan mundur. Namun dia maju lagi. Saat itu tiba-tiba lampu togok yang masih menyala dan terletak di lantai padam ditiup orang. Cahaya matahari senja tak cukup masuk menerobos ke dalam los itu. Menyebabkan los itu mulai agak gelap. Hanya beberapa saat setelah lampu itu padam, perempuan pedendang itu terdengar memekik. Terdengar suara seperti orang bergumul.
Suaminya terdengar memanggil-manggil. Perempuan itu seperti disekap mulutnya. Kemudian terdengar suara ada yang jatuh. Lalu suara anak menangis. Perempuan itu memburu anaknya yang jatuh dan menangis. Lelaki tua peniup saluang kelihatan tersandar dengan bahu luka. Sementara lelaki penggesek rebab tertegak diam. Lelaki bertubuh besar itu juga tertegak. Mereka semua menatap ke arah  pelita. Dekat pelita itu jongkok seorang lelaki. Kelompok saluang itu segera mengenali lelaki itu sebagai orang yang tadi memberikan uang yang kini jadi rebutan itu. Lelaki itu bangkit dan menatap pada lelaki tinggi besar itu.
”Kenapa engkau mengganggu mereka?” suaranya terdengar perlahan.
Lelaki besar itu tersenyum. Senyumnya lebih tepat disebut seringai.
”Engkau mengedarkan uang palsu, buyung. Saya akan menangkapmu…” katanya menggertak.
”Tuan dari instansi mana…”
”Saya intelijen…”
”Intelijen darimana…”
”Jangan banyak tanya kau! Di sini orang banyak yang tanya banyak pula celakanya.”
”Intelijen tak biasanya menyombongkan diri. Tak pula mau menganiaya rakyat kecil. Kalau tuan benar seorang intelijen, maka tuan adalah intelijen keparat…”
”Ee..bacirik muncuang ang mah! Iko nan kalamak dek waaang!” ujar si tinggi besar menggeram, seraya menendang menggebu-gebu.
Lelaki itu, yang tak lain dari si Bungsu, tak berniat melayani orang ini. Dia baru tiba di kampungnya. Tidak pada tempatnya harus berkelahi di hari pertama dia menjejakkan kakinya di kampungnya ini. Dia hanya mengelak.
”Kalau tuan bisa memperlihatkan tanda pengenal bahwa tuan memang seorang intelijen, dan kalau benar uang itu palsu, saya akan serahkan uang itu beberapa lembar lagi,….” ujar si Bungsu sambil tegak beberapa depa dari lelaki yang mengaku intelijen itu.
”Saya akan memperlihatkan padamu tanda pengenal yang asli, buyung…”
Sehabis berkata, dia memberi isyarat pada kedua temannya. Kedua temannya yang masih memegang pisau segera mengepung si Bungsu. Lelaki tinggi besar itu sendiri mencabut pula pisau dari pinggangnya. Mereka mengepung makin ketat. Si Bungsu mundur. Sampai akhirnya pung gungnya tersandar ke dinding Los Galuang itu.
”Nah, serahkan semua uangmu, buyung. Atau kau tak sempat lagi bernafas…” ujar lelaki besar itu mengancam, sambil memainkan pisaunya di hadapan hidung si Bungsu.
”Intelijen biasanya memakai pistol. Tak memakai pisau belati seperti tuan. Yang memakai belati hanya tukang bantai atau kaum penyamun…” ujar si Bungsu tenang.
Muka ketiga orang itu jadi merah padam kena sindir.
”Tak peduli apa……

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s