Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 378)

”Ya, saya dari sana…” kata si Bungsu perlahan.
Sementara itu isterinya yang tengah  menatap pada si Bungsu, tiba-tiba jadi pucat.
”Uda…, uda Bungsu…?” katanya seperti bermimpi.
”Ya. sayalah ini, Reno…” jawab si Bungsu.
Perempuan tukang dendang itu, yang tak lain dari Reno Bulan yang pernah bertunangan  dengan si Bungsu ketika remaja, tiba-tiba menangis. Kedua lelaki yang ada di sana hanya menatap tak mengerti.
”Dimana ayah dan ibumu, Reno?” tanya si Bungsu perlahan.
Sesaat Reno masih menangis, yang menjawab adalah suaminya.
”Amak dan abak telah meninggal. Sudah enam tahun yang lalu.”
”Inalilahi wainnailahi rojiun…”
”Saudara kenal dengan beliau?”
”Saya masih terhitung kemenakan oleh ayahnya…” jawab si Bungsu sambil menatap pada suami perempuan itu.
”Sudah berapa lama sanak mencari nafkah dengan bersaluang ini?”
Lelaki itu menatap pada ayahnya yang meniup saluang.
”Sudah empat tahun. Kami tak bersekolah, tak punya sawah atau ladang. Saya baru enam tahun  menikah dengan Reno. Yaitu setelah suaminya yang pertama meninggal dalam suatu kecelakaan…”
Si Bungsu tertunduk. Masa lalunya saat dia remaja seperti berlarian datang membayang. Ke masa dia dipertunangkan dengan Reno. Gadis tercantik di Situjuh Ladang Laweh. Dia tak tahu, apakah dia mencintai Reno waktu itu atau tidak. Dia juga tak perduli, apakah Reno mencintainya atau juga tidak. Waktu itu dia terlalu sibuk berjudi ke mana-mana, tak sempat memikirkan soal cinta atau soal pertunangan.
Dia sibuk dengan judi yang telah mencandu. Namun jauh di lubuk hatinya ketika itu, dia merasa bangga juga bertunangan dengan Reno Bulan. Betapa takkan bangga, Reno gadis paling cantik di kampungnya itu merupakan pujaan setiap anak muda. Ada pedagang dan saudagar dari Payakumbuh datang melamarnya dengan membawa uang dan emas dalam jumlah banyak sekali. Tapi Reno menolak.
Ketika mereka dipertunangkan, kampung itu jadi gempar. Gempar bukan karena mereka tak sebanding. Betapa mereka takkan sebanding, Reno gadis tercantik di seluruh desa yang berada di kaki Gunung Sago. Gadis alim dan digelari puti saking cantiknya. Sementara si Bungsu, kendati bermata sayu –kata orang tanda-tanda mati muda– namun gagah dan semampai. Pasangan yang membuat banyak orang mendecak kagum.
Namun kegemparan dipicu oleh perangai si Bungsu. Pejudi Allahurobbi, tak pernah Katam Alquran, dan tak pernah menjejak masjid untuk Jumat, Subuh atau Isa. Preman tuak yang dibenci kaum ibu di mana-mana, preman tapi tak tahu silat selangkahpun. Itulah sumbu kegemparan saat mereka dipertunangkan. Perbedaan mereka bak badak jo tukak. Reno adalah bedak yang harum semerbak, si Bungsu adalah tukak yang membuat orang mutah kayak.
Sebenarnya sudah berkali-kali pihak keluarga Reno meminta agar calon mantu mereka itu merobah perangainya. Permintaan itu tentu saja disampaikan lewat ayah dan ibu si Bungsu. Ayah dan ibunya sendiri telah berusaha keras agar anak mereka jadi orang. Tapi si Bungsu tak perduli. Bahkan dia tetap tak perduli ketika akhirnya, setelah semua usaha menyadarkannya jadi gagal, keluarga Reno datang mengembalikan tanda pertunangan. Dia benar-benar tak perduli. Malah dia melemparkan cincin pertunangan yang dia pakai pada perempuan separoh baya yang datang berunding ke rumahnya.
Perbuatan yang mendatangkan aib dan murka ayahnya. Itulah semua kisah tragedi itu. Betapa dia takkan kenal pada perempuan di hadapannya ini? Kini perempuan yang bernama Reno Bulan itu menunduk, menangis. Tubuhnya kurus tak terurus. Namun bayangan kecantikannya masih jelas. Itulah salah satu sebab kenapa orang banyak datang melihat bila mereka main saluang. Orang ingin menatap wajahnya yang lembut dan matanya yang indah.
Siapa sangka, gadis cantik bunga kampungnya dulu itu akhirnya akan jadi pendendang saluang. Yang hidup dengan menjual suara disepanjang malam yang dingin dan lembab. Yang mencari nafkah dari belas kasihan orang banyak. Namun itu juga suatu perjuangan hidup. Mereka masih mau berusaha, tidak sekedar menampungkan tangan minta sedekah. Mereka juga pedagang. Meski yang diperdagangkan adalah suara.
”Kata orang….Uda telah meninggal di Pekanbaru….”
Si Bungsu ………

1 Comment

  1. EPISODE II-377 NGGAK ADA …?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s