Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 379)

Si Bungsu dikagetkan oleh suara Reno. Dia mengangkat kepala.
”Meninggal?”
”Ya. Banyak orang berkata begitu. Berita itu dibawa oleh panggaleh dari Pekanbaru. Uda ikut bergerilya di sana. Sampai akhirnya tertembak dan…meninggal di sebuah kampung bernama Buluhcina…”
Ya, itulah cerita yang didengar oleh Reno ketika masih gadis. Semula dia sangat sedih ketika diberitahu orang tuanya bahwa pertunangannya dengan si pejudi telah diputuskan. Dia lalu dicarikan calon suami. Seorang kaya dan masih ada pertalian darah dengan keluarganya. Namun gadis cantik itu menolak. Dia mencintai si Bungsu, teman sesama mengajinya itu. Mereka memang tak pernah bicara soal cinta. Namun beberapa kali bertemu, di surau tempat mengaji, di pasar atau di jalan, mereka sempat saling beradu pandang. Saling mengerling dan bertukar senyum. Itu sangat membahagiakannya. Dia tak perduli si Bungsu itu pejudi.
Ketika huru-hara selama pendudukan Jepang berlangsung, dia dan keluarganya mengungsi ke Painan. Tempat yang jauh dari jangkauan balatentara Jepang. Di sana dia selalu berharap untuk dapat bertemu dengan si Bungsu. Dia ingin mengatakan pada anak muda itu, bahwa dia mencintainya. Bahwa dia akan tetap menantinya. Dia yakin anak muda itu juga mencintainya. Meski si Bungsu tak pernah berkata begitu, tapi hati perempuannya yang paling dalam mengatakan bahwa anak muda itu juga menaruh rasa suka padanya. Bertahun-tahun lewat, dia telah dibawa pindah kemana-mana. Dia tetap menolak untuk dinikahkan dengan lelaki lain. Dia tak mengatakan pada orang tuanya alasan penolakannya. Pokoknya dia menolak. Sampai suatu hari dia ditanya oleh ibunya.
”Engkau masih menanti si Bungsu, Reno?”
Reno kaget, dia tatap ibunya. Perempuan tua itu  juga menatapnya. Ibu selamanya adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti akan isi hati anaknya. Ibu selamanya adalah perempuan yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Reno menangis dan memeluk ibunya yang tua.
”Maafkan Reno, Mak…” katanya lirih.
”Katakanlah. Apakah engkau mencintainya, dan masih menantinya?”
Lama sunyi, sampai akhirnya Reno mengangguk dan menangis dalam pelukan amaknya. Ya, kemana lagi dia harus mengadu. Si ibu berlinang air matanya. Sejak saat itu si ibu berusaha keras mencari kabar tentang si Bungsu.
”Ke ujung langit pun dia, saya akan mencarinya. Saya akan melamarnya kembali untuk Reno…”  ujar si ibu suatu  malam, saat dia bertengkar lagi dengan suaminya.
”Membuat malu! Bangsat itu penjudi! Dahulu pejudi itu telah memutuskan hubungannya dengan melemparkan cincin pertunangannya bukan? Apakah anakmu tak laku, sehingga tak ada lelaki yang mau jadi suaminya? Reno cukup mengangguk saja, maka sepuluh lelaki kaya atau yang berpangkat akan datang melamarnya! Katakan begitu pada anakmu yang gila itu! Pada gadis tuamu itu! Apakah dia tetap takkan berlaki sampai tua, sampai jadi nenek-nenek. Apakah dia ingin marando tagang?” sergah suaminya dengan berang.
Tapi isterinya juga jadi naiak suga.
”Tuan lelaki busuk! Hanya memikirkan diri Tuan saja. Tuan tak pernah memikirkan bagaimana hati anak Tuan. Biar dia kawin dengan rampok sekalipun, asal dia mencintainya dan bahagia…!”
”Kalian sama-sama gila!”
Reno  yang mendengarkan pertengkaran itu hanya menangis di kamarnya. Lalu,… suatu hari datanglah kabar itu. Kabar tentang kematian si Bungsu di Desa Buluhcina. Sebuah desa 25 kilometer dari kota Pekanbaru. Reno merasa dirinya runtuh mendengar berita kematian itu.
”Tak mungkin. Tak mungkin…” desahnya berkali-kali.
Berbulan-bulan dia tetap tak mempercayai berita itu. Namun itulah berita terakhir yang didengarnya tentang lelaki yang dia cintai itu. Dan akhirnya, dia menyerah pada kehendak kedua orang tuanya. Terutama kehendak ayahnya. Agar dia segera menikah. Dia lalu menikah. Meski dalam usia yang sudah sangat terlambat menurut ukuran saat itu. Dia menikah dengan seorang pedagang kaya. Namun hanya beberapa tahun. Pedagang itu dirampok. Tokonya dibakar. Hartanya ludes. Dan suaminya sendiri mati dalam suatu kecelakaan. Reno yang telah kematian ayah dan ibu, jadi hilang kemudi.
Untunglah ada seorang lelaki, pemain rabab yang ikut kelompok saluang yang menikahinya. Dia tak punya pilihan. Makanya dia menerima dikawini lelaki itu. Daripada hidup dalam godaan. Daripada sesat. Begitulah sejarahnya. Dan kini, di hadapannya, duduk lelaki  yang pernah dia nanti bertahun-tahun. Lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Kalau malam tadi dia tak mengenal si Bungsu, itu memang bukan salahnya. Anak muda itu kelihatan terlalu gagah dengan tubuh berisi. Lagipula mana berani Reno menatap lelaki lama-lama.
Karena dia tahu terlalu banyak lelaki usil yang selalu berdatangan ke tempat mereka bersalung. Tak perduli dia telah bersuami, dan suaminya ada pula di dekatnya! Kalaupun mungkin ada hatinya berdetak, namun bagaimana dia akan meyakini bahwa lelaki itu adalah si Bungsu? Yang telah dikatakan meninggal dunia. Dia tak mau ditipu oleh mata. Dia tak mau ditipu oleh harapan yang telah punah.
”Apakah engkau tak pernah pulang ke kampung, Reno?” si Bungsu bertanya perlahan.
Dia ingin sekali mendengar cerita tentang kampung halamannya. Tentang Situjuh Ladang Laweh. Reno menggeleng.
”Sudah lama sekali saya tak ke sana. Sudah berbilang tahun. Apa yang harus saya jenguk ke sana? Tak ada lagi ayah dan ibu, tidak juga sanak tak ada famili. Kalaupun ada famili jauh, famili sesuku, mereka takkan mengacuhkan karena kami miskin. Sudah demikian adat di kampung kita. Orang yang dipandang dan didatangi, bila pulang dari rantau, adalah orang-orang yang pulang membawa harta. Orang-orang yang berhasil di perantauan…” Reno menjawab dengan getir.
Si Bungsu tertunduk diam.
”Apakah kalian tak mungkin berdagang?” tanyanya.
Suami Reno tertawa perlahan.
”Bukankah kami kini berdagang? Kami berdagang suara. Hanya itu yang bisa kami perdagangkan. Karena hanya itu pula modal kami. Untuk berdagang yang lain, dibutuhkan modal yang lain pula. Apalagi pergolakan ini membuat keadaan tidak menentu..”
Tapi, kendati situasi keamanan masih belum menentu, si Bungsu menyuruh mereka agar benar-benar berdagang. Dia memberinya modal dari uang yang dia bawa pulang. Keluarga pesalung itu semula menolak. Tapi si Bungsu memaksa mereka untuk menerima modal itu. Dia punya alasan untuk berbuat demikian. Dia punya uang yang cukup. Tapi untuk apa uangnya kini? Dia tak punya siapa-siapa. Dia anak yang bungsu. Tak beradik. Ada seorang kakaknya, tapi kakaknya itupun telah meninggal.
Dia ingin Reno berobah nasibnya. Lagipula Reno adalah anak mamaknya. Dengan uang itu suami Reno membeli sebuah kedai di Los Galuang. Kemudian membeli kain batik ke Padang.
Mereka berjualan…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s