Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 380)

Mereka berjualan kain panjang dan selimut tebal. Selain itu, masih banyak kelebihan uang dan mereka membeli sebuah rumah cukup besar di Jangkak, Mandiangin. Malam itu, selesai Magrib dan makan malam mereka duduk di ruang tengah.
”Reno, Sutan Pilihan, besok saya akan ke pergi. Mungkin ke Payakumbuh. Tapi perjalanan hidup tak bisa kita terka. Yang jelas besok saya akan pergi. Sutan sudah tahu apa hubungan saya dengan isteri Sutan di masa lalu. Saya yakin Sutan akan menjaga Reno baik-baik. Reno, nasib ditentukan oleh Tuhan. Nasiblah yang membuat kita tercerai berai. Kini sayangi dan jaga anak dan suamimu. Aku menyayangimu sebagai adikku, kenanglah aku sebagai mengenang saudara lelakimu. Aku akan bahagia bila mendengar kabar kalian hidup bahagia…”
Reno tenggelam dalam tangis terisak-isak. Sutan Pilihan tak mampu membendung air matanya.
”Demi Allah, Uda Bungsu, saya akan menjaga Reno sebagaimana Uda pesankan. Dia ibu dari anak saya, dan saya mencintainya. Saya tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih atas semua bantuan Uda pada kami, hanya Tuhan yang akan membalasnya….” ujar Sutan Pilihan perlahan.
Besoknya, ketika si Bungsu akan keluar rumah, Reno tak dapat menahan rasa kehilangannya. Dia peluk lelaki itu di depan suaminya. Sutan Pilihan menjadi sangat terharu.
”Jangan lupakan kami Uda. Jangan lupakan kami..” ujar perempuan itu dalam rasa hibanya yang sangat. Si Bungsu balas memeluknya.
”Reno Adikku, jaga suamimu, jaga anakmu..”
”Jaga juga diri Uda baik-baik…” ujar Reno diantara isaknya.
Itulah puncak pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu, perpisahan! Semasa bertunangan mereka tak pernah berpelukan. Jangankan berpeluk, berpegangan tangan saja tak pernah. Kini, setelah zaman berlalu, saat Reno menjadi isteri lelaki lain dan si Bungsu menjadi pengembara yang tak tahu dimana akan mengakhiri pengembaraannya, mereka berpelukan sebagai dua orang adik beradik di depan suami Reno. Sutan Pilihan, suami Reno, menatap perpisahan itu dengan hati yang amat hiba. Dia ingin si Bungsu tetap berada di antara mereka. Budi dan keihlasan anak muda itu amat mengikat hatinya.
—o0o—
Saat itu pergolakan sedang berada di puncaknya. Pagi itu Jam Gadang di pusat kota berdentang lemah delapan kali. Matahari sudah sejak tadi terbit. Namun meski telah sesiang itu, tak seorangpun penduduk yang kelihatan berada di luar rumah. Kota itu seperti kota mati. Beberapa belas mayat berlumur darah kelihatan tergeletak di depan Jam Gadang. Jam itu seperti saksi bisu, menatap mayat-mayat di bawahnya.
Malam tadi PRRI menyerang APRI yang berkedudukan di kota. Kontak senjata tak terhindarkan. Sebagaimana jamaknya perang kota di mana-mana, dibahagian manapun di dunia ini, yang paling menderita bukanlah pihak yang berperang. Melainkan penduduk!
Itulah yang terjadi atas penduduk kota Bukittinggi. Rentetan tembakan yang terdengar malam tadi, masih bersambung sampai pagi. Hari itu adalah hari yang paling hitam dan paling berlumur darah bagi kota yang indah dan sejuk itu. Bahkan di zaman penjajahan Belanda dan di zaman fasis Jepangpun, maut tak pernah menyebar bencana sedahsyat seperti yang terjadi hari itu. Kota itu benar-benar sunyi. Bahkan suara burung-burungpun, yang biasanya terdengar riuh seperti nyanyian kanak-kanak yang gembira, pagi itu sepi.
Bau mesiu dan seringai maut, berbaur dengan anyirnya darah. Tercium di setiap pelosok kota. Sesekali masih terdengar suara tembakan. Sesekali kebisuan yang mencekam itu dirobek oleh derap sepatu berlarian, atau suara truk reot yang mengangkut mayat-mayat. Rumah Sakit makin siang makin dipenuhi oleh mayat yang berdatangan. Dari Tarok, dari Jalan Melati. Dari Simpang Aurkuning, dari Birugo, dari Mandiangin, dari Lambau, dari Atasngarai.
Menjelang…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s