Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 381)

Menjelang tengah hari, jumlah mayat tak lagi bisa dihitung, melebihi angka seratus. Menurut kalangan resmi, mayat-mayat itu adalah mayat anggota PRRI. Tapi banyak yang mengenali bahwa sebahagian besar dari mayat itu adalah mayat penduduk kota yang mungkin tak ada sangkut pautnya dengan pasukan PRRI yang menyerang malam tadi.
Di Simpang Aurkuning, di bahagian Timur kota, sepasukan OPR yang tengah berjaga tiba-tiba melihat seseorang berjalan dari arah Tigobaleh.
”Mata-mata…” bisik salah seorang.
”Kita tembak saja…” kata yang lain.
”Jangan, hari sudah siang…”
”Apa peduli kita. Siang atau tak siang…”
”Jangan. Penduduk pasti mengintai dari balik dinding rumah mereka..”
Suara berbisik mereka terhenti, ketika lelaki yang mereka lihat itu tiba-tiba berhenti dekat tiga atau empat mayat yang tengah menanti truk untuk diangkut. Lelaki itu berhenti karena dia dengar rintihan lemah. Ketika dia menoleh, salah satu di antara sosok tubuh yang dianggap telah jadi mayat itu kelihatan bergerak.
”Tolong saya, saya bukan PRRI…,” rintih orang yang berlumur darah itu lemah.
”Hei, kau kemari!”  bentak OPR itu sambil mengokang bedil. Tapi lelaki itu tetap menunduk mengamati lelaki yang merintih tadi. Kemudian berkata.
”Orang ini masih hidup, Pak. Dia bukan PRRI…”
Kemudian dia mengulurkan tangan. Orang yang luka itu berusaha bangkit. Ketika tangan mereka hampir berpegangan, suara letusan bergema. Lelaki yang luka itu tercampak. Kepalanya pecah, mati! Orang yang menolong itu tertegun. Matanya menatap mayat yang sebentar ini masih bergerak. Terdengar suara OPR itu menghardik.
”Kemari kau, gerombalan!”
Perlahan lelaki itu menoleh.
”Orang ini bukan PRRI…” katanya lambat.
”Bicara kau sekali lagi, kutembak kepalamu!” bentak OPR itu garang.
Kemudian separuh berlari dia mendekati lelaki asing yang tak di kenal itu. Tapi langkah OPR itu tiba-tiba seperti terhenti. Lelaki asing itu menatapnya. Yang membuat OPR itu terhenti adalah tatapan mata lelaki tersebut. Tatapan matanya setajam pisau cukur. OPR itu jadi ragu-ragu. Bedilnya yang dikokang masih di tangannya. Dia menatap lelaki asing itu. Berbaju gunting cina berwarna putih. Bercelana pantolan dan sebuah tongkat kayu di tangan kirinya. Rambutnya agak panjang, tapi rapi. Usianya paling lewat sedikit dari tiga puluh. Seorang lelaki yang gagah tapi berwajah murung. Namun tatapan mata lelaki itu membuat jantung si OPR seperti berhenti berdetak. Tiba-tiba tedengar suara temannya berseru dari belakang.
”Hei, Kudun! Bawa orang itu kemari!”
Seruan itu mendatangkan semangat bagi si OPR. Dia maju beberapa langkah lagi. Di belakangnya dia dengar langkah dua tiga temannya mendekat.
”Kau anjing! Banyak bicara! Gerombolan busuk!”  bentaknya sambil menghantamkan ujung bedilnya pada lelaki asing itu.
Aneh, lelaki itu sama sekali tak berusaha untuk mengelak. Dia tetap tegak dan menerima pukulan itu dengan diam. Suara berderak terdengar ketika ujung bedil dari besi padu itu menerpa keningnya. Keningnya robek. Darah mengalir membasahi mukanya. Membasahi baju gunting cinanya. Membasahi tongkat kayu di tangan kirinya!
“Ayo ikut kami!!” bentak OPR itu.
”Orang itu bukan PRRI…” lelaki itu masih bicara perlahan.
”Jangan kau coba membelanya. Dia kami tembak ketika berusaha melarikan diri pagi tadi. Dia membawa bedil!” suara OPR itu terdengar keras menjelaskan.
”Dia takkan pernah ikut berperang…” ujar lelaki itu perlahan.
Matanya menatap pada mayat yang tadi akan dia tolong, yang ditembak saat tangannya tengah menggapai. OPR yang tiga orang itu juga menatap pada mayat yang pecah kepalanya itu. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu. Sesuatu yang memberikan alasan bagi lelaki asing itu untuk mengatakan bahwa yang baru mati itu bukan PRRI. Mayat itu ternyata buntung kaki kirinya.
Itu jelas terlihat dari kaki celananya yang diikat sampai di atas lutut! Lelaki itu cacat! Bagaimana mungkin seorang yang kakinya hanya sebalah bisa ikut menyerbu kota. Bisa melarikan diri dengan teman-temannya seperti yang dituduhkan OPR sebantar ini?
Ketika mereka menatap lelaki asing itu, jantung mereka merasa bergetar. Tatapan matanya yang tajam itu seperti akan menikam mereka. Namun ini adalah perang. Lelaki asing itu tak membawa bedil. Sementara mereka membawa bedil. Dan bedil membuat orang jadi berani. Bedil di tangan orang zalim pasti mendatangkan bencana. OPR yang tadi menembaki lelaki buntung itu mengokang bedilnya. Dialah yang tadi mengusulkan agar lelaki yang baru muncul itu ditembak saja. Kini dia berniat melaksanakan niatnya itu. Niat pertamanya menghantam kepala lelaki itu hingga berdarah sudah kesampaian. Kini niat berikutnya, menembaknya sampai  mampus!
Dalam negara SOB begini, takkan ada yang bakal berani menuntut! Apalagi mereka OPR, sayap resmi tentara Pusat! Begitu bedil dia kokang, begitu loopnya dia arahkan ke dada lelaki itu. Namun entah setan darimana yang menyambar, sebelum pelatuk bedil panjang itu sempat dia tarik, OPR itu melihat tangan lelaki itu bergerak. Lalu pukulannya yang telak sekali menghajar wajahnya! Terdengar suara berderak. Gigi OPR itu rontok tiga buah! Dia tersurut. Teman-temannya yang lain ternganga kaget. Kejadian itu begitu cepatnya. Kembali lelaki asing itu bergerak. Kali ini kakiya. OPR yang menembak orang cacat itu merasa perutnya diseruduk kerbau. Tubuhnya terlipat dan tercampak sedepa ke belakang!
Kedua temannya masih menatap kaget. Belum pernah ada orang yang demikian berani mampus melawan OPR. Lelaki itu masih tegak. Kepalanya berlumur darah. Tangannya memegang tongkat. Matanya masih menatap tajam! Setelah hampir muntah, OPR yang tercampak kena tendang itu bangkit. Merasa malu dihajar di depan temannya, dia lalu kembali mengacungkan bedil. Saat itulah tongkat lelaki itu bergerak. Selarik sinar putih, yang alangkah cepatnya, kelihatan muncul membentuk setengah lingkaran. OPR itu tak sempat memekik. Dadanya belah dan dia rubuh dengan mata terheran-heran atas kejadian yang tak dia mengerti.
Darah menyembur-nyembur dari dadanya yang menganga. Teman-temannya yang tegak di dekatnya, tersembur oleh darah yang muncrat itu. OPR itu menggelupur seperti ayam disembelih.
Empat orang………

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s