Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 383)

Partai Islam sendiri saat itu tercecer, selain karena tak pernah menjanjikan kebahagian duniawi seperti komunis, juga karena kader-kadernya hanya mendapat pendidikan lokal. Selain itu, dan ini masuk penting, pimpinan-pimpinan partai Islam yang jumlahnya banyak itu, saling bercakaran untuk mendapatkan kedudukan.
Kemana si Bungsu setelah peristiwa di Simpang Aurkuning itu? Tak seorangpun yang tahu. Yang jelas, sesaat setelah Nuad si OPR itu melaporkan peristiwa itu ke komandan pasukannya, APRI lalu memburunya. Namun jejaknya lenyap dalam belukar Tambuo itu.
”Kau tahu siapa dia?” tanya sersan yang memimpin pencarian itu.
Nuad yang baru dibebaskan si Bungsu menggeleng.
”Bukan orang Tigobaleh, misalnya?”
”Tidak. Saya kenal setiap batang hidung orang Tigobaleh. Tak satupun yang mahir mempergunakan samurai. Saya tak pernah melihat orang itu sebelum ini di Bukittinggi. Saya benar-benar tak mengenalnya, Pak.”
”Kau bisa usahakan mencari informasi tentangnya?”
”Saya akan usahakan. Tapi orang ini nampaknya amat berbahaya…”
”Ya. Itu sudah dia buktikan tadi ketika menghantam dan membunuh Sutan Kudun…”.
Pasukan itu lalu meninggalkan Tambuo. Padahal si Bungsu tak pergi jauh, hanya dua ratus depa dari mereka, di tebing yang terlindung oleh hutan bambu, dia tengah duduk dan menatap pada mereka dengan diam. Sejak tadi dia memperhatikan gerakan pasukan APRI yang mencarinya itu. Pasukan itu memang hanya tegak di jalan. Menatap keliling. Tidak menyeruak semak belukar.
Malam itu, saat tentara PRRI menyerang kota Bukittinggi, si Bungsu bermalam di rumah kawannya yang terletak di Tigobaleh. Mereka mendengar suara tembakan. Bahkan sampai pagi. Sebenarnya pagi itu dia sudah akan menuju ke kota, tapi temannya melarang. Berbahaya ke kota dalam situasi begitu. Esoknya setelah hari agak tinggi, dia berkeras juga untuk pergi dan dilepas dengan was-was. Akhirnya hanya sekitar setengah  jam keluar dari rumah temannya di Tigobaleh, dia terjerat dalam peristiwa berdarah di Simpang Aurkuning itu.
Anggota OPR yang mencegatnya, demikian pula yang bernama Nuad, yaitu mata-mata lihai yang dia ancam dengan samurai itu, rata-rata merupakan orang baru di Bukittinggi. Baru sekitar sepuluh tahun. Makanya mereka tak penah mengenal bahwa dahulu di kota itu ada seorang anak muda yang kemahirannya bersamurai amat luar biasa.
Si Bungsu mengunyah beberapa macam dedaunan yang dia pungut dari belukar di Tambuo itu. Lalu menempelkannya ke luka di keningnya. Dalam waktu singkat, darah itu berhenti mengalir. Pening kepalanya lenyap.
Bagi anak….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s