Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 386)

Tadi pagi saya  memang membunuh seorang OPR. Tapi sungguh mati, saya bukan PRRI. Saya juga tidak simpatisan mereka. Itu bukan pula berarti saya berada di pihak APRI, tidak. Saya hanya membunuh OPR itu karena dia tak memberi kesempatan hidup pada seorang lelaki cacat yang minta tolong pada saya. Dia mengatakan bahwa lelaki cacat itu PRRI. Kalaupun benar, tetapi lelaki itu luka. Kenapa dia tak ditolong? Saya benci pada OPR yang tak berperikemanusiaan itu. Demi Tuhan, kalaupun yang melakukan aniaya itu adalah orang PRRI, maka saya juga akan membunuhnya. Itulah yang terjadi, Pak. Kini harap Bapak ceritakan, kenapa negeri kita ini sampai berkuah darah?”.
Kari Basa termenung. Ucapan anak muda itu, menghujam jauh ke lubuk hatinya. Setelah lama termenung dan merekat kembali segala yang diketahuinya tentang mula pergolakkan ini, Kari Basa lalu bercerita…..
—o0o—
Pada mulanya adalah rasa tak puas pihak Angkatan Darat Republik Indonesia atas kekalutan politik di tingkat Pusat. Kekalutan politik itu menyebabkan jurang pemisah antara Daerah dan Pusat dalam hal  mencari jalan keluarnya. Di Sumatera, dua tiga tahun sebelum PRRI dideklarasikan, diadakan reuni para pejuang Perang Kemerdekaan di Sumatera Tengah. Reuni itu bertujuan membina kesatuan dan kekompakan, terutama di kalangan pejuang kemerdekaan yang dipelopori oleh perwira-perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Dari reuni itu, pada 20 Desember 1956 lahirlah Dewan Banteng yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Husein. Tindakan reuni untuk kekompakan para Pejuang Kemerdekaan ini diikuti oleh daerah-daerah lain. Dalam hal ini para perwira Sumatera Tengah menjadi ikutan. Dua hari setelah dewan Banteng terbentuk, tepatnya 22 Desember 1956, di Medan dibentuk pula ”Dewan Gajah” yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon. Lalu pada tanggal 18 Maret 1957 di Manado dibentuk pula ”Dewan Manguni” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Vence Sumual. Sumatera Selatan segera pula bersiap-siap menuruti Sumatera Tengah untuk membentuk ”Dewan Garuda” dibawah pimpinan Letnan Kolonel Barlian.
Tindakan yang dianggap Pusat melanggar konstitusi dimulai dengan adanya cetusan tuntutan daerah kepada Pusat. Tuntutan itu berupa desakan agar Pusat membangun daerah. Lalu disusul dengan diambil alihnya kekuasaan dari Gubernur Sumatera Tengah Ruslan Mulyoharjo oleh Dewan Banteng dengan Ahmad Husein sebagai ”Ketua Daerah” menggantikan jabatan Gubernur. Tindakan ini diikuti oleh Dewan Gajah di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.
Akibat munculnya kekalutan ini yang paling menarik manfaatnya adalah pihak PKI. Mereka mendapat bukti bagi agitasi politiknya untuk mengkambing-hitamkan Angkatan Darat sebagai ”War Lords”  dan diktator-diktator militer. Kaki-tangan imperialis, kolonialis, musuh rakyat dan musuh demokrasi. Situasi ini memberi peluang mematangkan kondisi revolusioner bagi PKI menurut konsepsinya. Dalam keadaan seperti itu, situasi semakin tidak menguntungkan bagi pihak yang ingin mempertahankan jalan konstitusi dan tertib hukum serta demokrasi.
Karena perkembangan yang terjadi, Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante hasil Pemilihan Umum pertama Tahun 1955 menjadi arena pertempuran politik yang tak mampu menemukan jalan keluar sebagai lembaga yang diharapkan untuk meletakkan landasan bagi peredaan rasa ketidakpuasan yang semakin meluap. Pergolakkan di daerah-daerah bukannya mendorong lembaga-lembaga itu mem percepat tercapainya hasil-hasil guna meredakan pergolakan di daerah itu, tetapi malahan sebaliknya. Pergolakan di daerah mereka pergunakan sebagai senjata untuk lebih mem perhebat pertempuran politik dalam lembaga tersebut.
Kalau kesatuan Angkatan Bersenjata sudah mencari jalan sendiri-sendiri, maka perang saudara pasti takkan bisa dihindarkan. Untuk mengatasi situasi yang tak baik ini, terutama di lingkungan Angkatan Darat, tanggal 9 Desember 1956 KSAD Mayor Jenderal A. H. Nasution mengeluarkan perintah yang melarang seluruh anggota TNI/AD aktif dalam partai politik. Kemudian 15 Februari 1957, Jenderal Nasution selaku KSAD kembali mengeluarkan larangan reuni bagi Dewan-dewan yang lahir di daerah itu.
Karena kekuatan politik itu juga, maka Kabinet Ali Sastroamijoyo ke II, yang dibentuk atas dasar hasil Pemilihan Umum tahun 1955, pada Maret 57 menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno. Untuk mengatasi situasi kritis, maka Presiden menyatakan negara dalam keadaan Darurat Perang (S.O.B) dan dengan demikian membebankan tugas pengamanan negara sepenuhnya kepada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Sampai di sini Kari Basa berhenti bercerita.
Dia meneguk kopinya. Si Bungsu juga meneguk kopinya. Kari Basa semasa revolusi pisik tahun 45 bertugas sebagai perwira intelijen. Dia  memang punya ingatan dan pengetahuan yang amat dalam tentang situasi negara waktu itu. Sehabis minum kopi, mereka sembahyang Isya. Setelah itu makan malam. Atas desakan si Bungsu, orang tua itu kembali merekat kepingan ingatannya tentang masa-masa prolog pergolakan tersebut. Kemudian dia meneruskan ceritanya…
Demi menghindarkan perpecahan persatuan Nasional, setelah dinyatakannya keadaan SOB, dan megusahakan menyelesaikan masalah pertentangan antara daerah-daerah yang bergolak dengan pusat secara damai, maka pada tanggal 9 sampai 14 September 1957 di Jakarta diadakan Musyawarah Nasional (Munas). Dihadiri oleh seluruh pimpinan pemerintah dan tokoh-tokoh politik dan militer dari seluruh Indonesia. Tujuan Munas ini adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul secara musyawarah dengan hati terbuka dan dalam suasana kerukunan dan persaudaraan.
Musyawarah…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s