Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 387)

Musyawarah Nasional diikuti dengan Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap) yang dilangsungkan akhir November 1957.
Tapi ternyata Munas dan Munap itu tak menghasilkan apa-apa. Kekecewaan daerah semakin meningkat. Tanggal 9 Januari 1958 di Sungai Dareh dilangsungkan rapat yang dihadiri  Simbolon, Ahmad Husein, Dahlan Jambek, Sumual, Zulkifli Lubis serta beberapa tokoh politik dan militer lainnya. Rapat Sungai Dareh ini membicarakan kekecewaan mereka atas ketidakberhasilan pimpinan Pusat mengatasi keresahan. Rapat itu juga telah membicarakan rencana meningkatkan tuntutan kepada Pusat. Malah tidak hanya berupa tuntutan, tetapi ultimatum. Jika ultimatum tidak dijawab, maka akan dicari jalan lain.
Rapat ini tercium oleh Pemerintah Pusat di Jakarta. Maka tanggal 23 sampai 26 Januari 1958 KSAD Jenderal Nasution mengadakan perjalanan ”mengukur barometer” situasi. Perjalanan itu dilakukan ke Tapanuli, Sumatera Timur, Aceh dan Tanjung Pinang. Tanggal 10 Februari 1958, Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengeluarkan Ultimatum yang sudah disepakati di Sungai Dareh itu kepada Presiden Soekarno dan Kabinet Juanda di Jakarta. Isi Ultimatum itu adalah :
A. Agar Presiden membubarkan Kabinet Juanda dalam tempo 5 x 24 jam.
B. Agar Presiden menunjuk Mohammad Hatta dan Sultan  Hamengku Buwono IX sebagai pembentuk kabinet baru.
C. Apabila tuntutan ini tidak dipenuhi, maka Dewan Banteng akan memutuskan hubungan dengan Pemerintah dan bebas dari ketaatan terhadap Kepala Negara.
Ultimatum ini seperti membakar sumbu dinamit. Pemerintah pusat menjawab ultimatum itu dengan perintah pemecatan dengan tidak hormat atas Kolonel Simbolon, Kolonel Dahlan Jambek, Kolonel Zulkifli Lubis dan Letnan Kolonel Ahmad Husein. Perintah pemecatan itu diikuti dengan perintah  penangkapan. Tanggal 12 Februari 1958 KSAD mengeluarkan keputusan membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST) yang selanjutnya menempatkannya langsung di bawah perintah KSAD Jenderal Nasution.
Namun pemecatan, perintah penangkapan dan pembekuan KDMST itu dijawab oleh Dewan Banteng dengan sebuah Proklamasi. Proklamasi itu adalah proklamasi berdirinya ”Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia” (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958, dengan Syafruddin Perwira Negara sebagai Perdana Menteri. Proklamasi ini dilanjutkan dengan membentuk Kabinet yang berpusat di Padang. Maklumat pembentukan PRRI itu didukung oleh Simbolon di Sumatera Utara. Tanggal 17 Februari 1958, D. J. Somba yang menjabat sebagai Panglima Musyawarah Nasional Pembangunan (MUNAP), yang dilangsungkan akhir November 1957.
Komando Daerah Militer Sulawesi Utara (KDMSU) di Manado menyatakan pula bahwa Sulawesi Utara memutuskan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta dan  menyokong berdirinya PRRI di Sulawesi Utara, di bawah pimpinan Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA). Pengumuman menyokong PRRI ini dijawab Pemerintah dengan memecat dengan tidak hormat Letnan Kolonel HNV Sumual, Letnan Kolonel D. J. Somba dan Mayor D. Runturambi.
Mereka dicap memberontak dengan nama Permesta. PRRI/PERMESTA oleh  Pemerintah Pusat dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan pemberontakan bersenjata yang pernah timbul sebelumnya di tanah air, oleh karena:
a. Dengan memproklamirkan ”Pemerintah Revolusioner” dan tidak mengakui kekuasaan Pemerintah yang sah akan mengakibatkan Negara Republik Indonesia akan terpecah belah.
b. Pemberontakan ini telah melaksanakan penyelewengan di bidang politik, ekonomi dan militer dengan mengadakan hubungan serta mendapat bantuan kerjasama langsung dari luar negeri. Yang berarti membuka pintu bagi kegiatan subversi.
Untuk menumpas PRRI/PERMESTA, pemerintah  Pusat memerintahkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk melancarkan operasi gabungan. Untuk itu disusun operasi-operasi sbb :
1. Operasi TEGAS di daerah Riau Daratan dan Pekanbaru dipimpin oleh Letkol Kaharuddin Nasution dari RPKAD.
2. Operasi SAPTA MARGA di daerah Medan/Sumatera Utara.
3. Operasi 17 Agustus untuk mengamankan Sumatera Barat di bawah pimpinan Kolonel Inf. Ahmad Yani.
4. Operasi SADAR untuk mengamankan Sumatera Selatan dengan Komandan Operasinya Kolonel Dr. Ibnu Sutowo.
5. Operasi MERDEKA di Sulawesi Utara dengan Komandan Operasi Letkol Infantri Rukminto Hendraningrat.
Malam telah hampir tersambut dengan subuh, ketika Kari Basa, bekas perwira intelijen di zaman perang kemerdekaan itu, menyelesaikan ceritanya. Setelah itu mereka ke kamar tidur masing.
—o0o—
Si Bungsu tak dapat memejamkan matanya sampai datang waktu subuh. Ketika dia mendengar Kari Basa mengambil uduk, diapun bangkit. Kemudian ke kamar mandi dan mengambil uduk pula. Mereka sama-sama sembahyang subuh dengan Kari Basa sebagai Imam.
”Kau ingat Sutan Baheramsyah?” tanya Kari Basa tatkala mereka selesai sholat.
”Yang menembak Jepang di Birugo dahulu?”
”Ya”
”Ya, saya ingat beliau. Beliau masih hidup?”
”Sampai malam kemaren masih hidup…”
”Maksud Bapak?”
”Dia meninggal malam kemaren.”
”Dimana?”
”Di kota ini. Di dekat Simpang Tembok..”
”Dalam penyerbuan malam kemaren?”
”Ya”
”Dia ikut PRRI?”
”Ya”
”Ikut menyerbu masuk kota?”
”Ya. Dia ikut menyerbu bersama pasukan Dahlan Jambek, pasukan Sadel Bereh, pasukan Mantari Celek, Beruang Agam. Jumlah mereka diperkirakan mendekati atau lebih dari seribu orang.”
”Ya Tuhan, apakah mereka akan merebut kota?”
”Saya tak tahu, buyung. Tetapi yang jelas, malam tadi pasukan APRI tetap bertahan di kantong-kantong pertahanan. Tapi begitu pagi tiba, mereka mulai mengejar pasukan PRRI. Pasukan PRRI mundur karena kebanyakan mereka telah kehabisan peluru menembak-nembak sepanjang malam. Mereka diburu ke arah Gadut, Tilatang Kamang dan Padang Luar Kota. Diburu dengan panser, tank  dan mustang yang datang dari Padang. Kau tahu, Kolonel Dahlan Jambek kabarnya malam kemaren berada di sekitar Villa Tanjung di Gurun Panjang memberikan komando.”
Si Bungsu tak berkomentar. Kari Basa menceritakan jalannya penyerangan malam tadi.
”Bapak berada di luar malam tadi?”
”Tidak. Tapi saya mendengar cerita di kedai kopi di mana kita bertemu kemaren”.
”Pak Baheramsyah, meninggal karena apa?”
”Ditembak APRI. Dia sudah diperintahkan untuk menyerah. Tapi dia ingin bertemu dengan keluarganya yang ada di daerah Tembok. Dia menyelusup dari Lambau.
Jika sudah…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s