Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 389)

”Dia keluarga bapak?”…
”Ya, ponakan saya…”
Kari Basa sebenarnya ingin melindungi si Bungsu. Tapi jawabannya sebentar ini justru membuat perangkap pada anak muda itu. Sesuatu yang memang tak bisa diduga sebelumnya. Bahkan oleh Kari Basa sendiripun, meski dia adalah bekas perwira intelijen lan di zaman penjajahan Belanda dan zaman Jepang. Perangkap itu segera kelihatan ketika seersan itu minta izin melihat kartu penduduk si Bungsu. Si Bungsu memberikannya. Sersan itu meneliti. Kemudian tatapan matanya bergantian memandang si Bungsu dan Kari Basa. Kari Basa segera menyadari kekeliruannya.
”Maafkan saya, Pak Kari. Menurut data yang ada pada kami, Bapak tak punya ponakan. Bapak punya seorang anak gadis. Bernama Salma dan kini jadi isteri Overste Nurdin. Atase militer Malaya di Kota Singapura. Begitu bukan?”
Kari Basa tak bisa menjawab.
”Maaf, kami ingin membawa Saudara ini…”
”Tapi, bukankah dia punya kartu?”
”Ya, kartu Padang. Dia tak pernah melapor bila dia datang dan berapa lama ingin tinggal di kota ini…”.
”Tapi tak ada kewajiban begitu…”, ujar Kari Basa memprotes.
”Dalam suasana begini, kewajiban apapun bisa saja diadakan, Pak Kari…”
”Baiklah. Tapi saya akan ikut serta. Saya ingin bertemu dengan komandan saudara..”
”Siap, silakan Pak…”
Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain di bawah ancaman ujung bedil itu. Dia mengikut saja ketika dibawa ke markas tentara. Kari Basa dibawa bertemu dengan Komandan RTP yang berkedudukan di kota itu. Tapi sang komandan sedang operasi keluar kota. Itulah malangnya bagi Bungsu. Dia harus tinggal di sel tahanan.
”Besok saya akan kemari. Saya harap engkau menjaga diri baik-baik…” ujar Kari Basa saat pamitan, ketika segala usaha tak bisa dia lakukan untuk membawa si Bungsu pulang.
”Engkau memerlukan senjata?”  bisik Kari Basa cepat ketika pengawal lengah.Si Bungsu menggeleng.
”Tapi…”
”Saya benar-benar merasa aman di sini, Pak. Saya harap Bapak tak usah khawatir…”
”Tapi samuraimu tinggal di rumah….”
”Itulah justru yang menyebabkan perasaan saya benar-benar aman…”
Sudah agak malam barulah Kari Basa pulang ke rumahnya. Si Bungsu dimasukkan ke sebuah sel. Sel itu sebuah ruangan cukup lebar. Di dalamnya ada tiga lelaki. Yang seorang masih bisa dikenal. Rapi tapi pucat. Yang dua lagi sudah tak menentu. Darah kental kelihatan mengalir di sela bibirnya yang bengkak. Pipinya benjol-benjol. Rambutnya kusut masai. Yang seorang berpakaian kuning seperti polisi. Yang satu lagi berbaju hijau seperti tentara. Ketiga lelaki itu menatap padanya begitu dia masuk. Tak ada balai-balai. Yang ada hanya lantai yang dingin. Si Bungsu tertegun melihat ketiga orang itu.
”Assalamualaikum…” katanya perlahan.
Tak ada yang menjawab. Yang berpakaian masih agak rapi itu mencoba tersenyum. Namun senyumnya cepat berobah jadi mimik agak takut. Lalu menoleh ke arah lain. Sedangkan yang seorang lagi, yang bibirnya berdarah dan berbaju seperti polisi, tetap diam membisu. Yang berbaju tentara dan bibirnya juga berdarah, bengkak di sana-sini, hanya sekejap memandang. Lalu menoleh ke tempat lain. Ketiga mereka duduk di lantai, bersandar ke dinding. Yang berdarah dan bengkak-bengkak itu duduk di dinding yang menghadap ke pintu. Yang rapi di dinding sebelah kanan. Tempat yang masih kosong adalah dinding sebelah kiri pintu. Si Bungsu menuju dinding itu. Lalu duduk di lantai dan bersandar.
Kini dalam sel itu ada empat orang. Tiga orang bersandar di tiga sisi dinding. Sebuah dinding disandari oleh dua orang, yaitu yang bibirnya berdarah dan mukanya bengkak-bengkak. Yang memakai baju kuning seperti polisi dan baju hijau seperti tentara. Sisi lain disandari oleh yang rapi tapi berwajah pucat. Sisi satu lagi disandari si Bungsu. Dinding yang tidak disandari adalah sisi dimana terletak pintu masuk. Mereka yang ada dalam sel tahanan itu semua pada terdiam. Sama-sama membisu. Hari belum terlalu larut, tapi udara dingin sudah menusuk-nusuk. Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang CPM berpangkat kopral masuk. Tegak di sisi pintu, memberi hormat dan kemudian masuk seorang Kapten CPM beserta seorang stafnya berpangkat sersan mayor. Keempat orang yang ada dalam tahanan menatap pada mereka.
”Berdiri!” perintah kopral itu.
Keempatnya berdiri. Si sersan membuka map di tangannya. Lalu menjelaskan pada si Kapten.
”Yang berbaju kuning bernama M. Bintara, penghubung pada pasukan Dahlan Jambek. Yang berbaju hijau berna ma D, Inspektur polisi pada Batalyon Sadel Bereh. Ini yang berbaju lengan panjang adalah pedagang yang diduga mata-mata PRRI. Yang satu ini baru saja ditangkap siang tadi di rumah pak Kari Basa, di daerah Panorama. Punya kartu penduduk Padang, tapi mata-mata kita tak pernah melihat orang ini sebelumnya di kota….”
”Besok pagi suruh semuanya menghadap saya sebalum bertemu dengan komandan RTP.”
”Siap!”
Kemudian Kapten itu pergi. Kopral CPM tadi menutup pintu. Suasana di ruangan itu kembali sepi. Namun kini sekurang-kurangnya mereka sudah saling mengetahui orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut. Kedua orang yang bengkak-bengkak itu sejenak menatap pada si Bungsu. Si Bungsu diam saja. Lelaki yang disebut sebagai pedagang merangkap mata-mata, yang masih rapi itu, tiba-tiba merogoh kantong. Mengeluarkan sebungkus rokok Double As. Dia bangkit, menuju pada dua orang yang bengkak-bengkak itu.
”Silahkan…,” katanya menawarkan rokok.
Kedua orang ………..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s