Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 391)

Seseorang menyiram wajahnya dengan air yang berasal dari penples, tempat air militer.
Bibirnya yang pecah terasa pedih. Namun air itu membuat kesadarannya agak lebih baik. Kenapa secepat itu dia ditaklukkan Nuad? Padahal dia mahir Karate dan Yudo yang dilatih oleh temannya yang bernama Kenji ketika di Jepang?.
’Hei, ayo berdiri!” dia dengar seruan orang-orang.
Dia masih menelungkup beberapa saat. Mengembalikan kesadarannya lebih penuh. Memulihkan tenaganya perlahan-lahan. Ketika ada yang menendang kakinya, dia lalu bangkit. Kini orang yang berdiri di depannya sudah bertukar. Bukan lagi Nuad. Tapi OPR lain. Nuad kelihatan tegak di sudut seperti seorang hero. Seolah-olah si Bungsu bukan tandingannya. Seolah-olah perkelahian sebentar ini menurunkan martabatnya saja. Dengan tatapan yang amat merendahkan, nampaknya dia ”mewakilkan” perkelahian itu pada temannya sesama OPR. Si Bungsu tegak dengan kesadaran lebih baik dari tadi. Dia sempat melirik betapa Nuad yang sedang menghisap rokok dengan sikap petentengan.
”Kau coba saja dengan Siswoyo…!” ujar Nuad padanya.
Ucapannya disambut dengan tawa oleh tentara yang memenuhi ruangan itu. OPR yang bernama Siswoyo itu maju. Perlahan si Buugsu menyusun konsentrasi. Berapa lamakah dia tak lagi berkelahi? Dan yang lebih penting sudah berapa lamakah umur sumpahnya, bahwa dia takkan mempergunakan kekerasan kepada bangsanya sendiri? Tidak, sumpah itu sudah batal sejak peristiwa dengan Nuad, si OPR, beberapa hari yang lalu di Simpang Aurkuning. Bukankah dia sudah berniat untuk tak kalah? Siswoyo, OPR yang kampungnya entah di mana di Jawa sana, bergerak maju dengan mengirimkan sebuah pukulan. Namun yang dia hadapi kini adalah seorang lelaki yang telah pulih ingatannya. Lelaki yang telah masak oleh seribu pertarungan.
Mulai dari zaman Jepang dan agresi Belanda ketika dia masih berusia dua puluhan, sampai ke Jepang. Singapura dan Australia.  Kini, ketika Siswoyo mengirimkan sebuah pukulan, pukulan si Bungsu justru menyongsong amat cepat dan amat telak. Yang kena adalah kening Siswoyo. Lelaki itu pada mulanya hanya tersurut dua langkah. Tapi setelah itu beruntun terjadi hal yang aneh. Mula-mula matanya jadi juling. Kemudian tegaknya sempoyongan. Lau tubuhnya berputar. Lalu jatuh di atas kedua lututnya. Si Bungsu masih tegak di depannya, dalam jarak tiga depa dengan tenang.
”Hayo Sis! Bangkit. Hajar pemberontak itu!” terdengar seruan-seruan.
Namun tubuh Siswoyo tiba-tiba jatuh tertelentang. Mulutnya berbuih. Matanya yang juling pada putih semua. Dua tentara maju serentak, memegang nadi dan meraba dada Siswoyo.
”Semaput…”, ujar tentara itu.
Suasana jadi sepi. Sekali pukul Siswoyo yang berdegap itu bisa keblinger pingsan? Ah, apakah ini suatu kebetulan atau Siswoyo salah mengatur pernafasannya? Tak mungkin anak muda itu tiba-tiba menjadi begitu tangguh. Padahal sebentar tadi dia jadi mainan oleh Nuad. Tiba-tiba terdengar suara.
”Awas, saya hajar orang Minang yang jadi mata-mata gerombolan ini….!”
Orang berkuak. Yang ngomong adalah Nuad, OPR yangg tadi menghajar si Bungsu. OPR yang beberapa hari lalu mengaku orang Bukittinggi, orang Kurai. Yang memohon-mohon sambil menangis agar nyawanya diampuni. Ngeri melihat mata samurai si Bungsu ketika dia diancam di Tambuo. Kini, dengan pongah dia bilang akan menghajar ”orang Minang” yang jadi mata-mata gerombolan! Si Bungsu menatap dengan tajam. Sinar kebencian yang hebat membersit dari matanya. Beberapa tentara yang kebetulan tegak di depannya, merasa bulu tengkuk mereka merinding melihat tatapan mata anak muda itu.
”Saya akan layani Saudara, dengan syarat Saudara menyebutkan dimana kampung Saudara…” ujar si Bungsu dengan nada datar.
Suaranya terdengar jelas. Tak urung pertanyaan itu membuat Nuad tertegun.
”Jangan banyak..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s