Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 392)

”Jangan banyak bicara, buyung. Atau kau ingin mengulur-ulur waktu, agar lebih lambat saat datangnya kematianmu?”
”Saya orang Situjuh Ladang Laweh. Orang Minangkabau. Saya tak malu mengaku sebagai orang Minangkabau, meski negeri saya memberontak. Dan meski saya tak ikut memberontak, tapi saya tak pernah menghina orang-orang Minang lainnya yang lari ke rimba. Saya ingin dengar di mana kampung Saudara”.
Nuad kaget mendengar ucapan anak muda ini. Dia tertegak menghentikan langkahnya.
”Katakan, Nuad. Dimana kampungmu. Atau karena di ruangan ini banyak orang dari Jawa, lantas kau malu mengaku sebagai orang Minang?” ujar si Bungsu tajam.
”Jahanam kau. Aku orang Bukittinggi. Tapi aku tak masuk kelompok pemberontak busuk seperti kalian!”
”Nah, dengarkan baik-baik, Nuad. Jika hari ini seluruh gigimu kurontokkan, maka itu bukan karena kau jadi OPR. Bukan karena kau orang Pusat. Tapi karena mulut dan ucapanmu yang beracun itu”.
Ucapan si Bungsu terputus, karena tiba-tiba dengan penuh keyakinan, Nuad menyerang dengan dua kali tendangan silat yang tangguh. Tapi anak muda yang dia hadapi kini adalah anak muda yang telah siap. Si Bungsu mengelak ke samping, lalu kakinya menyapu kaki Nuad yang sebelah, yang tegak di lantai. Gerakan itu demikian cepat dan demikian telak. Kaki Nuad yang sebelah itu tersapu dan tubuhnya terputar di udara. Lalu jatuh berdembum ke lantai!
Jika mau, si Bungsu bisa menyusul sapuan kaki itu dengan sebuah hentakan tumitnya ke dada Nuad yang jatuh tertelentang. Tapi itu tak dia lakukan. Dia tetap tegak menanti. Suasana yang tadi riuh rendah tiba-tiba berobah jadi sepi. Nuad merangkak bangkit dengan sakit di punggung dan rasa heran di hati. Apakah dia jatuh karena serangan anak muda itu atau karena lantai yang licin hingga dia tergelincir? Dia lihat anak muda itu masih tegak dua depa di kirinya.
Hm, aku pasti tergelincir karena lantai licin. Bukan karena serangan. Mana bisa anak itu menyerang dan merubuhkanku, pikir Nuad menentramkan hatinya. Dia bangkit. Kalau mau, saat itu si Bungsu bisa membalas  dengan menendang dagu Nuad. Persis seperti yang dilakukan OPR itu tadi pada dirinya. Tapi dia telah belajar berkelahi secara sportif. Dia tak mau mengambil keuntungan ketika lawan dalam posisi sulit begitu. Dia nanti OPR bertubuh besar itu tegak.
OPR itu tegak dan menggelengkan kepala dua tiga kali untuk menghilangkan rasa puyeng. Lalu menggeram dan membuat ancang-ancang silat. Kemudian setelah melirik-lirik dua tiga kali, dia menyerang  dengan pukulan dahsyat dan cakaran-cakaran berbahaya. Namun kali ini, ganti tangannya yang akan mencakar itu kena tangkap. Dan sebelum dia sadar sepenuhnya, si Bungsu membalik sambil menyentakkan tangan Nuad. Tubuh Nuad tertarik rapat ke punggung si Bungsu.
Dengan sebuah gerak membungkuk yang cepat dan kuat, tubuhnya terangkat melayang  lewat kepala si Bungsu, dan dirinya kembali jatuh dengan suara berdembam yang pedih ke lantai batu! Dia kena bantingan soinage, sebuah banting Judo yang telak. Terdengar seruan kagum, kaget dan heran dari mulut tentara-tentara itu. Si Bungsu membiarkan tubuh Nuad tergeletak nanar. Dia merasakan kepalanya berdenyut. Tapi yang paling sakit adalah pinggulnya yang serasa remuk menerkam lantai.
”Kau takkan jadi terhormat hanya dengan menghina orang kampungmu, Nuad!” ujar si Bungsu perlahan.
Nuad menyeringai, bukan karena ucapan si Bungsu. Tapi karena kenyataan pahit yang dia dapati. Ternyata anak muda itu tak mudah dia taklukkan. Tapi, betapapun, dia harus menghajarnya. Bukankah tubuhnya lebih besar dan dia lebih ditakuti? Perlahan dia bangkit. Tegak dengan pinggul agak dimajukan ke depan karena sakit. Sebenarnya dia sudah ingin menyudahi  saja perkelahian ini. Tapi dia malu.
Lagipula, apa yang dia takuti? Bukankah dia berada di pihak APRI dan anak muda ini di pihak PRRI? Dengan pikiran demikian, dia membuka kopelriem-nya. Ikat pinggang tentara besar dan berbesi-besi itu dia lecutkan pada si Bungsu. Namun sekali lagi, tangan anak muda itu mengirimkan pukulan yang amat cepat, dan kuat, ke perut Nuad. Tubuh anggota OPR itu terlipat ke depan.
Lalu sebuah tendangan menghantam dadanya. Nuad tertegak lagi. Lalu sebuah pukulan telak dan kuat sekali, menghantam mulutnya. Darah merah mengucur deras ketika kepalanya terdongak ke belakang. Siapapun yang berada dalam ruangan itu merasa pasti, bahwa paling tidak delapan buah gigi Nuad, atas dan bawah, telah rontok oleh pukulan seperti palu besi itu. Dan kesombongan mata-mata APRI itupun runtuh.
Runtuh dengan rubuhnya tubuhnya yang besar itu. Tak ada kesombongan dan ketangguhannya yang tersisa. Semua telah tersikat habis. Dia jatuh dalam keadaan lebih nista daripada temannya yang bernama Siswoyo tadi. Tak ada arti silat harimau yang dia panggakkan itu. Tak ada lagi Nuad yang ditakuti. Tak ada Nuad mata-mata kesohor itu. Tak ada!
Yang ada kini hanya seonggok tubuh tak bertenaga dengan mulut berdarah dengan banyak gigi yang rontok. OPR itu pingsan! Ketermanguan si Bungsu setelah menghajar Nuad yang sombong itu dikejutkan oleh tepuk tangan. Dia menoleh. Yang bertepuk tangan adalah tentara-tentara yang tegak diseputar ruangan. Seorang sersan malah maju, menyalami si Bungsu.
”Kau hebat. Hebat…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s