Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 393)

”Kau hebat. Hebat…
dan sportif. Selamat!”
Ucapnya jujur sambil mengguncang tangan si Bungsu. Beberapa orang tentara maju pula menyalaminya.
—o0o—
Ketiga temannya yang ada dalam sel ternganga ketika dia diantarkan sersan yang siang tadi menangkapnya di rumah Kari Basa.
”Sanak menghajar si kafir itu?” tanya yang berbaju polisi.
”Siapa yang kafir?”
”OPR celaka itu. Dia orang komunis. Dia kafir!”
Jawab si baju polisi penuh semangat dan penuh kebencian. Si Bungsu menatapnya.
”Semua tentara yang menyerang negeri kita ini kafir. Semua komunis” ujar orang itu kembali dengan bersemangat. Si Bungsu menatapnya lagi.
”Dan semua orang yang memberontak di negeri ini adalah Islam?” tanyanya pelan.
”Ya. Kita semua Islam!”
”Termasuk yang merampok dan memperkosa perempuan di desa-desa sana?”
Orang berbaju polisi itu tertegun. Ganti dia menatap si Bungsu.
”Saya tak tahu siapa sanak. Ucapan sanak seperti mata-mata. Apakah sanak juga seorang kafir?”
Tangan si Bungsu melayang. Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Lelaki itu terjajar. Si Bungsu sudah berniat menghajar PRRI yang seorang ini. Namun tiba-tiba dia merasa kasihan. Kasihan pada kebodohan dan fanatisme irasional orang berbaju polisi itu. Lalu dia berkata perlahan :
”Saya cukup banyak melihat tentara PRRI yang tak pernah sembahyang. Apakah dia juga Islam? Saya cukup banyak mendengar tentara PRRI merampok dan memperkosa  perempuan di kampung-kampung. Apakah juga dia orang Islam menurut ukuran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad? Sebaliknya saya cukup banyak melihat  tentara APRI yang sembahyang, yang berbuat baik. Apakah semuanya kafir? Apakah asal dia PRRI adalah Islam dan asal dia APRI adalah kafir?”
Yang ditanya tak menjawab. Dia mengusap pipinya yang tadi kena tampar. Lalu menatap pada temannya yang berpakaian tentara. Lalu menatap pada lelaki yang seorang lagi, yang berpakaian rapi. Dia seperti meminta bantuan untuk menyokong pendiriannya. Untuk memperkuat pendapatnya tadi. Bahwa semua APRI yang menyerang ini adalah tentara kafir. Namun tak seorangpun yang bicara. Justru si Bungsulah yang bicara.
”Harap dibedakan, antara tujuan politik dan agama. Jangan yang satu digunakan untuk menutupi maksud yang lain. Saya tak tahu kenapa saya ditangkap. Tapi yang jelas, saya sudah terlibat demikian jauh dalam urusan yang saya tak tahu ujung pangkalnya. Kalian berperang melawan tentara pusat adalah untuk menuntut pembangunan daerah yang lebih merata. Kenapa tiba-tiba harus dicap pusat adalah kafir?”
Ucapan ini diucapkan si Bungsu perlahan saja. Seperti untuk dirinya sendiri. Karena diserang lelah, dia membaringkan diri di lantai. Dingin lantai itu sesungguhnya, namun dalam keletihan yang sangat, apalah artinya sebuah kedinginan dibanding dengan tubuh yang ingin istirahat. Dia tertidur. Sementara tiga lelaki lainnya dalam tahanan itu masih saling bertukar pandang. Menjelang subuh si Bungsu terbangun. Ada yang menggoyangkan tangannya. Dia membuka mata. Tak seorangpun yang kelihatan dalam kegelapan di kamar tahanan itu. Namun dia yakin, seseorang telah membangunkannya. Lalu terasa lagi, tangan sebelaah kanannya ada yang menggoyang perlahan. Dia menahan nafas. Kemudian kembali terdengar suara bisikkan.
”Sanak…”
Si Bungsu segera tahu, suara itu adalah suara salah seorang teman sekamarnya.
”Sanak…” kembali orang itu berbisik perlahan.
Dari suaranya si Bungsu tahu, orang itu berbaring di sisinya.
”Sanak sudah bangun…?” orang itu menggoyangkan tangannya lagi.
”Ya…” jawab si Bungsu pelan.
”Dengarlah, Sanak. Waktu saya tinggal sedikit…” ujar orang itu dengan suara yang ditekan serendah mungkin. Nampaknya dia khawatir akan didengar oleh orang lain dalam kamar itu.
”Nama saya Sunarto. Saya adalah tahanan yang memakai baju hijau tentara yang sanak lihat siang tadi. Saya dari pasukan Mobrig Batalyon Sadel Bereh. Saya tertangkap ketika saya akan mengambil surat dari seorang kurir di Pintu Kabun. Mereka sudah mengetahui siapa saya. Saya adalah mata-mata. Hukuman bagi orang semacam saya, setelah diperas semua pengakuannya, adalah hukuman tembak. Saya sudah beberapa hari ditahan. Saya rasa, pagi ini saya akan ditembak. Sudah ada gerak begitu di hati saya. Sanak, saya tak tahu siapa Sanak. Tapi hati kecil saya berkata, bahwa Sanak orang yang baik. Sanak orang bersih. Hal itu dapat saya baca sejak pertama Sanak masuk siang tadi. Dan semakin jelas ketika Sanak berbicara soal kafir dan Islam dengan teman saya yang berbaju polisi itu. Saya ingin minta tolong pada Sanak. Saya punya sedikit uang. Saya simpan di suatu tempat. Bukan uang rampasan. Tapi uang gaji saya. Saya tak pernah sempat mengirimkannya untuk keluarga saya….,” orang itu berhenti sebentar.
Udara dingin …..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s