Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 395)

Besok kau akan bebas seperti janji Komandan RTP. Jika engkau menang, maka engkau juga akan menerima kebebasanmu tanpa harus khawatir sedikitpun. Engkau hanya kami pinjam untuk membuktikan, apakah memang ada orang yang lebih tangguh dari seorang anggota pasukan RPKAD!”
Si Bungsupun akhirnya menerima kenyataan yang aneh ini. Aneh karena tak pernah terfikirkan olehnya, bahwa akan ada peristiwa begini. Dia memasang kuda-kuda, letnan ini juga. Tiba-tiba si letnan membuka serangan dengan sebuah tendangan. Si Bungsu mengelak ke samping dan menyapu kaki letnan itu. Namun letnan itu tiba-tiba menghentikan gerak majunya.
Dia membalik separoh putaran dan tangannya memukul menyamping ke pangkal telinga si Bungsu. Cepat dan kuat serta terarah sekali. Si Bungsu dapat menangkap gerak itu. Dia menunduk. Namun tak urung pelipisnya kena geser. Kendati hanya kena geser, pelipisnya terasa panas. Kini mereka berhadapan lagi. Letnan itu kembali menyerang dengan dua pukulan yang amat cepat. Si Bungsu mundur, dan ini kesalahannya yang pertama.
Diserang beruntun, orang tak boleh bergerak mundur, harus menyamping. Kesalahan itu harus dia tebus dengan sebuah hantaman di perutnya. Tak ampun, tubuhnya terjengkang. Namun letnan itu tak memburunya. Dia tetap menanti tegak. Si Bungsu tegak. Bersiap lagi. Letnan itu membentak dan  menyerang dengan kombinasi tendangan dan pukulan. Si Bungsu mengelakkan tendangan pertama. Kemudian begitu pukulan letnan itu bergerak, dia mendahuluinya dengan pukulan yang lebih cepat.
Namun lebih cepat pula letnan itu menangkis dan balas menyerang dengan tendangan kedua! Si Bungsu bergerak ke samping, dari samping dia mengirimkan sebuah tendangan ke rusuk letnan itu! Kena! Letnan itu menyeringai. Namun dia segera bersiap dan menyerang cepat sekali. Ketika si Bungsu menangkis, dengan cepat letnan itu bergerak menangkap ujung bajunya. Lalu dia berputar dan sebuah bantingan tiba-tiba menghadang si Bungsu. Tubuhnya dia rasakan melayang di udara.
”Jika engkau dibanting orang, Bungsu-san, usahakan berputar. Mungkin sulit, tapi usahakan agar posisi badanmu seperti menelungkup di udara. Setelah itu yang akan kau usahakan hanyalah mendahulukan kakimu turun ke tanah. Kau  akan tetap jatuh tegak di atas kedua kakimu…”
Begitu dulu Kenji mengajar dan melatihnya ilmu judo dengan tekun. Kini ilmu itu dia pergunakan. Sesaat ketika letnan itu berputar untuk membanting, dia berusaha menanamkan kuda-kuda yang kukuh di  lantai. Namun sentakkan tangan dan  pukulan pinggul letnan itu telah lebih dahulu mematahkan keseimbangannya. Tubuhnya telah terangkat dan dibanting melayang. Maka kini usahanya hanyalah memutar tubuhnya yang tertelentang diudara itu.
Dia berhasil dan snap…! Tubuhnya jatuh dengan kaki duluan!  Mereka kini tegak berhadapan. Tangannya masih dipegang oleh letnan itu yang untuk sesaat tertegun menyaksikan betapa anak muda  itu tak bisa dibanting jatuh. Sesaat! Ya, hanya sesaat, tapi itu sudah cukup bagi si Bungsu untuk balas menyentakkan tangan letnan yang memegang tangannya. Kini tubuhnya yang berputar, pinggulnya menghantam bahagian depan tubuh letnan itu.
Cepat sekali, sebuah bantingan lewat pinggang menyebabkan letnan itu terbanting di lantai! Ya, bantingan lewat pinggang. Hanya bantingan  lewat pinggang yang bernama Uki-Goshi itulah yang tak bisa dicounter. Sebab selain tangan, maka pinggang yang dibanting dipeluk erat oleh yang membanting. Lain halnya dengan bantingan Soinage yaitu membanting orang lewat bahu seperti yang dilakukan letnan itu pada si Bungsu tadi. Pada bantingan Soinage, yang dipegang hanya lengan baju atau sebelah tangan lawan. Sementara bahagian tubuh lainnya bebas.
Begitu terbanting, karena letnan itu tadi mengatakan bahwa dia pernah belajar judo ketika dalam pendidikan di Amerika, maka si Bungsu melanjutkannya dengan mengunci leher letnan itu di lantai. Dia menunduk rapat di atas kepala si letnan. Sebuah  kuncian yang menurut Kenji dahulu bernama Keshagatame. Letnan itu berusaha melepaskan kunciannya.
Namun pitingan lengan si Bungsu seperti jepitan kepiting. Akhirnya si letnan menepuk punggung si Bungsu tanda menyerah. Si Bungsu melepaskannya. Terdengar tepuk tangan meriah dari anggota RPKAD yang menonton. Si Bungsu mundur beberapa langkah. Letnan itu tegak.
”Tehnik mengcounter, membanting dan kuncianmu hampir sempurna, kawan. Saya ingin tahu sampai dimana silat Minangmu yang kesohor itu,” ujar si letnan yang nampaknya masih berminat.
Dia menyerang dengan pukulan-pukulan beruntun. Pukulan dan tendangan karate yang luar biasa cepatnya. Si Bungsu  terpaksa main elak  dan main mundur. Beberapa kali bibir dan jidatnya nyaris dihantam kepalan tangan si letnan yang hebat itu. Namun sepandai-pandai mengelak, kerugian berada di pihak yasng bertahan. Dia tak sempat membalas. Sikap agresif  menyerang nampaknya memang dilkan bagi anggota-anggota RPKAD itu.
Mereka memang diajar untuk mahir mempergunakan tangan dan kaki sama berbahayanya seperti  senjata tajam. Dan si Bungsu mendapat ”bagian” sampai tiga kali. Kali pertama sebuah pukulan yang mendarat di bibirnya.
Bibirnya yang…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s