Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 399)

Pastilah anak Narto yang tersisa dari elmaut. Si Bungsu benar-benar tak percaya, bahwa hal ini bisa terjadi. Sunarto, seorang anak Jawa, yang bersedia ditembak mati demi menyelamatkan kawan-kawan PRRI-nya, keluarganya justru dibencanai oleh pasukan PRRI sendiri.
”Bagi kami orang Jawa, kepatuhan pada atasan adalah sesuatu yang mulia….karena saya merasa negeri ini adalah negeri saya, maka saya tak mau membuka rahasia. APRI lalu menyiksa saya. Insya Allah, saya masih bisa tutup mulut. Saya tak mau teman-teman yang sedang berjuang tertangkap karena saya terbujuk, atau tak tahan menderita. Saya bersedia mati demi negeri ini, demi teman-teman yang sedang berjuang….”
Bisikkan Narto seperti menggema menghancurkan selaput telinga si Bungsu. Orang Jawa itu bersedia mati demi Minang, yang diakui sebagai negerinya, dan demi teman-temannya yang sedang berjuang, begitu katanya. Begitulah katanya! Oh Tuhan. Kenapa Engkau jadikan manusia seperti Narto. Orang yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk orang-orang yang justru menistai keluarganya.
”Bapak pasti membawa pesan dari suami saya, bukan?”
Tiba-tiba isteri Narto berkata tatkala melihat si Bungsu tertegak di pintu. Si Bungsu tak dapat bicara. Ada sesuatu yang terasa menggumpal di tenggorakannya. Di hatinya. Di matanya. Di jantungnya!
”Dimana dia….?” tanya perempuan itu.
”Dia…dia tengah berjuang…,” akhirnya pesan Narto itu dia sampaikan juga. Persis bunyinya. Tapi perempuan itu menggeleng. Matanya basah.
”Saya bertanya, dimana kuburannya. Bukan dimana dia kini. Jangan membohongi saya. Saya sebenarnya sudah lama mati. Tapi saya ingin mendengar kabar dari suami saya, itu sebab saya bertahan hidup. Malam tadi saya bermimpi, akan ada orang yang datang membawa pesan suami saya. Saya memang menanti Bapak. Dimana dia dikuburkan?”
Si Bungsu tak mau menangis. Demi Tuhan, demi para Nabi dan para Rasul. Tidak!  Bukankah air matanya telah lama kering. Air matanya telah kering ketika menangisi kematian ayah, ibu dan kakaknya di Situjuh Ladang Laweh dahulu. Tidak, dia kini tak lagi bisa menangis. Namun, ya Tuhan, bagaimana dia takkan menangis melihat tragedi di depan matanya ini? Bagaimana? Beberapa puluh hari yang lalu, seorang lelaki membisikkan padanya, agar dia menemui keluarganya di sini, di Matur ini.
Menyampaikan uang gajinya. Menyampaikan pesan, agar isteri dan anak-anaknya itu pulang ke Jawa. Si Bungsu terduduk lemah. Perempuan itu telah mengetahui segalanya. Seperti membaca isi buku pada lembaran yang terbuka. Akankah dia mampu berbohong? Anak muda yang telah luluh oleh penderitaan itu terduduk di lantai  tanah. Jatuh di atas kedua lututnya. Matanya basah, pipinya basah.
”Maafkan saya, Kak. Saya memang berdusta…” katanya perlahan di depan wanita yang dadanya terluka dan tubuhnya yang kurus itu.
”Dimana dia dikuburkan…? ulang wanita itu.
”Maafkan saya, saya tak tahu Kak. Dia sebenarnya berpesan agar saya mengatakan dia masih hidup. Saya telah melanggar janji. Dia ingin Kakak pulang ke Semarang. Dia akan menyusul…”
”Tak perlu lagi….., tak perlu lagi. Dia takkan pernah pulang ke Semarang. Saya juga. Begitu pula dua anak-anak kami yang telah terkubur di belakang pondok ini. Kalau begitu, dia benar-benar telah mati tanpa tahu dimana kuburnya, bukan?”
Si Bungsu mengangguk dan menghapus air matanya. Kemudian tangannya meraih kalung di lehernya. Menanggalkan kalung berlontin timah hitam bundar itu.
”Dia berpesan, agar saya memberikan kalung ini pada Kakak…”.
Lemah dan menggigil tangan perempuan itu menggapai. Menerima kalung berlontin itu. Kemudian membawa ke dadanya.
”Ya, dia telah mati. Lontin ini pemberianku. Dan dia pernah bersumpah, bahwa lontin ini hanya akan dia buka kalau dia telah mati….Terimakasih, Bapak telah bersusah-susah datang kemari, untuk menyampaikan pesan itu….”
Si Bungsu mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebungkus uang.
”Dia menyuruh sampaikan uang ini pada Kakak. Uang gajinya yang tak sempat dia kirimkan….”.
Perempuan itu menoleh pada kedua anak-anaknya yang masih kecil. Memegang kepala mereka.
”Nak, berat ibu akan meninggalkan kalian. Kalian masih kecil. Tapi, ibu tak tahan lebih lama lagi tersiksa.
Jika Bapak …

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s