Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 400)

Jika Bapak ini berbaik hati, kalian akan ditolongnya untuk pulang ke Jawa. Ke rumah nenek kalian di sana…,” dan perempuan itu menoleh pada si Bungsu…”mereka tak punya siapa-siapa, Pak. Barangkali ada tentara APRI yang akan pulang ke Jawa. Tolong Bapak titipkan anak saya ini pada mereka. Di Jawa ada neneknya. Ada kakaknya dua orang….Berikan uang itu pada mereka….” suara perempuan itu sudah terputus-putus….”tapi saya ingin kepastian, suami saya tak pernah mengkhianati PRRI, bukan Pak?”
Si Bungsu menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia hanya mampu menggeleng. Menggeleng beberapa kali.
”Syukurlah…..syukurlah. Negeri indah ini telah memberi kami kehidupan selama puluhan tahun. Negeri ini telah membesarkan anak-anak kami. Kami hidup dengan Belandaas kasihan orang disini. Kami tak mau orang Minang menganggap kami tak tahu membalas budi, dengan mengkhianati mereka….syukurlah…”
Si Bungsu tak dapat menahan tangisnya tatkala perempuan itu meninggal. Kedua anak-anaknya terdiam. Tak ada tangis mereka yang terdengar. Mereka sudah terlalu lelah menangis. Mereka hanya menatap pada mayat ibu mereka dengan diam dan tatapan kosong. Ucapan perempuan itu seperti menikam-nikam jantung si Bungsu. Ucapan itu memang bukan untuk menyindir siapa-siapa. Namun, si Bungsu merasa, ucapan perempuan itu menyindir jantung Minangkabau! Siapakah sesungguhnya yang tak tahu membalas budi? Narto dan keluarganyakah, atau anak-anakmu yang merejam mereka ini, Minangkabau, siapa?
Ketika kuburan perempuan itu ditutup oleh beberapa tentara APRI, yang membantu menggali lahat dengan sekop mereka, hujanpun turun. Tentara itu juga yang memimpin doa. Kemudian si Bungsu menancapkan sepohon kemboja yang dia patahkan dari pusara lama. Hujanpun makin lebat. Menyiram dan membasahi bumi Minangkabau yang berlumur darah. Azan Magrib berkumng, malampun mengirimkan sunyi dan gelapnya ke permukaan bumi.
Esok paginya, setelah menitipkan kedua anak Narto ke komandan peleton yang akan cuti ke Jawa  beberapa harti lagi, dan memberi anak-anak itu uang yang masih ada padanya, si Bungsu kembali ke Bukittinggi. Dia kembali menginap di Hotel Indonesia, di depan Stasiun Kereta Api. Dia memilih tempat itu agar lebih dekat ke stasiun, bisa sewaktu-waktu membeli karcis bila akan pulang ke kampungnya, Situjuh Ladang Laweh. Kereta api memang tidak sampai ke sana, hanya hingga Kota Payakumbuh. Tapi menginap dekat stasiun membuat dia bisa dengan mudah bertanya kapan kereta ke Payakumbuh berangkat, dan bisa pula dengan mudah membeli karcis.
Dalam situasi daerah bergolak seperti sekarang, tak setiap hari kereta api bisa berangkat. Baik ke Payakumbuh, Padangpanjang, Solok maupun Padang. Kadang-kadang dalam seminggu baru ada kereta ke salah satu kota itu. Itupun dengan mendapat pengawalan aparat kepolisisan atau tentara. Sabotase, entah dari pihak mana,  bisa saja terjadi di suatu tempat. Setelah menanti tiga hari, akhirnya dia mendapat kabar kereta ke Payakumbuh akan berangkat besok dengan pengawalan beberapa polisi.
—o0o—
Besok dia akan pulang ke kampungnya. Ke Situjuh Ladang Laweh. Rasa rindunya terasa menusuk jantung. Dahulu dia sering dibawa ayahnya naik kereta api kalau ke Bukittinggi ini. Ah, melihat sawah dan desa-desa, mencium asap kereta api, merupakan kerinduan tersendiri. Sambil berbaring di tempat tidurnya, di Hotel Indonesia dekat stasiun itu, dia segera ingat peristiwa yang dialaminya saat di Jepang. Peristiwa ketika dia menuju Kyoto dari Tokyo. Di kereta api cepat dia bertemu dengan seorang gadis yang pernah dia tolong di Tokyo. Gadis itu adalah Michiko. Anak Saburo Matsuyama. Gadis yang dia tolong yang kemudian membenci dan memusuhinya setelah kematian Saburo di Kuil Shimogamo. Dia tak bisa melupakan betapa gadis itu pernah melukainya ketika upacara pemakaman ayahnya. Gadis itu bersumpah akan mencari dan membunuhnya.
Michiko ternyata memang mencarinya! Mencarinya sampai ke Bukittinggi! Pagi itu, saat dia akan melangkah menaiki kereta api di stasiun, ketika dia dengar sebuah suara memanggil. Dia tak jadi naik, menoleh  ke belakang. Di antara palunan orang ramai, dia melihat seorang gadis tegak dengan sebilah samurai di tangan! Michiko! Dia tertegun. Palunan manusia yang ada di stasiun itu terkuak. Hingga tercipta sebuah lorong yang lapang antara gadis Jepang yang cantik itu dengan dirinya. Orang-orang menatap heran.
”Michiko…?” katanya perlahan menahan kejut.
”Ya. Engkau rupanya belaum lupa pada saya, Bungsu….”
Suara gadis itu terdengar lantang. Seperti bersipongang di peron stasiun itu.
”Selamat datang..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s