Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 401)

”Selamat datang..
di kampungku, Michiko san….” ujarnya sambil coba tersenyum. Padahal hatinya mulai tak sedap melihat sikap gadis itu yag tak bersahabat sedikitpun.
”Terimakasih. Saya memang melihat kampungmu indah, Bungsu san. Tapi saya datang bukan untuk menikmati keindahannya. Saya datang dari Jepang mencarimu ke mari untuk menuntut balas. Ingat persoalan yang ada di antara kita?”
Suara gadis itu makin lantang. Orang-orang pada diam tak bergerak. Si Bungsu jadi serba tak sedap. Dia menyesal telah membawa samurainya saat itu. Kenapa tadi tak dia masukkan saja ke dalam buntalan kainnya? Kini samurainya terpegang di tangan kiri. Gadis itu juga memegang samurai di tangan kiri. Dia jadi serba salah. Akankah dia melayani kehendak gadis ini kalau dia menantangnya untuk berkelahi? Akankah dia membunuh gadis itu, atau justru dia yang terbunuh di sini? Ketika dia berfikir demikian, gadis itu memandang ke palunan orang ramai di stasiun. Lalu terdngar suaranya :
”Saya Michiko, anak bekas serdadu Jepang yang pernah membunuh beberapa lelaki dan perempuan di Minangkabau ini. Ayah saya sudah mati. Dibunuh oleh lelaki ini…” dan tangannya menunjuk pada si Bungsu.
”Ketika menjadi tentara ayah saya membunuh ibu, ayah dan kakaknya. Dia lalu datang ke Jepang sana, lalu membunuh ayah saya dengan alasan menuntut balas. Kini dari Jepang saya datang kemari, untuk menuntut balas pula atas kematian ayah saya itu. Bukankah adil, kalau setiap anak menuntut balas kematian ayahnya?”
Orang pada terpana. Si Bungsu merasa dirinya berpeluh.
”Tidak benar demikian, Michiko-san. Ayahmu tidak mati di tangan saya. Saya tak pernah membunuhnya. Ayahmu mati karena harakiri, seppuku!. Dia mati terhormat….” ujar si Bungsu mencoba memberikan pengertian kepada orang ramai, sekaligus melunakkan hati gadis itu.
”Bohong! Tak ada kematian terhormat dalam hal yang terjadi atas ayahku. Dia memang mati harakiri. Tetapi dia harakiri karena malu atas perlakuanmu pada dirinya!”
”Michiko…!?”
”Apakah engkau menjadi pengecut, Bungsu? Engkau telah membunuhi puluhan orang Jepang dalam petualanganmu di negeri saya itu. Dan engkau merasa jadi pahlawan. Kini cabut samuraimu!” gadis itu membentak sambil mendahului mencabut samurainya.
Si Bungsu berharap petugas keamanan atau tentara muncul di sana. Kalau ada petugas keamanan atau tentara, dia yakin mereka bisa bertindak mencegah. Tapi tak seorangpun petugas yang hadir. Tak seorangpun tentara atau polisi yang menampakkan puncak hidungnya. Para petugas itu seperti telah bersekongkol dengan gadis ini untuk memberinya kesempatan membalas dendam. Tiba-tiba bayangan di stasiun kecil Gamagori melintas di kepalanya.
Bukankah dahulu dia juga pernah berkelahi melawan komplotan Kumagaigumi di stasiun kecil di Gamagori? Bandit-bandit Kumaigaigumi itu akan mengganggu Michiko. Namun dia ada disana untuk membelanya. Lima orang anggota Kumagaigumi berhasil dia bunuh. Bergelimpangan di stasiun kecil itu. Kemudian dia naik lagi ke kereta api. Menemui Michiko yang menangis karena menyangka dirinya telah mati. Di kereta api menuju Nagoya itu, dia memeluk bahu Michiko.
Gadis itu menyandarkan kepalanya lalu tertidur di bahunya. Dan sesaat sebelum gadis itu tertidur, dia menyanyi sebuah lagu Jepang. Lagu yang selalu dinyanyikan pelaut-pelaut yang rindu pada kampung halaman. Rindu pada kekasih, anak dan isteri. Dia coba mengingat bait lagu Jepang itu. Namun amat susah. Dia coba memikirkannya. Dalam kalut dia tak ingat bait bahasa Jepang. Yang ingat cuma bait bahasa Indonesianya.
”Jangan menangis. Jangan sedih.
Meskipun hujan turun lebat
Saya akan tetap pergi
Selamat tinggal 
Lagu itu dia pelajari dari Kenji. Temannya sekapal saat menuju Tokyo dari Singapura. Lamunannya jadi terputus ketika dia dengar suara orang memekik memberi ingat. Sesaat nalurinya bereaksi cepat. Dia menjatuhkan diri ke lantai stasiun. Namun tak urung bahunya disabet oleh ujung samurai Michiko! Memang hanya luka gores. Tapi darah merembes. Dia bergulingan. Kemudian melompat tegak. Michiko tegak dua depa di depannya dengan kaki terpentang dan mata nyalang menatapnya.
”Cabut samuraimu…Bungsu! Jangan kau sangka bahwa dirimu saja yang hebat memainkan samurai….” bentak gadis itu.
Si Bungsu tak melihat jalan lain. Gadis ini memang menghendaki nyawanya.
”Ini kampung saya, Michiko. Saya tak ingin darahmu tertumpah di kampung saya ini…”
”Sombong kau! Tak setetespun darahku akan tertumpah di sini! Kau dengar itu, pembunuh! Tak setetespun! Jika engkau sanggup melukai diriku segores saja, maka aku akan menjilat telapak kakikmu! Percuma aku jadi murid Zato Ichi!”
Si Bungsu kaget, dia ingat Zato Ichi. Gadis ini bukan main jumawanya! Benarkah sudah demikian hebatnya dia memainkan samurai, sehingga dia sanggup berkata setakbur itu pada si Bungsu yang kesohor itu? Atau apakah gadis ini hanya ingin memancing amarah si Bungsu saja? Tak ada yang sempat memikirkan hal itu. Sebab saat berikutnya gadis itu telah menyerang. Si Bungsu mencabut samurai dengan sikap ”apa boleh buat”.
Ya, dia harus mempertahankan dirinya bukan? Orang hanya melihat dua sinar berkelebat. Kemudian bunga api memercik tatkala dua baja tajam itu berbenturan! Terdengar suara gemercing. Si Bungsu tersurut selangkah. Michiko masih tetap tegak di tempatnya. Si Bungsu jadi kaget. Kekuatan gadis itu ternyata luar biasa sekali. Getaran benturan samurai mereka terasa ke tulang tangannya.
Michiko menyerang lagi. Sebuah pancungan ke kepala. Si Bungsu menunduk. Sebuah pancungan ke pinggang. Si Bungsu menangkisnya dengan menegakkan samurainya di sisi badan. Dua baja samurai yang alot itu bertemu lagi. Suara berdentang. Bunga api memercik! Dan si Bungsu dengan kaget tepaksa melompat ke Belandaakang empat langkah! Samurainya hampir saja terpental karena benturan dahsyat itu.
Kalau itu…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s