Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 402)

Kalau itu terjadi, maka pinggangnya akan putus dua! Dia menatap dengan wajah pucat. Gadis itu selain cepat, tenaganya juga luar biasa sekali. Zato Ichi benar-benar menurunkan seluruh ilmunya pada gadis ini. Michiko tersenyum sinis. Orang-orang menatap dengan diam pada perkelahian sepasang anak muda yang mengagumkan itu.
”Keluarkan kepandaianmu, Bungsu! Takkan pernah ada bangsa lain yang melebihi kemahiran orang Jepang bersamurai! Kau sangka kemahiran samuraimu sudah hebat, setelah engkau mengalahkan beberapa jagoan di Jepang sana. Setelah engkau mendapat pengakuan Zato Ichi? Hmm, yang kau peroleh baru kulitnya. Bungsu! Engkau ingin tahu bagaimana bermain samurai yang betul? Ini…!” dan gadis itu menyerang lagi!
Kali ini si Bungsu tak mau main-main. Dia memusatkan konsentrasi. Nafsu membunuhnya yang dia bawa dari rimba di pinggang Gunung Sago seketika mengalir kencang. Mulutnya terkatup rapat. Tangannya melemas. Begitu Michiko menyerang, dengan seluruh kepandaian, dengan seluruh kemahiran, dengan seluruh konsentrasi yang penah dia miliki, dengan seluruh kecepatan yang pernah dia pelajari, dia kerahkan! Tak sampai dalam hitungan dua detik, benar-benar cepat, hanya para malaikat yang tahu betapa cepatnya kedua samurai itu dahulu mendahului! Namun, sekali lagi, dan mungkin untuk kali yang terakhir, si Bungsu dari Situjuh Ladang Laweh itu menjadi kaget.
Michiko jauh lebih cepat. Tidak hanya sekali, tetapi Michiko berkali-kali lebih cepat dari kecepatan yang pernah dia miliki. Tak sia-sia Zato Ichi menurunkan ilmu padanya. Samurainya belum sempurna tercabut, ketika dia rasakan rusuknya belaah. Dia melanjutkan mencabut samurainya dengan kecepatan penuh. Saat itu sabetan kedua samurai Michiko telah membelah dada kirinya! Tembus!
Darah memancur ketika samurai itu disentakkan dengan cepat. Samurai di tangannya sendiri baru terayun ke arah Michiko ketika kedua serangan mematikan itu telah selesai dilakukan gadis itu. Samurainya menyerang kepala Michiko, menetak dari atas ke bawah. Namun samurai Michiko menanti ayunan samurainya. Kembali bunga api memercik.
Tangannya terasa pedih, tenaga gadis itu amat luar biasa. Samurainya terpental ke udara! Terdengar orang memekik melihat darah menyembur dari tulang rusuk dan  jantungnya. Dia masih tegak. Gadis itu juga masih tegak di depannya, dengan kegagahan yang mengagumkan. Si Bungsu jadi lemah. Kakinya gemetar. Namun dia tak mengeluh. Mulutnya tersenyum. Ketika kakinya terasa tak kuat lagi menahan berat badannya, dia jatuh di atas kedua lututnya.
”Bunuh….bunuhlah saya….” katanya perlahan.
Michiko masih tetap  tegak. Menatap padanya dengan pngan dingin.
”Engkau memang benar-benar hebat Michiko san. Benar-benar pesilat samurai yang paling hebat…ayahmu pasti bangga…” dia masih berusaha berkata.
Darah menyembur dari mulutnya. Jantungnya telah ditembus samurai. Peluit kereta api tiba-tiba memekik. Sayu dan bersipongang. Kereta akan berangkat. Dia menoleh ke kereta yang akan berangkat menuju Payakumbuh itu. Pakaiannya telah ada di atas kereta. Kereta tak mungkin diundurkan keberangkatannya. Saat sakratul maut itu menjeput, peristiwa stasiun Gamagori melintas lagi. Stasiun kecil itu! Bukankah dia membunuh lima orang anggota Kumagaigumi di sana? Ah, stasiun Gamagori, kini dia terkapar di stasiun kecil Bukittinggi! Peluit kereta berbunyi lagi.
Tuit…tuiiiit! pilu dan merawankan hati. Kereta itu akan ke Payakumbuh. Akan mati di sinikah dia? Kereta itu akan ke Payakumbuh.  Kenapa dia tak naik saja ke kereta? Tubuhnya akan dibawa kereta ke Payakumbuh. Kalau mayatnya sampai, orang akan membawa mayatnya ke Situjuh Ladang Laweh.
”Sampaikan…pada orang-orang….kampung saya di Situjuh Ladang  Laweh… saya. ..ingin berkubur….di sana…di samping pusara ayah, ibu dan…kakak saya…” katanya perlahan.
Dia yakin, suaranya terdengar oleh Michiko. Gadis itu masih tegak diam. Tapi si Bungsu melihat, betapa mata gadis itu basah. Pipinya juga basah. Si Bungsu ingin mati di atas kereta api. Agar mayatnya bisa tiba di Payakumbuh dan dibawa ke Situjuh Ladang Laweh. Tapi karena tak ada yang menolong, dia merangkak menuju kereta api. Dengan sisa tenaga dia coba merangkak naik ke gerbong. Tak mungkin! Tenaganya habis! Tapi dia harus! Bukankah kereta ini menuju ke Payakumbuh? Dia merangkak lagi, berjuang untuk naik. Berhasil, tubuhnya berada sebahagian di atas kereta yang bergerak perlahan itu. Darah dari lukanya terus menetes.
Tapi tubuhnya melosoh lagi. Kereta mulai bergerak  cepat. Ada beberapa lelaki tegak jauh dari tempatnya. Menatap dengan diam. Dia menoleh pada mereka. Bibirnya bergerak. Ingin mengucapkan  ”Tolonglah saya…naikkanlah saya ke gerbong. Saya ingin mati di kereta. Tolonglah naikkan saya”. Tapi tak ada suaranya yang keluar. Tak ada! Tak ada suaranya! Yang keluar justru air matanya. Air mata sedih. Sedih kalau dia mati seperti maling di stasiun ini. Dia ingin tubuhnya dibaringkan di gerbong. Sekali lagi dia menatap pada para lelaki itu. Dia kumpulkan tenaganya. Akhirnya, terdengar suaranya bermohon.
”Sanak…tolonglah saya. Saya ingin dibaringkan di kereta itu…..Kereta itu akan ke kampung saya…tolonglah….” namun kedua lelaki itu tak bergerak.
”Di kantong saya ada uang. Cukup banyak….ambillah uang itu sebagai upah sanak menaikkan diri saya…Tolonglah saya, sanak…”  Kedua lelaki itu benar-benar jahanam. Jahanam benar. Mereka tak bergerak sedikitpun! Akhirnya si Bungsu harus berusaha sendiri. Akan begitukah nasib seorang lelaki yang semasa hidupnya pernah sangat perkasa ini? Dia merangkak. Kereta mulai berjalan perlahan. Dia menggantungkan tangan di bibir pintu gerbong yang memuat pisang. Yang memuat lobak. Yang memuat kayu api. Tubuhnya ikut terseret di sepanjang lantai stasiun! Darahnya menetes.
”Tuhanku, tolonglah aku naik. Tolong hambamu ini, ya Tuhan. Aku hanya ingin mati di atas kereta ini. Agar mayatku sampai ke kampungku. Tolong aku, ya Tuhan….” rintihnya perlahan.
Tapi Tuhanpun seperti tak mendengarkan permohonannya. Tuhanpun tak menolongnya. Tuhanpun tak mendengarkan doa orang yang akan mati itu. Tuhanpun tak kasihan padanya. Tuhanpun seperti belum akan mengakhiri deritanya di situ.
Tangannya lemah berpegang ke bibir pintu gerbong. Dan akhirnya, ketika peluit panjang kembali berbunyi, tangannya tak kuat lagi bergantung. Kereta itu semakin melaju. Lalu lelaki itu, si Bungsu yang pernah hidup malang melintang di Jepang itu, yang banyak menolong manusia itu, di akhir hayatnya tak seorangpun yang mau meolongnya! Tak seorangpun! Ketika pegangannya terlepas tubuhnya jatuh dari gerbong. Terdengar suara berdembam! Kepalanya terhempas ke lantai. Rasa sakit akibat kepalanya terhempas membuat dia tersentak bangun dan terlompat tegak!
”Nauzubillah. Ya Rabbi….! Mimpi kiranya” dia mengucap.
Peluh membasahi tubuhnya. Dia menatap keliling, dia masih di biliknya di Hotel Indonesia dekat stasiun. Dia baru saja berimpi yang alangkah dahsyatnya. Tiba-tiba terdengar pekik peluit kereta api dari stasiun yang tak jauh dari hotel dimana dia menginap.
Dia menarik…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s