Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 406)

”Dimana saya…
dapat membeli tiket untuk pesawat yang berangkat ke Sumatera Barat?” tanyanya pada seorang lelaki berseragam pilot.
”Nona akan ke sana?”
Pilot itu balik bertanya dengan heran, tapi sikapnya sopan.
”Ya, saya bermaksud ke sana….”
”Seingat saya, saat ini belum ada pesawat sipil yang ke sana. Jalur itu khusus diterbangi oleh pesawat Angkatan Udara. Tapi mereka juga menerima penompang-penompang sipil  dari pemerintahan. Untuk itu  dapat meminta keterangan  di ujung sana,”  ujar pilot itu sembari menunjuk ke gedung lain.
Dia menunjuk ke sebuah gedung tua yang mirip gudang besar. Terletak di antara pohon-pohon kelapa. Jalan menuju ke sana ditumbuhi padang lalang. Michiko  memang mendapatkan keterangan yang sama dari pilot tadi. Rute Jakarta – Padang hanya diterbangi oleh pesawat AURI. Tapi dia mendapat tempat. Hanya sayangnya, pesawat baru dua hari lagi berangkat ke Padang. Sebab pesawat ke sana baru tadi pagi berangkat.
”Ada kemungkinan saya menompang pesawat lain?” tanya Michiko.
”Tidak nona. Memang ada pesawat militer ke sana. Tapi usahkan orang asing seperti Anda. Orang Indonesia tak juga akan diperkenankan ikut dalam pesawat itu…”
”Kalau begitu, saya pesan tiket untuk dua hari lagi…”
”Baik. Kami catatkan. Nona bisa bayar dua hari lagi.”
”Tidak. Sekarang saja…”
”Jangan Nona, sebab ada kemungkinan pesawatnya tak berangkat hari itu…”
Michiko mengerutkan kening.
”Saya kurang mengerti maksud Tuan…”
Petugas yang melayani seorang Sersan Mayor Penerbang, menatap gadis cantik itu. Lalu bicara sopan :   
”Anda tahu Nona, negeri itu baru bergolak. Segala penerbangan kesana bisa saja diundur.”
”Apakah itu sering terjadi?”
”Seingat saya ada dua atau tiga kali.”
”Ya. Apa boleh buat. Kalau diundur, maka saya juga akan undur berangkat…” katanya menyerah.
Sersan itu mencatat.
”Di mana Nona menginap? Kalau ada perobahan kami bisa mudah memberitahu…”
Michiko menatap ke arah lain. Itulah yang tengah dipikirkannya, penginapan.
”Saya tak tahu. Ada penginapan di sekitar lapangan ini?”
”Ada. Di luar sana.  Anda bisa naik beca. Minta ke Hotel Angkasa. Cuma hati-hatilah. Di sana kadang-kadang ada bajingannya…”
Michiko menatap sersan itu.
”Ya, kadang-kadang ada orang mabuk-mabukan dan suka mengganggu perempuan..”
”Apakah tak ada penginapan lain yang lebih aman?”
”Cukup banyak. Tapi agak jauh dari sini. Di kota..”
”Saya rasa di sana saja, di hotel Angkasa. Terimakasih atas bantuan Bapak….”
”Saya harap Nona senang berada di negeri kami…” ujar sersan itu mengangguk hormat.
Michiko mendapat kesan yang baik pada sikap sersan itu. Dia berjalan lagi ke arah gedung Imigrasi darimana dia datang tadi. Untung saja yang dia bawa hanya sebuah tas kecil yang bisa dia gantungkan di bahu. Mirip-mirip ransel. Hanya dua perangkat pakaian, handuk, kimono dan barang-barang kecil lainnya. Kemudian uang. Itulah bekalnya. Di tangan kirinya ada samurai yang sekilas lihat mirip dengan tongkat biasa. Michiko memakai gaun seperti jamaknya gadis-gadis Indonesia saat itu. Pakai rok dalam hingga ke betis dengan banyak kerunyut-kerunyut. Pakai blus warna cerah dengan rambut dipotong hingga bahu.
Sekilas lihat gadis ini tak mirip dengan gadis Jepang yang bermata sipit dengan wajah klasiknya. Dia lebih  mirip gadis-gadis Indonesia kelahiran Menado, atau gadis-gadis dari Sunda yang bertubuh indah berkulit kuning. Di depan kantor Imigrasi dia memanggil beca. Tapi saat itu sebuah sedan Chevrolet hitam berhenti persis di dekat dia tegak. Sebuah suara terdengar saat pintu mobil terbuka.
”Mali naik sini saja, Nona. Saya antalkan….”
Michiko heran, tapi herannya segera berobah jadi mual tatkala dilihatnya siapa yang membuka pintu mobil itu. Si babah gemuk bergigi emas yang duduk di sebelahnya dalam pesawat tadi.
”Naiklah. Saya antalkan Nona….” kata babah itu meramah-ramahkan diri.
Michiko tak menjawab. Dia memanggil beca.
”Ke hotel Angkasa, Pak….” katanya kepada tukang beca.
Beca itupun meluncur. Chevrolet hitam yang ditompangi oleh babah gemuk itu mengikut dengan perlahan dari belakang. Tak lama kemudian beca itu memasuki halaman hotel yang tak begitu bagus. Bahagian bawah berlantai dan berdinding batu. Bahagian atas berdinding papan. Itulah Hotel Angkasa yang tadi ditunjukkan oleh sersan AURI itu. Michiko memesan kamar. Dia sempat melirik bahwa sedan Chevrolet hitam model terbaru itu melaju ke arah kota.
Tempat tidur hotel itu tak bisa dikatakan bagus, tapi cukuplah. Siang itu terasa panas. Keinginannya adalah segera mandi dan tidur. Dia membuka pakaiannya, menukarnya dengan kimono. Kemudian mengambil sabun dan sikat gigi. Lalu masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Airnya tak begitu sejuk. Tapi dia tak perduli. Selesai gosok gigi dia membuka kimononya, lalu mandi. Di tingkat dua, persis di atas kamar mandi di mana dia tengah membersihkan diri, ada sebuah lobang kecil. Di lobang itu ada sebuah mata yang tengah melotot menatap ke bawah. Ke tubuh  Michiko yang tak tertutup kain sehelai benangpun.
Tubuh orang……..

1 Comment

  1. ceritanya menarik …


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s