Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 408)

Terbayang lagi betapa pengalamannya pagi tadi di pesawat. Dia sempat melihat bukit dada gadis itu lewat celah bajunya yang digunting seperti huruf V. Dia sempat meremas pinggul yang besar itu tatkala dia lewat di depannya ketika balik dari WC. Bukan main. Mmmmmhh…..! Lelaki besar bernama Husein itu sampai di depan pintu kamar nomor empat.
Sepertinya dia adalah lelaki yang sopan. Sebelum masuk dia mengetuk dua kali perlahan. Tak ada jawaban. Dia memng kiri dan kanan, lengang. Tak ada orang.   Nampaknya semua penghuni kamar hotel ini pada tidur sore atau keluar ngeluyur. Dia ketuk lagi tiga kali. Agak keras. Namun yang di dalam, Michiko, benar-benar tak mendengar ketukan itu. Karena amat lelah, membuat dia benar-benar tak mendengar ”isyarat” adanya bahaya. Dia tidur terlalu lelap. Lelah menyerangnya dengan sangat.
Karena tak ada jawaban, lelaki bernama Husein itu membuka pintu. Terkunci. Tapi dengan sedikit dorongan dengan bahu, kunci  pintu itu ambrol. Di kamar segera saja dia melihat sebuah pngan yang melumpuhkan seluruh syarafnya. Di tempat tidur, Michiko yang hanya memakai kimono tipis, tidur menelentang dengan kaki agak terbuka. Tak hanya itu, kimononya hanya bertaut sedikit di pinggang. Itupun karena ada tali pengikatnya. Bahagian lain sudah terbuka tak menentu. Buat sesaat si Husein itu tertegak.
Lupa melangkah, lupa menutupkan pintu dan bahkan hampir lupa bernafas. Dia juga lupa bahwa bosnya menantinya di luar sana. Dia diperintah membawa ”ponakan” itu ke mobil dalam keadaan sadar atau tidak. Artinya, kalau tak bisa dibawa baik-baik, pukul saja sampai pingsan. Tapi bagaimana Husein keturunan Indonesia Arab itu akan melaksanakannya? Dia menutupkan pintu. Menguncinya. Kemudian dengan peluh menitik di jidat, dengan kaki menggigil, dia mendekati tempat tidur. Malang benar gadis itu.
Tubuhnya yang sebenarnya tak boleh dilihat orang lain, kini terbuka. Husein berjongkok di sisi pembaringan. Mengelus betis Michiko. Mengelus pahanya.  Tangannya menggigil. Hatinya menggigil. Dia cium kaki gadis itu, kemudian bangkit. Membuka pakaiannya sendiri. Sampai detik itu, Michiko masih tidur dengan amat nyenyak. Tidur dengan amat lelah. Husein tak membuang waktu sedikitpun. Michiko dalam mimpinya merasa berlari di tanjakan yang amat terjal. Nafasnya sesak. Mendaki dengan  beban yang amat berat. Nafasnya makin sesak.
Beban itu rasanya meluncur menutup mulut dan hidungnya. Nafasnya makin sesak. Panas bukan main. Berat bukan main. Akhirnya dia baru terbangun tatkala lelaki yang tubuhnya dipenuhi bulu itu hampir saja melaksanakan niat jahanamnya. Hampir saja!!. Saat tersentak bangun gadis itu mendapatkan dirinya sudah tertekan di bawah seekor gorilla dengan tubuh berbulu lebat.
”Diamlah manis. Diamlah…kau akan kuberi kesenangan….” lelaki itu berbisik penuh nafsu.
Michiko tak dapat bergerak. Kedua tangannya ditekankan ke kasur oleh lelaki itu. Tubuhnya terhimpit bulat-bulat tanpa tutup di bawah tubuh lelaki itu. Tiba-tiba Michiko menangis. Dia menangis dengan ketakutan yang amat dahsyat. Betapa hebatnyapun dia memainkan samurai, betapa hebatnya pun dia berkelahi melawan lelaki, namun dalam keadaan seperti itu, dimana kehormatannya akan direnggut orang, dia kembali pada fitrahnya yang asli.
Yaitu fitrah sebagai seorang perempuan yang lengkap dengan kelemahan-kelemahannya. Senjatanya hanya tangis! Dia menangis, tatkala menyadari bahwa tak ada kesempatan samasekali baginya untuk menyelamatkan kehormatannya. Tapi di saat yang sangat kritis itu. Pintu ditendang dari luar. Begitu pintu ternganga, di ambang pintu berdiri si babah gemuk.
”Huseinn…! Jahanam lu! We jitak lu punye pale!”
Babah itu memaki dengan amarah yang tak tanggung-tanggung. Dia sudah kelaparan menanti di sedan di luar hotel. Bermacam bayangan yang menggairahkan seperti sudah bisa dia nikmati atas diri gadis Jepang cantik bertubuh montok itu. Tapi kok lama banget, pikirnya. Lama benar Husein keparat itu. Dia melihat jam. Heh, kelewatan. Tapi dia masih menanti beberapa saat lagi. Namun sudah empat sampai tujuh saat dia menanti, si Husein itu tak juga kelihatan batang hidungnya. Jangan-jangan dia ”makan” duluan, pikirnya sambil membuka pintu mobil. Dia berjalan dengan perut buncitnya ke hotel.
”Kamal belapa ponakan saya itu tadi?” dia bertanya ke resepsionis.
”Kamar nomor empat…”
Tanpa menunggu babah itu segera ke sana. Di depan pintu dia berhenti sejenak. mendengar nafas dan  tangis. Kemudian kakinya yang besar terangkat. Gedubrakk!!! Tendangannya menghantam pintu sampai terbuka lebar. Si Husein yang sudah ”siap tempur” tiba-tiba terlompat ke bawah.
Babah itu……..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s