Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 409)

Babah itu sejenak terkesima. Pemandangan di tempat tidur, tubuh Michiko yang tertelentang tanpa apa-apa, membuat jantungnya berhenti berdetak. Namun Michiko yang merasa dirinya bebas, segera menyambar kimononya. Saat itu si babah mengalihkan pandangannya ke Husein.
”Husseiinnn! Lu kulang ajal. Kulang ajal betuuul! Babi, anjing, monyet, beluk lu!”
Sumpah serapah incek gemuk itu berhamburan. Husein tertunduk layu. Layu dari atas sampai ke bawah. Babah itu maju lalu plak, pluk, plak….plak! tangannya menampar Husein tiga kali. Husein tak bisa cakap. Kepalanya tertunduk. Atas bawah. Tangannya melindungi miliknya yang berada di bawah. Saat itulah mereka berdua melihat gadis Jepang itu turun dari tempat tidur. Babah gemuk itu menoleh. Husein juga menoleh.
”Ah, kau diganggunya, Dik?”
Buset..! Babah gemuk itu memanggil Michiko dengan sebutan ”dik”. Benar-benar selangit!! Michiko tak mengacuhkannya. Matanya berbinar berang. Menatap tajam pada lelaki besar yang masih telanjang itu.
”Saya, eh, we sudah tempiling dia. We sudah tempiling tiga kali. Mau lihat! Nih….” dan babah gemuk itu maju lagi ke dekat Husein.
Tangannya bekerja lagi. Puk, pak, puk…..! Tiga kali tempiling mendarat dngan telak.Husein tertunduk kuyu.
”Nah, dia telah ku tempiling, Dik…” kata babah itu sambil nyengir.
Michiko memandang dengan jijik dan marah luar biasa. Perlahan dia mencabut samurai yang kini telah dia pegang di tangan kiri. Babah yang sudah siap lagi untuk bicara, jadi terdiam. Husein juga menatap. Tapi dia tak kaget. Dia hanya menatap heran pada perempuan cantik yang tadi hampir saja memuaskan nafsunya itu. Heran melihat gadis secantik itu memegang senjata yang dulu sering dipergunakan serdadu Jepang.
”Jahanam, kalian…” gadis itu mendesis tajam.
Lalu samurainya bekerja. Amat cepat. Samurai itu melukai dada Husein. Michiko memang tak segera membunuhnya. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada lelaki itu. Husein kaget. Menatap ke dadanya yang luka. Meski tak dalam, namun darah merembes. Dia usap dadanya. Ternyata dia lelaki yang tak mengenal takut.
”Ha, bisa juga kau memainkan senjata itu nona….” katanya sambil tersenyum tanpa memperdulikan darah di dadanya.
Babah gemuk itu sebenarnya sudah agak takut. Tapi karena tukang pukul lannya itu tak takut, dia juga jadi berani.
”Sudahlah, Dik. Jangan main-main palang panjang, eh, kapak, eh, jangan main-main samulai. Nanti adik luka. Mali sini abang simpan…” kata apek gemuk itu sambil maju mengulurkan tangan pada Michiko.
Maksudnya membujuk agar samurai itu diserahkan padanya.  Namun sebuah tendangan menantinya. Tendangan yang telak dari jurus karate yang telah mahir dipelajari Michiko. Tendangan itu mendarat di kerampang Cina gemuk itu. Babah gemuk itu terhenti. Nafasnya tertahan. Matanya juling. Alat kesenangannya, yang biasa dia buat untuk bersenag-senang, terasa sangat sakit. Rasa akan pecah dihantam tendangan gadis itu. Dengan melenguh, dia jatuh berlutut di lantai. Husein jadi kaget juga melihat makan kaki gadis itu.
Dia segera membantu bosnya. Dengan masih bertelanjang, dia menyergap gadis itu dari samping. Namun Michiko sudah siap. Meski dia tak bisa segera menggunakan samurai, pukulan tangan kirinya mendarat di jidat lelaki itu. Lelaki itu terhenti. Jidatnya bengkak sebesar telur ayam. Namun dia tak merasa sakit. Yang dirasakannya hanya sedikit pening dan kaget. Dia memang lelaki yang alot. Tak merasakan pukulan.
Tapi waktu dia berhenti menyerang itu sudah cukup bagi Michiko untuk mempergunakan samurai di tangan kanannya. Cress! cresss!, dua sabetan cepat. Pada sabetan pertama telinga kanan Husein bercerai dari kepalanya. Sebelum Husein sempat berteriak karena sakit, sabetan kedua menghantam perutnya. Perutnya menganga. Husein kali ini menatap dengan wajah pucat pada gadis itu. Gadis itu juga menatapnya. Mukanya masih tetap merah. Husein memang tangguh.
Dengan tangan kiri memegang perutnya yang belah, dia maju menyerang. Dia sebenarnya tukang pukul yang ditakuti di Jakarta saat itu. Namun samurai Michiko menantinya lagi. Sebuah sabetan menghantam kepalanya! Cress! Kulit kepala lelaki itu berikut rambutnya seluas telapak tangan terbang! Demikian tajam dan demikian cepatnya. Darah meleleh. Husein berhenti lagi. Sedepa di depannya, Michiko tegak lagi menanti! Husein maju. Kembali samurai Michiko bekerja. Cress! Dan kali ini arahnya adalah sebuah benda  di bahagian depan bawah. Husein terhenti.
Kali ini dia tak bisa untuk tidak meraung. Tangannya segera mendekap selangkangnya. Di sana, tadi ada sesuatu yang hampir menusuk-nusuk tubuh Michiko. Dan kini sesuatu itu putus sudah! Tercampak di lantai! Lelaki itu meraung-raung. Membangunkan orang di hotel. Mereka berlarian ke kamar nomor empat itu. Ketika sampai di sana, pintu terbuka. Seorang lelaki Cina bertubuh gemuk, merangkak ke luar dengan wajah meringis menahan sakit dan wajah pucat.
”Ada apa, ncek?”
”Ada sakit. Banyak sakit…” jawab incek gemuk itu sambil meerangkak terus meninggalkan kamar maut itu.
Dia sebenarnya ingin berlari kencang. Tapi alat kesenangannya amat sakit. Menyebabkan dia tak bisa berdiri. Tapi dia tak berani bertahan terus di kamar perempuan tukang bantai itu. Dia harus pergi. Kesempatan itu terbuka tatkala perhatian Michiko tengah terarah sepenuhnya pada Husein. Dia cepat merangkak keluar. Michiko memang tak melihatnya. Di kamar, Husein masih meraung-raung. Namun Michiko tak memperdulikannya.
Samurainya kembali bekerja. Kedua tangan lelaki itu putus hingga bahu! Lelaki itu bergulingan di lantai. Bermandi darah dan seperti dijagal. Dia belum mati. Orang yang melihat ke dalam jadi tersurut dengan wajah pucat pasi. Kemudian menghindar dari sana. Takut dan ngeri. Michiko mengambil buntalan pakaiannya. Kemudian dengan tenang dia melangkah ke luar. Namun langkahnya terhenti tatkala mendengar suara Husein menghiba-hiba.
”Tolong saya…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s