Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 412)

Samurai Michiko hanya sekejap berada di luar sarangnya. Tak sampai lima hitungan cepat. Begitu dicabut, dia melangkah ke belakang, samurainya berkelebat, membabat bahu sopir itu dan snap…masuk kembali ke sarungnya di tangan kiri Michiko!
Kini dia tegak dengan diam. Lelaki besar berpisau itu juga tegak. Kaget bercampur ngeri melihat ketenangan gadis itu membunuh manusia. Mereka bertatapan. Lelaki besar itu, juga seorang bandit yang sering menghantam mangsanya dengan kepalan atau dengan pisau, kali ini mulai hati-hati benar. Dia menggertak lagi. Michiko masih diam. Kakinya menendang cepat dalam suatu tendangan Silat Mataram. Tendangan melengkung dari kanan ke kiri. Michiko bergerak cepat, kakinya melesak maju antara kaki kanan yang menendang itu dengan kaki kiri yang tegak sebagai kuda-kuda. Tendangan lelaki itu cukup cepat. Namun jauh lebih cepat lagi  tendangan kaki Michiko. Tendangannya menghajar selangkang lelaki itu, menyebabkan lelaki itu tersurut dua langkah. Dia meringis menahan sakit.
Babah gemuk itu mengerutkan kening. Dia seperti dapat merasakan sakit yang diderita anak buahnya itu. Bukankah dia juga kena tendang selangkangnya di hotel Angkasa tadi oleh Michiko? Bukankah dia terpaksa harus merangkak untuk meninggalkan hotel itu? Kini anak buahnya kena tendangan seperti itu pula. Dia dapat mengerti betapa sengsaranya anak buahnya itu. Tapi lelaki besar itu memang agak tangguh. Hanya sebentar dia mengerang dan mengerutkan kening. Saat berikutnya dia sudah tegak. Kali ini, dalam jarak empat depa, dia tak lagi berusaha untuk maju. Tapi dengan ayunan yang amat cepat, dia melemparkan pisau itu ke dada Michiko.
Lelaki itu juga dikenal sebagai pelempar pisau yang bukan main mahirnya. Tadi dia memang tak berniat melemparkan pisau itu pada Michiko. Sebab lemparan pisaunya berarti maut. Dia tak ingin membunuh gadis itu. Sebab selain tak dibolehkan bosnya, dia sendiri ingin menikmati tubuh gadis itu terlebih dahulu. Tubuh yang montok dan menggiurkan. Tapi kini, setelah gadis itu menghantam selangkangnya, dia tak perduli lagi dengan kemontokan itu. Dia berniat membunuh gadis itu. Pisaunya melayang cepat secepat kilat. Namun Michiko juga bergerak cepat. Samurainya tercabut. Membabat di udara. Trangg!
Terdengar suara besi beradu. Dan pisau itu berobah arah. Dihantam dengan telak dan tepat oleh samurai Michiko. Arahnya justru melaju cepat sekali ke arah si gemuk! Kembali bahaya mengamcamnya! Gerakan itu juga telah diperhitungkan dengan cermat oleh Michiko. Tapi kembali tangan Cina kurus itu bergerak. Kembali pisau yang meluncur cepat berobah arah. Jatuh ke lantai dengan menimbulkan suara ribut!
”Hm. Bukan main. Cantik, cepat dan kejam!”
Untuk pertama kalinya Cina kurus tinggi itu bersuara. Suaranya seperti keluar dari sebuah goa. Bergema mengerikan. Matanya yang kuning menatap pada Michiko. Tapi Michiko tak sempat terkejut atas kehebatan Cina itu, sebab si besar yang pisaunya telah dilemparkannya itu kembali menyerang. Dia menyerang dengan melompati tubuh Michiko yang saat itu tengah menghadap pada si kurus. Sungguh malang orang ini. Dia melompati mautnya sendiri. Michiko bukannya kanak-kanak. Bukan pula orang yang mudah merasa takut dan gentar menghadapi serangan bandit seperti mereka. Selagi perkelahian satu lawan satu, maka Michiko tak usah khawatir.
Lelaki itu masih melompat, tubuhnya tengah melayang ketika Michiko menggeser tegak. Dia melayang setengah hasta di sisinya. Saat itu samurai Michiko kembali bekerja. Samurainya memancung dari atas ke bawah, persis di pinggang si lelaki. Tubuh lelaki itu masih melayang sedepa lagi. Baru akhirnya menubruk seperangkat meja dan kursi. Jatuh dan mati dengan pinggang hampir putus.  Tapi saat itu pula tubuh Michiko terlambung. Tubuhnya menerpa dinding. Kepalanya berdenyut, untung samurai masih di tangannya. Ternyata ketika dia melangkah menghindarkan tubrukan tadi dia tegak membelakangi si kurus.
Ketika dia menghantam lelaki yang menubruknya itu dengan samurai, si kurus maju pula menghantam tubuh Michiko. Pukulannya hebat. Tubuh Michiko sampai terpental menubruk dinding. Michiko terduduk di lantai  dengan punggung bersandar ke dinding. Dia menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan pening,  menatap pada Cina kurus itu. Cina itu tegak tiga depa di depannya dengan kaki terpentang. Menatap ke bawah, ke arah Michiko dengan mata kuningnya yang berkilat buas.
”Tegaklah, Nona. Saya akan tunjukkan padamu bagaimana seorang perempuan harus menanggalkan pakaiannya satu demi satu secara baik.”
Suaranya yang mengerikan itu terdengar bergumam. Michiko menggertakkan gigi. Dia bangkit dan memegang samurainya yang telanjang dengan kukuh di tangan kanan! Cina itu tersenyum. Senyum yang mirip seringai.
”Ya. Tanggalkan pakaiannya satu demi satu, Hok Giam! Saya tadi telah melihat tubuhnya tak berkain sehelai pun di hotel. Ketika Husein akan melahapnya. Tubuhnya bukan main. Ayo tanggalkan, Hok!”
Yang bicara ini adalah si gemuk. Suaranya yang mirip lenguh kerbau itu bergema dari tempatnya duduk. Michiko meludah. Perlahan tangan kirinya memegang bahagian bawah samurainya. Kini hulu samurai dia pegang dengan dua tangan. Dia harus hati-hati. Lawannya amat tangguh.
”Heh, Jepang busuk!. Ingin mencoba kehebatan nenek moyangmu dari daratan Tiongkok?” lelaki kurus yang bernama Hok Giam itu bersuara.
Nadanya seperti ada dendam antara Jepang dengan Tiongkok. Kedua tangannya terangkat tinggi di atas kepala. Kemudian kesepuluh jari-jarinya ditekuk ke bawah. Persis cakar garuda. Aneh. Dalam posisi demikian, kedua tangan terangkat tinggi, berarti membiarkan bahagian seluruh tubuh terbuka untuk diserang. Apalagi diserang dengan senjata panjang. Benar-benar posisi yang berbahaya. Namun Michiko tak berani bergerak sembarangan. Dia tak mengenal lawannya ini kecuali dalam tiga gebrakannya. Gebrakan pertama dan kedua ketika memukul samurai kecil dan pisau. Gebrakan ketiga ketika menghantamnya dari belakang tadi.
Dia menanti. Yang dikhawatirkannya hanya satu, yaitu kalau-kalau Cina kurus ini memang memiliki tenaga dalam yang bisa mencelakakan orang dari jarak jauh. Kalau itu benar, maka binasalah dia. Karenanya dia tetap diam menanti. Dia agak yakin juga, sebab tadi hanya dengan kibasan tangan saja, Cina itu berhasil merubah arah samurai dan luncuran pisau yang akan menghabisi nyawa si gembrot bajingan itu. Tangan Cina itu bergerak. Aneh, Michiko melihat tangan Cina itu seperti bergetar. Jumlah tangannya makin banyak. Lalu Cina itu melangkah maju. 
Michiko menyilangkan samurai di depan dadanya. Tangan Cina itu tiba-tiba bergerak dan seperti menyambar ke arah Michiko. Michiko dengan tetap tegak memegang samurai melangkah surut. Dia yakin dalam jarak demikian, cakaran Cina itu tak bakal mengenai tubuhnya. Namun dia merasa mendengar suara kain robek. Dia melihat ke dadanya. Wajahnya jadi pucat. Bajunya robek tentang dada! Kutangnya kelihatan ketat menahan dadanya yang membusung! Si babah gemuk tertegak. Matanya melotot menatap dada Michiko. Michiko menggertakkan gigi. Seharusnya tangannya menutup dadanya. Tapi itu tak dia lakukan.
Dia tak mau kehilangan konsentrasi atas samurainya dengan melepaskan salah satu tangannya dari gagang samurai itu. Tangan Cina itu gentanyangan lagi. Seperti memukul bolak balik. Kinian rok Michiko robek! Tergantung-gantung. Menampakkan pahanya yang putih dan celana dalamnya yang berwarna merah jambu! Michiko masih tegak dengan diam dan bersandar ke dinding. Dia tak perduli berpakaian atau tidak. Pokoknya dia tak mau melepaskan samurainya. Dia akan mempertahankan kehormatannya dengan itu. Si babah melangkah ke depan. Ingin melihat lebih jelas tubuh Michiko. Michiko tegak dengan kukuh.
Cina itu menggerakkan tangannya lagi. Waktu itulah Michiko menggulingkan tubuhnya ke lantai. Bergulingan cepat ke depan sambil menebaskan samurainya seperti kitiran angin ke arah kaki Cina kurus itu. Namun Cina itu seperti sudah sangat arif.
Tubuhnya….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s