Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 415)

”Saya tidak tahu apa maksud Nona mencarinya, mudah-mudahan untuk kebaikan kalian berdua. Kalau benar dia yang ingin Nona temui di daerah bergolak itu, Nona bisa ikut dengan pesawat militer yang akan berangkat sebentar lagi…” ujar mayor  itu akhirnya.
Michiko menarik nafas lega. Dan siang itu dia memang berangkat dengan pesawat Hercules menuju Padang. Ikut bersama prajurit-prajurit PGT dan Infantri yang akan betugas di sana. Bahkan sesampai di Padang dia mendapat tompangan dengan jip militer yang kebetulan langsung ke Bukittinggi dari lapangan Tabing. Jip militer itu mengantarkannya sampai ke Hotel Indonesia, di daerah Stasiun Kota Bukittinggi. Disanalah dia menginap, sambil mencari informasi di mana si Bungsu, musuh besarnya!
—o0o—
Pagi itu, ketika si Bungsu keluar hotel, setelah subuh tadi didatangi mimpi yang amat menakutkan, di hotel yang sama Michiko memang telah lebih dahulu keluar. Gadis itu menikmati udara pagi yang amat sejuk. Hari itu hari Sabtu. Hari dimana pasar besar di kota tersebut. Dari hotel Michiko berjalan perlahan ke arah pasar. Hari masih pagi benar. Embun masih menebarkan dirinya seperti awan tipis. Menggantung rendah di permukaan bumi. Tapi orang sudah ramai. Berjalan bergegas. Ada yang menjunjung bakul di kepala. Ada yang menolak gerobak beroda satu yang sarat oleh sayur-sayuran. Semua bergegas seperti memburu sesuatu. Beberapa orang di antara mereka menoleh pada Michiko. Barangkali merasa sedikit heran melihat seorang gadis berjalan sendirian di pagi buta begitu. Sesuatu yang kurang lazim di kota tersebut.
Pagi itu si Bungsu mengurungkan niatnya untuk pulang ke Situjuh. Kedatangan Michiko merobah niatnya itu. Apapun maksud kedatangan gadis itu, satu hal adalah pasti. Yaitu mencari dirinya. Dan dia tahu, bahwa gadis itu akan menuntut balas kematian ayahnya. Dia tak boleh pergi. Betapapun hebatnya kepian gadis itu, seperti halnya dalam mimpi malam tadi, misalnya, namun dia tak boleh meninggalkannya. Itu bisa dianggap melarikan diri. Melarikan diri? Hm, apakah dia sudah demikian penakutnya, sehingga harus melarikan diri dari seorang perempuan? Namun satu hal pasti pula, dahulu dialah yang memburu lawannya. Kini kejadiannya jadi terbalik. Dialah yang diburu. Dia tak boleh melarikan diri. Dia tak mencek lagi pada petugas hotel tentang kebenaran menginapnya Michiko di hotel itu.
Hal itu tak perlu dicek lagi. Petugas hotel itu telah mengatakan dengan tepat tentang nama dan ciri-ciri gadis itu. Petugas itu tak mungkin berkhayal atau mengada-ada. Sebab dia tak pernah berjumpa dengan Michiko. Lagipula, firasat si Bungsu mengatakan dengan pasti, bahwa gadis itu memang ada di kota ini. Dia pergi ke rumah makan di seberang Hotel Indonesia itu. Rumah makan yang letaknya persis di depan stasiun dan di persimpangan Jalan Melati. Memesan secangkir kopi dan sepiring ketan dan goreng pisang. Mengambil tempat duduk yang menghadap langsung ke jalan raya. Perlahan dia menghirup kopi. Mengunyah pisang  dan ketan gorengnya. Matanya yang setajam mata burung rajawali sesekali menyapu jalan di depan restoran itu. Memng ke arah kanan, ke jalan yang melintang menuju Simpang Kangkung. Memng ke stasiun yang ramai oleh manusia.
Dia tak perlu menanyakan apa warna pakaian yang dipakai Michiko pagi ini. Itu tak diperlukan. Informasi tentang ciri-ciri itu hanya diperlukan bagi orang yang tak pernah dia kenali. Tentang Michiko, hmm, meskipun dia berdiri antara sejuta perempuan, dia segera akan mengenalinya. Namun sampai habis kopi, ketan dan goreng pisang di piringnya, gadis itu tak pernah dia lihat. Dari rumah makan itu dia juga bisa mengawasi jalan yang ada di depan hotel yang menuju ke selatan. Ke Tangsi Militer di Birugo. Gadis itu tak juga muncul. Akhirnya dia membayar minumannya. Kemudian perlahan melangkah keluar. Di luar, dia menghirup udara pagi yang segar.
Kemudian dia melangkah ke jalan raya. Semula dia berniat untuk ke stasiun. Sekedar melihat orang-orang yang akan berangkat. Tapi aneh, mimpinya malam tadi, perkelahian dengan Michiko di stasiun itu, tiba-tiba saja membuat langkahnya terhenti. Kemudian dia memutar langkah menuju pasar. Takutkah dia ke stasiun?
Apa…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s