Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 421)

Setelah menatap kepada tiga anggota PRRI yang terduduk seperti orang linglung itu, Siti lalu membuatkan kopi panas untuk ayahnya dan walinagari. Kedua orang itu pindah ke meja panjang di depan si Bungsu duduk.
”Lama kita tak bertemu, Pak..” ujar si Bungsu tatkala ketiga orang itu, walinagari, pemilik kedai dan Siti, duduk di depannya. Dia menyalami ketiga orang itu.
”Masih ingat engkau rupanya pada kami, Bungsu…”
”Bukankah ketika akan pergi dulu, saya berjanji jika pulang ke Situjuh saya akan singgah kemari? Sekarang saya tepati janji saya. Saya pulang ingin ziatah ke makam keluarga. Tak ada bendi yang mau mengantar saya ke Ladang Laweh karena ada peperangan, saya terpaksa jalan kaki.  Hari sudah larut, ketika lewat tadi saya dengar masih ada suara di kedai ini. Itu sebab saya singgah..” ujar si Bungsu sambil menghirup kopi.
”Hmm..enak kopimu, Siti. Sekarang sudah pakai gula..”
Siti tak tersenyum, kendati ucapan si Bungsu mengingatkan dia tatkala dahulu ketika ada empat tentara Jepang di kedai ini. Saat itu,  saking ketakutannya dia memberi si Bungsu kopi tanpa gula. Dia tidak tersenyum karena matanya nanap menatap anak muda itu. Dia serasa bermimpi bisa bertemu lagi.
”Kata orang.., maaf..kata orang Uda sudah meninggal…” ujar Siti lirih.
Si Bungsu menatapnya. Ucapan yang sama pernah dia dengar dari mulut Reno Bulan, tunangannya di masa yang sangat remaja, yang kini bersuamikan tukang salung di Bukittinggi. Rupanya kabar yang tersebar itu benar adanya. Kabar yang disebarkan oleh pedagang yang bolak balik dari Payakumbuh ke Pekanbaru dan ke Tanjungpinang. Dia teringat saat bersama pejuang-pejuang dari Desa Buluhcina menyergap tentara Belanda di pendakian Pasirputih. Sebuah tempat antara Dusun Marpoyan dan Desa Buluhcina.
Saat itu dia memang ditembak oleh dua orang tentara Belanda. Dalam situasi amat kritis dia di bawa pejuang-pejuang Buluhcina ke desa mereka. Di sana dia mereka rawat sampai sembuh, lalu baru melanjutkan perjalanannya ke Jepang melalui Singapura. Kabar dia tertembak itulah yang ditafsirkan dia meninggal, yang ternyata menyebar di Pekanbaru, kemudian didengar dan menyebar dari mulut ke mulut diantara pedagang asal Payakumbuh, Bukittinggi dan sekitarnya. Kabar itu ternyata menyebar pula sampai ke kampungnya. 
”Ya, banyak orang mendengar kabar seperti itu, Siti. Dan saya memang tertembak dan menduga akan dijeput maut. Tapi Alhamdulillah Tuhan masih memperpanjang umur saya…” ujarnya perlahan.
Setelah lama sepi, si Bungsu tiba-tiba bertanya.
”Pak Wali, mengapa kampung-kampung yang saya lalui banyak rumah yang lapuk seperti tak berpenghuni..?”  
”Bukan seperti tidak berpenghuni, Bungsu. Memang tidak lagi ada penghuninya”
”Kemana penghuninya?”
”Ada yang ikut bergerilya ke hutan. Bagi kaum lelaki yang ikut ker hutan, keluarganya diungsikan ke Jawa atau Tanjungpinang dan Pekanbaru. Pokoknya ke tempat yang tidak dilanda perang. Tapi sebagian besar dari penduduk pergi merantau. Mereka meninggalkan negeri yang diamuk perang ini. Itu terjadi di belasan kampung dalam Luhak Limapuluh ini. Ada yang membawa semua anggota keluarga, ada yang lelaki saja duluan. Kemudian setelah mendapat tompangan di rantau mereka menjeput anak bininya. Soal ada atau tidak ada pekerjaan di rantau itu soal kedua. Yang jelas menghindar dulu dari keadaan yang tak menentu di kampung. Ada yang ke Pekanbaru, ke Tanjungpinang, banyak yang ke Jawa. Tapi ada pula beberapa orang mencoba peruntungan di Negeri Sembilan, Malaya, sebagaimana halnya Sutan Sinaro suami Siti..”
Si Bungsu menatap Siti, yang ternyata sudah bersuami.
”Sudah lama Sutan Sinaro ke Malaya, Siti?”
Gadis itu tak segera menjawab. Sesaat dia menatap si Bungsu, lelaki yang entah mengapa selalu dia tunggu sebelum akhirnya memutuskan menikah, setelah dia mendengar orang yang dia harapkan ini terbunuh di Pekanbaru. Kendati telah menikah, namun dia tak pernah bisa melupakan anak muda itu. Masih dia ingat ketika tangannya digenggam si Bungsu di larut malam ketika akan meninggalkan kedainya ini, setelah membantai empat orang serdadu Jepang.
”Sudah tiga bulan, sudah ada kabar akhir bulan ini dia akan kemari menjeput kami. Uda Sutan mendapat pekerjaan sebagai mandor kecil di perkebunan karet di sana..” ujar Siti perlahan sambil menunduk.
”Syukurlah kalau begitu. Menjadi mandor perkebunan itu suatu pekerjaan terpandang. Di Singapura saya dengar memang sudah mulai banyak orang awak yang mengadu nasib di Malaya. Lagipula, memang sebaiknya merantau dulu selagi kampung kita ini dil perang. Di sini nyawa manusia kadangkala tak lebih berhaga dari nyawa seekor ternak…”
Lama mereka sama-sama terdiam. Lalu si Bungsu menoleh kepada tiga anggota PRRI yang masih duduk tak bergerak-gerak itu. Dia berdiri, menghampiri mereka satu persatu, menotok urat di lehernya. Terdengar ada yang batuk, ada yang melenguh. Namun tetap tak bisa bergerak. Mereka hanya sekedar bisa mengerakkan kepala, mendengar dan bicara.
”Nah Sanak bertiga, dengarlah. Sanak pasti sengaja memisahkan diri dari induk pasukan, menyelusup ke kampung-kampung di kaki Gunung Sago ini untuk merampok, bahkan membunuh orang yang melawan kejahatan yang Sanak lakukan. Sanak benar-benar menangguk di air keruh. Dari logat bicara, amat jelas Sanak bukan orang Luhak Limapuluh ini. Saya minta Sanak menyadari bahwa yang kalian lakukan menambah sengsara penduduk yang memang sudah sengsara. Dulu sengsara di bawah penjajahan Belanda, lalu datang Jepang menambah kesengsaran itu. Kini penduduk sengsara oleh perangai yang Sanak lakukan tanpa setahu induk pasukan Sanak. Kalau mau terus berperang melawan tentara pusat, silahkan. Tapi jangan ganggu penduduk yang tidak berdosa. Sanak ingatlah itu baik-baik…”
Sehabis berkata si Bugsu berdiri, mengambil ketiga bedil di meja. Meletakkannya di pangkuan masing-masing anggota PRRI itu. Kemudian menjentik urat di leher mereka, yang menyebabkan ketiga orang itu terbebas dari totokan. Namun kendati telah bebas dari totokan, dan mereka sudah memegang bedil masing-masing, ketiga orang itu masih duduk termangu-mangu. Sampai akhirnya si komandan yang di pinggangnya tergantung dua pistol itu bicara perlahan.
”Terimakasih, Sanak. Terimakasih. Kemurahan hati dan budi Sanak tidak hanya membuat kami sadar pada kekeliruan kami selama ini, tapi sekaligus juga memperpanjang nyawa kami. Kami yakin, jika Sanak mau sejak tadi dengan mudah kami Sanak bunuh. Semudah membalik telapak tangan. Terimakasih atas nasehat Sanak. Sekali lagi terimakasih, Sanak telah memberi kesempatan bagi kami untuk tetap bisa bertemu dengan anak dan isteri yang menunggu di kampung. Apapun kebaikan yang kami buat kelak, takkan mampu membayar kebaikan sanak kepada kami. Kepada Bapak dan Siti, juga kepada Pak Wali, kami mohon maaf.,” berkata begitu si komandan lalu mengambil bungkusan saputangan berisi uang dan perhiasan yang tadi diambil anak buahnya dari rumah, kemudian meletakkannya di atas meja di depan pemilik kedai tersebut.
”Sebelum subuh datang, sebaiknya kami pergi…”
Sehabis berkata, dengan berlinang air mata karena dibiarkan tetap hidup, si komandan menyalami si Bungsu, pemilik kedai dan walinagari, diikuti kedua anak buahnya. Lalu dengan sekali lagi mengucapkan terimakasih pada si Bungsu, mereka menyelusup keluar dari kedai itu. Lalu lenyap dalam gelap dan embun subuh yang sejak tadi sudah menyelimuti kampung-kampung di kaki Gunug Sago itu. Kesunyian di kedai kecil itu dipecahkan oleh suara lelaki tua pemilik kedai tersebut.
”Dua kali kau…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s